
Entah sudah berapa hari ini, Iris benar-benar mendiamkannya. Dia hanya melakukan semua tugas melayani tuannya tanpa suara. Seperti sekarang, Iris menyiapkan baju dengan hening.
Damar yang duduk di soffa masih tenang itu hanya memperhatikan Iris.
"Aku tidak mau pakai warna hitam, warna biru saja."
Tanpa menjawab Iris menggantinya, mengambil kemeja biru dan memasukan kembali kemeja hitam ke dalam lemari.
Damar yang sengaja membuat Iris tantrum, karena wanita itu tidak mau bicara. Padahal, dari kemarin dirinya sudah banyak mengoceh.
"Eum, sepertinya tidak cocok dengan sepatunya. Ganti lagi, dengan warna hitam."
Iris menghela napas mencoba sabar, raut wajahnya sudah tertekan.
Tangan Iris mengangsurkan kemeja hitam, tetapi lagi-lagi Damar menggelengkan kepalanya, menilai.
"Tidak, aku seperti akan pergi berduka. Coba yang warna merah."
Apa dia sengaja, menguji kesabaran ku? ucap Iris dalam hati.
"Kenapa diam? Cepat ambilkan bajunya!"
Iris menurut tetapi dia mengambil semua gantungan yang berisi kemejanya lalu dilemparkan ke kasur.
"Kenapa dia ambil semua? Aku hanya ingin warna merah. Apa telingamu tuli?"
Iris berjalan cepat ke arah Damar dengan tatapan tajam, membuat Damar mengerutkan keningnya.
"Ada apa denganmu Iris?"
"Aku ingin sekali melenyapkanmu!" balas Iris penuh penekanan, tangannya sudah berada di leher Damar. "Mati."
Hap!
Damar dengan mudahnya membalikkan keadaan hingga kini posisi Iris berada di bawahnya, tangannya melepaskan tangan Iris yang berada di lehernya. Senyumannya terukir.
"Kamu ingin membunuh suamimu sendiri?"
"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai suami!"
"Ah, hatiku jadi sakit. Tapi, tidak apa masih banyak waktu untuk kita saling mengenal."
Iris mendelik. Ya, setelah pulang dari Dufan. Meski, masih sama menyebalkannya. Tuan Damar lebih memperlakukannya dengan baik. Apalagi, sekarang Iris diberikan kamar yang lebih bagus dan fasilitas lainnya. Dia bukan lagi seperti pembantu.
__ADS_1
Namun hal itu tidak membuatnya senang, sebab dalam hatinya sudah tertanam kebencian, perlakuannya malam itu tidak termaafkan.
"Lepaskan!"
"Tidak mau!" balas Damar semakin mengkung-kung tubuh Iris. "Ah, sepertinya hanya ini cara satu-satunya agar kamu mau bicara denganku."
Iris mencoba mengalihkan tatapannya, dia tidak mau menatap mata itu, terlalu bahaya untuk hatinya.
"Jadi, apa kamu masih marah karena kejadian malam itu?" tanya Damar yang sudah menduga-duga. "Baiklah, aku akan meminta maaf. Aku salah ... Kamu mau memaafkanku?"
Iris berdecak. "Tidak akan."
"Ayolah, Iris. Kamu tidak bisa seperti ini terus, Willi selalu bertanya padaku. Kenapa kita tidak berkomunikasi, apalagi wajahmu selalu cemberut saat bersamaku."
"Lepaskan dulu!" balas Iris mencoba memberontak, Damar mengangguk menyerah.
"Baiklah, tapi kita harus bicara."
Damar duduk di samping Iris, tetapi tangannya masih menggenggam lengan Iris, agar gadis itu tidak kabur.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau memaafkanku."
Iris terdiam, dengan pandangan lurus. "Permintaan kemarin."
"Iris ..." suara Damar tiba-tiba berubah serius. "Aku tidak akan mengulang perkataanku ini, jadi dengarkan baik-baik."
"Awalnya aku melarangmu pergi karena egoku, tapi keputusanku berubah melihat Willi yang bahagia saat bersamamu. Aku pikir membesarkan mereka dengan uang sudah lebih dari cukup, tapi aku salah. Mereka juga butuh seorang ibu. Jadi, tolong tetap di sini dan berikan kebahagiaan pada anak-anakku." Damar menghela napas seperti berat. "Aku janji tidak akan memperlakukanmu dengan buruk lagi."
