Janda Bohay

Janda Bohay
Siang Pertama Bukan Malam Pertama


__ADS_3

"Wa, aku pulang dulu ya. Orang tua kamu biar aku yang antar ke stasiun," pamit Rendi.


"Loh, Bapak dan Ibu tidak menginap dulu?" tanya Mawar.


"Tidak Mawar, kami mau langsung pulang. Maaf sekali. Ada urusan yang masih harus kami kerjakan jadi tak bisa berada lama di Jakarta. Kami doakan Mawar dan Djiwa akan bahagia sampai maut memisahkan," doa Ibu Darsono.


"Aamiin. Makasih, Bu."


Mawar dan Djiwa menatap kepergian keluarga palsu Djiwa. Djiwa menyelipkan tangannya di pinggang Mawar yang melambaikan tangan sampai keluarga palsunya tak terlihat lagi.


"Masuk yuk!" ajak Djiwa.


Mawar mengangguk sambil tersipu malu. Djiwa menutup pintu dan menguncinya. Jangan sampai ada yang mengintip saat dirinya sedang bergelut dengan Mawar nanti.


"Aku mau hapus make up dulu, Mas," kata Mawar.


"Biar aku bantu ya!"


Mawar memberikan kapas dan micellar water. Djiwa menuangkan micellar water ke atas kapas dan dengan lembut menyentuh wajah Mawar yang kenyal dan putih bersih. Mata Djiwa terus menatap wanita cantik alami yang ada di depannya. Benar-benar ciptaan Tuhan yang sangat ia kagumi.


Bulu mata Mawar begitu lentik. Hanya perlu mascara untuk merapikannya, tak perlu tambahan bulu mata palsu. Warna mata Mawar yang cokelat seperti memakai softlens. Alisnya agak tebal namun rapi, tak perlu sulam alis layaknya cewek cantik yang menemani Djiwa tidur selama ini.


"Kamu cantik sekali," puji Djiwa sepenuh hati.


Blouse on di wajah Mawar sudah Djiwa hapus, namun wajahnya kini memerah karena malu dipuji cantik oleh si tampan Djiwa.


"Mas juga tampan," puji balik Mawar.


Djiwa pun tersenyum. Tangan Djiwa masih membersihkan wajah Mawar. "Siapa yang merias wajah kamu?"


"Lily," jawab Mawar.

__ADS_1


"Teman kamu yang tadi dilihat terus oleh Rendi?" tanya Djiwa.


"Iya, Mas. Lily itu satu-satunya sahabatku. Rumahnya tak jauh dari sini. Lily belajar make up dan bisa rias pengantin. Saat kuberitahu akan menikah, dia begitu semangat ingin membantu," cerita Mawar.


"Pintar teman kamu. Wajah kamu cantik sekali hari ini. Aku sampai terpukau dan terpesona melihatnya," puji Djiwa lagi. "Pangling."


"Ah Mas muji aku terus nih! Aku jadi malu." Mawar menundukkan wajahnya. Djiwa melihat Mawar begitu menggemaskan. Jarang ada perempuan yang masih malu-malu kucing seperti ini.


Djiwa mengangkat wajah Mawar dengan jari telunjuknya. Keduanya kini kembali saling tatap. "Meski baru mengenal kamu sebentar, aku sudah jatuh dalam pesona kamu hai mantan Janda Bohay," ujar Djiwa.


Mawar ingin menundukkan wajahnya lagi namun tangan Djiwa masih menahan wajahnya. Djiwa menatap bibir ranum, padat dan seksi yang sudah lama selalu menjadi khayalannya selama melampiaskan hasratnya di kamar mandi.


Telunjuk Djiwa kini mengusap bibir ranum tersebut dengan lembut. Djiwa pun mendekatkan wajahnya dan mengganti telunjuknya dengan bibirnya. Mengecup lembut bibir ranum yang selama ini menggodanya.


Manis sekali rasanya. Kecupan lembut Djiwa pun disambut Mawar. Mawar memejamkan matanya dan menikmati ciuman lembut yang perlahan mulai memanas.


Tangan Djiwa mengusap wajah Mawar. Sementara tangan Mawar dikalungkan ke leher Djiwa. Naluri lelaki Djiwa pun keluar, sudah sebulan lebih Djiwa menahannya, kini ia akan bebaskan.


Djiwa mulai terbakar hasratnya namun ia tahan. Ia tak ingin merusak suasana romantis hot seperti ini. Tangan Djiwa mulai beranjak turun. Kini membelai leher jenjang Mawar dan mulai membuka satu demi satu kancing baju kebaya Mawar.


