
Mawar tertawa melihat Djiwa yang tiba-tiba terdiam. "Jangan dipikirkan, Mas. Itu hanya bayanganku saja. Masa' sih Mas pengusaha sukses? Mas itu calon pengusaha sukses. Kita sukses bersama, oke?"
Djiwa menghela nafas lega. Hampir saja samarannya ketahuan. "Aamiin. Iya, kita akan sukses bersama. Ayo kita mandi bareng!"
"Loh kok mandi bareng?"
"Mas mau disabunin sama Neng Mawar Bohay, yuk sabunin Mas. Atas bawah kiri kanan depan belakang ya, Neng!" goda Djiwa.
"Maju mundur juga tidak?" goda Mawar balik.
"Oh itu sih sudah pasti. Yuk kita maju mundur!" Djiwa menarik tangan Mawar dan melakukan gerakan maju mundur di kamar mandi baru mereka. Ruko yang lebih kedap suara dibanding rumah kontrakkan mereka. Djiwa kembali membuat Mawar menyebut namanya berkali-kali dengan suara mendesaah.
Selesai mandi plus-plus, Mawar yang sudah berganti pakaian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Mas semakin hari semakin liar saja," puji Mawar.
"Oh ya? Siapa dulu yang ajari?" Djiwa merebahkan tubuhnya di samping Mawar. Nampak dada Mawar naik turun karena kelelahan. Mawar benar-benar membuat Djiwa tak pernah puas. Selalu ingin mengeksplore gaya-gaya baru dalam bercintaa.
"Beneran loh, Mas. Stamina Mas membuat aku kewalahan."
"Oh ya? Kamu enggak suka?" goda Djiwa yang kini mendekati Mawar dan menciumi lehernya yang wangi sehabis mandi.
"Suka sih, ih Mas, geli ah!" Mawar menjauhkan tubuhnya namun Djiwa malah menarik Mawar mendekat. Kamar mereka kini dilengkapi AC yang sengaja Djiwa beli agar tidak kegerahan saat mereka memadu kasih. Djiwa beralasan kalau pemiliknya memperbolehkan mereka memakainya asal dirawat dengan baik. Lagi-lagi Mawar percaya.
"Jawab dulu dong. Kamu suka tidak?" Djiwa kembali mencium Mawar di area sensitif Mawar. Membuat Mawar geli dan meremang.
"Suka, Mas. Suka banget. Mas selalu membuat aku puas," jawab Mawar jujur.
"Oh ya? Mas juga. Kamu selalu membuat Mas ketagihan. Bagaimana kalau kita bercinta 3 hari 3 malam? Warung kita tutup dulu dan kita mengeksplore berbagai gaya?" usul Djiwa tanpa pikir panjang.
"Lalu kita makan apa? Mas lupa kalau pinjaman uang harus kita bayar? Sudah ah, lebih baik kita istirahat agar besok bisa segar saat pembukaan warung!" Mawar membenarkan letak bantal dan bersiap tidur.
Djiwa menarik Mawar dan memeluk Mawar dengan erat. "Kamu tidur di lengan aku saja. Lebih empuk dari bantal!"
"Iya sih lebih empuk dari bantal cuma aku tidak aman kalau tidur di lengan Mas."
__ADS_1
"Tidak aman?" Kening Djiwa berkerut. "Tidak aman kenapa?"
Mawar tersenyum malu-malu. "Karena aku selalu ditodong pistol besar punya Mas."
Djiwa tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Mawar. Djiwa pun menghujani Mawar dengan banyak ciuman di bibirnya. "Jangan bergerak! Menyerah atau pistol ini akan memasuki anda!" ancam Djiwa.
"Ampun, Pak. Boleh dimasuki pelan-pelan tidak? Pistol Bapak besar sekali soalnya," goda Mawar.
"Oh ... Neng Mawar Bohay nantangin Mas ya? Siap ya, Mas akan tembak nih!" Pergulatan panas pun kembali terjadi. Mawar lelah namun tak pernah menolak menikmati setiap sentuhan dari Djiwa yang memabukkan.
Djiwa pun demikian. Mawar membuatnya gila. Ia tak pernah bosan dan selalu ingin menidurinya terus. Ibaratnya dicolek sedikit saja, hasrat Djiwa akan kembali terbangun. Djiwa dan Mawar tertidur karena kelelahan. Untunglah alarm sudah Mawar pasang.
"Harus ke pasar nih? Kawin aja yuk! Ke pasarnya besok aja!" kata Djiwa dengan malas. Tubuhnya lelah akibat ulahnya sendiri.
