Janda Bohay

Janda Bohay
Pujian Untuk Melati


__ADS_3

Mawar menatap Djiwa yang keceplosan dengan tatapan heran bercampur curiga. Lagi-lagi semua tentang Djiwa mencurigakan. Kenapa Djiwa seakan mengenal Melati?


Ya, Mawar memang pernah bertemu Melati. Hanya sekali.


Melati adalah seorang wanita cantik yang pernah datang ke kampungnya untuk sosialisasi tentang export beras. Melati saat itu menjadi idola para petani. Muda, cantik dan pintar.


Mawar pernah melihat video Melati di ponsel yang Purnomo tunjukkan. Purnomo membanggakan Melati di depannya. Terlihat sekali raut kekaguman dalam diri Purnomo terhadap pengusaha muda itu.


"Negara kita butuh orang pintar macam Pak Danarhadi dan Bu Melati, Dek. Pak Danarhadi sudah terkenal sebagai pengusaha sukses. Kini anaknya diajak serta untuk memulai bisnis. Selain pintar dan masih muda, Bu Melati punya visi dan misi yang bagus demi memajukan kesejahteraan para petani kita. Nantinya beras yang kita produksi akan kita ekspor ke luar negeri, jadi uang hasil panen kita semakin banyak karena dinilai dengan dollar. Bagus sekali bukan rencana bisnis mereka?" Mas Pur terlihat sangat antusias. Beberapa kali video yang berisi penyuluhan dari Melati diputarnya demi membangkitkan semangat bekerja Mas Pur.


Saat itu mereka belum menikah. Mas Pur yang sudah beberapa kali menjual hasil panennya bahkan sampai punya banyak tabungan untuk pernikahan mereka. "Semua berkat Bu Melati, Dek!" Begitu yang Mas Pur selalu ucapkan pada Mawar.


Mawar hanya tersenyum sambil mengangguk saja. Yang terpenting bagi Mawar adalah usaha kerja keras Mas Pur dihargai.


"Kamu kenal dia, Sayang?" Pertanyaan dari Djiwa membuat lamunan Mawar buyar.


"Kenal. Kamu juga kenal, Mas? Aku dengar kamu tadi bilang, hah? dia?" Mawar menirukan perkataan Djiwa. "Berarti kamu kenal dia dong?"


Mawar menatap Djiwa kembali dengan tatapan menyelidik. Djiwa menjadi gugup dan memutar otak dengan cepat untuk memberi jawaban yang tepat untuk Mawar. "Kenal ... ya, kenal. Dia bukannya pengusaha yang terkenal itu ya?"


Entah mengapa kali ini Mawar tidak mempercayai jawaban Djiwa. Mungkin karena banyak kejanggalan. Mawar memaksakan senyum di wajahnya. Berpura-pura percaya kalau apa yang dikatakan Djiwa adalah jujur, bukan kebohongan semata.


"Iya," jawab Mawar singkat.

__ADS_1


Kini Djiwa yang menatap Mawar dengan tatapan heran. "Kamu ... kenal dimana?"


"Di kampung," jawab Mawar cepat dan jujur. Ia tak terbiasa berbohong. Lima tahun di Lapas tak menjadikannya memiliki kebiasaan buruk seperti napi lain. Ia tetaplah Mawar yang baik, polos dan jujur.


"Dia ... pernah ke kampung kamu?" tanya Djiwa penasaran. Kening Djiwa berkerut.


Mawar kembali mengangguk. "Beberapa kali untuk menemani Papanya yang pengusaha terkenal. Aku pernah melihat sebentar saat Melati memberikan pengarahan pada para petani. Waktu itu dia belum menjadi pengusaha sukses seperti sekarang. Namun bagi kami, orang kampung, dia sudah termasuk sangat sukses."


Mawar melanjutkan lagi perkataannya saat Djiwa mendengarkan dalam diam. "Waktu itu Pak Danarhadi memberikan Melati kesempatan untuk melakukan penyuluhan dan banyak mengedukasi petani. Kami menerima kedatangan mereka dengan tangan terbuka. Aku dengar, sampai sekarang para petani masih menjual hasil panen mereka sih ke perusahaan milik Melati."


Mawar menatap video yang sudah berputar beberapa kali. Matanya memanas. Hatinya sakit dan rasa amarah terasa ingin ia semburkan pada wanita yang dikagumi almarhum suaminya tersebut. Siapa sangka wanita tersebut tega menyuruh petani untuk menjual berasnya dengan harga murah dan bahkan mengancam demi tujuannya tercapai.


