Janda Daster Bolong

Janda Daster Bolong
Gara-gara Celana Basah


__ADS_3

'Ada-ada saja tingkahnya yang membuat aku tersenyum,' batin Damar.


Suster Ana yang sedari tadi hanya memandang mereka di balik ambang pintu, kini membuka pintu untuk masuk dan menemui Ray.


"Permisi Den Damar," ucap Ana meminta izin masuk.


Ana memandang ke arah Nur lalu mengangguk salam, Nur membalas itu.


"Ray, makan buah dulu ya, suster Ana suapin," tawar suster Ana.


"Yae maunya disuapin tante gendut," jawab Ray.


"Biar aye nyang nyuapin Sus," pinta Nur.


Suster Ana memberikan piring yang berisi buah melon iris.


Ray dengan semangat menerima suapin itu. Mereka terlibat obrolan asik. Sesekali diiringi tawa atau cemberut karena saling ejek atau sindir tapi kemudian tawa mengiringi mereka kembali.


'Apa ini calon istrinya Den Damar?' batin suster Ana bertanya-tanya.


'Tapi... sepertinya tidak mungkin, kalau yang ini mah jauh dikatakan sempurna dibandingkan mantan pacarnya den Damar yang dulu,' lanjut batin suster Ana masih penasaran.


'Terima kasih Nur, kamu membuat Ray menjadi semangat, dan ceria,' batin Damar sesekali matanya curi pandang ke arah Nur dan Ray.


"Om ke sini," pinta Ray menunjuk ke Damar agar mendekat ke arahnya setelah dia selesai makan buah melon.


Damar mengangkat pantatnya lalu berjalan mendekat ke ranjang pasien.


"Duduk sini Om." Damar menepuk tepi ranjang, Damar mengikuti pinta Ray.


"Kata Tante gendut, Ray boleh bobok di rumah Tante,"


Damar tersenyum, "kalau Ray bobok dengan Tante, Om Damar tidur dengan siapa?"


"Ya bobok bareng di sana," celetuk Ray.


Nur yang sedang meminum air mineral langsung tersedak dan apesnya, air itu muncrat membasahi wajah Damar yang kala itu memandang ke arah Nur karena akan memberi tisu pada dirinya.


Damar memejamkan matanya dengan jengah.


"Kecerobohan apa lagi yang kamu buat Nur!" geram Damar masih dengan mata yang tertutup.


Nur hanya nyeringis, menerima tisu yang sudah disodorkan Damar lalu melap wajah Damar dengan tisu tersebut.


"Stop Nur!" cekat Damar memegang tangan Nur, Mata nur terbelalak ketika tangannya dipegang Damar dan tepat bersamaan mata Damar memandang Nur lekat. Dua pasang mata saling bersitatap, tajam, dalam, dan saling mengunci.


"Tante, air minumnya tumpah kena celana Om Damar?" seru Ray, melihat botol air mineral yang di taruh di tepi ranjang, mengenai ranjang dan celana yang dipakai Damar.


"Duh! Maap, maap Pak!" seru Nur gegas mengusap-usap paha samping Damar dengan tisu bekas yang baru dipakai buat lap wajah Damar.


"Nur!" teriak Damar.


Nur nyeringis menangkupkan dua tangan sejajar dengan dadanya.


Damar berdiri lalu masuk ke toilet kamar.


Nur nyeringis menatap sosok atasannya yang sudah hilang dibalik pintu toilet.


"Nape aye serba salah," gerutu Nur.


Sementara Damar yang sedang di toilet langsung membasuh wajahnya dengan air.

__ADS_1


"Wanita itu! Huh! Kenapa dia begitu ceroboh sekali! Pakai main sentuh paha aku! Kurang ajar sekali!" umpat Damar.


"Lalu kamu! Timun emas! Paha disentuh wanita ceroboh itu langsung mode on!" kesal Damar menggerutui pusaka kesayangannya.


Damar menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan. Hal itu dilakukan kembali, setelah merasa tenang dan khusus yang di bawah sana juga sudah mulai jinak, Damar membasuh mukanya kembali lalu keluar toilet.


Damar melangkah keluar tapi ketika di ambang pintu langkahnya tertahan.


"Den Damar mau kemana?" tanya suster Ana.


Damar menolehkan pandangannya, "kenapa?" tanya Damar.


"Sebentar lagi dokter jaga akan memeriksa Ray," lapor suster Ana.


Damar membalikkan tubuhnya lalu duduk di sofa.


Nur menatap celana Damar yang basah dengan rasa bersalah kini beralih pada wajahnya yang basah. 'Ya Allah, nape muka Bapak kalau basah begitu bikin meleleh hati wanita macam aye,' batin Nur berucap, salivanya susah ditelan.


Petugas kebersihan datang mengganti seprai yang basah, tidak lama setelah itu dokter datang.


"Panasnya sudah mulai reda dan keadaannya sudah membaik," ucap dokter setelah memeriksa keadaan Ray.


"Hanya panas biasa kan Dok?" tanya Damar.


"Iya, panas biasa bukan gejala tifus."


"Saya permisi dulu," pamit sang dokter.


"Ya Dok, terima kasih," sahut Damar.


