
Sesuai janji, Djiwa mengajak Mawar bertemu dengan Jamal. Permintaan Jamal untuk meminta maaf secara langsung pada Mawar agar hatinya lebih lega dan rasa bersalah dalam dirinya sedikit berkurang.
"Kamu kuat bukan?" tanya Djiwa.
Mawar mengangguk, senyum di wajahnya terukir meski hatinya berdegup kencang. Bertemu dengan lelaki yang sudah memfitnahnya sedemikian kejam, siapkah dirinya?
"Kalau kamu tak kuat, jangan dipaksa," kata Djiwa. Ia melihat perubahan wajah Mawar yang terlihat lebih pucat saat mereka menunggu Jamal datang.
"Aku kuat, Mas. Aku sudah berusaha ikhlas. Kamu tenang saja," kata Mawar.
"Benar?" tanya Djiwa sekali lagi.
"Mas tenang saja ya." Mawar menggenggam tangan Djiwa, terasa hangat dan melindungi seperti biasanya. "Aku baik-baik saja. Sama seperti Mas Jamal yang mau melepas sedikit rasa bersalahnya, aku juga mau melepas sedikit kenangan buruk di masa lalu dengan memaafkan."
"Masya Allah Sayang, hati kamu benar-benar baik. Membalas kejahatan orang lain dengan kebaikan. Betapa beruntungnya aku memiliki istri sebaik kamu," puji Djiwa.
Percakapan Djiwa dan Mawar terhenti ketika sipir penjara mengantar Jamal. Wajah Jamal tertunduk malu. Ia duduk di seberang Mawar dan masih terdiam beberapa saat.
Djiwa memberikan Jamal sedikit waktu untuk mempersiapkan diri. Sampai akhirnya Jamal mulai berbicara meski dengan terbata-bata.
"Ma-war, apa ka-bar?" tanya Jamal masih menundukkan kepalanya.
"Baik, Mas."
__ADS_1
Jamal kembali terdiam. Mawar pun demikian. Djiwa tak mau ikut campur. Ia biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Ma-af ... maafkan aku, Mawar." Jamal mulai terisak. "Maaf." Air matanya kini mulai membasahi wajahnya.
"Maafin, Mas. Mas sudah jahat sama kamu." Jamal menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Mas sudah berdosa sama kamu. Mas sudah berbuat dzolim. Mas ... salah."
Djiwa mengeluarkan tisu dari dalam tas tangan milik Mawar dan memberikannya pada Jamal. Jamal mengambil tisu tersebut dan mengusap air matanya yang menetes tak berhenti.
"Entah dengan cara apa Mas bisa menghapus dosa Mas sama kamu. Apa yang Mas lakukan sudah membuat kamu membayar kesalahan yang tak kamu lakukan ... hiks ... Maafin Mas, Mawar." Tangis Jamal kembali pecah.
Mata Mawar yang sejak tadi berkaca-kaca kini tak kuat menahannya lagi. Mawar juga ikut berderai air mata. Kilasan kisah masa lalu berkelebat dalam pikiran Mawar. Kematian Mas Purnomo yang tak pernah Mawar sangka, bayangan tubuh Mas Purnomo yang kaku dengan busa yang keluar dari mulutnya.
Mawar juga teringat bagaimana seluruh warga menuduhnya sebagai pembunuh. Tatapan benci mereka saat melihat Mawar dan perasaan ditolak keberadaannya. Semua seakan bermain kembali di benak Mawar. Bagai kilasan trauma yang susah hilang.
Ketakutan Mawar saat harus mendekam di balik jeruji besi. Sikap para tahanan yang saat awal datang memperlakukannya dengan buruk namun saat tahu kebenaran ceritanya malah memperlakukan Mawar bak keluarga sendiri.
Kini semua kesalahpahaman yang terjadi selama ini sudah jelas. Djiwa berhasil membuat pelaku yang salah menerima akibat dari perbuatannya. Djiwa berhasil membuat nama Mawar bersih kembali.
