
Djiwa masih tak mau bersuara. Melati semakin kesal. Ia kini memeluk tubuh kekar Djiwa dari belakang. "Aku masih sayang sama kamu, Wa."
Djiwa tak lagi menyukai pelukan Melati. Ia merasa hanya Mawar yang berhak memeluknya saat ini. Bukan wanita yang sempat mengkhianatinya hanya demi obsesi gilanya saja.
Djiwa melepaskan tangan Melati dan menghempaskannya. Masih tanpa sepatah kata yang terucap, Djiwa berjalan meninggalkan Melati. Wajah Melati memerah menahan amarah. Ia menghentakkan kakinya dengan kesal dan mengikuti Djiwa ke ruang makan.
Sesampainya di meja makan Melati merubah ekspresi wajah kesalnya dengan tersenyum layaknya orang yang sedang kasmaran. Mama yang menyambut Melati dengan ramah. "Melati mau duduk dimana? Di samping Djiwa mau?" tawar Mama.
"Boleh saja, Tante," jawab Melati tanpa malu.
Asisten rumah tangga Djiwa lalu menyiapkan alat makan Melati. Djiwa masih bersikap cuek. Ia malah meminum anggur yang dibawakan Papa Melati. Anggur mahal yang Djiwa suka. Djiwa hanya minum di saat tertentu. Di dekat Mawar ia tak berani. Takut Mawar menasehatinya panjang lebar. Malam ini kesempatannya minum anggur mahal tanpa Mawar tahu.
Melati pun duduk di samping Djiwa. Ia melirik Djiwa sekilas. Nampak Djiwa begitu menikmati anggur mahal yang Papanya bawa. "Kamu suka, Wa? Aku akan bawakan ke kantor kamu kalau kamu suka," ujar Melati.
"Biasa aja," jawab Djiwa acuh.
Pelayan lalu menghidangkan makanan yang dimasak oleh chef yang khusus dipanggil untuk menyambut tamu kehormatan malam ini.
Mama Melati yang datang telat memohon maaf. Mama mengerti kalau Mama Melati baru saja dari luar negeri mengurus keluarganya yang sakit. Senyum hangat Mama Melati tujukan pada Djiwa yang dibalas dengan wajah datar.
"Apa kabar Djiwa? Sudah lama loh Tante tidak melihat kamu," sapa Mama Melati.
"Alhamdulillah kabar aku baik," jawab Djiwa.
"Tante senang loh saat Melati menelepon Tante dan mengabari kalau kalian akan dijodohkan. Tante cepat-cepat terbang hanya demi datang di acara perjodohan kalian ini," kata Mama Melati sambil tersenyum senang.
"Perjodohan? Kata siapa Tante? Aku belum setuju kok!" Djiwa mulai mengiris steak yang dihidangkan. Terlihat sangat lezat karena Djiwa selama ini terlalu sering makan tempe dan tahu daripada steak mahal di depannya.
__ADS_1
"Belum setuju bukan berarti tidak setuju bukan? Atau kamu masih main tarik ulur? Tante dengar anak muda sekarang senang sekali tarik ulur loh!" Mama Melati rupanya sama seperti anaknya. Terlalu optimis.
"Pantas Melati begitu optimis. Mamanya sendiri bersikap begitu," batin Djiwa.
"Sambil dinikmati Jeng makan malamnya," kata Mama mempersilahkan.
"Oh tentu. Harum sekali dan terlihat begitu lezat. Saya coba ya!" Mama Melati memotong steak dan memuji makanan yang dihidangkan padanya. "Beneran enak banget. Khas chef terkenal."
Mama merasa bangga masakan yang ia suguhkan disukai tamu kehormatannya. "Hanya chef biasa. Kami biasa memakai jasanya kalau menyambut tamu spesial."
"Jeng bisa saja. Sepertinya kedua calon pasangan kita terlihat masih kaku ya? Apa mereka harus kita beri liburan bareng? Kalau naik kapal pesiar keliling Eropa mau?" tawar Mama Melati.
"Enggak usah, Tante. Saya mabuk laut," jawab Djiwa asal.
"Kalau jalan-jalan ke Swiss gimana?" tanya Mama Melati tak mudah menyerah.
Djiwa yang terlihat agak kaget saat ada tangan yang memegang pahanya. Tanpa sadar Djiwa menoleh ke arah Melati. "Kalau perginya setelah menikah kamu mau tidak, Wa?"