"Ayo jangan malas! Ingat hutang, maka kita akan semangat lagi!" bujuk Mawar.
"Iya, tapi sekali lagi ya main pistol-pistolan di kamar mandi?" nego Djiwa.
"Masih belum cukup?" tanya Mawar heran.
****
Djiwa menahan kantuknya sambil menunggui warung ayam geprek yang baru dibuka. Pembeli antri dan ramai ingin mencoba ayam geprek versi berbeda. Dibilang steak namun ayam geprek, dibilang ayam geprek tapi mirip steak.
Mawar nampak bersemangat melayani antrian ojek online yang sejak tadi tak ada hentinya. Djiwa yang lelah sampai meminta bantuan Rendi untuk datang. Kaki Djiwa pegal bolak balik satu meja ke meja lain seraya mengantarkan pesanan.
Sebelum sore, semua dagangan mereka sudah habis total. Djiwa duduk di kursi dengan kelelahan. Mawar sibuk menghitung uang hasil penjualan hari ini sementara Rendi sibuk membersihkan ruko. Rendi semangat bekerja karena Djiwa bilang akan menganggapnya lembur dan dibayar double. Rendi yang mata duitan tentu tak menolak tawaran bosnya.
"Wah sudah habis ya Mawar?" tanya seorang gadis cantik yang membuat Rendi terdiam. Rendi tak meneruskan mengepel lantai dan terpaku melihat siapa yang datang.
"Yah Lily, kamu telat!" seru Mawar yang menyambut kedatangan sahabatnya tersebut. "Sudah habis, Ly. Masuklah! Akan aku buatkan minuman untuk kamu, gratis!"
Mawar menarik Lily masuk ke dalam. Lily menyapa Djiwa dengan sopan. "Apa kabar Ly?" tanya Djiwa dengan ramah.
__ADS_1
"Baik, Mas. Penjualan hari ini banyak ya? Belum sore sudah habis," ujar Lily.
"Iya, alhamdulillah. Padahal kami stok ayam banyak banget loh, Ly. Semoga bukan hanya saat pembukaan ya ramenya. Besok dan seterusnya juga ramai." Djiwa melirik ke arah Rendi yang terdiam kaku memandangi Lily.
"Ly, masih ingat sepupu aku tidak? Rendi!" Djiwa menunjuk ke arah Rendi. Lamunan Rendi terhenti dan tersenyum hangat pada Lily.
"Hi, Ly!" sapa Rendi sok akrab.
"Hi, Mas. Mas Rendi membantu juga di sini?" tanya Lily.
"Iya, Ly. Rajin sekali dia. Tanpa aku minta dia membantu sepulang kerja. Baik sekali bukan?" Djiwa sudah menjawab sebelum Rendi menjawab. "Lily besok mau ke sini lagi? Siapa tahu Lily mau mencoba menu baru kita?"
Djiwa melirik Rendi penuh arti. Djiwa ingin Rendi membantunya lagi besok. "Iya, Ly. Besok datang lagi saja," sahut Rendi.
"Besok ya? Boleh deh. Kebetulan aku libur. Besok aku datang," jawab Lily.
Djiwa tersenyum senang. Bala bantuan datang lagi. Tak akan ia sia-siakan tentunya. "Ren, sudah ngepelnya? Kalau sudah, ikut duduk sini. Kita ngobrol!"
Mendengar tawaran Djiwa, cepat-cepat Rendi menyelesaikan ngepelnya. Tak akan ia sia-siakan mengobrol bersama Lily, gadis yang membuat Rendi terpukau dengan kecantikannya sejak awal.
Djiwa sadar diri, ia masuk ke dalam dan meninggalkan Rendi mengobrol dengan Lily. Ia membantu Mawar melipat kardus untuk pesanan take away dan ojek online.
"Rendi cocok ya sama Lily," kata Djiwa.
Mawar tersenyum kecil. "Itu yang Mas Djiwa lihat. Memangnya Rendi mau sama Lily?"
"Loh memangnya kenapa? Lihat saja Rendi begitu tertarik dengan Lily," tanya Djiwa.
"Mas tahu aku kenal Lily dimana? Bagaimana kami bisa bersahabat?" tanya balik Mawar.
Djiwa menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu. Memang kamu kenal dimana?"
"Di penjara. Lily itu teman satu sel aku."
__ADS_1
Djiwa terkejut mendengar jawaban Mawar. "Lily pernah dipenjara juga?"
****