Istri Satu Milyar

Istri Satu Milyar
Sepuluh


__ADS_3

"Sedang apa kamu di kantorku, Andreas!?"


Damar menatap tajam pada sosok pria yang jauh lebih muda darinya itu, melihat gigi taringnya ingin sekali Damar rontokkan. Beraninya, dia masuk ke dalam wilayahnya.


Andreas, pria berumur 26 tahun itu beranjak dari duduknya, lalu memberikan sebuah kotak berisi hadiah.


"Hei, jangan lupakan sesuatu. Kita akan menjadi sebuah keluarga, jika Dylan dan Sendy menikah. Oh, ya teganya kamu tidak memberitahu kami tentang pernikahan. Tunggu apa wanita yang di samping adalah istrimu?" cerocos Andreas tanpa melihat Iris dengan tampang menilai.


"Ah, aku kira kamu akan menikah dengan Imelda yang tempo hari di bawa ke party. Tapi ternyata gadis imut, dia lebih pantas menjadi adikmu, Damar," tambah Andreas dengan tampang meledek. Dia berjalan mendekati Iris.


Sedangkan, amarah Damar sudah terasa ke seluruh ruangan, terbukti dari wajahnya yang merenggut seolah siap menyantap mangsanya.


"Jika kamu sudah dibuang olehnya, datanglah ke tempatku. Aku tidak peduli dengan bekas, karena kamu tampak menarik dan cantik," goda Andreas, tangannya terangkat untuk mencolek dagu Iris tetapi langsung ditepis oleh Damar.


"Keluar sekarang, sebelum aku panggil sekuriti!" bentak Damar masih berusaha sabar.


Ya, Andreas bukanlah teman atau sahabatnya, tetapi dia saingannya dalam dunia bisnis. Pria itu memiliki keberanian datang ke tempatnya pasti karena Shandy, pacar sang adik.


"Oh-oh, sabarlah Damar. Itu hanya candaan, jangan dianggap serius," Andreas masih tidak peduli dengan kemarahan Damar.


Namun, berbeda dengan Iris yang mematung di tempat. Matanya menatap lekat-lekat pria bernama Andreas itu. Sekelebat kenangan mengguncang memorinya.


Masa-masa bermain bersama kakaknya yang saat itu masih berumur 12 tahun sedangkan dirinya berumur 6 tahun. Mereka dipisahkan karena kakaknya di adopsi dan di bawa oleh orang lain.


Entah, apa dia benar kakaknya tetapi di matanya terasa familiar dan sangat mirip dengan almarhum ayahnya.


"Ka-k Arsen?" tanyanya dengan nada tidak percaya.


"Hah, apa? Kenapa kamu ta-"


Namun, belum sempat Andreas membalas lebih lanjut, tiga orang sekuriti masuk dan menyeretnya keluar dari ruangan.


"Jahat sekali kami Damar, tapi aku pastikan kita akan bertemu lagi sebagai keluarga, di pernikahan adik tercinta kita, hahaha!"


Sementara, Damar acuh tak acuh berjalan ke kursi kerjanya, merasa lelah karena seharian ini dirinya menghadiri berbagai meeting.


"Siapa yang menyuruhmu keluar?" ucap Damar melihat Iris yang sudah berbalik membelakanginya. "Kemari!"


Bahunya terlihat menurun, ekspresinya menunjukan bahwa dia sangat tertekan tetapi Damar tidak peduli.


"Duduk."


"Duduk?" Iris tidak mengerti, sebab di depannya hanya ada satu kursi yang itupun di duduki oleh Damar. Apa dia harus duduk di lantai?


"Baik, Tuan."


Iris sudah berjongkok, tetapi Damar malah mendesah sebal. "Duduk di sini, Iris!" tunjuknya pada pahanya.


Apa maksudnya? Bukankah dia sudah bilang tidak akan menyentuhnya?


"Tap-"


Damar Tidak mau menunggu lagi, pria itu dan menarik pinggang Iris agar duduk di pahanya dengan posisi menyamping.


Deg.

__ADS_1


Jantungnya berdetak lebih kencang, wajah mereka begitu dekat hingga Iris bisa melihat hidung, mata, bibir yang terpahat hampir sempurna. Iris tidak heran, kenapa Elea dan Willi termasuk bibit unggul karena ayahnya saja bisa setampan ini.


Damar memejamkan matanya, lalu bersender pada penyangga.


"Aku sedang tidak ingin marah-marah, jadi cepat lakukan tugasmu. Pijat kepala dan keningku," perintahnya.


"Hah?"


"Iris ..." balasnya dengan nada greget.


Iris yang mengerti dengan nada suara itu, buru-buru melakukan tugasnya, memijat pelan dan penuh kehati-hatian.


Bukankah ini terlalu berlebihan? Iris bisa berdiri sambil memijat tetapi kenapa harus duduk di pah*nya?


Dasar mes*um!


Rasanya Iris ingin protes tetapi dia sadar, bagaimanapun Damar adalah suaminya sekaligus tuannya.


