
Rendi dengan patuh mengikuti perintah Djiwa. Ia sempat melirik ke arah Pak Prabu dan Ibu Mina sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan yang sejak tadi membuatnya sesak.
Di luar ruangan bos besarnya, Rendi menghirup nafas banyak-banyak dan menghembuskannya. Lega rasanya bisa keluar dari ruangan itu masih dengan kepala menempel di badan.
"Kenapa lo? Ada juga gue yang harusnya bersikap kayak lo!" Djiwa ternyata menunggu sahabat sekaligus asisten pribadinya keluar dahulu baru bersama-sama mereka pergi ke ruangan Djiwa.
"Gila, Wa. Sumpah, gue dari tadi deg-degan lihat bokap lo marah." Rendi menurunkan suaranya saat para karyawan melihat ke arah mereka seakan ingin tahu apa yang terjadi sampai pemilik perusahaan marah besar seperti itu.
"Sama, gue juga. Mumet sekarang nih kepala gue. Banyak yang gue pikirin. Nasib Mawar juga entah akan seperti apa. Gila ya orang tuanya Melati, segala ngadu ke bokap lagi! Runyam semua."
Rendi berjalan mendahului Djiwa dan membukakan pintu untuk bosnya. Mereka melanjutkan pembicaraan kembali di dalam ruangan Djiwa.
Djiwa duduk di kursi kebesarannya. Ia meneguk air minum yang disediakan di atas meja sampai habis. Air yang diminumnya sedikit meredam kemarahannya.
"Maaf ya, Wa. Gue enggak bisa kasih tahu lo. Tiba-tiba saja asisten Papa lo datang ke warung Mawar. Gue lagi jelasin ke Lily eh dia nyuruh gue ikut. Handphone gue langsung disita dan gue semalam disidang sama Papa lo. Pagi-pagi gue diminta datang. Tentu saja semua gerak-gerik gue diawasi. Gue udah cerita apa adanya sama Papa lo. Bagaimana Mawar mencintai lo secara tulus dan lo juga sangat mencintai Mawar namun Papa lo tetap saja tidak peduli." Rendi mengakui kesalahannya.
"Lo enggak salah kok, Ren. Papa tetap akan tahu karena Melati pasti tak akan tinggal diam. Untung saja kemarin Mawar sudah hajar dia habis-habisan. Makasih ya, Sob. Maaf karena ulah gue, lo jadi kena omel Papa dan Mama. Tenang saja, lo akan tetap kerja sama gue kok. Gue jamin. Mana bisa sih gue hidup tanpa lo? Tapi gue lebih enggak bisa hidup tanpa Mawar sih." Djiwa mengacak rambutnya dengan kesal. "Aarrghhh!"
"Kenapa semua jadi runyam sih?" keluh Djiwa.
"Ya ... semua karena ulah lo juga, Wa," batin Rendi. "Udah gue suruh berhenti eh lo malah makin nyemplung di pesona Si Janda Bohay."
Rendi mau menghibur Djiwa setelah menjelekkannya di dalam hati namun ponsel miliknya berdering. "Sebentar, Wa. Gue angkat telepon dulu. Penting!"
Rendi mengambil ponsel miliknya dan menggulir icon warna hijau ke atas. "Ya, ada apa?" tanya Rendi.
__ADS_1
"Apa? Ketemu? Bagus. Bawa dia ke tempat dimana Jamal berada. Buat dia mengakui semua kesalahannya dan buat dia taubat juga seperti Jamal!" perintah Rendi.
Djiwa menatap Rendi dan menunggu asistennya selesai berbicara di telepon. "Kenapa? Anton ketemu?" tanya Djiwa dengan tak sabar setelah Rendi mengakhiri panggilan teleponnya.
"Iya. Ketemu. Dua bogar lo lagi bawa ke tempat Jamal," lapor Rendi.
"Bagus. Kini saatnya balas dendam sama keluarga Melati," kata Djiwa dengan penuh dendam.
