
"Kalau begitu buat hubungan istimewa!" lirih Damar.
"Ape Pak?" tanya Nur merasa kurang jelas apa yang terlontar dari mulut atasannya.
Damar mengeratkan giginya merasa geram.
"Aku perjelas Nur, Damar menginginkan untuk membuat hubungan istimewa dengan kamu," sela Sakti.
Nur menoleh ke arah Damar yang hanya diam.
"Bener ntuh Pak?" Nur memastikan.
"Aku hanya bercanda," celetuk Damar.
Nur menarik dua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum yang lama-lama berubah sebuah tawa.
Damar memandang aneh ke arah Nur.
"Bapak bisa juga becanda, aye kagak nyangka," ucap Nur masih diselingi tawa.
"Tapi santai Pak, aye juga kagak nanggepi serius omongannye Bapak nyang tadi. Intinye mana mungkin Bapak naksir aye," lanjut Nur.
"Syukurlah kamu tahu itu," sahut Damar.
Sakti tersenyum kecil, "Duh..., duh..., satu jaim untuk menyatakan perasaannya, bahkan setelah terlontar dia tarik kembali ucapannya. Satunya lagi, entah polos atau terlalu bebal otak kalau soal cinta," ucap Sakti sebagai sindiran untuk 2 orang di samping dan hadapannya.
"Maksud Paman?" tanya Nur.
"Aku tidak bisa menjelaskan. Aku keluar dulu, mau isi perut, telah melewati makan siang" pamit Sakti dan langsung melangkah pergi.
Di ruangan kini tinggal dua insan. Nur terlihat diam, begitu juga Damar.
Tok
tok
tok.
Pintu dibuka dan muncul sesosok wanita cantik nan seksi mempesona. Jalannya bak model papan atas, lekuk tubuhnya terlihat jelas dengan pakaian minim yang selalu melekat di tubuhnya.
"Kelihatannya aku mengganggu waktu kalian," ucap Melodi tapi kakinya tetap jalan hingga ke meja kerja Damar.
"Aku tidak menyangka, kamu menjatuhkan hati pada wanita semacam dia," ujar Melodi matanya kini beralih pandang ke arah Nur.
"Aku akui kamu pintar sekali Nur soal merayu," puji Melodi atau tepatnya sebuah sindiran.
Nur hanya mendengus jengah mendengar ucapan Melodi.
"Bukan Nur yang merayu aku, tapi aku yang merayu dia. Kamu lihat Nur, lelaki mana yang tidak akan tertarik dengannya? Cantik, solekha, cerdas, baik hati pula," sahut Damar sebagai bentuk pembelaan.
"Aku sedang merayu Nur agar mau menerima cintaku dan mau menikah denganku tapi tiba-tiba kamu malah masuk tanpa diundang. Padahal Nur belum menjawab permintaanku," lanjut Damar membuat mata Nur membelalak ke arahnya. Namun, mata Damar mengisyaratkan agar Nur mengiyakan ucapannya.
"Aye terima lamaran Bapak dan Mbak Melodi sebagi saksi hidup untuk cinta kite," jawab Nur mengikuti permainan yang sedang ditunjukkan oleh Damar.
__ADS_1
"Benar Nur?" Damar menampakkan ekspresi terkejut.
Nur mengangguk dengan sebuah senyum.
"Terima kasih sayang telah menerima cintaku," Damar mendekat dan langsung akan memeluk tubuh Nur.
"Pak..., Pak!" seru Nur sambil menyilang dua tangannya tepat di dada agar Damar mengurungkan niat untuk memeluk dirinya.
"Belum muhrim Pak," ujar Nur.
Damar tersenyum tapi juga menampakkan wajah malu karena pelukannya ditolak.
"Maap ye ayang, aye pan serahin semua kalau kite udeh ijab sah."
"Ya sayang, aku yang minta maaf karena tiba-tiba mau meluk kamu dan kelihatannya aku harus sabar menunggu," jawab Damar.
"Terima kasih ayang atas pengertiannye," ucapan Nur.
Damar mengangguk.
Melodi membanting berkas di atas meja, mendengus kesal.
"Kalian sengaja pamer kemesraan?! Cuih! Norak!" kesal Melodi lalu melangkah pergi.
Pintu pun jadi sasaran kekesalan Melodi hingga pintu itu tertutup dengan suara keras karena terbanting.
'Aku terlalu geram dengan sifat kamu yang arogan sesukamu Mel! Aku yakin kamu akan semakin kesal melihat ini semua,' batin Damar.
"Bapak top bener aktingnye! Kalau jadi aktor pasti tidak kalah keren ame aktor Yang Yang." ujar Nur.