Damar mengelus pucuk kepala Ray lalu menciumnya.


"Yae ngantuk Om," ujar Ray sambil menutup mulutnya yang menguap.


Nur tersenyum melihat sikap lembut dari Damar pada keponakannya, 'kalau aje, tadi pagi Pak Sakti kagak ngomong Ray ntuh ponakan bapak, mungkin aye masih percaya kalau ntuh bocah, anaknye bapak. Pak Damar lembut dan terlihat begitu sayang ame Ray.


Ray pun tertidur pulas.


"Sus, jaga Ray, aku keluar sebentar. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku!" titah Damar pada suster Ana.


Damar menghentikan langkahnya ketika berada di depan ambang pintu, tubuhnya menoleh ke arah Nur.


"Hei, kamu ikut aku!" tunjuk Damar pada Nur.


"Aye Pak?" tanya Nur matanya tengok kanan kiri lalu telunjuknya menunjuk pada diri.


"Siapa lagi?!" geram Damar tanpa menjawab iya atau tidak dia langsung ngeloyor keluar.


Nur berjalan cepat, mengejar langkah Damar.


Saking fokusnya jalan dan pandangannya sedang tertunduk ke bawah Nur menabrak tubuh Damar yang berhenti mendadak.


"Nur!" teriak Damar, "bisa tidak kamu tidak ceroboh dan tidak buat ulah ketika bersamaku!" protes Damar.


Nur nyeringis, seperti biasa menangkupkan dua tangannya sejajar dengan dada.


"Jangan menampakkan wajah seperti itu!" gerutu Damar kembali berjalan.


Damar mengempaskan napasnya kasar. Menoleh ke belakang merasa Nur tidak mengikuti langkahnya.


"Nur!" panggil Damar.

__ADS_1


"Ye Pak," sahut Nur berlari menghampiri Damar.


Damar geleng-geleng kepala menahan amarah yang menumpuk di ubun-ubun.


Setelah melintasi jalan sekitar 15 menit mereka sampai di sebuah butik.


Damar keluar dengan celana dan kemeja baru. Dia memberikan paper bag pada Nur.


"Buat aye Pak?" tanya Nur dengan terkejut. Pikirannya melambung tinggi membayangkan seperti di sebuah drama, seorang yang buruk rupa diberi kejutan oleh atasannya dan dibelikan baju untuk make over.


"Terima kasih Pak," ucap dengan antusias tanpa menjawab kata 'iya' dari Damar. Nur mengintip isi dalam paper bag.


Deg.


'Mengapa aye kagak asing isi dalam paper bag nih?" batin nur.


Dia membuka kembali paper bag tersebut lalu tangan Nur mengangkat isi paper bag.


"Ini pan celana ame kemeja Bapak," ucap Nur dengan melemah.


Damar nampak menahan senyum.


Nur menatap ke arah Damar dengan tatapan kesal.


"Nape diberikan ame aye! Mang Nur mau pake ginian ape!" gerutu Nur dengan kasar memasukkan kembali kemeja dan celana itu.


"Kita makan siang dulu," ajak Damar tanpa menunggu jawaban Nur dia sudah berjalan keluar.


Nur mengekor Damar dengan langkah malas.


Mereka akhirnya sampai di sebuah resto seafood. Damar memesan menu favoritnya, sop asam pedas gurame.


"Aye sama ye Mpok," ucap Nur.


"Tambahkan kepiting saus tiram ya Mbak," pinta Damar dan diiyakan pelayan.


Dua gelas minuman tersuguhkan.


Nur mengaduk-aduk minuman lemon dengan t sedikit gula pesanannya.


Damar menatap tangan kiri Nur yang terlihat dibungkus perban.


"Sudah mendingan?" tanya Damar menunjuk ke arah tangan kiri Nur.


"Alhamdulillah mending Pak," jawab Nur.


'Kalau saja Melodi bukan anak dari om Sudira, dia pasti sudah kupecat! Sayang sekali, orang sebaik om Sudira memiliki anak yang tidak bermoral seperti dia!' batin Damar.


"Aku..., aku belum bisa tindak tegas pada Melodi. Dia anak om Sudira, orang yang berjasa besar mengembangkan perusahaan hingga perusahaan berjalan seperti ini. Beliau bisa saja bekerja di perusahaan milik anaknya, tapi beliau lebih memilih membantuku mengembangkan bisnis baruku ini," terang Damar.


Nur hanya mengangguk pelan.


"Beliau terlalu baik padaku Nur," lanjut Damar.


"Kagak nape kok Pak, nih aje udeh mending," sahut Nur.


"Loh! Bapak kok tahu, tangan dan kaki aye melepuh gara-gara ntuh ulet keket!" terkejut Nur karena saat kejadian hanya ada tiga orang dalam ruangan tersebut.


Damar tersenyum tipis.


pagi Mpok đŸ€— Nur nyapa nih pagi hari, moga Mpok sehat semua. Nyang lagi njalani puasa ramadhan semangat ye hair lolos mpe bedug magrib. semoga aje amal ibadahnye diterima oleh Allah đŸ€Čamin.

__ADS_1


jangan lupa like komen hadiah vote rate juga ye🙏


__ADS_2