Janda Bohay

Janda Bohay
Lagi-lagi Menyamar


__ADS_3

POV Djiwa


Perjalanan menuju kampung Mawar lumayan jauh. Aku sampai tertidur di jalan. Kini saat aku bangun, hatiku kembali merasa bimbang, ingin mengabari Mawar namun takut keberadaan kami diketahui lagi.


Bagaimana keadaan Mawar ya? Aku meninggalkannya di saat situasi sedang genting. Apa Mawar masih kepikiran ucapan Papanya Melati ya?


Aku menggaruk rambutku yang tak gatal. Berharap ide bagus segera keluar dari otakku yang buntu ini.


"Tenanglah, Wa. Semua akan baik-baik saja. Lo udah kirim pesan sama bokap lo? Nanti doi khawatir dan kirim pasukan satu kompi buat nyari lo lagi," tanya Rendi.


"Udah. Gue bilang kalau gue mau cuti kerja dulu karena ada yang harus gue lakukan. Untung aja kita bawa laptop, Ren, jadi masih bisa komunikasi, untuk jaga-jaga lebih baik semua alat komunikasi kita matikan. Security kita sudah matikan hp juga?" tanyaku.


"Udah. Low bath katanya," jawab Rendi.


"Bagus. Kita mau tinggal dimana? Jangan sampai menarik perhatian penduduk kampung dengan kedatangan kita ramai-ramai begini. Tuh dua bodyguard kelihatan serem. Dandanin pakai apa gitu," pesanku.


"Kita ganti baju dulu aja. Di depan ada pasar. Kita beli baju agar tidak terlihat mencolok," kata Rendi.


"Iya. Untung gue bawa kartu ATM yang sengaja gue buat atas nama Mawar. Ingat ya, lo semua jangan ada yang gesek ATM juga! Gue duga mereka melacak kita lewat ATM. Untung tadi di jalan plat nomor udah diganti. Gila, kayak buronan aja gue. Sialan tuh Bokapnya Melati. Dia pasti menggunakan kekuasaannya untuk melakukan semua ini. Seorang Anton saja tak akan mungkin bisa buat gue enggak berkutik!" gerutuku.


"Tenang, Wa. Kita balas mereka nanti. Sekarang kita bisa kalah, nanti kita buat mereka ngemis maaf dari lo!" Rendi selalu membuatku tenang dan bisa mengendalikan emosiku.


Aku mengambil uang dalam jumlah banyak. Keperluan kami di kampung Mawar pasti banyak. Baju ganti, sewa rumah dan uang untuk makan. Aku memberikan sebagian uangku pada Rendi. Ia satu-satunya yang bisa kuandalkan dalam keadaan seperti ini.

__ADS_1


Setelah membeli baju dan beberapa keperluan lain sesuai rencana yang aku dan Rendi susun, kami siap masuk ke dalam kampung Jamal. Kubekali SIM Card baru untuk kedua bodyguard-ku dan Rendi tentunya. Saat hendak menghubungi Mawar dengan nomor baru, Rendi kembali melarangku.


"Jangan, Wa! Mawar dan Lily lebih aman kalau mereka tidak tahu. Mereka pasti masih memantau di warung," larang Rendi.


"Gue harus kabarin Mawar dong, Ren. Nanti bini gue khawatir. Dia lagi enggak enak badan, ditambah kemarin adu jotos sama Melati. Kasihan," jawabku.


"Gue juga kasihan sama Lily, Wa. Kita kasih kabar lewat teman-temannya bodyguard lo aja. Mereka pasti stand by dekat Mawar. Yang penting Mawar tidak khawatir," usul Rendi.


Benar juga. Kami akan lama di kampung ini. Banyak yang harus kami lakukan. Jangan sampai keberadaan kami diketahui.


"Baiklah. Besok saja kabarinya. Biarkan mereka berpikir kalau kita sedang kabur dan mencari tempat aman," putusku.


Kami pun sampai di kampung Mawar. Sebuah kampung yang tenang dan nyaman. Udara di kampung ini masih segar. Mobil milikku dititipkan di salah seorang kenalan bodyguard-ku, hebat mereka, banyak kenalan dimana-mana. Kami datang dengan motor butut yang dipinjamkan.


