Janda Bohay

Janda Bohay
Tidak Full Power


__ADS_3

Mawar mengangguk malu-malu. Mereka pun jalan berduaan menuju kamar Djiwa, kamar yang selama ini Mawar tempati. Tanpa banyak kata, setelah mengunci pintu kamar Djiwa langsung eksekusi.


Rasa rindu selama beberapa bulan tak pulang seakan dilepaskan semuanya. Tentunya dengan hati-hati karena kini Mawar sedang berbadan dua. Djiwa tak mau dirinya malah melukai anak yang ada dalam kandungan Mawar.


Dengan nafas terengah-engah, Djiwa merebahkan tubuhnya di samping Mawar. Dikecupnya kening Mawar sebagai tanda cinta. "Makasih, Sayang. Kamu lapar tidak?"


Mawar mengangguk. "Lapar. Mas begitu prima setelah beberapa bulan tidak di charge."


Djiwa tersenyum mendengarnya. Bagi Djiwa itu adalah pujian. Djiwa pun membalasnya dengan kesombongan yang hakiki. "Masa sih? Padahal Mas masih menahannya sebagian hasrat menggebu Mas loh karena ada our baby. Kalau Mas pakai tenaga full bagaimana ya?" kata Djiwa seraya memainkan kedua alisnya.


Mawar tertawa mendengarnya. "Jangan dong, Mas. Bisa bahaya. Habis sudah energi aku nanti."


Djiwa mengusap lembut pipi Mawar. "Tenang saja. Tidak pakai tenaga full kok. Lebih baik aku cicil daripada membuat kamu kelelahan nantinya."


Djiwa mengambil gagang telepon yang ada di atas nakas. Dihubunginya telepon yang ada di dapur.


"Bi Ijah, aku lapar. Bawakan makanan dan cemilan ya buat aku dan Mawar. Nanti ketuk saja pintu dan taruh di lantai, oke?" perintah Djiwa.


"Iya, Den."


Djiwa menutup teleponnya dan kembali menatap Mawar. Wanita cantik yang matanya mulai mengantuk. "Nanti dulu bobonya, makan dulu. Jangan tidur dengan perut kosong."


Mawar mengangguk. Rasanya ia ingin segera memejamkam matanya. Lelah sekali. Djiwa memang mengatakan kalau ia tidak full power karena teringat anak dalam kandungannya namun tetap saja tubuhnya kewalahan. Lelah sekali rasanya. Tidak full power saja seperti ini apalagi full power?


"Apa karena aku kebanyakan bergaul sama petani ya jadi tenagaku jauh lebih kuat lagi dari sebelumnya?" oceh Djiwa yang terdengar sayup-sayup di telinga Mawar yang sudah hampir tertidur pulas.


"Sayang, jangan tidur dulu. Sebentar, itu Bi Ijah datang! Jangan tidur dulu ya!" Djiwa bangkit dari tempat tidur, mengenakan piyama untuk menutupi tubuh polosnya dan membuka pintu kamar.


Di depan kamar sudah ada makanan di atas nampan. Dua piring nasi beserta lauk, dua jus dan dua cemilan berupa cheese cake sudah tersaji, siap dinikmati. Djiwa mengangkat nampan dua susun tersebut dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Makanan tiba! Ayo, Sayang, makan dulu!" Djiwa menaruh nampan di atas tempat tidur dan membangunkan Mawar.


Dengan malas Mawar membuka matanya. Perutnya lapar namun tubuhnya terlalu lelah. "Ah ... pasti ini manja deh. Mau aku suapi?" tanya Djiwa.


Mawar menganggukkan kepalanya.


"Yaudah aku suapi ya. Yang penting kamu makan dan full energi lagi. Buka mulutnya, aaa ...." Djiwa menyuapi Mawar dengan lembut.

__ADS_1


"Kalau sudah full energi lalu mau apa?" tanya Mawar sambil mengunyah makanannya.


"Mau ajak kamu jalan-jalan ke Mall." Djiwa kini menyuapi dirinya sendiri. Ia juga lapar dan merindukan masakan rumah.


"Beneran?" tanya Mawar yang kini duduk tegak. Kesadarannya sudah pulih. Ia ternyata butuh makan sehabis banyak mengeluarkan energi.


"Iya dong. Aku sudah berjanji, saat nanti aku sudah memberitahu identitasku yang sebenarnya sama kamu dan juga saat aku sudah menyelesaikan semua permasalahan kita, aku mau mengajakmu jalan-jalan. Kamu hanya tahu aku lewat majalah, aku akan memperkenalkan kamu pada duniaku yang sebenarnya." Djiwa kembali menyuapi Mawar.


