
"Warung Janda Bohay? Warung apa itu? Kok namanya agak-agak kampungan gimana gitu?" tanya salah seorang peserta arisan.
"Namanya juga strategi bisnis, Bu. Kalau namanya unik biasanya akan menarik minat pembeli. Yang terpenting masakannya bukan?" bela Ibu Mina.
"Iya juga sih. Masakannya enak. Coba saya cek di Mbah Gogole kayak gimana restorannya." Ibu tersebut membuka ponsel miliknya dan mencari Warung Janda Bohay.
"Di ruko gitu ya? Bagus designnya. Intragamable, kalo kata anak sekarang. Kapan-kapan saya mampir ah. Saya mau coba menu ayam geprek hot plate. Ini saja enak apalagi disiram kuah pedas dan disajikan di atas hot plate. Pasti lebih lezat lagi."
Tanpa Ibu Mina sadari, ia turut mempromosikan usaha Mawar. Ia bangga masakan buatan Mawar bisa diterima dengan baik di lidah teman-teman sosialitanya yang terbiasa makan makanan sekelas hotel bintang lima.
Hari ini semua merasa puas dengan apa yang disajikan Ibu Mina. Banyak pujian yang Ibu Mina dapatkan. Tak terasa hari sudah sore. Setelah teman-temannya pulang, Ibu Mina kembali teringat dengan Mawar.
"Bi, Mawar dimana?" tanya Ibu Mina.
"Di gazebo belakang, Bu. Tadi Ibu bukannya nyuruh saya antar ke belakang?" tanya balik Bi Ijah.
"Loh, saya pikir sudah masuk lagi ke dalam setelah acara makan-makan selesai? Lama loh dia di belakang. Kamu sediakan makanan dan minuman tidak?" Ibu Mina rupanya khawatir juga dengan keadaan Mawar.
"Saya sediakan minuman dan cemilan, Bu."
Ibu Mina melihat jam di dinding sudah jam setengah lima sore, artinya Mawar belum makan siang. Acara makan siang dengan teman-teman arisannya membuat Ibu Mina lupa dengan menantunya tersebut.
"Kamu siapkan makanan. Dia belum makan siang loh! Saya ke belakang dulu!" Ibu Mina pergi ke halaman belakang. Betapa terkejutnya Ibu Mina melihat apa yang menantunya sedang lakukan.
Di atas gazebo, Mawar sedang mengaji sehabis sholat ashar. Mawar yang selalu membawa mukena kecil kemana pun ia pergi tadi sempat bertanya pada tukang kebun mengenai arah kiblat di rumah besar Djiwa. Untuk mengisi waktunya, Mawar memilih mengaji dan mendoakan keselamatan suaminya.
__ADS_1
Ibu Mina berjalan mendekat. Ibu Mina tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Menantu yang tak direstuinya itu mengaji dengan suara pelan namun masih bisa ia dengar.
Ibu Mina kembali teringat perkataan Djiwa saat di kantor waktu itu. "Mawar sama sekali tak tahu siapa Djiwa. Dia tulus menolong Djiwa. Mana Mawar tahu kalau Djiwa anak orang kaya? Yang Mawar nikahi adalah Djiwa yang berbohong jadi pemuda kampung yang terkena hipnotis, bukan anak pengusaha terkenal. Lihatlah betapa tulusnya dia. Semua orang bilang kalau dia barbar? Asal kalian tahu, Mawar adalah wanita lembut dan baik hati di mata Djiwa."
"Apa benar aku sudah salah menilai orang? Apa benar wanita di depanku adalah menantu yang baik, sesuai pilihan anakku? Bukankah ia mantan pembunuh? Bagaimana nasib anakku kelak?" Terjadi pergolakan batin dalam diri Ibu Mina. Apa yang ia lihat dengan mata kepalanya berbeda dengan informasi yang ia dapat. Apa mungkin wanita solehah macam Mawar mampu membunuh suaminya yang dulu?
"Ehem!" Ibu Mina berdehem membuat Mawar menghentikan kegiatan mengajinya dan melihat ke arah Ibu Mina.
Mawar menyelesaikan mengajinya lalu menutup aplikasi di ponsel miliknya. Mawar semakin cerdas mempergunakan smart phone yang Djiwa belikan.
Ibu Mina duduk di gazebo sementara Mawar melipat mukenanya. "Sudah selesai acara arisannya, Bu?" tanya Mawar berbasa-basi.
