Janda Bohay

Janda Bohay
Perjodohan


__ADS_3

Djiwa kembali memasuki rumah mewah nan megah tempat ia dibesarkan. Dengan mengendarai mobil sport miliknya, ia turun dengan kerennya dan melangkah masuk.


Djiwa memberika kunci mobilnya pada security rumah dan nampak heran melihat ada mobil lain di garasi rumahnya. Rupanya calon wanita yang akan dijodohkan dengannya sudah datang. Siapa lagi kali ini? Apakah masih anak pemilik perusahaan telekomunikasi? Ataukah ada lagi yang lebih kompeten?


Asisten rumah tangganya sudah membukakan pintu untuk menyambut kedatangan Djiwa. Djiwa memasang wajah dingin dan tak bersahabatnya. Ia tak menyukai keputusan Papa dan Mama yang begitu keukeuh ingin menjodohkannya dengan wanita lain.


"Akhirnya kamu datang juga, Sayang!" Mama datang menyambut kepulangan Djiwa dengan senyum hangatnya.


Mata Djiwa berkeliling dan mencari mana gadis yang akan dijodohkan dengannya. "Uh ... kamu sudah tak sabar ya ingin melihat siapa yang kami jodohkan untuk kamu?" bisik Mama.


"Enggak. Biasa aja," jawab Djiwa dingin.


"Enggak mau ngaku lagi. Tunggu, kok kamu makin kurus saja sih? Wajah kamu juga agak kusam sekarang. Kamu bilang kalau kamu tetap memakai skincare dari dokter yang Mama rekomendasikan? Kok bukannya makin bening malah makin butek sih muka kamu!" protes Mama.


"Ya iya butek, tidak tahu saja Mama setiap subuh aku harus belanja ayam di Pasar Induk lalu membersihkan bulu ayam yang masih tersisa dan membantu menggoreng ayam jika Mawar sibuk," batin Djiwa.


"Mama akan buatkan jadwal kamu bertemu dokter langganan Mama. Kamu harus menjalani perawatan agar wajah kamu kembali segar dan kulit kamu kenyal!" kata Mama.


Djiwa tak menghiraukan perkataan Mama. Ia penasaran siapa yang akan dijodohkannya dengannya kali ini. Akting apa yang akan ia pakai untuk membuat gadis tersebut ilfil? Kali ini agak susah karena ada Papa dan Mama yang mempersulit dirinya berbohong.


"Pasti kamu sudah tak sabar ya untuk bertemu calon tunangan kamu? Ayo masuk, kami sedang mengobrol di ruang keluarga. Papa kamu dan calon mertua kamu sedang asyik bermain catur. Rupanya calon kamu juga mengerti permainan catur ya?" Mama menggandeng tangan Djiwa dan mengajaknya masuk ke dalam.


Kedatangan Djiwa membuat Papa dan teman main caturnya menoleh ke arah Djiwa. Gadis berambut hitam panjang yang ikut menyimak permainan catur pun menoleh ke arah Djiwa.


Djiwa terkejut mendapati siapa yang akan dijodohkan dengannya. Melati?

__ADS_1


"Tak mungkin! Kenapa Melati? Kenapa juga Papa yang dulu berseteru dengan Papanya Melati malah terlihat akur dan tertawa bareng sambil main catur? Gila ini sih!" batin Djiwa.


Melati tersenyum melihat Djiwa. Melati masih cantik seperti dulu. Tubuh rampingnya tak pernah berubah. Melati selalu menjaga berat badannya. Sering diet dan rajin berolahraga di gym.


Djiwa menengok ke arah Mamanya dan menatap Mama sambil meminta penjelasan tanpa kata yang terucap. Mama tersenyum dan menjelaskan pada Djiwa. "Mama sudah bilang bukan waktu itu sama kamu? Melati bisa jadi calon istri kamu sekarang."


Djiwa menghirup nafas dalam dan menenangkan dirinya. Papa meminta Djiwa duduk dan bergabung dengan mereka. "Kesini dulu, Wa! Sapa dulu Melati dan Papanya!"


Mama menarik tangan Djiwa yang berjalan dengan malas. Melati berdiri dan menyapa Djiwa dengan senyum cantiknya. Tangan Melati terulur. "Hi, Wa! Apa kabar?"


