Janda Daster Bolong

Janda Daster Bolong
Benarkah Aku Mendekatimu Hai Sang Mantan?


__ADS_3

"Sayang, kenapa tidak bawa berkasnya?" Aku tadi kan menyuruh kamu untuk mengambil berkas penjualan minggu ini di departemen marketing?"


Raditya tersentak, Kenapa sampai lupa! Ah! Sial! Apa karena tadi... karena Nur?' umpat batin Raditya menggerutui diri sendiri.


"Sayang?" ulang Melodi merasa sang suami tidak meresponnya.


"Oh, maaf tadi... kelupaan karena departemen perencanaan tiba-tiba memanggilku," jawab Raditya mengalihkan jawaban.


"Oh... kalau begitu biar aku saja yang ambil," ujar Melodi kemudian melangkah keluar.


Prak.


"Auw!" jerit Melodi sambil mengelus dahinya.


"Kamu! Mata kamu taruh dimana hah?!" kesal Melodi masih mengelus dahi karena tiba-tiba Nur masuk ke ruangan, membuka pintu ruangan dan posisi Melodi berada tepat di depan ambang pintu akan membuka pintu. Namun sialnya, Nur yang terlebih dulu mendorong pintu tanpa dia tahu akibat perbuatannya dahi Melodi menjadi korban kecerobohannya.


Nur nyeringis, "salahkan aje ame nih pintu Mbak, pakai kagak ngomong segala kalau nyonyanye ade di ambang pintu," jawab Nur dan semakin membuat Melodi kesal.


"Issst!" greget Melodi tangannya terkepal.


Nur tersenyum santai dan melangkah menghadap ke Raditya.


Melodi memandang punggung Nur yang tanpa pamit melangkah ke depan meja Raditya, kakinya segera melangkah mendekat ke arah suaminya.


Melodi menatap dengan seksama penampilan Nur yang dirasa sangat berbeda dari sebelumnya.


'Apa maksudnya wanita itu berpenampilan seperti ini? Dia mencoba mengambil Raditya? Issst! Itu tidak mungkin! Sampai mati pun aku takkan melepaskan Raditya!' geram batin Melodi.


"Ini Pak berkasnya, bukankah tadi bapak ke ruang departemen marketing untuk mengambil berkas ini tapi Bapak sepertinya melupakannya," sindir Nur.


"Oh, ya terima kasih," jawab Raditya.


"Nur permisi dulu Pak," pamit Nur dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.


"Aye permisi dulu Mbak Melodi nyang cantik," ujar Nur lalu kakinya melangkah pergi.


Pandangan Melodi kini beralih pada suaminya yang terlihat seperti salah tingkah. "Kenapa wajahmu berubah seperti itu? Kamu... kamu naksir dengan wanita gembrot itu?!" kesal Melodi.


"Sayang, kamu... kamu bicara apa sih, mana mungkin aku naksir dia. Nur itu hanya masa lalu sedangkan kamu masa depanku, wanita hebat yang cantik luar biasa," ucap Raditya.


Melodi masih menampakkan wajah kesal.


"Jangan bilang! Kamu lupa mengambil berkas gara-gara melihat Nur!" ujar Melodi telunjuknya mengarah pada Raditya dan matanya tajam menatap Raditya.

__ADS_1


"Mana mungkin sayang, aku_"


"Aku tidak butuh alasan apapun. Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia kalau sampai membuatku kecewa!" ancam Melodi, kakinya kemudian melangkah keluar dari ruangan.


"Sayang! Sayang!" teriak Raditya namun tubuh istrinya sudah hilang di balik pintu.


...****************...


"Bang, mohon diterima. Nih bubur ayam sebagai selamatan ulang tahun Nopal ke-3, ada 2 ntuh nyang satu buat Abang, satunye buat istri Abang," ucap Nur tangannya menyodorkan 1 bungkus plastik.


"Ulang tahun Naufal?" retoris Raditya.


"Ye, pasti Abang lupa tapi kagak napalah. Nur maklumi Abang kan sekarang sibuk," sindir Nur.


Raditya terdiam. Sungguh perkataan Nur pelan tapi sangat menusuk hatinya.


"Abang kagak usah merasa bersalah, mereka Alhamdulillah hidup berkecukupan tanpa duit bulanan dari Abang," lanjut sindir Nur dan kali ini perkataan Nur benar-benar membuat Raditya tersinggung.


"Satu bulan yang lalu aku kirim uang Nur, sekalian aku tambahkan satu bulan yang sebelumnya."


"O...ape mungkin nyasar kali?" sahut Nur.


