
Bruk!
Damar melemparkan Iris ke kasur, entah apa yang terjadi pada dirinya, yang jelas Damar tidak mau Iris sampai kabur.
Egonya begitu tinggi, Damar ingin sekali melihat Iris bertekuk lutut atau bahkan jatuh cinta padanya.
Damar tersenyum miring melihat Iris yang masih dengan beraninya menatapnya tajam dan seolah tidak terima diperlakukan seperti ini olehnya.
"Ada harga yang harus dibayar atas semua yang sudah aku lalukan padamu, tapi kenapa sesulit itu untuk mematuhi perintahku?"
"Jangan mendekat!" jerit Iris dengan waspada saat Damar mulai membuka bajunya hingga bertelanjang dada. "Tuan hanya pria jahat yang tidak punya hati nurani! Aku tidak pernah meminta Tuan untuk membantuku!"
"Uh, Iris ... Jangan menatapku seperti itu," balas Damar masih mencoba tenang. Dia mendekat ke arah Iris, lalu menangkap wajahnya, mengelusnya agak kasar. "Kamu akan terlihat lebih cantik, jika menatapku penuh cinta."
Iris menggelengkan kepalanya, benar-benar kesal dengan perangai tuannya. "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, tidak akan jatuh cinta pada Tuan! Masih banyak pria baik di luaran sana!"
"Kamu pikir setelah masuk ke dalam hidupku, kamu bisa pergi dan hidup bebas? Tidak Iris, ya aku memang pria jahat. Sayangnya, pria jahat ini adalah suamimu."
"Kenapa Tuan tiba-tiba begini? Bukannya Tuan hanya menganggapku sebagai babu?" Iris semakin tidak mengerti dengan pemikirannya, yang selalu berubah-ubah.
Deg.
Damar terdiam sejenak, apa dia terlalu berlebihan dalam berbicara? Ya, mereka menikah hanya formalitas. Tentu, babu dan istri itu sudah berbeda arti.
"Kamu tahu posisimu, seharusnya kamu tau juga tugasmu apa!"
Iris menghela napas, dia tahu tidak akan pernah menang melawan penguasa seperti Damar.
"Baiklah, apa yang sekarang mau Tuan lakukan padaku?" tanyanya dengan nada pasrah.
"Sebuah hukuman."
"Hukuman apa?"
"Aku ingin kamu melayaniku ..." Mata Iris membulat sempurna saat Damar menunjuk pada kamar mandi. "Di sana."
"Tidak bisa!"
"Kamu membantahku lagi."
"Tap-" Iris tidak bisa berkata-kata sebab pikirannya sudah di luar kendali. Mereka tidak akan mandi bersama kan? Membayangkannya saja membuat Iris merinding.
"Apa keahlianmu hanya menjadi orang dungu! Cepat lakukan tugasmu!" Damar menarik tangan Iris, lalu membawanya ke kamar mandi dengan keadaan Damar yang bertelanjang dada.
Iris mengigit bibirnya, dia ingin memberontak dan mencabik-cabik pria di depannya, tetapi keberaniannya tidak sebesar itu.
Damar menatap Iris dengan intens, menyudutkan tubuh kecilnya itu ke ujung tembok. Tangannya terangkat mengusap bibir Iris yang sempat di ciumnya itu.
"Kenapa tadi kamu membersihkannya? Jika kali ini aku akan melakukannya sampai bibirmu membengkak dan membekas?"
Iris refleks menutup mulutnya, suasana semakin panas saat tubuh kekarnya semakin menempel.
__ADS_1
"Tu-an."
"Kamu tidak bisa kemana-mana sekarang."
Melihat ekspresi Iris yang entah gugup atau ketakutan membuat Damar puas.
"Iris..." Damar berbisik tepat ke telinganya. Napas Iris agak tertahan.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukannya hari ini. Tapi, jika kamu membuat kesalahan lagi. Jangan salahkan aku, aku anggap itu keputusanmu sendiri," lanjut Damar seraya menjauhkan kepalanya, hingga Iris bisa bernapas lega.
"Ayo! Kerjakan tugasmu, bersihkan semua yang ada di sini sampai tidak ada satupun kotoran yang menempel. Lalu siapkan air hangat untuk mandi, buatkan kopi ..." kicauan Damar terus berlanjut sampai rasanya kuping Iris berdenging. Menjelaskan segala tugas yang sebenarnya sudah Iris hapal.
Iris memang babu, babu malang yang terjebak dengan status pernikahan aneh.
***
"Willi! Elea!" teriak Iris saat melihat dua anak kembar yang tengah berjalan ke arah gerbang sekolah, salah satunya tampak kesal sementara yang satunya berwajah datar.
"Hai, Mommy," balas Willi sekenannya. Sedangkan Elea menjerit menujuk wajah Iris.
"Kenapa dia datang ke sini lagi! Elea sudah bilang tidak usah jemput! Teman-teman bilang Elea punya Mommy seorang pembantu! Elea malu gara-gara kamu!" matanya melotot marah.
Iris mencoba menenangkan anak itu, dia juga agak risih karena beberapa pasang mata dari orangtua siswa tertuju pada mereka.
"Elea kita bisa bicara di dalam mobil, yuk!"
