Janda Bohay

Janda Bohay
Memperkenalkan Mawar ke Karyawan


__ADS_3

"Sayang, dasi aku rapikan dulu dong!" Djiwa bersikap manja pada istrinya. Ia bisa memakai dasi sendiri namun ia memilih dipakaikan oleh istrinya yang terlihat seksi saat berbadan dua tersebut.


"Udah rapi kok. Kamu saja yang manja!" Mawar tetap memakaikan dasi Djiwa dengan penuh kasih. Ia tak mau suaminya terlihat berantakan dan tak terurus di depan karyawannya.


"Kamu cantik banget sih!" Djiwa mengecup kening Mawar.


"Masa sih? Dandanan aku terlalu sederhana tidak, Mas? Aku tak berani memakai make up tebal karena sedang hamil. Kelihatan seperti karyawan ayam geprek tidak sih?" Mawar merasa tak percaya diri karena akan diajak Djiwa ke kantornya.


Sesuai janji, Djiwa akan mengenalkan Mawar pada karyawannya di kantor. Ini sebagai bukti kalau Djiwa bangga memiliki Mawar sebagai istrinya.


"Cantik, Sayang. Percayalah, kamu cantik sekali." Djiwa berkata dengan lembut. "Kamu akan menjadi yang paling cantik di kantor aku nanti."


Mawar tersipu malu mendengar pujian Djiwa. Hatinya berbunga-bunga. Sejak Djiwa pulang, ia selalu memanjakannya. Membuat ibu hamil yang satu ini terlihat makin cantik karena aura bahagia yang dirasakan.


"Ayo kita turun, nanti Mama dan Papa menunggu lama di meja makan," ajak Mawar.


"Ayo. Bawa sekalian tas kamu. Ada yang mau aku bawakan tidak?" tanya Djiwa.


Mawar menggelengkan kepalanya. "Hanya tas kecil saja yang aku bawa, Mas. Aku kuat kok."


"Jangan, Sayang. Aku saja yang bawakan. Kamu sudah berat membawa anakku kemana pun kamu pergi," bujuk Djiwa.


Mawar tersenyum mendengarnya. "Ini memang kewajibanku, Mas. Tak mungkin aku tinggal."


"Kamu juga membawa yang lebih berat lagi."


"Yang lebih berat lagi? Apa itu?" tanya Mawar penasaran.


"Hatiku." Djiwa melingkarkan kedua tangannya di atas kepala membuat bentuk love seperti adegan di drama Korea.


"Ah ... sweet banget sih?" Mawar mencubit pipi Djiwa dengan gemas. "Suaminya siapa sih?"

__ADS_1


"Suami Neng Mawar Bohay dong." Djiwa merangkul Mawar. "Ayo, kita kelamaan saling menggoda, bisa manyun Mama di bawah nungguin kita."


Mama dan Papa Djiwa sejak tadi menunggu anak dan menantunya untuk sarapan bersama. "Tuh mereka akhirnya keluar kamar. Saling rangkulan lagi. Kayak teletubies saja. Bikin iri!"


Papa tersenyum mendengar ucapan istrinya. "Biarkan saja, Ma. Kayak enggak pernah muda saja. Mereka sudah berbulan-bulan tak bertemu. Mereka juga belum lama menikah dan sedang menyambut anak pertama. Wajar saja kalau mereka begitu mesra. Jangan iri ah, nanti kita honey moon setelah Mawar tujuh bulanan, oke?"


Ditawari honey moon tentu saja Ibu Mina senang. "Oke deh, Pa."


Ibu Mina menatap menantunya yang terlihat cantik alami. Rambut Mawar dibiarkan tergerai dengan kedua sisinya dikepang. Dress yang dikenakan pun terlihat cocok di kulitnya yang putih bersih.


"Ini nih pasangan yang bikin iri Mama. Setelah Mama dibujuk untuk honey moon baru deh Mama kamu senang," kata Papa Djiwa menyambut kedatangan anak dan menantunya di meja makan.


"Maaf, Ma. Mas Djiwa ngegombal terus. Kita jadi enggak keluar kamar deh," jawab Mawar dengan jujur.


"Tak apa. Mama ditawari honey moon sama Papa sudah senang," jawab Mama sambil tersenyum. "Kamu jadi ikut ke kantor Djiwa?"


"Jadi, Ma. Mas Djiwa mau aku ke kantornya sebelum acara tujuh bulanan nanti," jawab Mawar.


"Iya. Mama setuju. Dandanan kamu cantik sekali. Terlihat sederhana namun elegan. Mama suka. Siapapun yang melihat pasti akan terpukau dengan kecantikan kamu," puji Mama.


"Sudah ... sudah. Ayo kita makan. Sudah siang, nanti macet."