"Issst! Itu nama aktor China Pak!" sanggah Nur.
Damar terdiam, merasa bodoh dan malu melontarkan kalimat tadi.
"Emmm... Pak, kalau aye mau ngembaliin cek milik mommynye Bapak begimane?"
"Kenapa dikembalikan? Tadinya kamu sikekeih untuk mempertahankan," selidik Damar.
Nur nyeringis, "ternyate aye pan kagak bise jaga jarak ame Bapak. Nih liat, baru satu hari eh malah di ruangan Bapak. Jadi, aye kembaliin nih duit." ujar Nur.
Damar tersenyum kecil dengan ucapan Nur, "Jangan khawatir, paling besok mommy ke sini," jawab Damar.
"Bapak sudah meminta mommy Bapak kemari?" seru Nur.
"Lihat saja besok!" sahut Damar tanpa menjawab pertanyaannya Nur.
"Terserah Bapak lah. Atau... gini aje, Nur nitip cek nih ke Bapak, nanti di rumah serahin ke beliau," saran Nur.
Damar tertawa mendengar ucapan Nur. "Kamu ini ada-ada saja. Sudah! Yakinlah besok mommy datang."
"Kalau kagak datang!?"
"Nanti aku antar kamu ke kantor mommy," jawab Damar.
__ADS_1
"Bener, Bapak kagak bohong!" tekan Nur.
"Ya!"
"Awas loh kalau bohong! Lagian kalau bukan karena Bapak, pasti aye kagak ngembaliin nih cek!" sungut Nur.
"Jadi kamu sebenarnya tidak rela cek itu diserahkan ke mommy?"
"Ye lah Pak, aye pan gagal dapet duit segitu banyak. Walaupun sebenarnye aye juga bingung mau makai ntuh cek karena bakal kagak berkah juga dipakai," Ucap Nur dan terdengar lirih di kalimat akhirnya.
Damar menyeringai. "Nanti aku ganti sesuai nominal cek," ujar Damar.
"Bener Pak?" terkejut Nur.
"Tapi itu nanti, kalau_"
"Aye tahu, mana mungkin orang sepelit Bapak mengeluarkan duit segitu banyak, pasti ada syaratnye!" cekat Nur.
Damar hanya mendengus, "Sudahlah lupakan soal itu cek. Kamu lebih baik lanjutkan kerja,"
"Ye Pak, permisi, assalamualaikum,"
"Waalaikum salam," jawab Damar.
...****************...
Tebakan Damar tepat sekali. Dia yakin ada seorang mata-mata mommy yang di tempatkan di kantor.
Melati menatap penuh ke wajah anaknya. Pagi tadi, dia tidak sempat bertemu dengan Damar. Jadi, siang ini harus bertemu.
"Mommy tidak habis pikir, ternyata kamu serius menjalin hubungan dengan wanita itu!" geram Melati.
Damar masih diam menatap layar laptop.
"Syukurlah Mommy sudah dengar berita itu. Jadi, tanpa aku kasih tahu, Mommy akhirnya tahu juga," sahut Damar.
"Putuskan dia sekarang!" titah Melati.
"Kenapa? Mommy akan melakukan hal sama seperti dulu?"
"Mommy jelas akan ikut campur! Karena ini masalah keturunan keluarga. Mommy tidak akan sembarang memilih wanita untuk kamu!"
"Nur juga bukan wanita sembarangan," sanggah Damar.
"Wanita itu tidak jauh beda dengan mantan kekasih kamu yang dulu!" tekan Melati.
Damar terdiam. Kata-kata yang keluar dari mulut mommynya membuatnya jadi teringat tentang masa lalu cintanya.
"Jangan samakan Nur dengan Susan!" gumam Damar giginya gemeretak mengucapkan itu dan Damar menatap langit-langit menahan kelopak mata yang tiba-tiba sudah penuh dengan cairan bening.
"Nur membuat hidupku berbeda," lanjut Damar dan tangannya telah menyeka cairan bening yang masih berada di pelupuk mata.
Entah kenapa, elu hatinya terasa sakit diingatkan soal Susan, mantan kekasihnya yang dulu.
__ADS_1
"Jadi, Mommy jangan pernah mengusik cinta kita!" ucap Damar penuh dengan keyakinan dan entah kenapa kalimat itu dapat lancar Damar ucapkan tanpa skenario terlebih dahulu.
Nur nyapa 🤗 duh ngantuk kebangetan, tolong kalau ada typo kasih tahu🙏 otor langsung tidur nih🥱🥱🥱like komen hadiah vote rate ye jangan lupa🥰😘😍 kire2 nape damar begitu ye?