
Menghilangkan suntuk di rumah besar itu, Iris memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke mall. Toh, ini pun atas rekomendasi Bu Mirna. Katanya, selagi menjadi nyonya di rumah ini, Iris harus memanfaatkan kebaikan Damar yang sudah memberikannya ATM, supir pribadi, dan fasilitas lainnya.
"Pak Agus tunggu di sini saja, aku tidak akan lama, kok," ucap Iris sesampainya di mall itu.
"Tapi, bukannya Nyonya Iris baru pertama kali ke mall. Jika nanti ada kesulitan, bagaimana?"
Benar juga, tetapi Iris benar-benar ingin menikmati waktunya sendiri.
"Begini saja, nanti kalau ada apa-apa saya pasti langsung telepon."
Meski terlihat masih enggan membiarkan Iris berkeliaran seorang diri, Pak Agus mau tidak mau mengangguk saja.
"Baik, Nyonya."
Iris mengangguk, lalu turun dari mobil. Senyumannya terukir melihat gedung mewah itu. Argh, masih tidak bisa terbayang jika kini Iris bisa menginjakkan kakinya di sini.
"Selamat bersenang-senang," ucap Iris pada dirinya sendiri, lantas mulai melangkah masuk.
Toko yang dikunjungi pertama kali adalah sebuah toko baju anak-anak, matanya langsung terpesona dengan kelucuan gaun-gaun cantik. Ah, pasti sangat cocok dengan Elea. Iris juga memilih beberapa untuk Willi.
Sesuai dengan apa yang diajarkan Bu Mirna, saat membayar Iris tinggal mengangsurkan kartunya pada kasir, dan hanya perlu satu gesekan transaksi sudah selesai.
"Kartu ini benar-benar ajaib!" balasnya kagum.
Iris keluar dari toko itu, hendak masuk ke toko lain tetapi langkahnya terhenti saat ada seseorang yang memanggil namanya.
"Iris!"
Dia menengok, menyadari siapa di kejauhan sana Iris melotot. Tubuhnya yang gemuk, kacamatanya, lalu dandanan menornya. Iris tentu tidak akan melupakannya.
"Tangkap gadis itu cepat!"
"Sial, apa Paman tidak memberitahu mereka tentang uang yang diberikan Tuan Damar?" gumam Iris kesal, bisa-bisanya di luasnya dunia ini. Iris harus bertemu dengan madam.
Iris berlari tanpa arah, dia tidak bisa menghubungi Pak Agus karena di belakangnya tiga bodyguard dengan tubuh besar itu semakin cepat mengejarnya.
Iris tanpa sadar masuk ke kedai ice cream dan duduk di salah satu kursi yang berisi seorang wanita.
"Boleh aku meminjam kacamata dan topimu?" tanya Iris membuat wanita itu kebingungan.
"Ada yang mengejarku, mereka berbadan bes-"
Belum Iris selesai mengatakan, wanita itu lantas memakaikan topinya ke kepala Iris lalu membuka kacamatanya.
"Terima kasih!" Iris menghela napas lega. Dia tidak tahu apa mereka akan mengetahui keberadaan, tetapi Iris terus berdoa agar tetap aman.
"Aku sudah memanggil satpam, dan mereka juga sudah pergi," balas wanita itu dengan wajah datarnya.
Iris mendongak untuk melihat wajahnya yang pucat tetapi masih terlihat cantik.
"Eum, sekali lagi terima kasih atas bantuannya-ini-"
Iris kebingungan saat wanita itu beranjak dari duduknya. "Pakai saja topi dan kacamatanya, mereka mungkin masih menunggumu di bawah."
"Ah, ya. Tapi, bagaimana cara aku membalas kebaikanmu?"
__ADS_1
Tidak ada jawaban, wanita itu melenggang pergi meninggalkan Iris yang kebingungan. Ingin sekali Iris kejar, tetapi dia harus terlebih dahulu menghubungi Pak Agus.
Iris mengeluarkan ponsel yang dibelikan Damar kemarin, akhirnya berguna juga. Lagi-lagi, dengan ajaran Bu Mirna. Iris bisa menghubungi supirnya.
Ponselnya hanya tertempel di telinga, matanya teralihkan pada sebuah gantelan kunci nama.
_Anastasia_
"Oh, jadi namanya Anastasia. Semoga kita bisa bertemu lagi dan aku bisa mengembalikan semua barang-barangmu," balasnya seraya memasukan gantelan itu ke dalam tas.
***
"Mommy!"
Iris tersenyum menyambut dua anak itu keluar dari kelasnya, setelah kejadian di mall Iris langsung menjemput si kembar karena bertepatan sekali dengan jam pulang mereka.
Untunglah, setelah meminta bantuan pada Pak Agus. Madam yang sempat ditemuinya di parkiran mall itu tidak berani mendekat. Mungkin dia heran kenapa Iris bisa naik mobil yang lenih mahal dari mobilnya.
"Mommy, punya hadiah untuk kalian berdua!" ucap Iris menunjukan dua totebag berisi baju.
"Wah? Apa ini, Mommy?" Tentu saja Willi yang paling antusias. Anak itu membukanya lalu menatap Iris. "Terimakasih Mommy, aku akan memakainya besok saat di acara ulang tahun Alvero!"
Sementara, Elea juga membukanya. Keningnya agak mengerut. "Apa Daddy tidak memberitahu Mommy, kalau kita selalu membeli baju langsung pada desainer?" bisik Elea yang keliatan tidak terlalu senang.