Djiwa menyambut uluran tangan Melati dengan cepat dan menjawab dengan datar tanpa senyum. "Baik."


Djiwa mendekat ke Papanya Melati lalu salim dengan sopan. "Apa kabar kamu Djiwa? Om lihat kamu semakin sukses saja!" Pujian basa basi yang sering ia dengar.


"Biasa aja, Om." Djiwa memilih tempat duduk agak jauh dan balas Melati yang menatapnya dengan tatapan memuja. Djiwa merasa biasa saja. Tak lagi seperti dulu yang begitu memuja Melati.


Papa Djiwa dan Papanya Melati menghentikan permainan catur mereka. Djiwa sadar, kini percakapan serius akan segera dimulai. Otak Djiwa seakan membeku, ide jahilnya menghilang saat tahu kalau Melati yang akan dijodohkan dengannya. Djiwa bingung bagaimana menggagalkan pertunangan ini.


"Djiwa, Papa baru saja mengobrol dengan Pak Surya, Papanya Melati. Pak Surya sekarang memiliki bisnis ekspor beras. Makin luas saja ya cakupan bisnis perusahaan Pak Surya? Kamu tahu semua ide siapa?" tanya Papa.


Djiwa mengangkat bahunya dengan acuh. Ia tak peduli. Djiwa memikirkan Mawar. Bagaimana membawa ayam banyak jika hanya dibantu oleh Lily saja? Takut Mawar pegal dan sakit.


"Ide dari Nona Cantik ini, Melati." Papa memuji Melati yang tersipu malu.


"Om bisa saja. Aku hanya ingin negara ini menjadi negara swasembada beras, seperti dulu. Memajukan petani berarti memajukan negara kita," kata Melati yang membuat Papa terkagum-kagum dengan kecerdasannya.

__ADS_1


"Wah, sudah muda dan sukses, peduli dengan negara tercinta kita pula. Hebat kamu, Melati. Iya 'kan Djiwa?" tanya Papa pada Djiwa.


"Ho oh," jawab Djiwa makin tak sopan.


"Djiwa!" tegur Mama sambil mendelik matanya.


Djiwa bukan anak lima tahun yang takut kalau Mama mendelik dan mencubitnya. Djiwa sudah dewasa. Kalau Djiwa tak suka, ia tak akan susah payah menyembunyikannya.


Om Surya tertawa melihat ekspresi Djiwa. "Anak muda memang begitu. Mungkin Djiwa dan Melati sudah lama tak bertemu. Keakraban di antara mereka belum terjalin. Apa perlu kita memberi mereka ruang untuk bicara berdua?" usul Om Surya.


"Ide bagus itu!" Mama dengan cepat menimpali. "Bagaimana kalau kamu mengajak Melati mengobrol di taman belakang dekat kolam renang kita? Mama akan minta pelayan untuk membawakan kalian cemilan dan minuman dingin, oke?"


Djiwa ingin menolak, namun Melati sudah menjawab duluan. "Boleh, Tante. Sekalian aku mencari udara segar. Bosan lihat Papa dan Om main catur terus," ujar Melati dengan manjanya.


Djiwa tahu Melati punya maksud mengajaknya bicara. Dengan enggan, Djiwa berdiri dan berjalan ke halaman belakang.


Halaman belakang rumah Papa sangat luas. Ada sebuah kolam renang berbentuk lingkaran besar dengan gazebo di bagian tengahnya. Djiwa melintasi jalanan untuk menuju gazebo.


Sudah dua bulan lebih Djiwa tidak pulang ke rumah, tak ada perubahan di rumah orang tuanya tersebut. Rumput dan tanaman tetap terawat dan segar dipandang mata.


Djiwa duduk di gazebo dan menatap taman yang indah. Bosan juga sehari-hari ia berada di kontrakan sempit dan ruko. Segar matanya melihat hijau daun dan bunga yang bermekaran.


"Kamu kemana saja, Wa? Aku dengar kamu jarang ke kantor? Sayang sekali, padahal waktu itu aku mau mengajak kamu makan siang di luar," kata Melati berbasa-basi.


"Aku?" Djiwa menunjuk dirinya sendiri. "Aku sibuk nyabutin bulu ayam."

__ADS_1


Melati tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Djiwa. Tak tahu saja Melati kalau Djiwa sudah berkata jujur.


****


__ADS_2