"Sudah," jawab Ibu Mina singkat. Ibu Mina masih merasa kaku berbicara dengan Mawar.
Mawar duduk di samping Ibu Mina setelah melipat mukenanya. Ia siap menunggu keputusan mertuanya tersebut.
"Insya Allah, Bu. Saya juga tidak tahu pasti. Saya hanya tahu dari body guard yang Mas Djiwa tugaskan untuk melindungi saya. Katanya Mas Djiwa sedang ada urusan dan tak bisa mengaktifkan ponsel miliknya. Jujur, saya juga mengkhawatirkan Mas Djiwa. Saya hanya bisa mendoakan Mas Djiwa, semoga Allah selalu melindungi Mas Djiwa dimana pun ia berada," kata Mawar.
Ibu Mina mengaminkan perkataan Mawar dalam hatinya. Sama seperti Mawar, ia pun khawatir dengan keadaan Djiwa. Anak itu tiba-tiba mengirim pesan kalau akan cuti namun tak memberitahu dimana keberadaannya. Ibu Mina pikir Djiwa di tempat Mawar, ternyata tidak.
"Masuklah ke dalam! Kamu belum makan siang sejak tadi. Maaf saya lupa karena ada tamu yang datang." Meski terdengar dingin, namun Ibu Mina mengatakannya dengan tulus. Mawar bisa merasakannya.
Mawar pun tersenyum. "Tak usah, Bu. Terima kasih. Nanti saja saya makan di rumah."
"Kenapa kamu tolak tawaran saya? Takut saya akan menjahati kamu?" sindir Ibu Mina.
__ADS_1
"Maaf, Bu, bukan begitu maksud saya. Saya hanya-" Mawar tak meneruskan perkataannya. Ia cepat-cepat turun dan pergi ke sebuah selokan. "Uweek!"
"Kamu kenapa?" Ibu Mina berjalan dengan cepat menghampiri Mawar. Ia membantu menepuk punggung Mawar dengan lembut. "Masuk angin?"
Ibu Mina jadi tak enak hati. Ia menyuruh Mawar menunggu lumayan lama di gazebo. Takut anak orang kenapa-napa karena ulahnya.
Mawar menggelengkan kepalanya. Ia masih memuntahkan isi perutnya. Setelah dirasa sudah selesai, Mawar membersihkan mulutnya dengan tisu yang diberikan oleh Ibu Mina.
Ibu Mina menggandeng Mawar dengan wajah khawatir. "Kita ke dalam saja. Takutnya kamu masuk angin!"
Mawar menurut. Ia pun mengambil tas miliknya dan berjalan masuk ke dalam dengan digandeng oleh Ibu Mina. Mereka melewati tepi kolam renang dan masuk ke dalam rumah.
Ibu Mina mengajak Mawar ke ruang keluarga yang terlihat nyaman dengan sebuah TV berukuran besar. Mawar kini mengerti kenapa setiap melihat TV di rumah kontrakkannya Djiwa selalu heran dan menahan tawanya.
"Duduklah dulu. Biar saya ambilkan minyak kayu putih," pesan Ibu Mina.
Mawar mengangguk lemah. Mungkin Ibu Mina benar kalau dirinya masuk angin. Mawar sering bangun malam untuk sholat tahajud memohon keselamatan suaminya. Istirahatnya kurang dan pekerjaan yang harus ia kerjakan banyak. Mungkin tubuhnya protes dengan cara mual dan muntah.
Ibu Mina datang dengan minyak kayu putih dan di belakangnya ada Bi Ijah membawa teh manis hangat. "Minum dulu tehnya agar perut kamu hangat," perintah Ibu Mina.
Mawar menurut, ia mengambil teh hangat dan merasakan tubuhnya lebih enak saat air hangat masuk ke dalam perutnya. Ibu Mina menuangkan minyak kayu putih ke tangannya lalu membalurkannya sendiri ke belakang leher Mawar. "Coba kamu tuang ke perut dan dada kamu. Biar hangat dan mualnya hilang."
"Baik, Bu." Mawar kembali nurut. Ini yang Ibu Mina suka. Menantu yang tak banyak membantah dan kebanyakan gaya macam Melati. Ibu Mina kini menyadari kalau pilihan anaknya tidak terlalu buruk.
"Tunggu dulu deh, kalian bukannya sudah dua bulan lebih menikah ya?" tanya Ibu Mina yang dijawab dengan anggukan oleh Mawar. "Kamu sudah coba test pack belum? Jangan-jangan kamu hamil?"
__ADS_1
****