Istri Satu Milyar

Istri Satu Milyar
Sembilan Belas


__ADS_3

Damar mengepalkan tangannya, menahan sesak di dada. Ketika melihat Willi yang terbaring lemah, bibirnya pucat dan memakai alat bantu pernapasan.


Dari bayi anak itu sudah berjuang untuk hidup dan menjalani berbagai pengobatan agar bisa sembuh. Begitupun dengan Damar yang sudah berusaha semampunya membawa Willi ke dokter ternama bahkan berencana ke luar negeri. Namun, tetap uang memang tidak bisa menjamin, karena sekarang Willi kembali sakit.


"Maafkan, Daddy," ucap Damar seraya menutup wajahnya. Tanpa sadar air matanya merembes. Damar sangat lemah, jika itu tentang anaknya.


Terbayang di memori ototnya, raut wajah Willi yang selalu bertanya tentang ibu kandungnya atau ketika anak itu selalu mengeluh karena harus bolak-balik rumah sakit. Apa semuanya akan terulang lagi? Apa bisa Damar sekuat dulu?


"Kamu memang bukan ayah yang baik, Damar! Kamu hanya membuat anak-anakmu semakin menderita!" Damar menyalahkan dirinya sendiri. Jika bisa rasa sakit Willi dipindahkan, biarkan Damar yang menanggungnya. Willi harus bahagia dengan badan yang sehat.


Kepalanya mendongak, saat sadar ada seseorang yang ikut duduk di sampingnya. Dia menatap Damar dengan sendu, senyumannya tampak getir. Damar bisa merasakan bahwa dia juga sedang bersedih.


Tangan Iris terangkat, lalu menggenggam tangannya memberikan sebuah kekuatan. "Kita harus tetap kuat demi kesembuhan Willi."


Damar mengangguk. "Harus, Willi hanya punya aku dan sekarang bertambah yaitu kamu. Dia harus sembuh, bagaimanapun caranya."


Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Iris," ucap Damar tiba-tiba.


"Ya?"


"Tolong tetap di sisi Willi, dia sangat membutuhkanmu."


Iris mengangguk cepat. "Aku pasti akan terus menemani Willi, sampai kapanpun."


"Itu berarti kamu?" Pertanyaan Damar menggantung. Kelegaan terlihat jelas di wajahnya. "Kamu menerima permintaanku?"


"Ya, menjadi seorang ibu di usia muda sepertinya tidak terlalu buruk. Toh, untuk mengurus anak kandungku suatu saat nanti, aku juga butuh pengalaman."


"Terimakasih, Iris," ucap Damar refleks memeluk Iris.


Deg.


Entah, apa yang terjadi pada jantungnya saat tangan itu mendekap lalu menepuk punggungnya pelan. Yang jelas, Iris lebih suka dengan Tuannya yang menyebalkan. Sebab, saat baik begini. Hatinya menjadi tidak karuan. Iris takut terpikat. Itu lebih bahaya bukan?


***

__ADS_1


"Aku mau pulang."


Setelah sadar dari pingsannya, Willi malah melontarkan kalimat itu membuat Damar yang menatapnya cemas malah kebingungan.


"Hidungmu berdarah dan kepalamu sakit. Kamu harus di rawat untuk beberapa hari ke depan," balas Damar mencoba memberi pengertian.


Dokter mengatakan bahwa Willi harus segera melakukan transplantasi jantung, karena ternyata pengobatan yang dilakukan saat masih bayi, tidak berefek panjang yang terbukti dengan penyakitnya yang kembali kambuh.


"No. Aku mau pulang saja, aku sudah sehat, Daddy," kekehnya sembari menggoyangkan tubuhnya. "Tuh, liat tidak pusing lagi."


"Willi," kini suara Damar berubah lebih tegas. "Daddy tidak suka orang yang pembangkang."


"Aku juga tidak suka dengan Daddy yang selalu memerintah."


Damar menghela napas. "Oke, beri alasan pada Daddy dulu kenapa kamu sangat ingin pulang."


Willi terdiam, lalu melirik Iris yang sedang menyiapkan makanan sore. "Ka-karena aku sudah sembuh."


"Kamu bukan dokter. Daddy tidak mau berdebat lagi. Sekarang makan lalu minum obat."