Aku harus kembali memainkan aktingku sebagai pemuda polos agar kedatangan kami diterima di kampung. Kami berpura-pura menyamar sebagai anak mahasiswa yang ingin KKN. Untung saja Iman -security yang ikut kami- usianya masih muda. Penyamaran mudah kami lakukan.


"Kedatangan dua mahasiswa ini ingin belajar tentang keberhasilan panen beras di desa ini." Jamal bertugas mengenalkan kami pada RT setempat. Jamal yang memang warga asli kampung tentu tak akan dicurigai. Untung saja memar di wajahnya sudah samar.


"Wah, jarang-jarang ada mahasiswa yang mau belajar bersama para petani. Bagus. Kami akan memberitahu tentang program yang kami miliki. Kami ikut rencana swasembada beras loh! Hebat bukan petani di kampung kami?" kata Pak RT dengan bangga.


Aku, Rendi dan Iman tersenyum seolah ikut dengan kebahagiaan Pak RT. "Rencananya mereka akan tinggal dimana, Mal?" tanya Pak RT pada Jamal.


"Dimana ya, Pak? Hmm ... bagaimana kalau di rumah Mawar saja? Sudah lama rumah itu kosong semenjak Mawar tinggalkan. Daripada jadi sarang hantu, lebih baik ada yang tempati bukan?" usul Jamal seperti yang aku perintahkan.

__ADS_1


"Yakin kamu mau mereka tinggal di rumah itu? Rumah sial itu. Penghuninya saja ikut sial," kata Pak RT.


Aku mengepal tanganku menahan amarah saat mendengar penghuninya ikut sial. Bukan Mawar yang ikut sial, kalian yang membiarkan fitnah atas diri Mawarku yang lemah!


Jamal melirik ke arahku yang mulai murka. Ia bisa membaca aura menyeramkanku dan kembali membujuk Pak RT. "Biarkan saja. Mereka anak muda pasti suka tantangan. Di rumah saya sempit, Pak. Di rumah Bapak juga ada anak gadis bukan? Tak aman kalau berada satu rumah dengan mereka."


Pak RT memikirkan usul Jamal. Secara bergantian, aku, Rendi dan Iman ditatapnya satu persatu. "Baiklah. Mumpung hari masih siang. Kalian bersihkan saja rumah itu untuk kalian tempati!"


Aku menghela nafas lega. Tahap awal sudah kami lewati dengan aman. Kami pun diantar ke rumah Mawar oleh Pak RT dan Jamal. Sebuah rumah dengan bagian depan seperti bekas warung. Mungkin ini yang Mawar ceritakan kalau ibunya dulu memang membuka warung untuk menopang hidup.


Jamal membukakan pintu rumah Mawar. Keadaan dalam rumah begitu gelap dan kotor. Sudah lebih dari setahun ditinggalkan pemiliknya, tak terurus namun masih layak ditempati.


"Kalian bersihkan saja dulu. Besok kita mulai belajarnya. Saya tak mau masuk ke dalam rumah ini, takut ikut sial." Pak RT lalu meninggalkan kami.


"Bersihin, Mal!" perintahku pada Jamal dengan seenaknya.


Jamal menurut, dengan dibantu Iman ia bersihkan rumah Mawar. Aku memilih melihat-lihat rumah tempat Mawar dulu tinggal. Aku masuk ke dalam kamar dan melihat foto pernikahan Mawar dalam figura berukuran 10R.


Di foto tersebut Mawar terlihat masih amat muda. Umur 17 sudah menikah, di umur yang sama pula sudah masuk penjara. Kasihan.


Aku menatap wajah Purnomo yang terlihat seperti wajah orang baik. Rasa cemburu tak lagi menghinggapiku. Mereka menikah adalah takdir masa lalu Mawar.


Aku menatap kasur Mawar yang ditutupi plastik agar tidak berdebu. Ya, rumah ini cukup layak untuk kami tempati. Aku mengeluarkan ponsel milikku dan menghubungi Papa.

__ADS_1


"Pa, siapkan uang yang banyak. Akan kuhancurkan bisnis Papanya Melati seperti yang Papa inginkan. Aku titip Mawar, Pa. Jaga ia selama aku di sini."


****


__ADS_2