"Jahat!" ucap Mawar pelan.


Dengan susah payah Djiwa menelan salivanya. "Pem ... bohong?" Djiwa merasa tersindir. Bukankah ia juga pembohong macam Melati?


Mawar mengangguk. "Ya, dia awalnya berbohong dan menjanjikan janji manis pada para petani. Di saat kami percaya, dia malah mau memiskinkan kami dan bahkan menggunakan segala cara agar keinginannya terwujud. Aku yakin, otak dibalik meninggalnya Mas Pur adalah wanita ini. Bukankah dia sangat jahat, Mas?"


Djiwa merasa tersentil dengan perkataan Mawar. Dirinya juga berbohong pada Mawar dan menjanjikan berbagai janji manis. Namun Djiwa merasa berbeda dengan Melati. Tujuannya tulus yakni mencintai Mawar.


"Sabar dulu ya, Sayang," bujuk Djiwa. "Kita masih belum tahu kebenarannya. Yang aku tahu dari mulut Jamal adalah Anton yang memberikan sambal beracun pada Jamal untuk dibagi dengan Purnomo. Jamal bisa saja keracunan saat itu, namun mendengar iming-iming dari Anton, Jamal gelap mata dan malah jadi bersekongkol."


"Kamu membela wanita itu, Mas?" Ada nada amarah dan tak suka dalam ucapan Mawar.

__ADS_1


"Bu-bukan itu, Sayang. Kita tuh hidup di negara hukum. Menuduh orang tanpa bukti justru malah membuat kita bisa terjerat hukum. Kamu harus berpikir tenang. Jangan emosi dulu. Aku tahu kamu marah karena kehilangan Purnomo dan juga menjalani hukuman atas sesuatu yang bukan kesalahan kamu. Aku mengerti. Namun cobalah kita berpikir jernih. Yang kita perlukan adalah mengumpulkan bukti lebih banyak lagi untuk menjebloskan orang yang sudah memfitnah kamu ke dalam penjara!"


Mawar menatap ke dalam mata Djiwa. Suaminya benar. Ia memang terlalu gegabah. Andai waktu menemukan Purnomo dulu ia melihat ada bekas sambal di tempat makan Purnomo pasti dirinya bisa mengelak dari tuduhan.


Tatapan emosi Mawar perlahan menghilang. Ia sudah berpikir rasional sekarang, tak lagi mengandalkan emosi. "Ya, Mas benar. Orang kecil seperti kita mana bisa melawan orang besar seperti mereka, iya 'kan Mas?"


Djiwa merasa perkataan Mawar sedikit menyindirnya. "Iya. Sudah malam. Kamu istirahatlah. Aku akan mengirim file ini ke ponselku. Biar ada back up. Kamu tenang saja, biar aku yang urus masalah ini. Aku berjanji akan membersihkan nama baik kamu!"


Mawar mempercayai perkataan Djiwa. Ia pun merebahkan tubuhnya yang lelah di samping Djiwa dan tak lama tertidur pulas.


****


"Kamu ini bagaimana sih, Wa? Kenapa kamu sampai bisa kalah tender dengan Melati? Apa kemampuan bisnis kamu kini di bawah mantan kekasih kamu?" Papa Djiwa tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Djiwa dan melemparkan berkas di meja Djiwa yang sedang fokus bekerja.


Djiwa memang mengakui kalau dirinya kalah tender. Rendi yang ia tugaskan mewakili dirinya saat Djiwa mengejar Jamal. Jelas kemampuan Rendi dalam berbisnis kalah dibanding Melati yang punya segudang cara untuk mendapatkan keinginannya.


"Kalau kamu menikah dengan Melati, pasti proyek ini akan sukarela dia lepas untuk kamu!" omel Papa lagi.


Djiwa memijat pelipisnya, kepalanya terasa sakit dengan banyaknya masalah yang kini menderanya. Mawar, kasus kematian Purnomo dan kini Melati berniat menjeratnya agar mau dijodohkan. Melati terus membuat kedua orang tua Djiwa mengakui kehebatannya. Tak tahu saja mereka apa yang sudah dilakukan Melati di belakang. Taktik kotor.


"Tunggu, muka kamu kenapa? Kamu berkelahi?"


****

__ADS_1


__ADS_2