
"Kagak bisa aye biarin nih! Lu kudu jelasin!" sergah Reza menarik kerah Damar.
Damar terlihat pasrah kerahnya ditarik paksa oleh lelaki yang dia tahu sebagai penjual bubur sekaligus kakaknya Nur.
"Bang Reza!" teriak Tasya menarik tangan Reza yang hampir menjatuhkan sebuah bogeman.
"Nih ntuh atasannya Nur," ujar Tasya.
"Gue kagak peduli mau die atasan ape bawahan! Kalau die macem-macem ame adik aye urusannye nih ame Abangnye!" seru Reza menepuk dadanya.
Nur masih dalam keadaan melongo sambil membekap mulutnya sendiri, terasa mimpi tapi seperti nyata. Mulutnya melebar, menguap tanpa ditutup.
"Paling aye cume mimpi," gumam Nur lalu membaringkan tubuhnya kembali dan memejamkan matanya yang sebenarnya masih berat untuk dia buka.
"Sekarang jelasin! Nape lu pake meluk Nur segala!" tanya Reza dengan emosi yang masih naik.
"Aku ketiduran, saat menemani Nur periksa tangan dan kakinya yang melepuh," jawab Damar dengan tenang.
"Kalau lu cuma tidur nape pakai peluk Nur segala, hah!"
"Apa perlu aku ulang? Aku ketiduran. Ingat saat orang ketiduran itu tidak tahu apa yang sedang dia lakukan," terang Damar.
"Kalau tidak percaya tanya Nur," lanjut Damar.
Damar, Reza, dan Tasya matanya beralih ke Nur. Mereka sangat terkejut mendapati Nur dengan lelapnya tidur.
"Nur...!" teriak Reza dan Tasya bersamaan karena begitu gregetnya dengan tingkah Nur.
"Ade ape?! Kebakaran! Dimane kebakarannye!" seru Nur langsung bangkit dari tidurnya sambil menyibakkan selimut yang dia kenakan dan kaki Nur turun dari ranjang.
"Astaghfirullah haladhim, lu tidur beneran Nur?!" sentak Reza.
"Loh Bang Reza kok di sini?" bingung Nur.
"Untuk nolong lu dari lelaki ca*bul nih!" jawab Reza menunjuk ke arah Damar.
"Pak Damar?!" Anisa semakin bingung, "jadi... jadi nyang ciuman ntuh nyata?!" tanya Nur meraba bibirnya.
Reza dan Tasya mengangguk bersama.
Hah... huh ...
Nur terlihat menangis, "Bapak merenggut kesucian bibir Nur!" teriak Nur masih dengan linangan air mata.
"Nur kagak usah teriak-teriak," ucap Tasya sambil membungkam mulut Nur.
"Kedengarannya ada yang menyebut kata bibir dan kesucian bibir siapa yang terenggut?" tanya seorang lelaki yang diketahui sebagai paman Damar yaitu Sakti.
"Bapak ntuh nyang sering beli bubur ayam kan?" tanya Reza menunjuk ke arah Sakti
Sakti mengangguk.
"Nih! Ade laki ca*bul nyang udeh renggut kesucian bib*r adek aye!" lapor Reza.
"Kalau begitu nikahkan saja mereka," ucap Sakti dengan entengnya.
"Kagak!" teriak Nur langsung menyeka air matanya.
Damar tersenyum sinis mendengar teriakan Nur.
"Paman saja yang nikahi dia," sahut Damar kakinya melangkah akan keluar ruangan.
"Tunggu! Lu mau kabur?! Hah!" cekat Reza tubuhnya menghadang Damar.
"Kalau ada hal penting lainnya, sampaikan saja dengan pamanku," ucap Damar menunjuk Sakti.
__ADS_1
"Minta maap ke Nur!" Reza menarik kembali kerah Damar.
"Apa yang harus aku mintakan maaf?" sanggah Damar.
"Lu bilang ape?!"
Bugh.
Bogeman yang sedari awal dia tahan kini mendarat di bibir Damar.
Reza menatap tajam ke arah Damar, "Gue bilang minta maap!" ulang Reza dengan berteriak.
Tasya terlihat takut mendekat ke arah Nur.
Damar nyeringis, menyeka darah yang keluar di sudut bibirnya.
"Dia sama persis dengan kamu, kalau menyangkut urusan adik perempuan tidak pakai main-main," ujar Sakti tertuju pada Damar.
"Aku minta maaf," ucap Damar setelah mendekat ke arah Nur dan menyodorkan tangannya.
Nur mengerucutkan bibirnya, tangannya bergerak membalas uluran dari Damar dan mengangguk dengan pelan.
Damar kemudian pergi, Sakti juga ikut melangkahkan kakinya untuk pergi.
"Nyok pergi, keburu kagak kebagian waktu Maghrib," ajak Tasya dan diangguki oleh Nur dan Reza
...****************...
"Panas sekali," lirih Damar melihat termometer digital menunjukkan angka 39,5.
"Om...," panggil Ray dengan mata terpejam.
"Ya Nak, ini Om Damar," sahut Damar kemudian mengangkat tubuh Ray.
"Paman Sakti!" teriak Damar keluar kamar dengan membopong tubuh bocah itu.
"Dia tiba-tiba panas seperti ini, jawab Damar.
Sakti menaruh punggung tangan di dahi Ray, "panas sekali Dam," ucapnya kemudian.
"Makanya Paman siapkan mobil, kita langsung bawa ke rumah sakit!" titah Damar berjalan cepat hingga mereka sampai di mobil yang terparkir di garasi.
Mobil pun melaju membelah jalanan kota.
Wajah Damar terlihat sangat cemas. Sesekali mengecup pucuk kepala Ray. Tubuh yang dia pangku itu dia dekap erat.
