Janda Daster Bolong

Janda Daster Bolong
Dilarang Terpesona


__ADS_3

"Nape Bang, senyam-senyum gitu?" penasaran Nur.


"Mau tau aje," sahut Reza.


"Ape nih Bang?"


"Buat lu," jawab Reza memberikan sebuah plastik.


"Buah melon. Makasi Bang, tau aje stok buah di kulkas udeh habis."


"Dari temen lu ntuh."


"Siape?"


"Tasya."


"Duih. Abang temu Tasya dimane? Janjian ye? Emang Tasya mau gitu ame Abang? Wah ape Abang cume ngarang doang?" Sederet pertanyaan Nur lontarkan.


"Tanya ntuh atu-atu," sahut Reza membuat Nur nyeringis.


"Ye udeh jawab atu-atu cepetan," sahut Nur.


"Entar kalau udeh ada kabar baek, Abang ceritain," jawab Reza.


"Curang Abang!" sewot Nur.


"Eh suara si Nopal nangis ntuh," ucap Reza dan Nur gegas masuk kamar.


"Gajali ntuh awasi dulu Bang, aye tengok si Nopal," seru Nur sebelum tubuhnya gegas masuk kamar.


'Semoga pertanda baek dari Allah. Kagak nyangka aje temu engkongnye Tasya di jalan ntuh. Ape mungkin nih pertanda restu dari Allah, Masyaallah.... mudah-mudahan ye,' monolog batin Reza.


Reza kembali senyam-senyum sendiri dan tanpa sadari ponakannya lari mengejar bola hingga terpeleset lantai yang licin karena air yang ditumpahkan Gazali.


"Astaghfirullah haladhim," seru Reza membopong bocah yang nangis histeris.


"Nape Bang!" Tidak kalah kaget Nur keluar dari kamarnya karena mendengar tangis anaknya.


"Gajali kepleset."


"Ya Allah Bang, kasihan bener Gajali, ampe benjol nih dahinya," ujar Nur tangannya terus mengusap dahi anaknya.


Sekarang giliran Naufal yang menangisi karena kaget dengan jeritan kakaknya.


"Ya Allah... begini nih emak-emak kalau di rumah, malah repotnye kagak ketulungan," keluh Nur mengempaskan napasnya dengan kasar.


Gajali dibopong Reza keluar agar diam, sementara Naufal di tidurkan lagi oleh Nur.


'Masyaallah emak-emak berdaster ntuh emang luar biasa' batin Nur.


"Semoga kalian kalau sudah berkeluarga, jadi seorang ayah yang siap siaga, pengertian ame istri. Wanita ntuh kagak butuh duit doang juga butuh kasih sayang ame pengertian. Apalagi parahnya, udeh dikasih duit pas-pasan eh kasih sayangnye juga pas-pasan," gumam Nur mengelus kepala Naufal dan secara tidak langsung menasehati bocah kecil yang sedang dia dekap.


...****************...


Raditya melihat berkas yang diserahkan departemen marketing. Sesekali melirik ke arah Nur.


"Melodi kagak berangkat Bang?"


"Tidak. Dia sakit."


"Sakit ape??" tanya Nur terkejut.


"Mual, lemes, dan pusing," jawab Raditya.


"Mungkin die hamil Bang?" sahut Nur, biasanya pengantin baru kalau sakit dengan tanda-tanda seperti itu dimungkinkan hamil.


"Tidak mungkin!" ujar Raditya.

__ADS_1


'Dia suntik KB bagaimana bisa hamil,' batin Raditya.


"Doa baek ntuh amini Bang," ucap Nur.


Raditya sekali lagi melirik ke arah Nur.


'Apa aku sudah benar-benar hilang dari kamu Nur? Kamu berkata seperti itu tanpa ada rasa cemburu,' batin Raditya.


"Bang, belom selesai," tanya Nur sekaligus mengingatkan agar Raditya segera menyelesaikan untuk membaca berkas tersebut.


Raditya hanya tersenyum membalas tanya Nur.


Nur mengusap ponselnya, memainkan jemarinya dari pada terlihat kaku di depan Raditya. Bukan karena perasaannya gugup hanya tidak mau ada gosip lagi yang mengatakannya dia perebut lelaki orang.


Berbeda dengan Raditya yang malah menikmati pemandangan yang ada di depannya. Ya, wajah Nur yang setiap hari semakin mempesona dan aura cantiknya semakin terlihat manakala berbicara tentang kecerdasan yang dimilikinya.


'Belum lama kamu bekerja di sini tapi kamu tampil begitu gemilang Nur. Kamu ternyata masih sama, wanita yang cerdas dan penuh semangat,' monolog batin Raditya.


"Kenape Bang?" tanya Nur menyadari Raditya terdiam memandang ke arah dirinya.


Raditya mengulas senyum.


"Sudah aku periksa, nanti tinggal kamu laporkan ke pak Damar," ucap Raditya sebagai alasan. Tangannya bergerak menandatangani berkas tersebut.


"Terima kasih Pak," ucap Nur kemudian bangkit dari duduknya.


