Janda Bohay

Janda Bohay
Interupsi


__ADS_3

Dari kejauhan nampak dua orang ibu-ibu yang datang. Ibu-ibu pertama terlihat cantik namun sayang warna pakaiannya tidak nyambung. Atasan merah dan bawahannya kuning.


Ibu-ibu satu lagi memakai baju branded kw dengan banyak perhiasan emas di tangannya. Semua menatap bingung, tak tahu siapa mereka.


Rasa penasaran Djiwa dan para tamu segera terbayar saat para anak yatim berteriak menyambut kedatangan ibu peri mereka yang baik hati. "Mama Sri! Mama Sri! Yey, Mama Sri datang!"


Djiwa dan Mawar saling pandang dengan wajah bingung. "Mama Sri? Siapa Mama Sri?"


Wanita yang bernama Mama Sri datang sambil melambaikan tangannya. Anak-anak yang sudah duduk tenang kini berlarian menghambur ke pelukannya. Riuh suara tawa anak-anak ditambah suara mereka berceloteh membuat para tamu terdiam.


Tak hentinya anak-anak bercerita, saling mencari perhatian terhadap ibu-ibu yang tertawa bahagia mendengarkan celotehan anak-anak yang tak berhenti tersebut "Sst! Anak-anak, tenang dulu ya. Mama belum menyapa pemilik acara!"


Bak bertemu pawangnya, anak-anak yang semula berisik langsung terdiam dalam sekejap. Tak perlu diomeli atau diteriaki, mereka langsung menurut. Djiwa makin penasaran dengan wanita di depannya.


Wanita yang disebut Mama Sri berjalan mendekat. Nampak Pak Prabu berdiri dan tersenyum ramah. Mama Sri juga balas tersenyum. "Maaf telat, Pak. Biasa, Mas Bojo sibuk dan ada pesanan roti." Mama Sri menyalami Pak Prabu dan Pak Prabu balas menyalaminya dengan tawa yang terlihat akrab.


"Sri Welas Asih. Piye kabarmu, Cantik? Aku tak menyangka saat Djiwa mau merayakan acaranya di panti ini ternyata kamu adalah salah satu pengurus dan donatur tetap rupanya. Sempit sekali dunia ini ha ... ha ... " kata Pak Prabu.


"Ah, bisa saja Pak Prabu. Ini kebetulan. Saya senang mendengar anak Pak Prabu mau berbagi dengan anak-anak saya di panti ini. Jarang loh ada anak orang kaya yang mau merayakan pernikahan dan selametan tujuh bulanan di panti. Biasanya di hotel bintang tujuh macam nama obat pusing," jawab Mama Sri sambil tertawa.


"Anak saya berbeda dari saya, Sri. Istrinya membawa anak saya jadi lebih baik lagi. Malah saya jadi mencontoh apa yang anak saya lakukan. Ayo, silahkan duduk Sri. Mas Bojomu mana?" Pak Prabu celingukan mencari keberadaan suami Mama Sri.


"Mana ya? Tadi katanya mau parkir mobil dulu. Eh itu dia. Mukanya ketutupan kardus." Mama Sri menunjuk suaminya yang membawa kardus besar.


Kini gantian, anak-anak menyerbu suami Mama Sri seraya berteriak bahagia. "Papa! Papa datang! Papa bawa apa?"


Suami Ibu Sri menurunkan kardus besar yang ia bawa lalu membagikan bingkisan kepada anak-anak. "Yey, cokelat! Ada bonekanya juga!" seru anak perempuan.


"Iya, ada mobilan Hot Wheels juga!" kata anak laki-laki tak kalah semangat.


Djiwa terus memperhatikan tamu yang telat datang tersebut. Siapa mereka? Kenapa anak-anak begitu bahagia saat mereka datang?

__ADS_1


"Mereka itu orang baik, Mas. Anak-anak peka terhadap orang baik. Terlihat dari cara anak-anak menyambut kedatangan mereka, pasti mereka berkesan di hati anak-anak." Ucapan Mawar seakan menjawab pertanyaan Djiwa.


"Iya, aku pikir juga begitu, Sayang. Aku jadi iri. Aku jadi ingin seperti mereka. Banyak berbuat baik dan banyak disayangi anak-anak di panti. Yang jadi pertanyaanku, kenapa Papa sangat mengenal wanita itu?" tanya Djiwa.


"Sebentar lagi pertanyaan kamu akan terjawab, Mas. Tuh lihat, Papa kamu sedang berjalan ke sini, mengantar suami istri yang penuh misteri itu," kata Mawar.


Djiwa mengikuti arah ucapan Mawar. Benar saja, Papa sedang merangkul kedua tamu istimewanya dan berjalan ke arah mereka. Djiwa dan Mawar pun berdiri dan menyambut dengan senyum ramah.


"Djiwa, perkenalkan, wonder women kita, Sri Welas Asih dan suaminya Mas Bejo." Papa memperkenalkan Djiwa dan Mawar pada kedua tamu istimewanya. Mereka saling bersalaman dan tersenyum ramah. "Sri Welas Asih ini sudah terkenal sepak terjangnya di dunia saham. Beliau yang membantu harga saham Papa naik berkali lipat."


