Janda Bohay

Janda Bohay
Menjawab Semua dengan Jujur


__ADS_3

"Tak pernah, Sayang. Mas tak pernah berpura-pura mencintai kamu, Mas pastikan itu. Hanya kamu yang mampu membuat Mas ingin menikahi seorang wanita, selama ini Mas hanya main-main saja. Hanya kamu, satu-satunya wanita yang ingin Mas nikahi dan lindungi. Tolong percaya sama Mas ya." Mata Djiwa kini bertatapan dengan mata Mawar. Ada kejujuran di dalamnya yang Mawar tangkap, namun karena sering dibohingi Mawar jadi berpikir dua kali.


"Lalu Melati? Bukankah dia juga ingin Mas nikahi? Bukankah dia kekasih Mas selama ini?" Mawar tak lagi menyembunyikan kecemburuannya. Ia merasa rendah diri jika dibandingkan dengan Melati. Ia merasa kalah. Jawaban Djiwa menentukan keputusannya nanti.


"Melati adalah mantan kekasih Mas dulu. Jujur saja, Mas dulu sangat mencintai Melati namun kedua orang tua kami adalah saingan bisnis. Papa tidak setuju dan meminta Mas putus. Melati juga tak mau putus. Melati lalu mau membuktikan pada Papa kalau ia adalah calon menantu idaman,"


"Melati lalu mulai berubah. Ia menjadi lebih ambisius. Segala cara ia lakukan agar bisa memuluskan jalannya. Kami masih berpacaran saat itu. Sampai suatu hari Mas tak sengaja bertemu Melati yang hendak check in bersama salah satu rekan bisnisnya dan keesokan harinya dia memenangkan tender. Dengan bangga Melati menunjukkannya pada Mas. Saat itu, kepercayaan Mas terhadap Melati hilang, begitu pun dengan perasaan cinta Mas,"


"Mas akhirnya memutuskan hubungan cinta kami. Melati mengira karena Papa tak setuju padahal sebenarnya kami putus karena Melati mengkhianati cinta kami. Melati semakin gila dalam dunia bisnis. Melihat Melati yang sukses, sekarang Papa ingin menjodohkan kami kembali. Mas tentu saja menolaknya. Mas sudah punya kamu, Sayang. Mas tak mau wanita lain. Hanya kamu seorang." Djiwa menghapus air mata Mawar dengan lembut.


"Bohong! Pembohong seperti Mas, sekali berbohong akan terus berbohong!" ketus Mawar.


"Tidak, Sayang. Pembohong seperti Mas, sekali bilang tidak maka keputusan Mas tetap tidak. Kamu ingat saat Mas ijin menginap? Bukan saat Mas ke Lampung. Waktu itu Papa dan Mama ternyata menjodohkan kembali Mas dengan Melati. Mas menolak Melati namun ia tak mudah menyerah. Mas lalu ijin sama kamu untuk meeting. Saat itu Mas makan malam di rumah Melati."


Mata Mawar terbelalak kaget. "Mas bohongin aku lagi setelah kita nikah?"


"Bukan begitu, Sayang. Tenang dulu dan dengarkan cerita Mas." Mawar menahan amarahnya dan kembali mendengarkan perkataan Djiwa.


"Melati itu bukan tipikal orang yang akan mudah menyerah. Dulu saja sudah putus masih usaha balikan. Di rumahnya, Melati menggoda Mas. Tentu saja Mas menolak godaannya. Tak ada yang bisa menggoda Mas selain kamu, Mawar si Bohay."

__ADS_1


Mawar mencibirkan bibirnya. Hatinya kesal namun Djiwa masih sempat menggodanya. "Tapi Mas cicipi sedikit bukan?" sindir Mawar.


"Bukan Mas yang cicipi, tapi Melati," jawab jujur Djiwa.


Mata Mawar mendelik, saat ia siap marah Djiwa kembali meredam kemarahannya. "Jangan marah dulu. Mas menolak dia kok. Mas hanya mau jujur sama kamu tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi. Mas lanjutin ceritanya ya, Melati lalu marah dan memfitnah Mas. Dia bilang Mas sudah melakukan pelecehan terhadapnya, tentu saja itu tidak benar. Yang sebenarnya adalah Mas yang dilecehkan. Sama seperti hari ini, mereka bahkan mau melaporkan Mas ke polisi. Mas tak takut karena Mas yakin berada di pihak yang benar. Melati jadi tambah marah dan dia membuntuti Mas."