"Dan nape baru inget bulan kemarin? Bulan nyang nih lupa lagi? Terus bulan nyang sebelum-sebelumnye juga lupa?" lanjut Nur diikuti senyum sinis.


"Terserah deh Abang mau alasan ape. Nur mau bagi bubur buat nyang lainnya," ucap Nur kemudian melangkah pergi dari hadapan Raditya.


Nur berjalan ke tempat parkir untuk mengambil bubur yang lain tapi ketika kembali dari tempat parkir, langkahnya harus terhenti di lobby karena sebuah tragedi yang menggemparkan seisi kantor.


Melodi dengan emosi yang tinggi mendatangi Nur yang masih berjalan di lobby dan secara membabi buta dia melempar bubur ke muka Nur dan satu bubur lagi akan di lempar ke Nur tapi di halangi tubuh Damar.


"Ini bukan ajang tarung bebas! Ini kantor!" sentak Damar pada Melodi.


"Bapak jangan ikut campur!" balas Melodi melototkan matanya ke arah Damar.


"Kamu_!" geram Damar tangannya sudah dia angkat untuk membungkam mulut Melodi tapi dia tahan. Tidak pantas dia membalas wanita tidak tahu diri itu.


Melodi melangkah pergi dengan perasaan yang kesal.


"Ya Allah, Bapak jadi kotor semua bajunye. Utang aye nambah lagi dong, jas nyang kemarin aje belum aye ganti masa iye nih ganti lagi," keluh Nur wajahnya terlihat panik dan tangannya bergerak membersihkan bubur yang menempel di punggung Damar.


"Nur!" Damar menarik tubuh Nur hingga di depan tubuh Damar karena terlalu kesal pada wanita yang malah memikirkan ganti rugi jas, seketika mata mereka bersitatap.


Damar menelan salivanya susah karena tiba-tiba ada rasa aneh di hatinya.

__ADS_1


"Wajah kamu juga kotor," ucap Damar tangan Damar bergerak akan membersihkan wajah itu tapi dicekal Nur.


"Aye bersihkan sendiri Pak," ucap Nur kemudian melangkah pergi.


Damar menatap punggung Nur hingga hilang tertelan di balik tembok yang mengarah ke toilet.


Damar melangkah ke ruang kerjanya.


"Kamu kenapa Dam?" tanya Sakti mengekor langkah Damar yang hendak masuk ke toilet ruang kerja.


"Paman mau ikut masuk toilet?" tawar Damar sebagai bentuk protesnya.


Sakti hanya nyeringis, "Aku ambilkan jas dan kemeja ganti," sahut Sakti.


Setelah bersih dengan kemeja dan jasnya, Damar keluar dari toilet. Wajah Sakti sudah penuh tanya akan mengintrogasi keponakannya.


"Ceritakan secara detail apa yang menimpa kamu," ujar Sakti.


"Tidak ada yang penting, hanya perbuatan wanita gila saja," jawab Damar dan jelas Sakti tidak percaya apa yang disampaikan Damar.


"Wanita gilanya bukan Nur kan?"


"Paman!" Damar menatap dengan kesal wajah lelaki di depannya.


"Aku tadi tanya OB, katanya kamu membela wanitamu makanya sampai punggung kamu penuh bubur," ledek Sakti.


"Fitnah," jawab singkat Damar.


Sakti terkekeh mendengar jawaban Damar. Dia menggelengkan kepalanya.


"Hati kamu benar-benar sudah terpikat pada Nur, jangan mengelak lagi, itu sudah jelas-jelas dilihat oleh banyak orang di kantor ini," simpul Sakti.


"Paman siapkan mobil, kita ke tempat produksi beton jembatan," titah Damar mengalihkan pembicaraan.


"Kamu pintar sekali mengalihkan pembicaraan," sahut Sakti.


"Kalau Paman ingin melanjutkan gosip, silahkan di siaran gosip kantor!" ujar Damar kemudian melangkahkan kakinya.


"Hei! Tunggu!" seru Sakti mengekor Damar.


'Aku hanya sedikit mengagumi ketegaran kamu Nur. Coba adikku dulu setegar kamu,' monolog batin Damar kakinya terus melangkah hingga ke parkiran mobil.


Nur nyapa nih, maap Nur sibuk ngurus anak2 kecil jadi nongolnye sering terlambat apalagi nur kudu ngurus kerjaan Nur 🤭tetep dukung nur ,kasih like komen hadiah vote komen komen komen loh 😁🙏

__ADS_1


lope lope buat Mpok ame ncang semuanya❤️🥰😍


__ADS_2