Melati memasang senyum di wajahnya sementara tangannya mengusap lembut paha Djiwa. Pintar sekali Melati memainkan kelemahan Djiwa. Dengan cepat tangan Melati sudah memegang milik Djiwa yang tanpa dikomando sudah membuat celananya terasa sempit.
"Itu ... lihat nanti," kata Djiwa yang mulai tidak konsentrasi. Tangan Melati begitu lihai sementara di barisan mereka tak ada orang lain selain mereka berdua.
"Wah Djiwa grogi dibilang menikah. Sudah tidak sabar ya?" tanya Mama Melati sambil tersenyum penuh maksud.
Tangan Melati terus mengusap lembut milik Djiwa. Dengan kesal Djiwa menghempaskan tangan Melati dan menjawab pertanyaan Mama Melati dengan tegas. "Bukan tidak sabar. Saya malah tidak berharap, kenapa harus tidak sabar? Lihat nanti maksud saya ya saat saya menikah dengan wanita yang saya cintai. Bukan Melati pastinya."
Papa Djiwa langsung memberinya tatapan tajam. Tatapan seakan memberi ancaman kalau apa yang ia lakukan bisa berakibat buruk di depan lawan bisnis yang ingin diajak sebagai sekutu tersebut.
__ADS_1
"Tak apa. Pelan-pelan saja. Mereka pernah putus, mungkin komunikasi di antara mereka belum terbangun lagi. Kami mengerti, tenang saja." Papa Melati menenangkan Papa yang terlihat marah pada Djiwa.
Makan malam kembali dilanjutkan. Tangan Melati masih saja berupaya menggoda Djiwa namun selalu Djiwa tepis. Djiwa malah teringat Mawar dan malam-malam panas mereka. Ia kembali merindukan Mawar.
Di meja makan, Melati pamer kelebihannya. Melati membicarakan kehebatannya dalam berbisnis. Makin bertambah saja nilai Melati di mata Mama dan Papa. Djiwa dilanda kecil hati. Ia memikirkan Mawar yang polos dan tak sehebat Melati. Kemungkinan Mawar diterima oleh kedua orang tuanya makin kecil saja.
Selesai acara makan malam, kedua orang tua malah membuat janji makan malam secara gantian di rumah Melati. Sebelum Djiwa menolak, Papa sudah mengiyakan ajakan kedua orang tua Melati. Djiwa tak bisa apa-apa.
Setelah keluarga Melati pulang, Djiwa langsung kena ultimatum dari Papa dan Mamanya. "Papa tidak harus memecat Rendi bukan agar kamu datang saat makan malam di rumah Melati?"
Djiwa kesal karena nasib sahabatnya dijadikan kelemahannya. Papa tahu bagaimana Djiwa dekat dengan Rendi dan beberapa kali Rendi bersekongkol dengan anaknya. Mengancam Rendi membuat Djiwa tak berkutik.
Djiwa masuk ke dalam kamarnya dengan kesal. "Melati sialan!" maki Djiwa.
"Kenapa sih Melati makin licik saja? Segala meraba celanaku pula!" gerutu Djiwa. "Sial, aku harus bagaimana? Mawar semakin jauh saja tertinggal dari Melati! Bagaimana juga cara membatalkan perjodohan ini?"
Djiwa teringat Mawar dan mengkhawatirkan keadaan istrinya tersebut. Ia pun melakukan video call. Mawar yang terlihat mengantuk tetap menjawab panggilan videonya.
"Mas. Mas dimana? Hotel?" tanya Mawar.
Djiwa baru menyadari kesalahannya. Ia lupa kalau harus menyembunyikan identitasnya. Beruntung tempat tidurnya mirip dekorasi hotel. "I-iya, Sayang. Di hotel. Meetingnya dilanjutkan di hotel. Tadi aku makan makanan hotel yang enak. Kamu mau aku bungkuskan?"
Mawar tersenyum mendengar suaminya yang agak norak. "Memang boleh dibungkus? Tak perlu, Mas. Buat Mas saja. Makan yang puas. Nanti Mas ceritakan saja ya sama aku bagaimana rasanya. "
Hati Djiwa mencelos saat Mawar meminta Djiwa menceritakan apa yang ia makan. Rasanya ia ingin teriak dan mengatakan kalau ia bisa membelikan semua yang ia makan untuk Mawar. Ia anak orang kaya. "Mas belikan martabak saja ya besok? Kamu mau martabak manis atau telur?"
***
__ADS_1