Djiwa melepaskan pagutan mereka dan membenamkan wajahnya di leher Mawar. Memberikan beberapa tanda kepemilikan dan mendengar suara Mawar memanggilnya. "Mas." Suara Mawar tertahan. Djiwa tahu, Mawar mulai terbakar hasrat, sama dengan dirinya.


Meski agak sulit melepas kebaya yang dikenakan Mawar tanpa merusaknya, semua terbayar saat Djiwa melihat aset milik Mawar yang sedap sekali dipandang mata. Kencang, kenyal dan lezat sekali.


Tak perlu waktu lama, Djiwa langsung menikmati aset Mawar yang kini jadi miliknya juga. Mawar kembali memanggil namanya dengan suara yang ditahan.


"Mas."


"Iya, Sayang. Panggil namaku, Sayang!" ujar Djiwa dengan tangan yang terus memberikan Mawar kenikmatan dari satu titik ke titik lain.


Suara Mawar semakin mendesaah. "Djiwa. Angkasa Djiwa."

__ADS_1


Djiwa tersenyum dan membisikkan sesuatu di telinga Mawar. "Suara kamu seksi sekali, Sayang. Aku jadi ingin menikmati kamu seutuhnya. Boleh?"


Mawar yang terus disentuh Djiwa hanya bisa mengangguk, karena ia berusaha menahan suaranya yang sudah berubah menjadi desahaan. Djiwa kembali memberikan kenikmatan pada Mawar sampai Mawar tak sadar kalau mereka sudah tanpa busana. Djiwa terdiam dan berpura-pura agak bingung. Mawar tersenyum melihat kepolosan suaminya, hanya bisa memberikan sentuhan namun tak tahu bagaimana eksekusi sebenarnya.


Mawar yang merasa memiliki pengalaman pun membantu Djiwa melakukan penyatuan. Djiwa bergerak dan membuat Mawar semakin terbuai dengan kenikmatan yang melenakkan tersebut.


Djiwa menggenggam tangan Mawar dan memberikan kenikmatan demi kenikmatan yang selama ini selalu ia bayangkan. Kini semua terasa nyata. Djiwa mendapatkan apa yang ia inginkan. Mawar si Janda Bohay.


Kamar kontrakkan yang panas meski ada kipas angin yang dinyalakan membuat keduanya mandi keringat. Kedua insan tersebut belum berhenti. Mereka masih menikmati kenikmatan dunia sampai akhirnya Djiwa merasakan puncaknya dan terkulai lemas di samping Mawar.


Keringat membasahi punggung dan dada Djiwa. Mawar pun demikian. Keduanya saling tatap dan tersenyum bahagia.


"Kamu memang bohay, Mawar. Aku beruntung bisa memiliki kamu." Djiwa mengangkat tubuhnya yang lelah dan mengecup kening Mawar agak lama. "Aku mencintai kamu, Mawar!"


Hati Mawar berbunga-bunga mendengar pengakuan cinta Djiwa. "Aku juga mencintai kamu, Mas."


Djiwa baru saja hendak merebahkan tubuhnya ketika tanpa sengaja dirinya menatap tubuh polos Mawar. Hasrat lelakinya kembali terbangun. Ia belum puas menikmati malam pertama mereka.


"Mawar, boleh aku mulai lagi permainan kita?" tanya Djiwa dengan penuh harap.


Mawar mengangguk. "Boleh saja, Mas," jawab Mawar malu-malu.


"Yuk kita main lagi!" Djiwa kembali mengulangi permainan. Masih dengan gaya yang sama karena Djiwa tak mau Mawar curiga jika Djiwa langsung menunjukkan keahliannya bercinta. Perlahan, sedikit demi sedikit Djiwa akan ajarkan Mawar cara menikmati hidup.


Keringat kembali membasahi tubuh Djiwa. Hari sudah mulai sore, namun udara Jakarta masih saja panas. Kipas angin tak bisa menyejukkan tubuh Djiwa yang bergerak aktif maju mundur dengan tenaga penuh.


Suara Mawar sudah serak karena bagi Mawar, bercinta dengan Djiwa bagaikan diajak ke khayangan. Mau lagi dan lagi.


Djiwa pun mencapai puncaknya untuk kedua kali. Peluh bercucuran di tubuhnya yang lelah bekerja. Djiwa pun tertidur kelelahan dan terbangun sambil mengumpat dalam hati.


"Sial tuh kipas angin! Lihat saja, akan aku ganti dengan AC 2 PK!" batin Djiwa. "Padahal bisa tiga babak eh gara-gara gerah jadi tumbang!"

__ADS_1


****


__ADS_2