Janda Bohay

Janda Bohay
Disidang


__ADS_3

Rendi lalu menceritakan awal mula Djiwa mengenal Mawar. Mulai dari Djiwa yang ditinggal tanpa uang dan ponsel lalu dibantu oleh Mawar. Bagaimana Djiwa membantu usaha Mawar sampai akhirnya jatuh hati dan memutuskan untuk menikah. Rendi menceritakan dengan jujur dan apa adanya masalah yang Djiwa alami.


Masalah mereka sudah berat, ia tak mau menambah masalah dengan berbohong. Rendi merasa Djiwa tak bersalah. Itu hak pribadi Djiwa untuk menentukan siapa wanita yang akan ia nikahi, bukan menurut saja apa yang orang tuanya inginkan.


"Pasti Djiwa sedang mengasah kemampuan aktingnya, bukan? Saya yakin, tak ada cinta dalam diri Djiwa." Pak Prabu tetap saja kesal meski Rendi sudah mengatakan yang sejujurnya.


"Dji- maksudnya Pak Djiwa mencintai Mawar dengan tulus, Pak. Mawar juga banyak memberikan perubahan ke arah yang lebih baik pada Pak Djiwa. Contohnya dalam hal beribadah. Pak Djiwa sekarang sudah rajin shalat lima waktu tanpa harus disuruh. Bapak bisa lihat sendiri bagaimana perubahan Pak Djiwa sekarang. Pak Djiwa juga rajin bekerja, bahkan turun tangan sendiri membantu Mawar merintis usaha ayam geprek miliknya." Rendy kembali membela atasannya.


"Turun tangan? Turun tangan bagaimana maksud kamu? Anak malas itu saja kalau disuruh tugas ke luar kota suka menolak, mana mungkin ia turun tangan membantu bisnis kecil seperti itu?!" Pak Prabu kembali meremehkan anaknya padahal Djiwa punya jasa yang lumayan besar dalam memajukan perusahaan miliknya. Otak Djiwa yang cerdas, membuat strategi bisnis perusahaan Papanya maju pesat selama dipegang olehnya.


"Pak Djiwa pergi ke pasar setiap subuh untuk mengantar Mawar berbelanja ayam. Pak jiwa juga membantu membersihkan dan mengolah ayam serta melayani pembeli di warung. Pak Djiwa yang sekarang berbeda dengan yang dulu, Pak. Mungkin Bapak tidak menyadarinya, anak Bapak sekarang sudah lebih dewasa. Pak Djiwa juga tidak melupakan tugasnya di kantor. Meskipun ia lelah, semua dokumen yang harus ia periksa dan tanda tangani tak pernah ia lewatkan. Semua karena Pak Djiwa ingin membuktikan sama Bapak kalau ia begitu mencintai Mawar dengan tulus."


Rendi mengatakan semuanya dengan jujur. Djiwa banyak berjasa dalam hidupnya. Djiwa membiayai kedua orang tuanya dan juga selalu membela Rendi di depan Papanya jika ia salah. Kini saatnya Rendi untuk membalas semua jasa Djiwa selama ini.


Pak Prabu kini terdiam. Ia masih tidak percaya kalau Djiwa akan turun tangan sendiri ke pasar. Anaknya itu suka agak jijik jika bermain kotor-kotoran. Bagaimana mungkin hanya demi seorang wanita, Djiwa mau turun tangan ke pasar dan mengesampingkan sifat dirinya yang tak suka kotor. Pak Prabu lalu menyuruh Rendi pulang karena kepalanya terlalu pusing memikirkan semua persoalan yang ada.


****


Djiwa sama sekali tak tahu kalau Pak Prabu sudah tahu perihal pernikahannya. Djiwa masih fokus meminta maaf pada Mawar. Mawar sendiri bingung dengan dirinya sendiri. Kadang Mawar memaafkan Djiwa namun saat melihat muka Djiwa, Mawar kembali merasa kesal dan rasa marah tiba-tiba muncul. Rasanya mau marah-marah terus pada Djiwa.


Mawar merasa kesal dan kecewa karena sudah dibohongi. Namun saat Djiwa pergi ke kantor, Mawar kembali merasa kasihan pada suaminya dan kembali memaafkan Djiwa. Mawar merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia jadi sensitif sekali.


Djiwa pergi ke kantor setelah berpamitan pada Mawar. Tak ada perasaan apapun saat ia pergi. Djiwa tak tahu kalau dirinya akan disidang oleh Papanya. Baru saja mendudukkan dirinya di atas kursi kerjanya, suara dering telepon pun berbunyi. Ternyata benar, Papanya menelpon dan meminta Djiwa untuk datang ke ruangannya.

__ADS_1


Tanpa menaruh curiga, Djiwa pergi menuju ruangan Papanya yang terletak tak jauh dari ruangannya. Dilihatnya meja kerja Rendi. Asistennya tersebut belum datang. Djiwa telepon juga tidak ada kabar. Djiwa berpikir, Rendi sangat sibuk menyelesaikan tugas-tugas darinya.


Djiwa mengetuk pintu ruangan Papanya dan saat masuk ke dalam, Djiwa terkejut saat mendapati Rendi berdiri di dalam sambil menundukkan wajahnya. "Loh Ren, lo udah dateng? Kok gue telepon nggak bisa sih?" Djiwa bertanya dengan santai, ia tidak memperhatikan kalau wajah Papanya begitu suram.


"Handphone Rendi, Papa sita!" Papa Djiwa menaruh ponsel Rendi di atas mejanya dan menatap anaknya dengan tajam.


