
Mawar menarik kursi agar tubuhnya tidak oleng. Ia membaca artikel dalam majalah bisnis yang diberikan siswi SMA padanya.
Angkasa Djiwa, pebisnis sukses yang kemampuan bisnisnya tak lagi diragukan. Terlahir dari keluarga pengusaha terkenal tak menjadikan Angkasa Djiwa tumbuh menjadi pemuda manja. Angkasa Djiwa membuka perusahaan sendiri dan berhasil sukses di usianya yang muda.
Berbekal pendidikan di luar negeri yang dianyamnya, konsep bisnis yang Angkasa Djiwa bangun berbeda dari yang lain. Angkasa Djiwa pun tak pernah pelit membagikan ilmunya. Banyak seminar yang menjadikannya sebagai nara sumber.
"Angkasa Djiwa itu pengusaha hebat. Bisnis Papanya bisa tambah maju sejak ia bergabung dengan manajemen perusahaan," ujar salah seorang pengamat bisnis.
Angkasa Djiwa terkenal dengan proyek kelas atas. Produk branded yang dikeluarkan oleh perusahaannya yang kini bergabung dengan perusahaan orang tuanya adalah produk yang paling diminati kalangan elit dan sosialita. Sebut saja beberapa merk pakaian, tas dan perhiasan berlian milik perusahannya yang selalu mendapat penjualan tinggi. Sungguh prestasi membanggakan di usianya yang masih muda.
"Bisnis itu bukan tentang uang saja, namun bagaimana cara uang itu berputar dan bisa menghasilkan hal yang baru dan bermanfaat. Salah satunya adalah menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi orang lain." Itulah moto Angkasa Djiwa yang sangat menginspirasi.
Mawar membaca kalimat demi kalimat yang ditulis dalam majalah bisnis terkenal tersebut. Wajah suaminya yang terlihat gagah dengan memakai setelan jas dan dasi terlihat benar-benar berbeda dari suaminya yang selama ini bertugas membersihkan ayam.
Ya, lelaki di dalam majalah tersebut memang benar suaminya, Djiwa. Awalnya Mawar tak percaya dan berpikir hanya orang lain yang mirip saja namun ternyata tidak. Nama Angkasa Djiwa bukanlah nama pasaran seperti layaknya nama Adi atau Andi. Sudah jelas memang itu Djiwa.
Timbul tanda tanya besar dalam diri Mawar. Apakah yang sedang direncanakan oleh Djiwa padanya? Apakah Djiwa bermain-main selama ini?
"Mbak! Mbak!" Siswi SMA menyentuh lengan Mawar yang terlihat kosong menatap majalah di depannya.
Mawar tersadar dari pikirannya yang berkelana kemana-mana. "Ah iya, kenapa?"
"Itu benar Mas yang bekerja di sini bukan sih? Aku hanya pernah melihat sekali. Mas ganteng enggak pernah mau membuka maskernya lagi meski sudah kami bujuk. Hari ini aku berniat memaksanya buka masker karena penasaran. Ada orangnya tidak sih, Mbak?" tanya siswi SMA pada Mawar.
"Kamu pasti salah orang, Dek. Tidak mirip ah. Dia tuh cuma pemuda kampung yang kebetulan aja ganteng." Mawar memilih berbohong.
"Yah ... masa sih? Orangnya ada enggak, Mbak? Kita kesini mau lihat Mas ganteng nih. Sekalian tebar pesona gitu. Tidak mirip juga tak apa, yang penting ketemu sama Mas ganteng." Siswi SMA itu lalu ditertawakan dan dikatai centil oleh teman-temannya.
Mawar memilih mencatat pesanan agar segera pergi ke dapur. "Enggak ada. Dia lagi enggak kerja beberapa hari. Jadi kalian mau pesan apa?"
__ADS_1
Setelah mencatat Mawar memberikannya pada Ibu Sari dan pamit pergi ke atas. Untunglah warung tidak terlalu ramai. Mawar mengambil ponsel miliknya dan mengetik nama Angkasa Djiwa di Gogole.
Wajah Djiwa dan sepak terjangnya di dunia bisnis benar-benar terkenal. Pantas saja Djiwa selalu memakai masker kala pergi keluar rumah. Alasan debu dan menjaga kebersihan seolah menjadi alasan menyembunyikan identitasnya selama ini.
Mawar masih tak percaya. Suaminya adalah pebisnis sukses yang memiliki perusahaan besar dan maju. Lantas kenapa dia datang ke kampungnya hanya mengenakan celana pendek saja? Apa ini juga demi bersenang-senang?
