
Djiwa berpikir sejenak. Hatinya panas dan marah mendengar cerita Mawar namun otak haruslah dingin. Djiwa jadi penasaran dengan sosok yang bernama Jamal. Seperti apa wujudnya?
Kalau menyuruh Rendi mencari dari CCTV sekitar ruko, ia merasa kasihan. Tugas Rendi sudah cukup banyak. Menyuruh orang lain juga tak ada yang ia percaya. Ia takut penyamarannya terbuka jika banyak yang tahu dimana dirinya saat ini.
"Mas! Kok malah melamun sih?" Mawar menyadarkan Djiwa dari keasyikannya berpikir.
"Oh maaf, Sayang. Mas lagi mikir. Mas mau tanya sama kamu, saat tadi kamu melihat Jamal, apa dia melihat kamu?" tanya Djiwa.
Mawar mengangguk. "Melihat, Mas. Mas Jamal juga terkejut melihatku namun karena antrian abang ojek banyak dia tak tahu kalau aku langsung naik ke lantai atas."
Benar dugaan Djiwa. Lelaki itu memang melihat Mawar makanya dia masuk ke dalam ruko dan terlihat celingukan. "Pasti dia akan datang lagi mencari kamu."
Wajah Mawar yang semula sudah tenang kini kembali khawatir. Timbul ketakutan lagi dalam dirinya bertemu lelaki dari masa lalunya.
"Tenang saja, besok Mas tidak ke kantor kok. Mas yang akan hadapi. Kamu di dapur saja jangan keluar kalau Mas memberi kode keberadaannya."
"Kalau ternyata dia datang lusa saat Mas ke kantor bagaimana?" Mawar masih terlihat tak tenang.
"Ada Lily, Bu Sari dan Mbak Nia. Semua akan menjagamu, Sayang. Aku akan minta ijin agar bisa bekerja dari rumah untuk sementara sampai aku bisa bertemu dengan Jamal, lelaki yang membuat kamu ketakutan. Kamu tenang saja ya!"
Ucapan Djiwa berhasil menenangkan Mawar. Sesaat Mawar lupa dengan kecurigaannya. Djiwa pun menepati janjinya untuk tidak berangkat kerja ke kantor. Ia sibuk dengan laptopnya dan mengerjakan pekerjaan kantor di ruko saat tak ada pembeli. Tak lupa masker selalu ia kenakan.
Sehari ... dua hari ... pria bernama Jamal baru muncul di hari ketiga. Mawar yang hendak keluar dari dapur terkejut saat mendapati lelaki yang sedang makan di warung miliknya. Cepat-cepat Mawar masuk ke dalam dapur kembali dan menelepon Djiwa. Beruntung Jamal sedang fokus makan jadi tidak melihat keberadaan Mawar.
Djiwa yang fokus bekerja terkejut dengan panggilan telepon di ponsel miliknya. Nama My Cintaku, begitu nama Mawar yang ia namakan terlihat di layar depan. Djiwa menaruh curiga. Tak mungkin Mawar meneleponnya sedang Mawar tahu dirinya sedang fokus bekerja. Pasti ada sesuatu.
Mata Djiwa mencari sesuatu. Diangkatnya telepon dari Mawar dan langsung bertanya sesuai apa yang ia curigai. "Ada di sini?"
"Iya, Mas." Suara Mawar terdengar ketakutan.
__ADS_1
"Tenanglah. Yang mana? Meja no.10 atau 12?" Djiwa melihat dua lelaki yang mencurigakan.
Meja nomor 10, laki-laki dengan kulit hitam, memakai jaket jeans dan topi. Usia sekitar 30-an. Lelaki tersebut sedang makan dengan lahap sambil sesekali mengedarkan pandangannya ke dalam ruko.
Meja nomor 12, laki-laki dengan rambut agak panjang dikuncir karet. Di wajahnya ditumbuhi cambang dan terus melihat ke arah TV flat sambil sesekali melihat ponsel dan melirik kiri kanan.
Djiwa menutup laptop miliknya. Bersiap melakukan aksi selanjutnya. "No-nomor 10, Mas." Suara Mawar setengah berbisik.
"Oke. Kamu tenang dan jangan keluar dapur dahulu. Aku akan selesaikan dengan caraku." Sambungan telepon lalu diputus oleh Djiwa.