"Asal kamu tau, Daddy sebenarnya tahu kamu sering ikut latihan sepak bola, lalu bermain lari-larian di sekolah dan aktivitas lain yang bisa memperburuk kesehatanmu. Daddy mencoba memahami karena mungkin hal itu sumber kebahagiaanmu. Dibalik sikap pendiammu, Daddy tau kamu juga ingin seperti anak-anak lain kan? Tapi, tolong untuk kali ini turuti Daddy ..."


"Apa Elea memberitahu Daddy?" tanya Willi dengan raut wajah marah. "Dia memang tidak bisa menjaga rahasia!"


"Semua kegiatanmu diawasi oleh Bu guru, dia yang memberitahu Daddy."


Willi berdecak, setelah ini dirinya pasti akan semakin di kekang.


Sementara, Iris yang mendengar perdebatan itu hanya menggelengkan kepalanya. Sebaik apapun Damar, tingkatnya tidak bisa setara dengan manusia normal. Lihat, anaknya sakit masih saja diajak berdebat.


"STT!" Iris menengahi, lalu memelototi Damar. "Bukan seperti itu cara menghadapi anak yang sedang marah Tuan."


Tatapan Iris tertuju pada Willi, di tangannya sudah ada piring berisi makanan. "Sekarang makan dulu, pokoknya Mommy janji nanti setelah Willi sembuh dan diizinkan pulang oleh dokter. Mommy akan ajak teman-teman Willi ke rumah terus kita adakan pertandingan bola, pasti seru. Eum, apa lagi ya? Oh, kita harus nonton langsung ke stadion bola! Bagaimana?"


Raut wajah Willi terangkat, dia tersenyum pada Iris. "Mommy yakin tidak ingkar janji?"


"Iya dong! Makanya sekarang Willi harus nurut pada Mommy."

__ADS_1


Willi mengangguk, secepat itu moodnya berubah. "Ayo, cepat Mommy suapi aku. Aku mau minum obat biar cepat sembuh."


"Anak pintar!" balas Iris sambil mengusap kepala Willi.


Sedangkan, Damar yang berada di sisinya itu menggelengkan kepalanya. Jika dia tahu hanya Iris yang bisa membuat Willi diam dan menurut dalam sekejap, dia tidak perlu susah-susah berbicara sampai mulutnya berbusa. Huh, membuat kesal saja.


Damar menatap Willi yang sedang disuapi oleh Iris. Makannya sungguh lahap dan binar wajahnya menunjukan bahwa anak itu bahagia. Damar tidak salah pilih, Iris memang orang yang tepat untuk menjadi ibu dari anak-anaknya, setidaknya untuk sementara.


"Kenapa Daddy melihat kami seperti itu?"


Damar terhenyak. "Hah?"


"Daddy iri aku disuapi oleh Mommy?"


"Iya! Daddy sangat iri, Daddy juga belum pernah disuapi oleh Mommy." Damar memilih bergabung dengan mereka. "Mommy suapi aku juga," lanjut Damar pada Iris, membuat gadis itu bergidik ngeri.


"Ih, tapi itu makananku."


"Daddy juga kan lagi sakit."


"Sakit apa?" tanya Willi dengan polos.


"Sakit hati."


"Hati Daddy sakit? Kenapa tidak sekalian periksa ke dokter?"


"Cie, kamu khawatir ya pada Daddy."


Willi mengangguk. "Tentu saja, soalnya kalau Daddy mati, Mommy pasti menikah lagi. Aku belum siap punya Daddy baru."


Damar menganga, Willi ternyata bisa melucu juga, tetapi entah kenapa dia tidak ingin tertawa sebab wajah Willi tampak serius. "Ah, bisa saja anak Daddy satu ini."


Sementara, Iris hanya bisa menahan tawanya. Diam-diam hatinya merasa bahagia, apa ini rasanya bercengkrama dengan keluarga?


Melihat tawa Willi membuatnya mengingat masa kecilnya dulu, dia tahu bagaimana rasa kesepian bahkan saat dia belum mengerti dengan dunia yang keras ini. Namun, semenjak bersama tantenya. Iris merasakan hidup kembali, meski dirinya juga harus menelan kepahitan saat beranjak dewasa karena di jual oleh pamannya sendiri. Ah, Iris jadi rindu pada tantenya.


***

__ADS_1


__ADS_2