Janda Bohay

Janda Bohay
Pasukan Melati


__ADS_3

Melati pulang ke rumah dalam keadaan berantakan. Tangannya sakit terkilir dan rambutnya banyak yang rontok. Untung saja tadi ia tidak mengendarai mobilnya dan memilih naik taksi. Bisa tambah bengkak tangannya jika memaksa mengendarai mobil.


"Melati? Kamu kenapa?" Mama Melati kaget melihat wajah Melati yang berantakan. Hidung berdarah dan rambut acak-acakan.


"Mama jangan banyak tanya dulu deh. Lebih baik panggil dokter. Tangan aku sakit nih!" Melati merebahkan tubuhnya di sofa. Seluruh tubuhnya terasa sakit.


"Dasar cewek gila! Tenaganya kenapa kayak Hulk gitu sih? Lihat saja, akan aku beri pelajaran nanti!" gerutu Melati.


Mama Melati membawa obat dan air dingin untuk mengompres luka anaknya. "Siapa yang melakukan ini sama kamu, Mel? Biar Mama beri pelajaran dia!"


"Aku juga enggak tau, Ma. Sepertinya dia pemilik warung yang aku pikir punya Djiwa. Aku kesal dibohongi sama karyawan di sana jadi aku jambak saja eh majikannya keluar dan malah menghajar aku kayak begini. Mobil saja sampai aku tinggal karena takut dengan tempramennya yang seperti orang gila!" Melati mengaduh kesakitan saat lukanya diobati Mama.


"Kurang ajar sekali orang susah itu. Beraninya menyakiti anak gadis Mama. Tunggi sebentar, Mama akan telepon Papa dan kita lapor polisi!" Mama Melati sangat marah melihat anaknya pulang dengan tubuh penuh luka. Tak lupa Mama Melati menelepon dokter untuk memeriksa luka anaknya juga.


Sore harinya, keluarga Melati datang bersama polisi ke Warung Janda Bohay. Nampak warung sedang ramai pembeli. Lily dengan lincah kesana kemari mencatat pesanan pembeli.


Senyum ramah yang Lily berikan pada pengunjung tiba-tiba hilang saat ia melihat siapa yang datang. Wanita yang tadi siang menjambak rambutnya sampai banyak yang rontok.


"Tuh dia anak buahnya!" Melati menunjuk Lily. "Mana bos lo?"


Suasana yang semula santai dan banyak gelak tawa kini sunyi dalam sekejap. Kedatangan Melati membawa polisi dan kedua orang tuanya yang emosi menarik perhatian pengunjung. Mereka pasang telinga untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Kenapa diam aja? Mau gue jambak lagi lo kayak tadi?" ancam Melati.


Polisi yang bersama mereka maju untuk mendinginkan suasana. "Kami mendapat laporan bahwa telah terjadi tindakan pengeroyokan terhadap saudari Melati di Warung ini tadi siang. Apa benar begitu?"

__ADS_1


"Pengeroyokan? Enggak salah, Pak? Dia yang datang tiba-tiba lalu menjambak rambut saya!" jawab Lily.


"Itu karena lo nipu gue!" sahut Melati yang terbakar emosi.


"Mohon tenang dulu!" Polisi berusaha menenangkan Melati yang emosi. "Mana pemilik warung ini?"


"Lagi sakit, Pak. Tadi dia jambak rambut bos saya duluan. Enggak usah panggil bos saya, cukup saya saja yang jadi saksi. Cewek itu yang mulai duluan, Pak. Dia datang dan langsung menjambak saya. Bos saya cuma nolong dan minta agar cewek gila ini minta maaf eh malah Bos saya yang kena jambak balik," lapor Lily.


"Enak aja lo kalo ngomong. Nih, hidung gue sampai mau patah disundul sama Bos lo! Suruh dia keluar atau gue minta Pak Polisi geledah ruko ini!" ancam Melati.


"Tak perlu digeledah, saya akan turun." Mawar turun dari atas menahan perutnya yang masih agak sakit. "Ada apa? Mau lanjutin perkelahian tadi siang? Ayo aja!" tantang balik Mawar.


"Bapak lihat sendiri bukan? Cewek gila ini yang hampir membuat hidung saya patah!" kata Melati pada Pak Polisi yang bertugas.


