Janda Daster Bolong

Janda Daster Bolong
Kedatangan Mommy Melati


__ADS_3

Damar nampak tersenyum melihat Nur menghentikan tangisnya.


"Kalau kamu mau tidur, tidur saja. Aku yang jaga Anak kamu," ucap Damar.


"Beneran kagak nape Pak? Soalnye tiba-tiba aye ngantuk nih."


Damar mengangguk.


Nur dengan girang menuju sofa dan meluruskan tubuhnya di sofa panjang itu.


Damar fokus ke layar ponsel. Ada beberapa surel masuk yang belum sempat dia baca ataupun membalasnya.


Matanya berhenti membaca dan ganti melirik ke sumber suara dengkuran keras.


"Nur mengapa tidak ada jaim-jaimnya sih. Baru tiga menit sudah main dengkur, dan mulut kamu itu kenapa menganga seperti itu?" gumam Damar yang sudah jalan dan berdiri di depan sofa panjang tempat Nur rebahan.


"Ei, jangan tarik ke atas!" cegah Damar memegang tangan Nur karena melihatnya tidur sambil garuk-garuk paha dan dasternya akan diangkat ke atas.


Nur terlihat tidak jadi menaikkan dasternya, Damar melangkah ke ranjang mencari selimut. "Mana selimut hanya satu, itu pun dipakai Naufal," gumam Damar dan takutnya Nur khilaf kembali menarik dasternya hingga ke atas.


Ketika dalam keputusasaan, Damar menatap kembali ke Nur, ada barang mulus yang jelas terpampang nyata di depan matanya,


"Astaga, tidak dilihat tapi kelihatan, kalau dilihat menguji iman," gumam Damar lalu melangkah ke arah sofa dengan pandangan tertunduk. Jas yang dipakai kini dilepas untuk menyelimuti barang mulus itu.


Huft


Damar mengempaskan napas panjang setelah sudah menutup dengan jas, kini tugas berikutnya menarik daster agar turun ke bawah. Damar menarik napas dalam lalu keluarkan perlahan dengan mantap damar menarik pelan kain daster itu. Namun...,


"Ape nyang Bapak lakuin!" teriak Nur karena pahanya tersenggol tangan.


Damar serasa jantungnya copot.


"Salahku juga sih, kenapa tadi pas nurunin tuh kain pakai tutup mata segala, jadi ya nyasar," gumam Damar.


Nur menatap ke bawah, ada jas yang menyelimuti sebagian tubuh bawahnya dan posisi kain yang dirinya kenakan naik ke atas.


"Bapak sih! Nyuruh aye tidur, ye begini jadinye," ujar Nur sambil nyeris dan menarik dasternya hingga menutup bawah lutut.


Damar mendengus kesal.


'Aduh, muka aye mau taruh dimane? Pasti Bapak Damar udeh liat ntuh gedebok pisang aye alias paha aye nyang segede gajah,' keluh batin Nur.


Nur duduk dan menyerahkan jas milik Damar.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Nur.


"Ya Allah Nur, lu nape sih! Teriak kenceng banget, ampe mpok nyang di luar aje mau pecah nih telinga!" omel Saodah.


Saodah nyeringis, sambil menganggukkan kepala menyapa Damar karena baru menyadari ternyata ada orang di ruang kamar perawatan selain Nur.


Damar pun membalas anggukan itu.


"Maap ternyate ade tamu," ujar Saodah.


"Siape nih laki? Cakep bener?" bisik Saodah di telinga Nur.

__ADS_1


"Ya Allah Mpok Odah, bisikin ape teriaki telinga sih, kenceng bener!" protes Nur sambil mengusap telinganya.


Damar tersenyum karena benar apa kata Nur, wanita yang disapa mpok Odah itu bukan berbisik tapi tepatnya seperti teriak di telinga Nur.


"Ntuh Pak Damar, bos aye di tempat kerja," ucap Nur dan Damar mengulurkan tangannya.


Mpok Saodah mengelap tangannya dengan kain yang melekat ditubuhnya lalu membalas uluran itu.


"Mpok Odah, mpoknye Nur."


"Damar," jawab Damar menyebut namanya.


"Ya sudah Nur, kamu sudah ada teman buat jaga Naufal, aku ke kantor dulu," ujar Damar.


"Nape cepetan bos cakep?" tanya Saodah memberi julukan pada Damar.


"Die punya name Mpok, 'pak Damar', hormat dikit nape manggilnye!" protes Nur.


"Tidak apa-apa Nur, bagus juga panggilan dari Mpok Odah," balas Damar.


"Ntuh, die nyang punye nama aje kagak protes Mpok panggil begitu," ujar Saodah tersenyum bangga karena ada pembelaan.