"No! Bilang pada Daddy, Elea tidak mau pulang semobil dengannya Willi!" Tangannya terlipat di dada.
"Tapi, Elea ..." Iris menoleh pada Elea yang masih terdiam di tempat.
"Sudah jangan dipedulikan, biar supir lain yang jemput."
Iris menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa meninggalkan Elea, jika terjadi sesuatu dirinya juga yang repot.
"Willi tunggu di dalam mobil, Mommy mau bicara dulu pada Elea."
Melihat Iris yang keras kepala, Willi hanya menghela napas. "Andai Mommy tau, aku hanya tidak ingin Mommy tersakiti dengan kata-kata yang di lontarkan Elea."
Sementara Iris yang tidak mendengar gumaman Willi itu tetap berjalan menghampiri Elea dan mencoba membujuknya.
"Elea sudah bilang tidak mau pulang!" sentak Elea seraya mendelik. "Cepat telpon Daddy!"
Iris hendak menelpon Damar, tetapi melihat wajah sumringah dari Elea dan anak itu secepat kilat berlari membuatnya panik.
"Eleaaaa, tunggu!"
Elea berhenti di sebuah mobil Alphard begitupun dengan Iris yang berada di belakangnya.
"Jangan lari-lari, kalau nanti kamu jatuh dan terluka aku yang di gantung hidup-hidup oleh daddymu!" gerutu Iris agak kesal.
"Hai, Arsen! Hai Om Andreas!" pekiknya senang.
__ADS_1
"Hai, Elea!"
Iris mendongak, melihat siapa yang disapa oleh Elea. Entah, sebuah kebetulan atau apapun itu, belum sempat mencari keberadaannya. Dia datang sendiri, apa ini sebuah keajaiban?
"Wah, kita bertemu lagi." Tatapannya beralih pada Iris.
"Om, Andreas! Elea boleh kan main ke rumah Om. Sudah lama Elea tidak main dengan Arsen."
"Daddymu pasti tidak akan mengizinkan," balasan Andreas membuat Elea kecewa. Padahal dia suka sekali dengan Arsen yang menurutnya tampan itu.
"Tidak usah izin pada Daddy tapi pada Mommy-ku! Dia ada di sini!" tunjuknya pada Iris. "Sama saja kan, Om?"
Apa-apaan anak ini, sekarang dia mengakuiku sebagai ibunya? Ingin sekali Iris mencubit bibirnya.
"Boleh ya, Mommy?" Tangan Elea menangkup. "Pokoknya Elea akan pulang tepat waktu, jam 3 sore. Mommy-ku paling cantik dan baik hati, izinkan ya-ya?"
Melihat Elea dengan ekspresi ini, membuat Iris jadi jengkel. Apa didikan Damar sudah membuat Elea tumbuh menjadi penjilat?
"Iya boleh," balas Iris tanpa pikir panjang. Dia tahu kalau menolak, arahnya pasti dia yang disalahkan oleh anak itu. Toh, hanya bermain dengan temannya.
Elea berseru senang sembari menghambur masuk ke mobil lalu mengobrol dengan temannya yang bernama Arsen itu.
"Hati-hati." Iris melambaikan tangannya meski dia tahu Elea tidak akan peduli.
Ya, setidaknya sekarang Iris tahu bahwa pria yang mirip kakaknya itu memiliki anak yang satu sekolah dengan si kembar. Mereka mungkin akan sering bertemu, jadi Iris bisa langsung menanyakan semuanya.
Iris kembali ke mobil dan mendapati Willi yang hanya meliriknya seraya membaca buku.
"Elea benar tidak mau ikut pulang?"
Secuek apapun Willi dia pasti merasakan kekhawatiran terhadap adiknya.
"Dia main ke rumah temannya."
"Dasar menyusahkan, apa dia tidak malu main terus ke rumah orang lain? Kali ini rumah siapa yang dia datangi?"
"Arsen, tadi dia dijemput oleh papanya Om Andreas."
"Andreas?" Willi terkejut. "Kenapa Mommy membiarkannya?"
"Hah? Kenapa tidak boleh? Mereka kan berteman."
"Tidak bisa, Daddy dan Om Andreas itu tidak akur. Mommy bisa kena marah!"
Iris tidak tahu tentang fakta itu, tetapi seharusnya dia sadar saat bertemu di perusahaan mereka memang tidak terlihat bersahabat.
"Bagaimana ini Wil? Mereka sudah pergi," Iris jadi panik juga, membayangkan kemarahan Damar.
Willi yang mengerti dengan ketakutan Iris, sebab dia jelas tahu bagaimana perlakukan ayahnya itu. "Mommy jangan takut, sekarang kita harus ke rumah Om Andreas dan menjemput Elea dengan paksa. Daddy pasti tidak akan tahu, asal kita tidak memberitahunya." Tatapannya sudah berubah menjadi lebih lembut, dan dibumbui senyuman tipis namun tetap manis.
Seketika hati Iris merasa meleleh, kenapa anak itu bisa sedewasa ini? Ah, sepertinya Iris lahir terlalu cepat. Dia ingin memiliki jodoh seperti Willi, meski cuek tetapi dia sangat perhatian. Beda sekali dengan ayahnya.
__ADS_1
***