"Diam! Ini adalah kado pertama yang kita dapat dari Mommy! Kamu, jangan coba-coba menyakiti hatinya dengan perkataan!" ancam Willi sambil berbisik penuh penekanan.
Elea mengangguk. "Ya-ya, aku menyukainya. Terimakasih Mommy!" katanya agak terpaksa.
Namun, Iris mengabaikan ekspresi Elea dan menyuruh kedua anaknya itu untuk masuk ke dalam mobil.
"Mommy, tau tidak! Aku besok mau lomba bermain sepak bola lawannya kelas sebelah! Aku sangat bersemangat, karena kita sudah berlatih berhari-hari loh!" ucap Willi sumringah.
"Beda, karena aku tau Mommy pasti akan mendukungku. Benarkan?"
"Pasti dong, bermain sepak bola pasti seru. Oiya, memangnya cita-cita Willi apa?"
"Kalau kata Daddy sih, aku harus jadi pengusaha tapi aku juga sebenarnya tertarik dengan bola."
"Wah, keren! Bisa kok, punya cita-cita yang banyak! Kalau Elea cita-citanya apa?"
Elea mengangkat bahunya. "Tidak ada."
"Loh?"
"Karena tanpa cita-citapun, aku sudah bisa membeli semua hal yang aku mau!" katanya sambil nyengir.
"Dasar anak manja!" decih Willi.
"Terserah aku!"
Iris hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Elea. Begitulah, anak yang dibesarkan hanya dengan uang. Belum sepenuhnya rusak, tetapi masih bisa diperbaiki.
****
"Endingnya putri dan pangeran bersatu di istana. Mereka bahagia sela-"
__ADS_1
Meski, Willi tidak suka dengan hal-hal romantis apalagi dongeng. Dia tetap mendengarkan dengan seksama dan menghargai kemampuan Iris yang hanya bisa sebatas itu.
"Mommy ..."
"Kok, belum tidur?" tanya Iris kaget melihat Willi yang kembali membuka matanya. "Apa masih sakit kepala?"
Tangan Iris memeriksa kening Willi yang terasa hangat, padahal sudah diberi obat. Sepulang sekolah, Willi mengeluh tubuhnya dan kepalanya sakit.
Willi mengangguk. "Kepala Willi sangat sakit Mommy."
"Tunggu di sini, Mommy akan bicara pada Daddy."
Willi malah memegang lengan Iris. "Jangan, nanti aku akan dibawa ke rumah sakit. Besok pagi kan ada pertandingan bola. Sia-sia latihan ku selama ini."
"Tapi, kalau begini terus justru bahaya. Nurut pada Mommy, ya."
"Tidak Mom-aw!"
Tiba-tiba Willi memegang kepalanya, meringis kesakitan. Iris melotot saat darah keluar dari hidungnya.
"Willi? Wil?"
"Mommy, tolong!" adunya. "Kepalaku sakit sekali!"
Iris buru-buru beranjak dari kasur, lalu berlari ke kamar Damar. Saat membuka pintu, dia melihat pria itu tengah berdiri menatap sebuah pigura.
"Ada apa dengan wajahmu, Iris?" tanya Damar seraya menaruh pigura itu ke laci.
"Willi, Tuan. Hidung Willi berdarah!" ucap Iris agak bergetar.
"Berdarah?" Mata Damar lantas melotot. Pria itu berlari cepat ke kamar Willi yang ternyata anak itu sudah kehilangan kesadaran.
Damar mengangkat tubuh Willi dan menyuruh beberapa pegawai di rumahnya untuk menyiapkan mobil, karena dia akan segera membawa anaknya ke rumah sakit. Wajahnya begitu panik.
Sementara Iris tidak sempat masuk ke dalam mobil untuk menemani Willi karena mobil itu langsung melesat.
"Semoga semuanya baik-baik saja," doanya.
Saat ingin masuk kembali ke dalam rumah, hendak melihat keadaan Elea yang juga tadi ikut terbangun karena kehebohan di rumah itu. Di pintu masuk dia malah berpapasan dengan Bu Mirna yang bergumam dengan lirih.
"Kasian sekali Tuan muda, aku takut sekali Iris. Penyakitnya kambuh lagi," ucapnya membuat Iris jadi penasaran.
"Willi punya penyakit?"
"Kamu tidak tau? Padahal kamu ibunya."
Iris memang hanya memainkan perannya tetapi dia tidak pernah mengulik masalalu Damar ataupun anak-anaknya.
"Aku maklumi karena kamu baru di sini. Ya, si kembar lahir dari ibu yang bukan hanya akalnya yang tidak sehat tetapi fisiknya juga. Dan, mereka lahir prematur..."
"Di hari pertama si kembar lahir, Tuan Willi sudah harus masuk inkubator. Sementara, Nona Elea juga sama lemahnya. Namun, yang paling parah Tuan Willi. Dia memiliki kelainan jantung. Itu makanya Tuan Damar selalu melarang Tuan Willi agar tidak melakukan aktivitas fisik dan bermain di luar yang bisa membuatnya kelelahan."
Tunggu, apa karena latihan sepak bola di sekolah?
Tidak mau banyak berpikir lagi, Iris memutuskan untuk menyusul Damar ke rumah sakit. Willi pasti membutuhkan kehadirannya.
__ADS_1
"Aku harus menyusul mereka ke rumah sakit!"
***