"Aku permisi dulu, assalamualaikum."


"Waalaikum salam bos cakep," jawab Saodah


"Ya Allah, udeh cakep tahu sopan santun pula," puji Saodah karena Damar mencium punggung tangannya sebelum beranjak pergi.


"Hati-hati di jalan bos cakep,"


Damar tersenyum mengangguk lalu melangkah pergi.


"Nur, hust...."


"Ape Mpok?" jawab Nur dengan malas karena dari gelagatnya Saodah akan menanyakan lebih lanjut mengenai Damar.


"Bos lu perhatian bener? Pasti ade maksud lain ntuh?" ujar Saodah.


Nur mendengar jengah, tebakkannya ternyata bener. Nur membuka bungkusan plastik yang tadi dibawa Mpok Saodah, lalu mengambil potongan semangka yang dimasukkan dalam plastik.


"Hust! Nur," ulang Saodah.


"Ape lagi sih Mpok," sahut Nur.


"Die pasti naksir lu," ujar Saodah membuat Nur langsung menyemburkan semangka yang masih dia kunyah.


Saodah tersenyum, "Berarti bener tebakan Mpok," simpul Odah.


"Terserah Mpok lah mau ngomong ape," pasrah Nur sambil memunguti bekas semburannya yang berserakan di lantai.


'Ape mungkin bener nyang Mpok Odah bilang? Naksir aye? Ah! Pasti kagak mungkin!" monolog batin Nur.


Suara tangis Naufal yang bangun dari tidur membuyarkan lamunan Nur


...****************...


Mommy Melati duduk di kursi kerja anaknya. Damar nampak tak menyambut kedatangannya. Pandangan Damar tetap fokus pada layar laptop.

__ADS_1


"Kenapa setiap mommy datang ke sini wajah kamu pasti ditekuk seperti itu?" ujar Melati atau tepatnya sebuah retoris yang dilontarkan pada anaknya.


"Mommy ada perlu apa ke sini?" tanya Damar tanpa basa-basi sebab dia tahu, pasti mommynya ada maksud tertentu hingga datang ke tempat kerjanya.


Melati tersenyum menyeringai.


"Mommy penasaran saja dengan wanita yang sering disebut-sebut sebagai kekasih kamu itu," ucap Melati.


Deg.


'Bagaimana gosip seperti itu saja mommy tahu?' batin Damar penuh tanya karena memang belakangan ini gosip antara dirinya dengan Nur seperti gosip seorang artis, berkembang begitu pesatnya dengan segala asumsi para netizen masing-masing.


Damar menatap ke arah Sakti, isyarat meminta penjelasan. Sakti mengangkat dua bahunya sebagai tanda tidak tahu.


"Bukankah hal seperti itu biasa mommy dengar, tidak hanya sekali ini saja bukan," sanggah Damar.


"Tapi yang kali ini, mommy sangat penasaran," jawab Melati.


Tok


tok


tok.


"Masuk," ucap Sakti.


"Maap, aye ganggu Pak?" tanya Nur.


"Tidak, masuk saja," titah Damar karena Nur masih di ambang pintu.


Nur akhirnya melangkah ke meja kerja Damar.


Tapi sebelum menyerahkan berkas yang dia bawa, Nur sempatkan memandang ke arah wanita yang duduk di depan meja kerja atasannya, Nur menganggukkan kepala sambil sedikit membungkuk sebagai tanda hormat dan sapa.


Wanita itu menatap Nur dengan seksama dan tentunya tanpa membalas anggukan itu.


"Berkasnye Pak," ucap Nur sambil menyerahkan berkas itu.


Damar menerima berkas tersebut dan langsung membacanya.


"Perlu ditandatangani langsung Pak, jadi aye tunggu," lanjut Nur.


Melati melanjutkan obrolannya yang sempat terpotong karena kedatangan Nur.


"Jadi, siapa wanita itu Dam?" tanya Melati.


Damar langsung terdiam lalu menatap ke arah Nur.


"Aku belum melamar dia Mom, jadi belum bisa katakan sama Mommy," sahut Damar.


"Jadi benar gosip itu?" cecar Melati.


"Ada benar dan ada salahnya juga. Kebenarannya, aku serius menjalin hubungan dengan dia," jawab Damar, matanya menatap tajam ke arah Nur.


Nur sempat bersitatap dengan mata tajam milik atasannya, lalu dengan cepat dia menundukkan pandangan.


"Siapa dia Dam?!" tekan Melati.

__ADS_1


Malam nyapa nih si Nur, jangan lupe kasih like komen hadiah vote rate komen komen loh πŸ™πŸ˜˜πŸ₯° Damar jawab ape ye kire2?


__ADS_2