Djiwa kini menatap Papanya. Kening Djiwa berkerut tajam, ia tak tahu apa yang sudah terjadi. "Kenapa disita, Pa? Kayak anak sekolah saja pakai disita. Memang Rendi ketahuan nakal?" tanya Djiwa tanpa merasa bersalah.


"Ya ... Papa sita karena Rendi memang nakal. Rendi sudah membantu kamu menutupi pernikahanmu dengan Mawar si Janda bohay yang mantan narapidana itu!" kata Pak Prabu dengan tegas.


Mata Djiwa terbelalak kaget mendengar apa yang Papanya katakan. Ia tak menyangka, Papanya tahu mengenai pernikahannya. "Papa tahu dari mana?"


"Menurut kamu, siapa yang akan memberitahu Papa perihal pernikahan kamu yang disembunyikan itu? Sudah pasti, bukan asisten kamu yang satu kubu denganmu itu. Tentu saja orang yang sakit hati dengan apa yang kamu lakukan pada putrinya," jawab Papa Djiwa.


"Sakit hati? Maksud Papa, Pak Surya? Ya ampun, lebay banget sih tuh orang. Kenapa juga harus ngasih tau Papa segala? Susah payah aku umpetin, lemes banget mulutnya langsung ngomong ke Papa. Laki kok lemes!" Djiwa masih menyerocos tak jelas sampai tangan Papanya menggebrak meja dan membuatnya terdiam.


Djiwa tak lagi nyerocos. Mulutnya terkunci rapat. Ia melirik Papanya yang semakin marah karena ulahnya barusan.


"Kamu sadar tidak apa yang sudah kamu lakukan? Kamu tuh sudah mencoreng nama baik Papa! Memangnya tak ada gadis lain apa di dunia ini selain janda gatel itu? Kamu tuh seorang Angkasa Djiwa, putra Prabu Wisesa yang terkenal sebagai pengusaha sukses kalangan atas di negeri ini. Apa kata orang nanti saat mereka tahu kalau anak Papa yang selama ini Papa banggakan ternyata justru malah menikah dengan seorang janda? Mantan pembunuh lagi! Di mana harga diri Papa nanti?" Pak Prabu menyemburkan amarahnya pada Djiwa.


Bukannya takut, Djiwa malah menjawab perkataan Papanya. "Aku mencoreng nama baik Papa? Mencoreng bagaimana? Apakah salah kalau aku menikahi seorang janda?" tantang Djiwa.


Amarah Pak Prabu semakin naik mendengar Djiwa menantang dirinya. "Kamu masih bertanya? Kamu masih merasa tak bersalah? Putri pengusaha terkenal sudah Papa jodohkan untuk kamu, kenapa malah memilih wanita dengan masa lalu suram seperti itu? Bikin malu saja kamu jadi anak! "

__ADS_1


Djiwa tersenyum kecil. "Papa sadar enggak sih, yang Papa anggap putri terhormat para pengusaha itu siapa sebenarnya? Mereka juga tidak lebih baik, Pa. Di depan saja baik, di belakang binal. Justru yang Papa anggap menjatuhkan harga diri Papa, itu jauh lebih baik daripada mereka. Memang benar Mawar itu seorang janda, bahkan ia dituduh membunuh suaminya sendiri. Ingat ya, dituduh!"


"Saat kejadian itu terjadi, Mawar nggak bisa melawan. Ia hanya gadis kampung polos yang saat dihakimi oleh masyarakat hanya bisa menangis. Tak ada yang percaya padanya. Hukum begitu kejam kepada orang miskin seperti dirinya. Sekarang aku sudah menemukan siapa pembunuh yang sebenarnya. Ternyata benar, pelakunya bukan Mawar. Ia hanya korban fitnah dari orang berkuasa yang sengaja cuci tangan atas kasus dirinya. Bukan Mawar yang salah. Mawar tuh lebih suci dan lebih baik dari semua wanita yang pernah Papa jodohin sama aku!" jawab Djiwa. Ia tak terima melihat istrinya dihina.


Brak!


Pak Prabu kembali menggebrak mejanya. "Kamu masih membela pembunuh itu?"


"Ada apa ini? Siapa yang janda? Siapa yang dituduh membunuh?" Mama Djiwa yang baru datang tak sengaja mendengar percakapan di luar ruangan. Ia menatap Djiwa dan Papanya bergantian. "Siapa Mawar?"


****


Sinopsis Batas Tipis Cinta dan Benci


Ayara membuka matanya perlahan dan kembali menutupnya karena silau. Ayara mendengar sayup-sayup namanya dipanggil. Tatapannya masih agak kabur dan kesadarannya belum sepenuhnya pulih.


Ternyata setelah operasi Ayara merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ada semacam perasaan merindukan seseorang yang Ayara sendiri tidak tahu siapa orang yang ia rindukan. Yang pasti bukan Azka kekasihnya.


Ayara terdiam. Entah kenapa, kini dirinya meragu. Benarkah Azka yang ia inginkan untuk menjadi suaminya. Kenapa sekarang terasa berbeda? Seakan semua rasa cintanya terhadap Azka menjadi hambar. Apa karena jantung barunya?


"Aku Rezvan!" kata Rezvan dengan malas.


Ayara membalas uluran tangan Rezvan. "Ayara."

__ADS_1


Saat kedua tangan saling berjabat, Ayara merasakan sesuatu yang tak biasa. Entah mengapa Ayara seperti sudah lama mengenal Rezvan. Ayara merasa sudah nyaman dengan lelaki di depannya. Jantung hasil operasi transplantasi yang kini menjadi miliknya berdegup lebih kencang, seakan mengenali siapa pemilik hati tuan sebelumnya.


Bagaimana kisah Ayara dan Rezvan? Infonya ada di FB aku: Mizzly dan IG: Mizzly_


__ADS_2