Sekali lagi, Raditya menatapnya tajam tanpa kedip.


'Nape aye jadi merinding lihat tatapan lu Bang?' batin Nur dan bahunya bergidik.


'Dilarang terpesona ame Nur!' lanjut batin Nur diikuti sebuah senyum sinis.


"Oh ya, aye juga harus menyerahkan berkas ini ke pak Damar," gumam Nur melangkahkan ke ruang kerja lelaki yang dimaksudnya.


Tok


tok


"Masuk!"


Nur membuka pintu ruang itu. Namun apes, baru dia berdiri di dalam dan menutup pintunya kembali, tiba-tiba ada bola mengenai kepalanya.


Pugh.


"Auw!" jerit Nur sambil memegang dahinya.


Ada suara tawa renyah dari seorang bocah sambil menunjuk-nunjuk ke arah Nur.


Nur mencibirkan bibirnya.


"Ray minta maaf sama Tante," pinta Damar.


"Ogah! Calahnya dia macuk ke sini!" jawab bocah laki-laki kecil itu.


Nur menatap geram pada bocah yang terlihat lebih tua sekitar setahun atau dua tahun dari Gazali.


Anak itu sekali lagi tertawa melihat Nur masih mengelus dahinya. Dia kemudian berjalan ke arah Nur yang memegang bola itu.


"Cini gendut bolanya!" ujar bocah itu.


Nur tersentak kaget dibilang gendut walaupun sudah hal lumrah dia selalu mendapat cibiran seperti itu tapi masalahnya, kali ini anak kecil yang terang-terangan mengatakannya.


"Ray, tidak boleh seperti itu, minta baik-baik dan segera minta maaf," ucap Damar masih berharap bocah itu menuruti keinginannya.


"Cini!" sungut Ray dengan bicaranya yang masih belum jelas.


"Akan tante kasih kalau Ray bisa jawab ape nyang Tante tanyain," ujar Nur.

__ADS_1


"Emmm, Ini, angka berapa?" tanya Nur sambil menunjukkan sebuah angka yang dia tulis di ponsel.


"Tiga!" jawab cepat anak itu dengan nada jutek.


"Wah...Ray pinter. Ini, berapa?"


"Catu!" antusias Ray wajah juteknya mulai memudar mendengar pujian Nur.


"Ini?"


"Empat!"


"Wah! Hebat sekali sih Ray," puji Nur.


Ray terlihat tersenyum bangga.


"Ray kelas berapa?"


"TK A!"


"TK A? Tapi kok sudah hebat seperti ini?" lanjut Nur.


Lagi Ray tersenyum.


"Suka main bola ya?"


Ray mengangguk cepat.


"Kamu tahu, pemain bola itu ramah dan sopan loh. Kalau mereka salah pasti tidak segan meminta maaf,"


"Yae juga pemain bola," sahut anak itu dengan menyebut namanya sebagai pemain bola.


"Apalagi Ray pintar, pasti buguru tambah senang kalau Ray jadi anak yang sopan. Emmm ayo bilang maaf. Nanti...Tante ajak main bola bareng," rayu Nur.


"Benel Tante?" Ray terlihat girang.


Nur mengangguk.


"Tante, Ray minta maaf ya," tuntun Nur.


Bocah itu menirukan ucapan Nur dengan gayanya sendiri. Nur tersenyum, "anak pinter, lain kali, kalau Ray salah jangan segan untuk minta maaf, Ok!"


"Ok!" sahut Ray.


"Tante mau bicara dulu sama ayah Ray, boleh?"


Ray mengangguk. Nur menyerahkan bola pada Ray.


Sedangkan Damar terlihat menelan salivanya dengan susah mendengar Nur menyebut dirinya sebagai ayah dari bocah tengil itu.


"Anaknya lucu sekali Pak," ucap Nur tanpa komando langsung duduk di kursi depan meja kerjanya.


"Baby sitternya mendadak pergi, makanya dia aku bawa ke sini," ucap Damar.


'Aye bilang ape bapak jawab ape!' batin Nur yang tentunya tak berani dia lontarkan ke lelaki yang duduk di depannya.


Nur hanya tersenyum.


Damar memeriksa berkas yang disodorkan Nur. Satu persatu dilihat dengan sangat teliti. Senyum mengembang dari wajah Damar karena ada kenaikkan statistik penjualan dari salah satu proyek yang dijalankan.


"Bulan i_" Kalimat Damar tercekat. Dia terdiam menyaksikan Nur yang sudah bermain bola dengan Ray.


Mereka tertawa renyah bahkan hanya sebentar Ray sudah akrab dengan Nur.


'Nur, kamu cerdas. Wanita yang kuat dan satu hal lagi, selama ini Ray terkenal dengan sifat arogannya tapi ketika dengan kamu...dia seperti menemukan ibunya yang sangat dia rindukan,' monolog batin Damar diiringi sebuah senyum.


malam, nur nyapa πŸ€— like komen hadiah vote komen komen komen komen loh πŸ˜πŸ™, siapa sebenarnya Ray?

__ADS_1


__ADS_2