
Mawar sejak tadi merasa gelisah. Ia mondar-mandir di dalam ruko dan tidak konsentrasi melayani pembeli. Beberapa pembeli bahkan sampai tertukar pesanannya. Lily yang melihat sahabatnya sedang banyak pikiran meminta Mawar untuk beristirahat saja di kamar.
Di dalam kamar pun Mawar tidak bisa tenang. Ia mengkhawatirkan suaminya, Djiwa. Meski sebelumnya Mawar merasa curiga dengan apa yang dilakukan oleh sang suami, hal itu seakan pupus oleh kenyataan bahwa suaminya sedang mengejar seseorang yang sangat ia takuti di dalam hidupnya. Seseorang yang sudah menggiring massa dan menciptakan opini bahwa dia adalah pembunuh Mas Pur.
Mawar ingat sekali bagaimana Jamal dulu begitu vokal menuduhnya sebagai pembunuh, padahal Jamal tidak ada di lokasi kejadian. Bagaimana mungkin Jamal bisa tahu kalau Mawar adalah pembunuhnya, sedang ia tidak ada di lokasi?
Jamal pula yang membuat hidup Mawar jadi tidak tenang setelah keluar dari Lapas. Jamal terus menerus mengganggu Mawar agar Mawar pergi dari kampung tempat kelahirannya.
Kini Jamal datang lagi. Entah apa yang ia rencanakan, Mawar yakin pasti semua berkaitan dengan dirinya. Mawar menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menghela nafas berat. Mawar merasa lelah terus menerus harus kabur dan berlari atas sesuatu yang tidak ia lakukan.
Kini di saat hidupnya mulai tertata dengan baik, masalah di masa lalunya kembali datang. Mawar takut Djiwa akan terluka. Djiwa pasti akan sekuat tenaga melindungi dirinya, Mawar yakin itu.
Saat tak ada tempat mengeluh, hanya kepada-Nya tempat kembali. Mawar berdiri dan mengambil wudhu. Ia lalu sholat dan mengaji, mendoakan keselamatan suaminya.
Mawar tertidur dalam keadaan masih mengenakan mukena. Djiwa yang membangunkannya. "Sayang, bangun. Kenapa kamu tidur di atas sajadah seperti ini?"
Mata Mawar terbuka mendengar suara yang sejak tadi ia ingin dengar. Melihat Djiwa di depannya, Mawar duduk tegak. "Mas sudah pulang?"
Djiwa mengangguk. "Sudah."
Mawar melihat wajah Djiwa. Sudut bibirnya biru bekas terkena tonjokkan. Hati Mawar yang baru saja lega karena Djiwa sudah pulang kini kembali khawatir. "Mas terluka?"
Mawar memeriksa bagian tubuh Djiwa. Celana yang Djiwa kenakan agak kotor. Kaos yang dikenakan pun demikian. Ada bekas balok kayu yang tadi dipukulkan di punggung Djiwa.
"Aww!" Djiwa mengaduh kesakitan saat Mawar menyentuh punggungnya.
"Sakit? Mana lagi yang sakit?" Mawar kembali memeriksa suaminya. "Coba berdiri!"
__ADS_1
Djiwa berdiri sambil menahan rasa sakit di tubuhnya. Semua tak lepas dari pengamatan Mawar yang saat berdiri terus melihat ekspresi Djiwa. Disentuhnya perut datar sang suami.
"Aww!" Djiwa memekik kesakitan lagi.
"Mas mandi dulu, baru aku obati. Bersihkan dulu tubuh Mas. Bisa mandi sendiri?" Tatapan Mawar masih sama, terlihat khawatir.
Jika tak memikirkan tubuhnya yang terluka, Djiwa pasti akan meminta dimandikan oleh Mawar dan mereka akan melanjutkan ke babak selanjutnya. Sayangnya, luka yang Djiwa dapatkan membuatnya harus berpikir ulang. "Bisa, Sayang."
"Yaudah, Mas mandi dulu. Aku siapkan obat dan makan buat Mas."
Bak anak kecil yang menurut perkataan ibunya, Djiwa pun demikian. Menurut apa yang Mawar katakan. Sehabis mandi, Djiwa yang hanya mengenakan handuk yang dililit di pinggang, mendapati tubuhnya banyak lebam.
Mawar masuk ke dalam kamar dan melihat keadaan suaminya. "Banyak sekali luka kamu. Habis berkelahi kamu, Mas? Sama Mas Jamal?"