Hati Mawar masih kesal. Kini bukan hanya marah, kesal, kecewa namun ditambah cemburu. Semua perasaan dalam dirinya membuat Mawar mual dan ingin muntah. Mawar pun berlari keluar kamar dan mengeluarkan makanan yang dimakannya.


"Kamu kenapa Sayang? Sakit? Mau ke dokter?" Djiwa menepuk pelan punggung Mawar.


Mawar menggelengkan kepalanya. Diambilnya air dan membersihkan bekas muntahnya. "Iya. Sakit hati sama kamu, Mas!"


Mawar masuk kembali ke dalam kamar. Mengambil tisu dan mengelap bibirnya. Ada perasaan lega setelah memuntahkan isi perutnya.


"Tak perlu!" kata Mawar dengan ketus. Entah kenapa Mawar mau marah-marah terus pada Djiwa. Tetap saja Mawar mengambil air hangat yang diberikan Djiwa dengan perasaan dongkol dalam hati.


"Atau mau aku belikan obat penghilang mual?" tanya Djiwa lagi tak putus semangat. "Aku akan suruh Rendi belikan."


Mata Mawar kembali menatap Djiwa dengan tajam. Rendi. Ya, Mawar penasaran setengah mati siapa Rendi. "Tak perlu, Mas cukup jawab pertanyaanku saja. Siapa sebenarnya Rendi?"

__ADS_1


Djiwa menaruh gelas bekas minum Mawar dan kini duduk di samping Mawar. "Rendi itu asisten pribadi aku. Dia merangkap tangan kanan, orang kepercayaanku. Kalau aku, kamu sudah tahu bukan siapa aku? Aku perhatikan kamu tak banyak bertanya tentangku. Kamu sudah mencari tahu ya? Tahu darimana?"


Mawar mendengkus kesal. "Dari anak SMA yang biasa makan di warung. Mereka membawa majalah yang berisi wajah kamu. Aku lalu cari tahu sendiri dan jadi tahu siapa itu Angkasa Djiwa."


Djiwa tersenyum. "Sekali lagi maaf ya Sayang. Aku berencana memberitahu kamu saat waktunya tepat. Hanya saja banyak masalah yang harus kita hadapi. Masalah Jamal, tender yang Papa targetkan untuk aku dapat karena tak mau dijodohkan oleh Melati dan juga aku mau warung kamu maju dengan usaha kamu sendiri. Aku hanya memberi sedikit ide, semua kamu yang usahakan."


Hati Mawar mulai mencair mendengar jawaban Djiwa. "Mas mau warung aku maju? Apa aku salah terlalu marah dan keras pada Mas Djiwa. Masalahnya sudah banyak, apakah aku semakin menambah masalah untuknya? Satu lagi, Mas Djiwa membahas tentang tender terus. Memang tender itu apa ya?" batin Mawar.


"Sayang! Kok melamun?" Djiwa membuyarkan lamunan Mawar. "Kamu mau tanya apalagi tentang aku? Aku pasti akan jawab semua dengan jujur. Tak akan ada lagi yang aku sembunyikan."


Mawar menghela nafas berat. Pertanyaan yang akan ia ajukan tentu saja sudah ia tahu jawabannya. Mawar sudah browsing di internet, namun ia tetap mau mendengar jawaban jujur dari Djiwa.


"Mas, siapa orang tua yang datang ke pernikahan kita? Tentunya itu bukan orang tua kamu bukan?" tanya Mawar.


Djiwa tersenyum lebar. Djiwa garuk-garuk kepalanya meski tidak gatal. "Itu ... mereka adalah ... orang tuanya Rendi."


Mawar kembali menghela nafas berat. "Bukan pemeran figuran dari luar?" Mawar teringat pemeran pemilik ruko kemarin yang aktingnya kaku.


"Bukan! Mereka beneran orang tua Rendi. Mereka sudah aku anggap orang tuaku sendiri. Mereka mengomel saat aku minta tolong, namun mereka tetap saja mau membantu. Mereka bilang, lebih baik aku menikah daripada hidup bebas seperti biasanya." Djiwa berkata sejujurnya.

__ADS_1


Mawar kini menatap lekat Djiwa. Pertanyaan penting dan menyakitkan akan ia ajukan sekarang. "Lalu bagaimana dengan orang tua Mas? Apakah mereka tahu pernikahan kita?"


****


__ADS_2