****


Djiwa turun dari mobil setelah pintu mobil dibukakan oleh supir pribadinya. Djiwa lalu pergi ke pintu satu lagi dan membukakannya untuk Mawar. Tangan kanannya terjulur dan dibalas oleh Mawar dengan memberikan tangannya. Adegan ini bak di drama romantis, dimana pemeran pria memperlakukan pemeran wanita dengan penuh hormat. Djiwa menjaga betul Mawar yang mulai lambat berjalan karena perutnya yang semakin membesar.


Karyawan yang melihat adegan manis yang ditunjukkan atasannya menatap dengan iri. Betapa Djiwa begitu memperlakukan Mawar dengan istimewa. Lengan Djiwa digandeng mesra oleh Mawar. Pasangan tampan dan cantik ini benar-benar menyita perhatian siapapun yang melihatnya.


Djiwa tersenyum ramah pada setiap karyawan yang memberi hormat. Sesekali ia menjawab saat disapa dengan ucapan selamat pagi. Setelah Djiwa dan Mawar lewat, mereka pun mulai dibicarakan.


"Eh, siapa tuh? Kok Pak Djiwa menggandeng perempuan yang sedang hamil sih?"

__ADS_1


"Apa itu istrinya Pak Djiwa? Masa sih? Kapan nikahnya?"


"Kalau memang benar itu istrinya, cantik banget. Body-nya aduhai alias bohay. Pantas saja kita enggak ada yang dilirik. Seleranya Pak Djiwa oke punya."


"Iyalah, remahan rengginang di kaleng biskuit Engkong Guan kayak kita mana dilirik sama Bos Djiwa. By the way, istrinya anak pengusaha mana ya? Bukannya Mama Mas Djiwa pilih-pilih ya masalah menantu?"


"Iya. Aku dengar begitu. Melati saja ditolak yang cantik dan pintar. Ya ... meski pada akhirnya kita tahu kalau Melati ternyata pembunuh dan ncun sih."


"Jadi penasaran sama istrinya Pak Djiwa. Siapa sih wanita yang beruntung itu? Bikin iri deh."


Djiwa dan Mawar terus berjalan dengan senyum di wajah. Tak dipedulikannya omongan demi omongan yang ditujukan untuk mereka berdua.


Mawar lalu diajak Djiwa ke ruangannya. Ruangan yang besar seperti yang ada di film-film. Mawar masih merasa semua ini adalah mimpi. Tak pernah terpikir kalau dirinya yang pernah lima tahun mendekam di balik jeruji besi memiliki nasib bagus bisa menikah dengan pengusaha sukses, Angkasa Djiwa. Benar-benar bak mimpi.


Dari jendela besar di ruangan Djiwa, Mawar bisa melihat pemandangan ibukota. "Mas," panggil Mawar.


"Apa, Sayang?" tanya Djiwa yang sedang menandatangani beberapa dokumen.


"Kalau ada petir gimana? Kamu takut tidak. Jendelanya tidak ada gorden ya? Kamu tidak pesan gorden di Kak Jiel? Eh kalau pesan di Kak Jiel berapa gelombang kiri dan kanan ya? Tak mungkin sepuluh gelombang kiri, sepuluh gelombang kanan," tanya Mawar sambil memikirkan berapa gelombang kiri dan kanan karena begitu besar jendela di ruangan Djiwa.


Djiwa tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan istrinya. Sepolos itu Mawar, sampai masalah gorden saja ditanyakan. "Itu ada gordennya, Sayang. Bukan pakai gelombang kayak yang dijual selebgram itu. Gordennya pakai remot, nanti tinggal aku tekan dan akan keluar deh."


Mawar kini mendekati meja Djiwa setelah puas mendapat jawaban tentang gorden. Suaminya masih fokus menandatangani beberapa dokumen sebelum mengajaknya berkeliling ke bagian lain di perusahaannya. Mawar melihat sebuah bingkai kecil yang ada di meja Djiwa. Ada foto mereka berdua saat akad nikah dulu.


"Kamu memajang foto kita?" tanya Mawar dengan senyum di wajahnya.


Djiwa mengangkat wajahnya dan tersenyum. "Iya dong. Biar aku semangat terus. Kamu sudah bosan, Sayang?"


"Enggak kok. Kamu tenang saja. Besar sekali ruangan kamu, Mas. Bisa buka warung ayam geprek aku di ruangan kamu, Mas." Mawar masih saja mengagumi ruangan Djiwa, belum tahu saja dia kalau ruangan Papa mertuanya jauh lebih besar lagi.


"Bisa saja kamu, Sayang. Mau aku buatkan satu gedung untuk kamu jualan ayam geprek, Sayang?" tawar Djiwa tak main-main.

__ADS_1


"Hah? Satu gedung? Untuk jualan ayam geprek semua?"


****


__ADS_2