Mawar membantu Djiwa memakai kaos. Mawar mengambil Betadine dan mulai mengolesi luka di tubuh Djiwa. "Mau ke dokter saja?"
"Loh kok bisa? Bukannya tadi Mas mengejar Mas Jamal?"
Djiwa mengajak Mawar duduk di tempat tidur. Ada hal penting yang harus Djiwa tanyakan pada Mawar. "Jamal ternyata selama ini dilindungi oleh preman pasar dan ada orang yang menyuruhnya untuk ...."
"Untuk apa?" tanya Mawar.
"Untuk membunuh mantan suamimu, Purnomo."
Mata Mawar terbelalak mendengar apa yang dikatakan Djiwa. "Mas Jamal yang membunuh Mas Pur?" Nada suara Mawar naik saat bertanya pada Djiwa. Nafasnya menderu cepat dan ia terlihat emosi.
Djiwa mengangguk. "Secara tak langsung dia yang membunuh Purnomo, meski ia tak tahu tapi ia mendukung rencana pembunuhan Purnomo."
__ADS_1
"Tapi ... bagaimana bisa, Mas? Mas Jamal itu teman sejak kecil Mas Pur. Dia jadi orang yang paling marah saat tahu Mas Pur meninggal. Dia yang pertama mengatakan aku adalah pembunuh Mas Pur. Dia yang bahkan mengusirku dari kampung karena tak mau bertemu dengan wanita yang sudah membunuh sahabatnya!" Mawar meluapkan emosinya sambil menangis.
Djiwa berdiri sambil meringis kesakitan. Tulang rusuknya terasa sakit saat digerakkan secara tiba-tiba. Djiwa menahan semuanya agar bisa memeluk Mawar dan memberinya perlidungan.
"Semua orang bisa berlaku jahat jika ada tujuannya, Sayang. Tenanglah. Orang yang sebenarnya membunuh bukanlah Jamal. Jamal pun dijebak oleh orang tersebut." Djiwa memeluk sambil mengusap punggung Mawar. Sesekali Djiwa meringis karena sakit yang ia rasakan.
Mawar menangis dalam pelukan Djiwa. Pelukan menenangkan yang membuat Mawar merasa aman dan bisa mencurahkan isi hatinya. Djiwa membiarkan Mawar menangis sampai lega, meski harus menahan rasa sakit saat pelukan Mawar terlalu erat mengenai tulang rusuknya.
Mawar melepaskan pelukannya dan menatap Djiwa dengan berbagai perasaan. Ada rasa berterima kasih, sedih dan menyesal sudah membiarkan Djiwa pergi demi menyelesaikan konflik masa lalunya. Terlintas dalam benak Mawar, kalau sampai terjadi sesuatu pada Djiwa tadi, Mawar pasti akan menyesal.
"Kenapa Mas terus mengejar Jamal sih? Masih untung Mas selamat. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Mas, aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri loh, Mas!"
Djiwa mengusap air mata Mawar. "Mas tidak sendiri kok. Mas bersama teman-teman, Mas. Mereka membantu Mas."
Djiwa mengajak Mawar kembali duduk tenang dan menceritakan apa yang Jamal ceritakan pada Djiwa beserta percakapan yang Djiwa dengar antara Jamal dan temannya yang berhasil lolos. Djiwa menduga kalau itu adalah Anton. Orang dibalik pembunuhan Purnomo.
"Tetap saja Mas Jamal harus dihukum karena sudah membunuh Mas Pur. Aku tak menyangka orang yang selama ini kupikir sahabat Mas Pur tega meracuni sahabatnya sendiri! Dimana hati nuraninya?"
Kembali Djiwa menenangkan istrinya yang lupa jika tadi sedang mengobati lukanya. Untung saja Djiwa sudah ke dokter, jika tidak bisa bertambah parah saja lukanya.
"Sudahlah. Kita pikirkan itu nanti. Semua akan kita bawa lewat jalur hukum, untuk itu kita perlu bukti kuat. Perkataan Jamal sudah aku rekam, namun aku tak yakin kalau pernyataan di bawah ancaman akan diterima oleh pengadilan. Berdasarkan pembicaraan Jamal, ada ponsel Purnomo yang merekam sesuatu. Apa kamu memilikinya?"
"Ponsel? Itu!"
Mata Djiwa terbelalak setelah mengikuti arah pandangan yang Mawat tunjukkan. "Kamu menyimpannya disitu? Pantas saja Jamal tidak menemukannya!"
****
__ADS_1
Ada yang bisa nebak disimpan dimana?