Djiwa membelalakkan matanya mendengar informasi dari Pak Prabu. Ia pernah mendengar tentang wonder women yang satu ini namun tak menyangka kalau penampilannya begitu sederhana untuk orang sepintar itu. "Wah, saya sudah lama ingin bertemu dengan Ibu Sri. Terima kasih banyak sudah mau datang ke acara saya," kata Djiwa penuh hormat.


"Ah ... jangan seperti itu. Saya senang Mas Djiwa mau membuat anak-anak saya bahagia. Selamat ya Mas ... Mbak. Semoga rumah tangga kalian selalu dirahmati dengan kebahagiaan. Semoga kalian terus saling menyayangi dan diberikan keberkahan dalam hidup," doa Ibu Sri.


"Aamiin," jawab Djiwa dan Mawar kompak. "Terima kasih banyak, Bu."


Tak lama Ibu Sri turun dan duduk bersama Pak Prabu untuk diperkenalkan dengan rekan bisnisnya yang lain. Anak-anak juga sudah kembali ke tempatnya masing-masing.


Selesai pembacaan doa, MC kembali mengambil alih acara. "Demikian pembacaan doa dari Pak Ustad, selanjutnya-" Belum selesai MC membacakan acara, kembali ada interupsi.


"Woy, Wa! Tunggu sebentar!" teriak seorang pemuda tampan yang menggendong anaknya di pundak. Di samping pria tampan tersebut nampak istrinya yang memakai hijab, cantik dan enak dilihat. Di belakang pemuda tampan itu ada sepasang suami istri yang berusia senja dan sepasang suami istri yang belum lama Djiwa dan Mawar temui.


"Mas, Carmen dan Mas Zaky datang," bisik Mawar pada Djiwa.


"Iya. Wah, seru sekali hari ini," kata Djiwa sambil tersenyum.


"Iya. Banyak yang datang dan mendoakan kita," sahut Mawar.


Lelaki tampan yang datang sambil menggendong putranya di bahu datang menghampiri Djiwa. "Congrats, Bro. Enggak percaya gue waktu Baby bilang kalau lo mau tujuh bulanan. Kapan nikahnya? Tau-tau udah bunting duluan. Enggak DP duluan kayak ...gue 'kan?"


Mawar terbelalak mendengar pertanyaan tamunya. Namun tidak demikian dengan Djiwa. Suaminya malah tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan konyol dari Wira.

__ADS_1


"Bisa aja nih Bos Bisnis Plus Plus. Enggak dong. Buntingnya setelah akad nikah. Baru diumuminnya sekarang," jawab Djiwa dengan santai.


"Bisnis Plus Plus?" ucap Mawar pelan.


Djiwa dan Wira tertawa melihat ekspresi Mawar. "Bukan seperti yang kamu bayangkan, Sayang. Ceritanya mirip kayak di Novel Mizzly yang judulnya Bisnis Plus Plus. Aku baca karena kamu buat aku penasaran."


"Oh ... begitu." Mawar tak jadi curiga.


Usai mendoakan Djiwa, Wira duduk bersama keluarganya di kursi tamu. Gantian, kini Carmen yang mendoakan Mawar. "Selamat ya Mawar. Oh iya, jangan lupa baca novel baru Mizzly, judulnya Batas Tipis Cinta dan Benci di Mas Paijo. Kamu sudah baca belum?"


"Sudah dong. Terima kasih ya Carmen sudah datang. Nanti kita cerita-cerita lagi ya," kata Mawar.


Carmen pun duduk lalu gantian Agas dan Tari menyalami Mawar dan Djiwa serta mendoakan untuk kebaikan Mawar dan Djiwa. "Ingat Nak, sayangi istri dan keluarga."


"Iya, Pak."


Agas dan Tari pun duduk di kursi mereka. MC acara yang bete karena acara terus diinterupsi tak menyadari kalau mic yang ia pegang sudah berpindah tempat.


"Sudah siap bergoyang?" Ibu-ibu yang memakai baju kw dengan banyak emas di tangannya lalu bersiul dan memberi kode pada pemain musik untuk memainkan lagu yang dimintanya. "Musik!"


Acara berubah menjadi panggung musik. Lagi. Djiwa dan Mawar tertawa melihat para tamu turun untuk berjoget bersama. Anak-anak yatim piatu tertawa bahagia dan orang-orang di sekeliling mereka juga bahagia. Nikmat mana yang lantas mereka dustakan?


****


...TAMAT...


****


Terima kasih semua atas dukungannya selama ini. Insya Allah novel berikutnya akan terbit jadi pantengin terus sosial media aku ya di IG: Mizzly_ atau di fb: Mizzly.


Selagi menunggu novel baru, yuk baca Batas Tipis Cinta dan Benci. Baca sampai habis di Pizo ya.

__ADS_1


Sampai bertemu di novel selanjutnya. Luv u all 🥰🥰🥰


__ADS_2