"Tante gendut," lirih Ray namun terdengar jelas oleh Damar.
"Tante gendut," ulang Ray, kali ini Damar semakin mengeratkan pelukannya.
Setelah mobil sampai di rumah sakit, Damar membawa Ray masuk ke ruang UGD. Dokter segera menangani Ray.
Dia menjerit, meronta-ronta ketika jarum infus menembus kulitnya karena kuatnya dorongan dan penolakan dari Ray, suster sampai mengganti tangan kanan ke kiri hingga kaki kanan dan berakhir pada kaki kiri.
Damar si lelaki kaku, jutek, dan super bersih itu sampai meneteskan air mata karena tidak tega melihat Ray yang menjerit menangis ditusuk jarum infus. Dia juga sempat putus asa meminta sang suster untuk menghentikan tindakannya.
Setelah perhelatan panjang, Ray sekarang tertidur di ranjang perawatan.
Damar terlihat sedikit lega melihat angka di termometer sudah menunjukkan penurunan. Dia naik ke ranjang dan tidur bersama Ray dengan memeluk bocah kecil itu.
Pagi hari telah menyapa.
Damar belum terjaga dari tidurnya.
"Dam, sudah pagi," ujar Sakti.
__ADS_1
Damar menggeliatkan badannya, menatap Ray yang masih terlelap. Tangan Damar menempel di dahi Ray.
"Sudah tidak begitu panas," ujar Damar.
Damar turun dari ranjang, lalu ke toilet untuk bebersih diri.
Setelah bebersih diri, Damar ke luar dari toilet. Di sana sudah terlihat suster Ana dan mommy Melati berdiri di samping ranjang.
Tadi malam Damar ke ruang sakit sangat terburu-buru hingga tidak sempat membangunkan suster Ana, apalagi memberi tahu mommynya, tidak terlintas sama sekali di benak Damar. Kedatangan mereka berdua di ruangan sudah dipastikan diberitahukan paman Sakti.
"Sayang, kenapa tidak hubungi Mommy kalau Ray masuk rumah sakit? Kalau saja tadi suster Ana tidak memberitahu, Mommy tidak akan tahu," protes Melati.
Damar diam. Merasa tidak ada yang perlu diklarifikasi dari ucapan mommynya. Kalau pun tadi malam dia memberi tahukan mommynya keadaan Ray, apa mungkin dia juga akan ikut menunggu di rumah sakit. Sepertinya tidak mungkin karena yang ada dalam pikiran mommynya hanya kerja, kerja, dan kerja.
Melati tersenyum, sudah menjadi hal biasa, dia tidak mendapat respon berbicara dengan anaknya. Melati merasa seperti angin lalu yang tidak perlu dicari atau dipertanyakan keberadaannya.
"Ray sudah mendingan, Mommy pergi dulu karena pagi ini ada rapat dengan anggota dewan direksi perusahaan. Kamu beri kabar pada mommy tentang perkembangan Ray," ucap Melati panjang lebar.
Damar masih diam tidak juga menyahuti, Melati memandang Damar dengan senyum kecut atas perlakuan anaknya.
"Nanti aku beri tahu Mbak," sela Sakti menjawab ucapan Melati.
Melati mengangguk, "Ok, aku pergi dulu," pamit Melati, memakai kaca mata hitamnya lalu berjalan keluar dari kamar perawatan.
"Jangan terlalu jutek dengan Mommy kamu," seloroh Sakti.
"Tidak ada yang perlu dijawab dari semua yang keluar dari mulut mommy. Jelas dia akan pergi kan? Mana mungkin dia akan di sini menemani cucunya," sahut Damar.
"Om Damar," lirih Ray sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Hai jagoan Om," sapa Damar pada sosok anak laki-laki yang baru membuka matanya.
"Sakit Om," keluh Ray menunjuk kaki kirinya.
"Itu biar kamu cepat sembuh," ujar Damar mengelus kaki kiri tersebut.
"Bagaimana Yae main bola dengan Tante gendut kalau dikasih selang seperti ini?" tanya bocah itu dengan polos.
'Dari semalam yang disebut wanita ceroboh itu! Ray jumpa dengannya hanya sekali, kenapa wanita itu sulit hilang dari ingatan Ray!' gumam batin Damar.
"Om, Yae mau main bola dengan tante gendut," pinta Ray.
Damar hanya tersenyum menjawab pinta Ray.
Gerobak dorong yang membawa makanan datang.
"Sarapan Pak," ucap seorang pegawai pengantar makanan.
"Terima kasih Mbak," jawab Sakti dan pegawai itu membalas dengan anggukan kemudian pergi dari ruangan.
"Ray sarapan dulu Yuk," ajak Damar lalu mengambil jatah makan tersebut.
"Ray tidak mau makan!" sungut Ray mengunci mulutnya.
"Kalau tidak mau makan nanti disuntik lagi sama suster," rayu Damar.
Ray diam tanpa suara karena mulutnya dia bungkam hanya gelengan kepala sebagai jawaban.
"Nanti Pakde Sakti jemput tante gendut biar menemani Ray main bola. Tapi... Ray harus makan dan harus dihabiskan makanannya," sela Sakti.
Damar langsung menatap tajam ke arah Sakti.
"Jangan protes seperti itu," bisik Sakti tepat di telinga Damar dan diiringi senyum kemenangan dari wajah Sakti.
"Cepat suapin Ray, aku jemput sang pujaan hatimu," ledek Sakti.
__ADS_1
"Yae mau makan Om, cepetan!" pinta Ray dengan antusias tinggi.
Nur nyapa lagi nihπ€ jangan lupa kasih dukungan Nur, like komen hadiah vote komen komen loh πππ kire-kire Nur bakal datang kagak ye setelah kesucian bib*rnya terenggut?π€