Mawar merasa dirinya sangat bodoh karena sudah ditipu berkali-kali. Ia marah dan kesal dengan dirinya sendiri. Rupanya memang sifat bodohnya tak pernah hilang sejak dulu.
Pernah difitnah sebagai pembunuh tidak membuat Mawar jadi lebih pintar. Mawar malah ditipu dengan lelaki yang kini menjadi suaminya. Lelaki yang berpura-pura polos padahal sebenarnya pemain lawas.
Suara ketukan di pintu membuat Mawar menengok. "Mawar, ada yang mencari kamu!" kata Lily.
Mawar berjalan menuju pintu dan membuka pintu. Sebelumnya dihapus dulu air mata di wajahnya dan memasang senyum palsu. Lily jangan sampai tahu kalau Mawar sudah tahu siapa sebenarnya Djiwa.
"Pemilik ruko sebelah, Ly?" tanya Mawar.
"Iya. Katanya sudah janjian sama kamu."
Mawar turun lebih dulu. Di belakangnya Lily mengikuti. Warung sudah mulai ramai karena bertepatan dengan waktu makan siang.
Seperti biasa, Rendi mendampingi pemilik ruko. Dulu Mawar berpikir kalau Rendi memiliki kenalan banyak orang. Sekarang Mawar tahu siapa sebenarnya Rendi. Pasti karyawan yang ditugaskan oleh Djiwa.
"Mbak Mawar?" Pemilik ruko sebelah berdiri dan tersenyum pada Mawar.
Masih ada meja kosong untuk mereka mengobrol dan karyawan Mawar bisa menghandle warung. "Bapak pemilik ruko sebelah ya?" Mawar balas tersenyum.
"Perkenalkan, saya Ilham." Bapak Ilham mengulurkan tangannya pada Mawar.
"Mawar." Mawar membalas uluran tangan Bapak Ilham. "Silahkan duduk."
__ADS_1
Mawar duduk di kursi kosong, demikian pula dengan Pak Ilham dan Rendi yang setia menemani. Mawar tersenyum kecil melihat Rendi yang seolah bak pengawas yang mengawasi akting pemainnya.
"Mas Rendi tidak kerja?" sindir Mawar.
"Aku ... masuk malam, Mawar. Kebetulan aku bisa menemani Pak Ilham ketemu kamu," jawab Rendi.
Mawar kembali tersenyum seakan semua baik-baik saja. "Oh ... begitu." Mawar menatap Pak Ilham, seorang figuran yang pasti sudah dibayar Djiwa untuk memuluskan perannya sebagai suami yang baik.
"Saya berencana untuk memperluas bisnis Warung Janda Bohay saya, Pak. Seperti yang Bapak lihat, ruko tempat usaha saya terlalu kecil dan butuh tempat yang lebih luas agar lebih banyak lagi pengunjung yang datang. Apa benar ruko Bapak dikontrakkan?" tanya Mawar.
"Benar, Mbak. Ruko saya memang sudah lama kosong. Mungkin karena harga sewa yang mahal. Dulu belum ada warung Mbak Mawar, hanya ada kantor jasa pengiriman saja. Tak ada yang tertarik dengan ruko saya. Sekarang bisnis Mbak Mawar berhasil dan membuat lingkungan sekitar sini juga ramai, karena itu saya berniat menyewakan kembali ruko saya." Jawaban yang diberikan Bapak Ilham seakan sudah dihafal sebelumnya. Lancar macam jalan toll.
Mawar kembali tersenyum dan menahan tawa yang ingin kencang ia keluarkan. Tak sia-sia Mawar suka menonton sinetron ikan terbang. Tahu kalau ada yang aktingnya jelek.
"Apa Mas Djiwa terlalu jago berakting ya sampai aku tak bisa bedakan mana yang asli dan mana yang akting?" batin Mawar.
"Mbak Mawar?" Bapak Ilham membuyarkan lamunan Mawar.
Mawar menggelengkan kepalanya. Hari ini sudah berapa kali ia melamun. Mawar menyadarkan dirinya dan kembali melanjutkan topik pembicaraan.
"Bapak buka harga berapa?" tanya Mawar.
Bapak Ilham menyebutkan harga yang sudah disepakati. Mawar sadar, harga tersebut sangat murah. Pasti ini ide Djiwa juga.
"Wah ... mahal ya? Saya tak ada uang, Pak. Bisa lebih murah lagi?"
Rupanya adegan ini tidak ada di skenario yang dibuat Rendi. Pak Ilham menengok ke arah Rendi seakan meminta ijin.
"Kok Bapak kayak tanya sama Mas Rendi ya? Memang yang punya ruko, Bapak atau Mas Rendi?"
__ADS_1
****