Janda Bohay

Janda Bohay
Kedatangan Ibu-ibu Arisan


__ADS_3

"Biasa aja, Pa, terkejutnya. Baru aja Papa bilang kalau Djiwa itu liar, wajar kalau Mawar hamil." Ibu Mina menghela nafas dan kembali menatap lurus dengan tatapan kosong. "Nasib kita selanjutnya gimana ya, Pa?"


"Loh kok nasib kita? Mawar yang hamil kenapa Mama yang bertanya, gimana nasib kita? Justru Mawar yang seharusnya banyak berpikir, Ma. Nanti nasib anaknya bagaimana?" ujar Pak Prabu.


"Ya kita juga harus mikirin nasib kita, Pa. Apa kata orang nanti kalau tahu cucu kita terlahir dari seorang ibu yang dulunya seorang napi?" kata Ibu Mina masih dengan tatapan kosong.


"Mama gimana sih? Mama tuh mikirnya terlalu jauh! Bukankah selama ini kita menginginkan seorang cucu? Syukuri saja kalau begitu! Kenapa Mama malah kebanyakan berpikir sih? Perihal Mawar dulunya dituduh pembunuh, Papa sih mulai ragu. Mana ada perempuan lugu dan polos seperti itu bisa membunuh, suaminya pula. Papa dengar dari Rendi, mereka baru sebulan menikah, sedang bahagia sekali dengan pernikahannya. Papa tak percaya Mawar yang membunuh!" Pak Prabu kini duduk di samping istrinya. Menatap istrinya yang sedang banyak pikiran.


Beberapa hari ini istrinya sering melamun. Banyak yang dipikirkan, seakan masa depan Djiwa sudah hancur berantakan, padahal yang dipikirkan malah santai saja menjalani rumah tangganya dengan penuh cinta.


"Mama maunya juga tidak percaya, Pa. Mama hanya takut nama baik yang selama ini kita jaga, hancur dalam sekejap karena wanita yang anak kita cintai," kata Ibu Mina dengan lemah.


"Sudah, sudah. Jangan Mama pikirkan lagi! Lebih baik Mama sholat. Mama sudah sholat maghrib belum?" tanya Pak Prabu.


Ibu Mina menggelengkan kepalanya.


"Astaghfirullah, Ma. Ini sudah isya. Mama kebanyakan melamun sih! Sholat sampai ditinggalkan!" ceramah Pak Prabu.


Ibu Mina mencibirkan bibirnya. "Memangnya Papa sudah sholat? Biasanya juga Papa abai seperti Mama."


Pak Prabu tersenyum malu-malu. "Sekarang Papa mau seperti Djiwa yang rajin sholat, Ma. Anak itu kalau sudah waktu sholat langsung sholat. Hal ini yang jadi bahan pertimbangan Papa menerima Mawar. Banyak hal baik yang Mawar bawa untuk Djiwa, salah satunya ya tentang sholat ini."


Ibu Mina terdiam. Ia jadi ingat saat melihat Mawar sedang memakai mukena dan mengaji di gazebo. Memang Mawar rajin sholat, hebatnya Mawar bisa mengajak Djiwa jadi rajin sholat juga, padahal guru mengajinya saja suka diacuhkan oleh Djiwa jika menyuruhnya sholat.


"Kok malah melamun sih, Ma? Ayo cepat ambil wudhu dan sholat! Mau bekal apa kita ke akhirat nanti kalau sholat saja abai, Ma!" omel Pak Prabu.


"Iya, Pa. Iya."


****


Suasana Warung Janda Bohay siang ini begitu ramai. Rumor tentang makanan yang dijual di Warung Janda Bohay rasanya enak dan harganya yang terjangkau sudah menyebar luas ke berbagai kalangan.

__ADS_1


Ruko sebelah yang Mawar sewa juga selalu full dengan pembeli. Stok ayam yang mereka pesan ke supplier bahkan selalu bertambah setiap harinya.


Mawar kini hanya bertugas mencatat pesanan dan menjadi kasir dadakan. Ia tak mau terlalu lelah bekerja karena memikirkan janin di dalam kandungannya. Mawar ingat pesan mertuanya untuk menjaga kesehatan dan jangan terlalu lelah. Kalau Djiwa sudah pulang nanti, Mawar akan meminta Djiwa menemaninya ke dokter kandungan.


Suasana warung semakin ramai kala rombongan ibu-ibu arisan yang kemarin datang ke rumah Ibu Mina turun dari mobil mewahnya. Parkiran ruko yang biasanya dipenuhi sepeda motor kini dipenuhi dengan mobil-mobil mewah.


Tentu saja kehadiran ibu-ibu sosialita tersebut menarik perhatian pengunjung dan warga sekitar ruko, tak terkecuali Mawar.