"Rambut saya juga banyak yang rontok, Pak, karena dijambak dia," sahut Mawar tak mau kalah.


Mawar kini berdiri di sebelah Lily. Tangannya terlipat di dada dan menghadapi keluarga Melati dengan tenang. "Memangnya salah saya apa? Anda bilang, saya menyakiti anak Anda? Hey orang kaya sombong, justru anak Anda duluan yang tiba-tiba datang lalu menjambak anak buah saya!" balas Mawar.


Mama Melati menatap ke arah putrinya meminta jawaban lewat sorot matanya.


"Itu karena dia berbohong!" jawab Melati.


"Oh ya? Jadi karena dia berbohong, kamu dengan seenaknya menjambak dia, begitu?" tanya balik Mawar.


"Siapa suruh dia bohong dan mengatakan kalau Djiwa adalah pemilik warung ini? Makanya jadi karyawan dijaga mulutnya!" Melati menunjuk sebal ke arah Lily.

__ADS_1


"Loh? Salahnya dimana? Memang Mas Djiwa adalah pemilik tidak langsung warung ini. Benar dong karyawan saya?" balas Mawar.


Kening Melati berkerut dalam. "Djiwa bilang bukan dia yang punya tuh! Ah sudahlah." Melati lalu berbicara pada polisi yang datang bersama mereka. "Pak, mereka berdua yang menganiaya saya. Bawa saja ke kantor polisi!"


"Tunggu, enak saja kamu nyuruh Pak Polisi membawa kita. Kamu sendiri bagaimana? Kamu yang pertama datang dan mencari ribut di sini. Kita berdua hanya membela diri saja." Lily yang sejak tadi diam pun berani buka suara.


"Eh diam ya! Tamat sudah riwayat kalian! Gue enggak akan biarkan kalian bebas dengan mudah. Setiap helai rambut dan darah gue yang menetes akan gue balas sampai kalian membusuk di penjara!" ancam Melati.


"Siapa yang akan kamu penjaraian, Mel?" Semua kini menatap Djiwa yang baru datang bersama Rendi. Nampak Djiwa masih mengenakan setelan jas karena terburu-buru datang.


Body guard yang ditugaskan menjaga Mawar melaporkan pada Djiwa kalau keluarga Melati datang bersama polisi. Djiwa yang hendak pulang ke apartemen untuk mengganti pakaiannya terpaksa membatalkan niatnya. Ia meminta Rendi langsung ke ruko karena Mawar butuh bantuannya.


Mata Lily membulat melihat penampilan Djiwa yang berbeda, namun tidak dengan Mawar. Ia memang terkejut, namun bukan karena melihat penampilan Djiwa melainkan karena Djiwa mau membuka identitas dirinya di depan semua orang.


Djiwa berjalan masuk ke dalam ruko. Ia berhenti di depan Melati dan menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Bonyok kamu, Mel?" Djiwa menahan tawanya meski ia ingin mengejek habis-habisan Melati.


"Sayang, aku dijambak sama dua cewek gila itu! Lihat saja rambut aku banyak yang rontok. Hidung aku mau patah dan tadi berdarah karena diseruduk banteng gila itu!" Melati menunjuk ke arah Mawar yang sejak tadi hanya diam menatap Djiwa.


Djiwa menatap Mawar sebentar, sorot matanya seakan berkata kalau ia akan menjelaskan semuanya nanti saat keadaan sudah tenang. Mawar menjawab isyarat mata Djiwa dengan anggukan.


Djiwa kembali menatap Melati. "Katanya jagoan, masa bonyok sih Mel?" ledek Djiwa.


"Djiwa, Tante tidak terima ya anak Tante sampai dibuat begini! Kasih paham karyawan di warung ini, jangan berani nyolek Melati kalau tidak mau kami bawa ke jalur hukum!" Mama Melati berbicara penuh emosi pada Djiwa.


"Karyawan? Siapa? Yang cantik itu bukan karyawanku, Tante. Dia istriku. Cantik bukan? Hebat banget lagi, sampai bisa membuat anak Tante bonyok!" Djiwa mendekati Mawar dan mengecup keningnya.

__ADS_1


"Istri?"


****


__ADS_2