"Maafin aku, Mawar. Apa yang aku lakukan sama kamu sangat salah. Aku memfitnah padahal aku-lah yang membunuh Purnomo dengan tanganku. Aku sahabat kejam yang tega membunuh sahabatnya sendiri. Aku lebih rendah dari seorang binatang. Maafkan kesalahanku, Mawar. Aku tak mau mati dalam keadaan penuh rasa bersalah. Jika surga bukan tempatku, setidaknya aku mendapat sedikit maaf darimu. Aku tak mau selamanya hidup dengan rasa bersalah. Biarkan kulepas sedikit, agar aku bisa menjalani hukumanku dengan lebih ikhlas lagi." Jamal berdiri dan tiba-tiba berlutut di samping Mawar.
Dengan suara bergetar dan tangis berderai air mata, Jamal memohon ampunan Mawar. Semua pasang mata menatap ke arah Jamal. Mereka makin penasaran apa yang sudah terjadi.
"Mas, jangan seperti ini. Bangunlah!" Mawar berusaha membuat Jamal kembali duduk di tempatnya.
__ADS_1
"Mas berdosa sama kamu, Mawar. Maafkan kesalahan Mas, Mawar," kata Jamal dengan suara serak.
"Aku ... sudah memaafkan Mas Jamal. Bangunlah," kata Mawar dengan hati ikhlas. Ia mau melepaskan ikatan masa lalu yang menyakitkan dan ingin memulai hidup baru yang tenang.
Jamal tak langsung berdiri. Ia masih menangis. "Terima kasih, Mawar. Terima kasih."
****
"Bagaimana perasaan kamu sekarang?" tanya Djiwa saat mereka sudah pergi meninggalkan lapas. Djiwa mengemudikan mobil dan Mawar menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.
"Terasa lega dan ada beban berat yang terangkat," jawab Mawar.
Djiwa tersenyum. Ia bangga dengan Mawar yang mau berbesar hati memaafkan Jamal yang sudah banyak mendzoliminya.
"Kamu hebat. Kalau aku ada di posisi kamu belum tentu aku bisa memaafkan Jamal. Berat bagi Jamal untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf namun aku tahu lebih berat lagi bagi kamu untuk memaafkan semua kesalahannya. Semua bayangan buruk masa lalu pasti kembali terbayang. Butuh keberanian besar untuk berdamai dengan diri sendiri. Kamu sudah melewatinya. Aku yakin, hidup kamu akan damai mulai sekarang." Djiwa tersenyum dan mengusap rambut Mawar dengan lembut.
Mawar tersenyum kecil. "Kamu benar, Mas. Aku sekarang lebih damai. Aku bisa berdamai dengan masa lalu. Tak ada lagi pertanyaan, kenapa aku harus mengalami semua ini? Kenapa aku selalu menderita? Aku kini ikhlas. Tanpa ada penderitaan ini, tak mungkin aku bisa dipertemukan dan mendapat jodoh lelaki baik seperti kamu? Aku seperti mendapat hadiah besar atas segala musibah yang kualami, hadiah itu adalah kamu, Mas. Lelaki baik yang sudah memperjuangkanku. Membersihkanku dari noda yang bukan berasal dari tanganku melainkan dari tangan orang lain. Aku sadar, kebenaran itu akan menemukan jalannya sendiri asal kita mau usaha, karena tanpa usaha kebenaran pun akan tertutup oleh kabut hitam. Terima kasih karena sudah mau menyingkap kabut hitam dalam hidupku."
Djiwa meraih tangan Mawar lalu mengecupnya dengan lembut. "Terima kasih kembali, Sayang. Kamu sudah memberiku kehidupan yang berbeda. Kehidupan yang lebih indah karena aku jadi lebih menghargai apa yang aku punya. Aku juga jadi lebih menghargai orang-orang di sekitarku. Semua karena kamu. Kamu wanita hebat yang Allah kirim dalam hidupku. Kayaknya aku harus berterima kasih sama Aksa deh. Kalau dia tidak mengirim aku hanya dengan celana pendek tanpa uang dan ponsel, mana mungkin aku bisa mengenal kamu."
"Takdir, Sayang. Aku juga tak menyangka kalau kamu akan jadi jodohku. Siapa yang sangka pemuda yang kena hipnotis ternyata aslinya pengusaha muda anak pengusaha kaya raya? Betapa berdosanya aku nyuruh kamu nyabutin bulu ayam setiap hari, Sayang."
Mawar dan Djiwa tertawa bersama. Mengenang awal pertemuan mereka. Tawa itu menghilang saat mereka sampai di satu tempat yang pernah menyimpan luka.
__ADS_1
"Kamu siap?"
****