Janda Daster Bolong

Janda Daster Bolong
Setelah Pernyataan Cinta


__ADS_3

Nur menatap lekat wajah Damar, "Bapak serius?" tanya Nur memastikan.


"Sangat serius," jawab Damar.


"Nape aye jadi merinding Pak," ucap Nur lalu akan melangkah keluar ruangan.


Tiba-tiba tangan kekar Damar menghentikan langkah Nur.


"Kenapa tidak kamu jawab, terima atau tidak?"


Nur sempatkan menatap wajah Damar lalu dengan lantang menjawab, "tidak!" tegas Nur.


Bukannya sakit hati, Damar malah terkekeh mendengar jawaban Nur.


"Assalamualaikum!" pamit Nur.


"Waalaikum salam," jawab Damar dan pandangannya lekat menatap kepergian Nur.


...****************...


"Gila! Beneran kamu ditolak sama Nur?" ulang Sakti dan diangguki Damar.


"Seorang Damar Galih Hermansyah cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia ditolak oleh pegawainya sendiri," ledek Sakti diikuti sebuah tawa.


Damar hanya mencibirkan bibirnya mendengar ledekan sang paman.


"Terus, apa yang akan kamu lakukan? Apakah menyerah begitu saja atau... kamu kejar cintanya?"


"Menurut Paman?"


"Kamu pasti akan mengejar cinta Nur!" jawab Sakti dengan mendebu.


"Kenapa paman yang begitu semangat?"

__ADS_1


"Aku motivator cinta kamu, jadi harus lebih semangat. Bagaimana kamu bisa semangat kalau motivatornya saja tidak semangat," terang Sakti.


"Nur kelihatannya sampai siang ini belum ke ruangan? Apa mungkin dia mencoba menghindari kamu? Secara kemarin hari kamu kan nembak dia?"


Damar terdiam. Memang wanita itu belum menampakkan batang hidungnya di ruang kerjanya.


'Apa benar apa yang dikatakan paman? Dia menghindar dariku?' batin Damar bertanya.


"Atau mungkin dia tidak masuk atau parahnya dia mungkin mengundurkan diri?" tebak Sakti dan pandangannya menatap ke arah Damar menelisik setiap reaksi yang diperlihatkan sang ponakan.


'Dasar kaku, aku ngomong apa ya tetap saja ekspresi wajahnya datar!' umpat batin Sakti pada Damar.


"Tapi aku suka Dam dan selalu dukung hubungan kamu dengan Nur! Namun, yang paling membuat hati Paman lega, akhirnya kamu mau membuka pintu hati untuk seseorang. Karena yang lalu pantas kamu lupakan, dan yang sekarang, kejarlah hingga kamu dapat," terang Sakti.


"Paman_"


Belum selesai Damar berucap, suara ketukan pintu menyekat ucapnya.


Deg.


Jantung Damar tiba-tiba berdetak tidak normal. Ritmenya seakan putus nyambung putus nyambung. Perasaan sangat aneh justru muncul setelah pernyataan cinta yang ditolak mentah-mentah oleh Nur.


"Siang Pak," sapa Nur.


"Siang," jawab singkat Damar.


"Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga," ledek Sakti.


"Dari pada aku ganggu, aku keluar dulu ya," pamit Sakti tanpa mendengar jawaban dari atasannya ataupun Nur.


"Berkas nyang perlu Bapak tanda tangani," ucap Nur sambil menyodorkan satu map tebal.


"Duduklah!" titah Damar karena setiap berkas yang ditanda tangan langsung memerlukan waktu yang lama untuk mengoreksi barangkali ada kesalahan. Walaupun jelas sebelumnya Damar sudah mempelajari berkas yang akan dia tanda tangani.

__ADS_1


Sepuluh menit mereka diam. Damar terus membaca helai per helai berkas itu dan Nur tetap diam memainkan jari jemarinya sesekali asik menyobek atau menggigit kukunya.


"Kamu tidak punya gunting kuku?!" cekat Damar membuat Nur terdiam dalam posisi kuku di antara gigi atas dan bawah.


Nur menarik jarinya," maap Pak," lirih Nur.


"Kamu taruh tangan kamu di atas meja!" titah Damar walaupun Nur bingung hal apa yang akan dilakukan oleh Damar tapi dia lakukan apa yang menjadi titah atasannya itu.


Damar bangkit lalu mendekat ke arah Nur dan meneliti setiap kuku jari-jemarinya. Setelah diperiksa Damar melangkah kembali ke kursi kerja tapi bukan untuk duduk melainkan untuk mengambil benda yang biasa dipakai untuk memotong kuku.


Damar menarik kursi, duduk di samping Nur lalu tanpa pamit Damar langsung memotong kuku yang terlihat tidak rapi karena bekas gigitan sendiri.


"Pak! Aye bisa, kagak usah dipotongin!" tolak Nur.


"Kalau kamu bergerak terus nanti bisa melukai jari kamu!" omel Damar.


"Lagian siape juga nyang nyuruh Bapak motong kuku aye!" ketus Nur.


Pletak.


"Auw! Sakit Pak!" kesal Nur, tangannya mengusap-usap dahi yang menjadi sasaran sentilan Damar.


"Setalah ini ikut aku ke tempat produksi beton jembatan!" titah Damar.


"Ogah!" tolak Nur.


Damar melototkan matanya mendengar jawaban Nur.


Nur nyeringis, "Ye, nanti aye ikut," lirih Nur dan jawaban Nur sukses membuat senyum tercetak di wajah Damar.


malam menyapa πŸ€— like komen hadiah vote rate komen komen loh πŸ™πŸ₯°πŸ˜ Nantikan keseruan mereka kembali.


πŸ₯±πŸ₯±πŸ₯±kak Mel ngantuk 'selalu alasannya ngantuk Mel' πŸ€£πŸ€£πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2