"Dunia kamu?"


"Ya, tempat kerjaku juga akan aku perkenalkan sama kamu. Makan dulu yang banyak. Hari ini kita ke Mall, besok kamu ikut aku ke kantor, oke?"


Mawar mengangguk patuh. "Kemana saja asal sama kamu, aku ikut."


"Cie ... romantis sekali sih. Istrinya siapa ya? Sudah cantik, baik eh ditambah romantis lagi. Boleh bawa pulang tidak?" goda Djiwa.


"Boleh ... boleh. Dibawa ke tempat lain juga boleh." Mawar memeluk Djiwa dengan erat. Ia teramat sangat merindukan suaminya.


"Manja sekali nih sama aku?" Djiwa menjauhkan piring bekas makan mereka agar tidak terbalik dan jatuh.


"Kangen sama kamu. Aku tahu perjuangan kamu selama ini berat. Saat aku melihat berita di TV, aku diberitahu sama Mama kalau semua itu ulah kamu. Makasih, Sayang. Terima kasih kamu sudah membersihkan namaku," kata Mawar sambil meneteskan air mata haru.


Djiwa mengangkat tangan Mawar dan mengecupnya dengan penuh kasih. "Tak mungkin tangan lembut yang biasa membantu dan membawa kebaikan bagi orang lain tega membunuh orang."


Djiwa melepaskan pelukan Mawar dan menghapus air mata di wajahnya. "Jangan menangis lagi. Dunia sekarang sudah tahu kalau kamu hanyalah korban dari kekuasaan orang yang berduit. Angkat kepala kamu agar orang yang menghina kamu merasa malu sudah memfitnah kamu seenaknya."


Mawar mengangguk dan tersenyum. "Aku sayang kamu, Mas."


"Cuma sayang saja nih?" tanya balik Djiwa.


"Aku juga cinta sama kamu," jawab Mawar.


Djiwa tersenyum mendengar pengakuan cinta dari Mawar. "Aku sangat mencintai dan menyayangi kamu. Hanya kamu satu-satunya perempuan yang membuatku ingin membawa kamu dalam ikatan pernikahan. Hanya kamu seorang."


Mawar tersipu malu. Ia masih tetap tersipu meski sudah mendengar Djiwa mengatakan isi hatinya berkali-kali. "Oh iya, kamu selama ini tinggal dimana?"


"Di kampung kamu."

__ADS_1


Mata Mawar terbelalak mendengar jawaban Djiwa. "Di kampung aku? Lalu tinggal di rumah siapa?"


"Di rumah kamu."


"Hah? Serius? Di rumah aku? Bukannya rumah itu sudah lama kosong? Seram tidak?" tanya Mawar bertubi-tubi.


"Seram sekali," jawab Djiwa.


"Beneran? Ada setan apa? Kamu melihat penampakan?"


Djiwa menahan tawanya mendengar pertanyaan Mawar. Djiwa menganggukkan kepalanya.


"Hiiyyy ... di dapur? Di kamar mandi? Atau di kamar?"


"Di kamar."


"Hah? Bentuknya apa? Pasti karena sudah lama tidak ditempati. Seharusnya aku suruh saja saudara Bapak menempati rumahku. Ah, mereka tak akan mau juga karena katanya rumahku bawa sial." Mawar jadi nyerocos sendiri.


Djiwa terus menahan tawanya. Melihat Mawar ketakutan begitu membuatnya ingin tertawa kencang.


"Sayang, bukan itu yang aku lihat."


"Lalu apa?" tanya Mawar cepat.


"Aku melihat sesuatu yang membuat aku merasa marah."


"Oh ya? Setan apa yang bikin kamu marah ya?"


"Bukan setan."


"Lalu? Iblis? Demit? Babi ngepet?"


Djiwa geleng-geleng kepala dengan pertanyaan Mawar. "Bukan itu."


"Lalu apa?"


"Yang aku lihat adalah figura berisi foto pernikahan kamu dan Purnomo. Aku kesal. Aku marah. Aku cemburu. Kamu terlihat cantik di sana. Setiap malam aku terus melihat kamu tersenyum namun bukan aku di samping kamu. Hal itu yang membuat aku menyelesaikan pekerjaanku secepatnya di sana. Aku tak tahan lagi. Aku mau memeluk kamu seperti ini." Djiwa kembali memeluk Mawar sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu kini milikku. Selamanya akan tetap menjadi milikku."


****


__ADS_2