"Eh siapa tuh yang datang?" tanya seorang pembeli.


"Enggak tau. Jangan-jangan istri pejabat lagi. Lihat saja mobilnya keren begitu!" jawab temannya.


Meski tak melihat langsung wajah mereka, namun Mawar mengenali suara mereka yang ramai saat mengobrol. Ternyata benar, mereka adalah teman-temannya Ibu Mina. Ada angin apa mereka datang ke warung milik Mawar?


"Beneran di sini, bukan? Kemarin Jeng Mina nyebut nama Warung Janda Bohay. Saya dengar dengan jelas loh, tapi kenapa banyak anak muda yang nongkrong ya?" kata salah seorang ibu-ibu sosialita.


"Benar kok, namanya sama. Ayo kita coba saja!"


"Boleh, Mbak. Kalau bisa yang dibawah kipas angin ya. Enggak ada AC ya? Agak gerah nih!" kata salah seorang ibu-ibu sambil mengipas-ngipaskan tangannya.


"Hanya kipas angin, Bu, maaf."


"Yaudah, mau bagaimana lagi. Apa makanan yang best seller di sini?" Ibu-ibu arisan mulai duduk. Mawar membagikan buku menu dan mulai merekomendasikan makanan di warung miliknya.


Satu per satu ibu-ibu arisan mulai menyebutkan pesanan masing-masing. Mawar mencatat pesanan mereka lalu masuk ke dalam. Khusus pesanan ibu-ibu sosialita ini, Mawar turun tangan langsung membuatkan makanan untuk mereka.


Lily dan Mbak Nia bertugas mengantarkan pesanan. Suasana semakin ramai. Banyak antrian di luar. Mawar kembali ke luar dan membantu melayani ojek online.


Mawar dapat mendengar suara ibu-ibu yang mengobrol sambil menikmati makanan buatannya dengan nikmat, bahkan ada yang sampai nambah nasi. Mawar tersenyum senang melihat masakannya disukai ibu-ibu sosialita.


"Mawar, kamu jangan terlalu lelah. Ingat, kamu sedang hamil!" pesan Lily.

__ADS_1


"Iya, Ly. Aku hanya bantu yang ringan saja kok. Aku tak bisa tinggal diam melihat kalian semua super sibuk." Mawar sudah memberitahu Lily perihal hasil test pack miliknya. Sahabatnya tersebut sangat senang dengan kehamilan Mawar.


"Pokoknya aku enggak mau kamu kecapekan ya! Panggil aku kalau kamu butuh apapun!" kata Lily dengan tegas.


"Siap, Lilyku sayang," jawab Mawar.


Mawar kembali melayani ojek online yang mengantri pesanan. Sesekali Mawar menerima pelanggan yang ingin makan di tempat hendak membayar pesanannya.


Mawar sangat sibuk sampai tak menyadari kalau ibu-ibu arisan kembali riuh. Mereka menyambut kedatangan salah seorang anggota mereka yang tak menyangka kalau mereka akan bertemu di warung ini.


"Loh? Ibu-ibu beneran ke warung ini toh?" tanya Ibu Mina yang terkejut melihat teman-teman sosialitanya rela makan di tempat yang bukan selera mereka.


"Iya dong. Aku ketagihan ayam geprek yang kemarin Jeng Mina hidangkan. Di warung ini malah dibuat hotplate dan rasanya lebih enak. Enggak ngecewain deh pokoknya rekomendasi dari Jeng Mina," puji ibu sosialita yang tadi sampai nambah nasi.


Ibu Mina tersenyum senang mendapat pujian dari teman-temannya. Memang masakan Mawar sangat lezat. Kemarin saat mencicipi masakan Mawar, ia sampai ketagihan. Pak Prabu juga memuji masakan Mawar yang berani bumbu.


"Iya dong. Pilihan saya tak pernah salah dong!" kata Ibu Mina berbangga hati.


"Iyalah. Jeng Mina sendiri sedang apa ke sini? Mau makan ayam geprek hot plate juga?" tanya ibu sosialita yang lain.


Ibu Mina teringat tujuan awalnya datang ke warung Mawar, tak lain dan tak bukan adalah untuk mengajak Mawar memeriksakan kandungannya. Kini semua ibu-ibu menatap ke arahnya. Ibu Mina galau, mau jawab jujur atau berbohong saja.


Diliriknya Mawar yang sibuk melayani ojek online sampai tak menyadari kedatangannya. Menantunya sedang memberikan minuman pada abang ojek online gratis. "Baik hati sekali," batin Ibu Mina.


"Jeng! Kok malah melamun! Jeng Mina mau ngapain ke sini?"


"Saya ... mau bertemu menantu saya," jawab Ibu Mina dengan jujur.


"Apa? Menantu?"


****

__ADS_1


__ADS_2