"Kayaknya ... enggak semudah itu deh, Wa. Anton bukan Jamal. Dia pembunuh sebenarnya. Tak semudah itu membuatnya mengakui kesalahannya sama Mawar. Kalau Jamal mungkin mau mengaku karena memang dia juga dijebak. Jamal bisa saja jadi korban. Kekurangan Jamal adalah ia akhirnya ikut serta dalam permainannya Anton. Hukuman Jamal tidak seberapa, beda dengan Anton." Perkataan Rendi membuat Djiwa berpikir kembali.
"Iya juga ya. Suruh aja tuh dua bogar siksa Anton sampai dia ngaku!" kata Djiwa seenaknya.
"Enggak bisa dong, Wa. Ingat, kesaksian di bawah tekanan dan ancaman itu bisa digugurkan di persidangan. Jamal saja susah dibuat taubat. Apalagi Anton yang biasa berbuat jahat? Sulit membuatnya taubat, apalagi biasa memakan uang haram."
Djiwa dan Rendi saling diam. Keduanya berpikir keras bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Membalas Papanya Melati atas ulahnya mengadukan Djiwa sekaligus memukul mundur musuh dalam sekali tepuk.
"Gue tau!"
"Gue tau!"
Djiwa dan Rendi kompak berteriak. Kedua tersenyum penuh arti dan membicarakan ide keduanya.
****
Sejak tadi perasaan Mawar terus tak enak. Matanya berkedut, kata Ibu Mawar dulu kalau mata berkedut artinya akan bertemu dengan seseorang. Benarkah?
__ADS_1
"Kamu melamun saja, Mawar. Perut kamu bagaimana? Masih kram? Mas Djiwa tahu tidak kalau perut kamu sejak kemarin kram terus?" tanya Lily.
Mawar menggelengkan kepalanya. "Mas Djiwa tidak tahu. Bukan masalah besar kok, Ly. Sudah lama tidak berantem, jadi aku agak lengah dan perutku sakit. Wajar saja."
Lily tersenyum mendengar jawaban Mawar. Ya, Mawar dulu selalu membela temannya yang didzolimi tahanan lain. Mawar akan maju dan melawan dengan tenaganya yang besar itu. Lily tidak heran kalau Mawar kuat mengangkat ayam berkilo-kilo.
"Kalau semakin sakit, bilang ya. Nanti aku antar kamu ke rumah sakit. Kamu keren loh kemarin. Bukan cara kamu berantem ya, aku sudah melihat yang lebih hebat dari kemarin. Aku salut kamu tak takut meski sudah tahu siapa lawan kita. Kamu sudah tahu ya identitas sebenarnya Mas Djiwa?" selidik Lily.
Mawar mengangguk. "Sudah. Maaf aku tak mengatakannya sama kamu, Ly."
Lily kembali tersenyum. "Tak apa. Melihat kamu tak kaget saat Mas Djiwa datang dengan jas mahal dan mobil mewah, aku menduga kamu sudah tahu identitas suami kamu. Aku hanya tak menyangka saja, orang sehebat Mas Djiwa bisa takluk dengan kamu. Cinta Mas Djiwa sama kamu lebih besar, bahkan dia rela menyembunyikan identitasnya hanya agar bisa bersama kamu terus."
Mawar tersenyum kecil. Ia bahkan meragukan kalau dirinya masih bisa terus bersama Djiwa saat kedua orang tua Djiwa tahu siapa dirinya. "Ada pembeli, Ly. Biar aku saja yang mencatat pesanannya."
Mawar mengambil buku menu dan menyapa pembeli yang datang dengan ramah. "Silahkan Ibu dan Bapak."
Mawar mempersilahkan kedua pembelinya duduk lalu menaruh buku menu seraya merekomendasikan menu favorit di warung miliknya. "Warung kami terkenal dengan menu ayam geprek dan ayam penyet hot plate yang banyak diminati para pembeli. Ada juga-"
"Bisa kami bertemu dengan Mawar?" Belum selesai Mawar menjelaskan, pembeli tersebut memotong perkataan Mawar.
"Ada apa ya?" tanya Mawar seraya memperhatikan Ibu Mina yang nampak anggun dan berkelas. Mawar seakan baru menyadari siapa wanita yang berada di depannya.
Wanita berusia hampir separuh baya itu menatap Mawar dengan lekat. "Kamu yang namanya Mawar?"
****
__ADS_1