Janda Daster Bolong

Janda Daster Bolong
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Nampak senyum di wajah Nur, "satu sampah satu lagi korek api, kalian cocok tinggal dibakar. Buh...jadi abu," ucap Nur dengan lantang dan diakhiri senyum menyeringai.


"Sayang! Nyebelin sekali mantan istri kamu! Cepat bereskan dia! Aku jijik jika sering melihat tampangnya!" gerutu Melodi dengan memanja.


"Sayang, kamu yang tenang. Aku pasti urus dia," ucap Raditya.


Raditya semakin mendekat ke arah Melodi, "kamu tidak ingin melanjutkan yang tadi?" bisik Raditya di telinga melodi.


"Tidak!" kesal Melodi, mengancing bajunya dan menarik rok mininya yang naik ke atas.


"Sayang...," rajuk Raditya.


"Mood aku sudah hilang!" ketusnya.


"Tapi kenapa wajahmu terlihat semakin menggemaskan kalau sedang kesal seperti ini?" rayu Raditya tangannya meraba pipi Melodi.


"Mas Raditya," ucap Melodi dengan suara meremang karena tangan satunya Raditya sudah melalang buana hingga bagian surgawi milik Melodi.


Mulut Raditya sudah mengunci bib*r sexy Melodi, tanpa melepas pungutannya Raditya mendorong pelan tubuh Melodi masuk ke toilet ruangan untuk melanjutkan aksinya. Hingga ruang itu penuh dengan raungan yang membakar gelora dua insan yang dimabuk naf*u cinta.


Sementara itu, Nur mendudukkan pantatnya, wajahnya jelas sangat terlihat kesal.


"Bu, Pak manajer tidak di ruangan?" lapor Anisa pada atasannya.


"Kenapa lama sekali?" protes kepala marketing.


"Dari toilet Bu," jawab Nur.


"Oya Bu, kepala manajer kita siapa?" Penasaran Nur suatu saat dia akan bermain cantik untuk menunjukkan sifat dari asisten manajer yang berani berbuat laknat di ruangannya.


"Oh... namanya Pak Sudira, kenapa?"


Nur menggeleng.


"Asistennya?"


"Si tampan Raditya," sela Bianca.


Nur dan kepala marketing menoleh ke arah Bianca, gadis itu selalu reflek kalau mengenai orang ganteng.


"Kenapa kalian menatapku dengan tatapan seperti itu?" gerutu Bianca merasa tatapan Nur dan Desi, si kepala marketing begitu mengintimidasi.


"Selalu paling respect kalau sama cowok ganteng," sahut Desi.


Bianca mengibaskan rambutnya bergaya centil, "kolektor cowok ganteng. Kamu Nur, kalau mau tinggal request ya," candanya.


"Itu Nur," senggol Desi.

__ADS_1


Nur hanya tersenyum.


"Eh, tapi cogan alias cowok ganteng Raditya sudah aku keluarkan dari daftarku," sungut Bianca.


"Kenapa?" penasaran Desi.


"Ih Bu Desi memang kudet, ku-rang up- date! Cogan Radityakan mau nikah dengan anaknya Pak Sudira dan ini ya, dengar-dengar cogan Raditya ternyata seorang du-da,"


"Bener itu Bi?" Sahut Resti teman samping meja kerja Nur karena begitu penasaran.


Bianca mengangguk.


"Ini juga masih dengar-dengar belum tahu kejelasannya," lanjut Bianca.


Nur hanya terdiam. Rasanya info yang dia dapat dari teman sekantor begitu menyesakkan dada. Bukan karena dibakar cemburu tapi karena merasa terhianati sejak lama dan Nur baru menyadari 4 bulan yang lalu.


"Apa jangan-jangan anak Pak Sudira itu pelakor?" secara dia kan selalu tampil sexy menggoda," ujar Resti.


"Mau tampil sexy menggoda dengan sejuta rayuan maut tetap saja kalau iman kuat dan cinta tulus dengan istri takkan goyah hati seorang lelaki," sahut Desi.


"Bener kan Nur?" Desi melontar tanya pada Nur yang hanya diam saja.


Nur mengangguk.


"Tumben kamu Nur tidak ikut bersuara?" tanya Bianca.


"Masih sariawan," jawab Nur singkat.


...****************...


Melodi menatap sejurus pada Nur yang berdiri paling ujung.


'Ini belum seberapa Nur! Aku kan buat kamu menggigit jari karena berani menghinaku!' batin Melodi penuh kemenangan.


Semua bawahan memberi selamat atas pencapaian yang diraih Raditya. Dia memang pantas mendapatkan itu. Beranjak dari pegawai biasa, Raditya bekerja tanpa lelah. Bahkan terlalu sibuk dengan pekerjaan, Raditya sering mengabaikan Nur. Otak dan prestasi nya berjalan beriringan. Otak Raditya memang tergolong cerdas, juga pekerja keras, tidak heran kalau Sudira mengangkatnya sebagai asisten pribadi kemudian menyerahkan jabatannya yang sekarang karena suka dengan ketekunan dari Raditya. Dari sinilah 8 bulan yang lalu, Raditya dan Melodi saling kenal.