Pijatan tangan kecil yang halus itu membuat Damar terbuai dan merasa nyaman, sampai matanya menjadi berat lalu terlelap.


Iris yang merasa Damar sudah tenang di tidurnya, memutuskan untuk merebahkan diri di sofa. Sudah beberapa malam dirinya tidak bisa tidur karena mengerjakan tugas dari tuannya. Tidak menunggu lama Iris benar-benar menyusul Damar ke alam mimpi.


***


Iris perlahan membuka matanya, yang pertama dilihatnya adalah langit-langit ruangannya yang tinggi berwarna biru, serasa tidak asing.


Bukannya tadi dirinya berada di soffa? Kenapa sekarang sudah berada di kasur? Bahkan, ada selimut di tubuhnya? Siapa yang memindahkannya? Apa itu Damar? Mengingat wataknya itu sangat mustahil.


Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya.


"Sudah bangun Tuan putri?"


"Maaf Tuan, saya tadi ketiduran," buru-buru Iris turun dari ranjang. Namun, karena tubuhnya belum siap dan masih terasa pusing, dirinya terjatuh hingga kepalanya terkena ujung lemari.


"Aw!"


"Aish, dasar ceroboh! Sekali saja tidak membuat kesalahan apa bisa?" Omelnya seraya mendekat ke arah Iris, lalu membantunya naik kembali ke kasur.


Damar baru kali pertama melihat orang yang tidur seperti orang mati. Dia tidak bangun dan sama sekali tidak terusik meski Damar sempat membawanya naik mobil untuk pulang ke rumah. Damar tidak bisa mengabaikannya dia mungkin sudah membuat Iris berkerja terlalu keras, apalagi setelah kejadian di lift, yang ternyata gadis itu memiliki phobia gelap.


"Istirahatlah."


Iris tidak salah dengar kan?"


"Tapi, tugasku masih banyak nanti kalau tidak beres, Tuan pasti marah."


"Ini, perintahku."


"Tap-"


"Tidak ada bantahan dan aku tidak akan marah."


"Tuan tidak bohong?"


"Ya, selama kamu tidak melakukan kesalahan."

__ADS_1


Sepertinya sewaktu dirinya memijat kepalanya otak baiknya jadi berfungsi. Apa Iris harus senang?


Tanpa kata Damar berjalan keluar, tetapi terhenti karena ada suara yang menghentikannya.


"Daddy mau ke mana?"


"Loh? Jagoan Daddy, kenapa belum tidur?" Damar berjongkok lalu memegang tangan Willi. "Bukannya besok Willy harus sekolah?"


"Aku tidak bisa tidur."


"Mau Daddy temani sambil membaca dongeng?"


Willi malah menunjuk pada Iris yang masih menikmati kepalanya yang terasa sakit. "Aku ingin tidur di sana, bersama Mommy."


"Mommy?"


"Ya, karena dengan di samping Mommy. Tidurku menjadi nyenyak dan tidak mimpi buruk," balasnya polos dan berjalan ke arah Iris, membuat Damar seketika tercengang.


"Tunggu, kenapa Willi tidak pernah bercerita pada Daddy kalau sering mimpi buruk?"


"Memangnya Daddy akan peduli?"


"Apa maksud kata-katamu itu? Tentu, Daddy peduli."


Willi menggelengkan kepalanya. "Tidak, yang Daddy pedulikan selama ini hanya uang dan pekerjaan."


"Willi ..." Damar kehabisan kata-katanya.


"Tapi jangan khawatir, Willi tidak akan marah pada Daddy." Tatapan Willi beralih pada Iris.


"Mommy, kenapa tidak menjemput Willi ke sekolah?" nadanya berubah menjadi sedikit ceria dan manja.


Iris tersenyum malu. "Maafkan Mommy. Sepertinya Mommy kelelahan sampai tidak sadar sudah berapa jam tertidur."


"Ah, Daddy pasti membuat Mommy banyak bekerja, tenang nanti aku akan memarahinya!"


"Tidak kok. Eum, karena sudah malam kita tidur lagi, besok kan Willi harus sekolah."


"Oke, Mommy!"


Iris melirik Damar yang belum beranjak dari tempatnya masih memperhatikan ke arahnya, sampai suara Willli membuatnya melotot.


"Daddy, kenapa masih diam? Katanya mau menemaniku tidur."


Reaksi Damar sungguh di luar dugaan, pria itu berjalan mendekat dan merebahkan dirinya di sisi Willi. Membuat anak itu seketika tersenyum.


"Elea pasti akan iri saat mendengarku tidur bersama Daddy dan Mommy," ucapnya sambil memeluk Iris.


Kecanggungan terasa jelas, Iris memilih pokus pada Wili, sedangkan Damar menatap ke arah lain.


Suasana macam apa ini?


"Jangan besar kepala, aku tidur di sini karena Willi yang meminta," balas Damar sebelum memejamkan matanya.


Iris berdecih.

__ADS_1


Terus aku peduli?


__ADS_2