Sambil memperhatikan agar target tidak kabur, Djiwa menelepon seseorang. "Standby. Target ada di ruko." perintah Djiwa tanpa basa-basi. Djiwa lalu mengirim pesan memberitahu ciri-ciri target pyada dua body guardnya.
"Siap, Bos!" ujar suara berat di ujung sana.
Djiwa memasukkan laptop miliknya ke dalam tas. Ia menelepon Rendi dan memintanya menghandle pekerjaan sampai ia kembali.
"Yakin, Bos?" Suara Rendi terdengar mengkhawatirkan bosnya.
Djiwa ikut berdiri lalu memberikan laptop miliknya pada Lily. "Titip, Ly. Bilang sama Bidadari di dalam kalau sudah aman."
"Iya, Mas." Djiwa berjalan keluar dan sudah nampak salah seorang body guardnya menunggu di depan ruko dekat warung dengan motor besar.
Seorang body guard yang lain mengikuti target dengan motor yang sama. "Silahkan, Bos!" Body guard menyerahkan helm pada Djiwa.
Helm berwarna hitam dipakai Djiwa. Ia duduk di bangku penumpang dan mengikuti kemana target mereka pergi. Ditinggalkannya motor butut yang takut mogok jika dibawa ngebut.
Djiwa sudah bisa melihat Jamal. Body guard yang memboncenginya rupanya pintar ngebut dan menyalip. Di telinga body guard tersambung earphone untuk berkomunikasi dengan rekan satu timnya.
Motor lalu berbelok ke arah pasar. Djiwa mengenal tempat ini. Bagaimana tidak, setiap pagi ia harus menemani Mawar. Bedanya adalah Jamal berbelok ke lapak beras, sementara Djiwa dan Mawar biasa ke lapak ayam potong dan sayuran.
__ADS_1
Jamal memarkirkan motornya di parkiran liar yang ada di dalam pasar. Pernah Djiwa memarkirkan motor bututnya namun saat kembali kaca spionnya terdapat bulu-bulu hitam. Entah bulu ketiak atau hidung abang penjaga parkir. Benar-benar parkiran liar, seliar yang jaga.
Setelah Jamal masuk ke dalam, Djiwa turun di parkiran liar. Ia mengikuti aba-aba body guardnya yang terus berkomunikasi dengan rekannya yang lain.
"Bos, masuk ke dalam butuh orang. Saya tidak bisa berdua. Mohon ijin saya minta bantuan rekan saya yang di sini," kata body guard yang bersama Djiwa.
"Saya ijinkan. Kita harus usut sampai tuntas!" perintah Djiwa dengan tegas.
"Siap, bos!" Body guard yang menemani Djiwa terlihat menghubungi seseorang dan tak lama mempersilahkan Djiwa masuk.
Djiwa masuk ke dalam lapak yang kiri kanannya berisi tumpukan karung beras. Memang di pasar ini terbagi-bagi antara lapak buah, sayur, daging, beras dan aneka bumbu dapur. Lokasinya yang luas membuat pasar ini merupakan salah satu pasar terbesar yang mensuplai kebutuhan masyarakat.
Mereka lalu masuk ke dalam melewati lorong yang kini mengecil dengan pencahayaan yang tak seterang sebelumnya. Dari kejauhan nampak body guard Djiwa yang satu lagi sedang menguping pembicaraan di balik sebuah ruangan yang sisi-sisinya terbuat dari kayu.
Body guard memberi kode pada Djiwa untuk tak bersuara dengan menaruh telunjuk di bibirnya. Djiwa mengangguk dan kini mendengarkan percakapan di dalam.
"Gue yakin kalau itu Mawar! Kenapa juga tuh janda Purnomo malah tinggal di Jakarta sih? Bukannya tinggal di daerah terpencil lain gitu!" Sebuah suara terdengar sedang berkeluh kesah.
"Beneran dia di Jakarta? Ngapain?"
"Jadi karyawan di warung ayam geprek gitu. Kita harus nemuin dia dan ambil paksa handphone Purnomo. Bos udah nyuruh kita bersihin semua, cuma Purnomo lebih pintar dari yang kita duga dia-"
Djiwa sedang asyik menguping kala mendengar suara bentakan.
"Woy! Ngapain lo disitu?"
****
Pagi semua ...
__ADS_1
Deg-degan ya dengan cerita Mawar? Mau double up? Yuk buat aku semangat nulis dengan vote, mawar yang bertebaran, like dan add favorit tentunya 🥰🥰🥰🥰