Iris memejamkan matanya, apa dia bisa menggadaikan masa depannya untuk mereka? Sedangkan, dirinya juga butuh untuk bebas dan bahagia.
"Iris ..." ucap Damar saat melihatnya hanya berjalan keluar tanpa kata.
"Apa aku salah berkata? Argh, bisa-bisanya dia membuatku pusing tujuh keliling? Atau kata-kataku kurang tulus sehingga dia tidak tersentuh?" gerutu Damar yang ternyata usahanya masih sama saja, tidak ada hasil.
Bukankah, keadaan sudah berbalik. Kini Damar yang memohon-mohon pada Iris bahkan sampai rela menurunkan gengsinya. Namun, Damar tidak peduli.
"Demi Willi aku akan melakukan apapun!" tekadnya begitu kuat.
***
Iris tengah membersihkan piring makanan bekas sarapan pagi, sebenarnya tidak ada yang memerintahkan tetapi karena merasa tidak ada kegiatan. Dia mencari-cari apa ada hal yang bisa dirinya lakukan. Apalagi, anak-anak sedang sekolah dan Damar sudah berangkat bekerja.
"Aduh, Nyonya baru kenapa ada di dapur? Nanti kotor tangannya."
__ADS_1
"Loh? Mil, nggak apa-apa biarin biar ada kerjaan. Awalnya kan dia juga pembantu, Tuan Damar saja yang kepalanya kepentok. Spek dekil, jelek begini dijadikan istri. Nanti juga kalau Nyonya sebenarnya sembuh, dia pasti di tendang, haha!"
"Haha iya benar, hokinya pasti berakhir kalau Nyonya Ana sembuh!"
Iris menatap dua orang pembantu yang begitu di kenalnya, Friska dan Karmila. Dua gadis itu memang selalu sinis padanya.
Iris yang sudah sering diganggu itu memilih untuk mengabaikan mereka.
Namun, sialnya mereka malah semakin mengolok-oloknya bahkan sengaja memecahkan piring yang baru di cuci olehnya.
Prang!
"Ups, maaf sengaja!' Friska menutup mulutnya. "Bersihin sendiri ya, soalnya tanganku baru aja perawatan. Takut rusak!" katanya sambil menunjukan kukunya yang memakai nail art.
Iris mendelik, dia berjongkok untuk merapikan pecahan itu.
Iris tersentak kaget saat kepalanya terasa di guyur oleh air.
"Aduh, maaf ya Iris. Karmila nakal nih, nyenggol-nyenggol air keran jadi basah semua kan." Friska seakan tidak takut Iris adukan pada Bu Mirna.
Iris memejamkan matanya, kesabarannya sudah habis. Tanpa banyak omong, dia mengambil sebuah panci yang masih berisi sayur dan ditumpahkannya pada Friska.
Byur!
"Irisssss!"
"Apa? Kalian pikir aku tidak berani melawan kalian?"
"Si*Alan kamu Iris!" Friska yang tidak terima itu lantas menyerang Iris, menjambak dan mencakarnya. Begitupun, dengan Iris yang juga merusak wajah gadis itu. "Dasar pembantu jelek! Aku akan pastikan kamu di usir oleh Tuan Damar!"
"Buktikan jangan hanya bicara omong kosong!" balas Iris.
Sementara Karmila panik sendiri. "Fris, udah, Fris nanti kalau Bu Mirna datang. Kita yang kena. Inget, dia masih berstatus jadi Nyonya! Udah!"
Friska berhenti melakukan aksinya, tatapannya begitu tajam pada Iris. "Kamu tidak ada apa-apanya dengan Nyonya Ana. Jadi jangan sok berkuasa karena sekarang kamu istri Tuan Damar! Awas kamu Iris, aku akan membalasmu!"
Iris melotot. Apa Friska sedang mabuk? Kenapa dia melantur? Iris juga ingin pergi dari sini! Tapi, pria itu yang memaksanya tinggal di sini.
"Terserah apa katamu, aku tidak peduli! Dasar gila!" Iris berteriak kesal. "Sial, aku jadi makin ingin keluar dari neraka ini!"
Tapi, bagaimana dengan Willi? Sesungguhnya, Iris juga sangat menyayangi anak itu.
****
__ADS_1