Raditya, awalnya menganggap biasa wanita yang bertubuh sexy itu. Akan tetapi, semakin lama imannya terkikis dengan godaan yang jelas ada di depan mata. Melodi melakukan berbagai cara agar lelaki yang menjadi incarannya dia dapat. Bagi melodi, tidak masuk dalam kamus kalau dia ditolak seorang lelaki. Dari kecil hingga dewasa Melodi tidak pernah menerima kata penolakan. Apapun yang diinginkan harus dia dapatkan.


Akhirnya, Melodi berhasil memikat Raditya dengan segala rayu dan tingkah nakalnya. Entah Raditya yang berhasil masuk perangkap Melodi atau memang dua-duanya yang sudah tidak punya urat malu. Bahkan melakukan hubungan layak suami istri juga biasa mereka lakukan.


Selain Pengukuhan Raditya sebagai manajer, di hari itu pula Melodi diangkat sebagai asisten manajer. Sedangkan Sudira mengundurkan diri karena umur dan kesehatan yang sering terganggu.


"Selamat Raditya, aku percaya padamu Nak, bisa amanah dengan jabatan ini," ucap Sudira memberi selamat pada lelaki yang selama ini menjadi asisten pribadinya.


"Terima kasih Pak," jawab Raditya membalas pelukan lelaki tua itu.


Tepuk Sorai berkumandang kembali. Terasa dunia masih berpihak pada Raditya. Semua yang dia inginkan tercapai.

__ADS_1


Nur menggerakkan pelan dua tangannya ikut memberi applause. Ujian bukan hanya berupa kesedihan tapi kebahagian juga sebuah ujian, kalau kite lulus maka kebahagiaan ntuh akan dilipatkan oleh Allah, tapi kalau kagak lulus suatu saat kite akan terpuruk karenanye,' monolog batin Nur.


Satu persatu keluar dari ruang rapat yang dihadiri sebagian pegawai.


Nur nampak duduk lesu di kursi kerjanya.


Tiba-tiba mata Nur membelalak.


"Yes! Nur kagak nangis! Yes! Yes!" sorak Nur lompat-lompat dia tidak menyadari ada seseorang yang lewat dan memperhatikan Nur dengan seksama dan senyum menyungging.


Resti mencubit lengan Nur agar berhenti dari sikapnya yang dianggap seperti anak-anak. Terlebih lagi, ada orang pimpinannya yang berhenti di depan meja kerja Nur.


"Sedang bahagia?" tanya Damar dengan kesal.


Nur mengangguk dan nyeringis malu, langsung mendudukan kembali pantatnya ke kursi.


"Bagus kalau sedang bahagia, berarti mood kamu juga baik. Nanti aku kasih tugas tambahan biar kerjaan kantor yang menumpuk cepat selesai," ucap Damar panjang lebar setelah itu melangkah ke ruangannya.


"Issst! Dasar ceo kagak ade akhlaq! Susah lihat orang seneng. Seneng lihat orang susah. Jiwa iri dibiarin berkembang di hati!" gerutu Nur.


...****************...


Melodi menggelayut manja di bahu Raditya. Nur nampak berdiri menunggu berkas yang di baca Raditya.


Terlihat Raditya sengaja mengulur waktu bacanya karena hanya ada 2 lembar tapi Nur sudah berdiri mematung hampir sepuluh menit.


Lelaki itu tanpa suara pura-pura membaca dengan seksama, Nur juga terlihat tanpa suara. Sedangkan Melodi aktif tanpa jeda memainkan setiap lekuk wajah Raditya dengan tangan sesekali dengan bib*rnya.


Nur nampak muak melihat kelakuan Melodi yang berlebihan juga pada lelaki yang pura-pura diam tanpa risih.


"Maaf Nur, kita sering lepas kontrol kalau sedang bersama," ucap Melodi memamerkan kemesraan.


Nur tersenyum menyeringai.


"Maaf Melodi, aku sudah puas merasakan dengan lelaki yang di sampingmu. Bahkan lebih!" sahut Nur menekankan kalimat terakhir.


"Apakah pura-pura bacanya sudah Bapak Raditya? Aku kan sudah melihat adegan mesra kalian, jadi aku disuruh melihat apalagi?" sindir Nur.


Raditya menyerahkan berkas yang telah ditandatangani ke Nur.


"Kamu menabuh perang padaku Nur!" gertak Raditya.


Nur hanya membalas dengan senyum.


"Oya Nur, aku sampai lupa, nih. Ini undangan VIP loh," cekat Melodi menyerahkan satu undangan bertulis dengan tinta warna emas.


Nur menerima undangan itu, "gue pastiin buat menghadiri perhelatan akbar nih," jawab Nur masih dengan senyum dibuat seramah mungkin.

__ADS_1


Dia berjalan keluar menatap kembali undangan pernikahan sang mantan suami dengan kekasihnya.


Sore menyapa ๐Ÿค— Like, hadiah, vote, komen, komen komen ye...Nur tunggu loh.๐Ÿ™


__ADS_2