Janda Daster Bolong

Janda Daster Bolong
Perlu Periksa Ke Spesialis Jantung


__ADS_3

Pintu ruang dibuka, Damar menatap lekat ke arah sosok yang sudah ada di balik ambang pintu.


"Raditya," lirih Damar.


Raditya nampak terkejut melihat atasannya duduk di tepi ranjang. Dengan perasaan yang dibuat setenang mungkin Raditya mendekat ke arah Damar.


"Selamat siang Pak," sapa Raditya.


"Siang," jawab Damar.


"Siape Pak nyang dateng??" seru Nur dari dalam toilet, begitu pintu toilet dibuka. Nur menatap sesosok lelaki yang kemarin-kemarin ditanyakan anak sulungnya, Gazali.


Nur bungkam, ada gemuruh amarah yang sebenarnya membuncah di dada.


"Sepertinya aku salah waktu, mengganggu kalian," ucap Damar.


"Sepertinye emang begitu," sahut Nur dengan ketus.


Raditya mendengus mendengar jawaban Nur. Entah hatinya merasa tidak rela dan tidak suka dengan lelaki yang masih betah duduk di tepi ranjang itu.


"Pak Damar sudah lama?" tanya Raditya mengalihkan pembicaraan. Berharap pertanyaan yang terlontar dari mulutnya itu membuat Damar undur diri.


"Belum begitu lama, aku baru menikmati waktu bertiga dengan Nur dan Naufal. Eh, anak kecil itu malah tertidur setelah aku gendong, padahal aku ingin bermain dengan dia," jawab Damar.


"Tapi tidak apa-apa, sekarang juga masih bertiga, karena ada kamu," lanjut Damar.


Entah kenapa Damar mengucapkan semua itu.


Raditya menampakkan senyum. Namun, hatinya merasakan panas mendengar ucapan atasannya.


'Brengs*k! Apa maksud dia? Apa benar rumor yang beredar di kantor, ada hubungan istimewa antara Nur dengannya? Tapi apa tujuan utama dia mendekati Nur? Nur hanyalah wanita biasa, lihat saja bodynya juga melar seperti itu, dan lihat juga tampilannya sekarang, dia masih saja suka memakai daster! Ya, walaupun daster yang dia kenakan daster baru tetap saja sisi menariknya menjadi berkurang!' monolog batin Raditya.


"Aku sengaja menengok Naufal, aku dengar dari atasan kamu kalau kamu izin menjaga anakmu yang sakit," ujar Raditya pada Nur.


"Terima kasih Bang atas kunjungannye, aye terharu Abang bisa bekunjung menemui anak aye. Padahal Abang pan selalu sibuk ngurus bini. Ampe lupe kagak pernah nengokin anaknye," sindir Nur.


"Kamu tahu sendiri Nur. Lima hari aku sibuk urusan kantor sedangkan dua hari libur aku ya terkadang harus menyelesaikan urusan kantor yang kubawa sampai ke rumah dan aku juga butuh istirahat di dua hari itu. Namun, aku kan tetap kasih bulanan untuk mereka," terang Raditya.


Nur mendengus, emosinya benar memuncak walau masih dia tahan.


"Abang cume kasih bulanan selame kite masa perceraian ampe sah becerai, baru dua bulan kemarin ngasihnye. Ntuh juga masuk hitungan nominal normal kagak jumlah kalkulasi!" greget Nur.

__ADS_1


Raditya terdiam, "Kamu tahu sendiri Nur, masa itu aku sedang butuh-butuhnya uang untuk_"


"Untuk menikahi bini baru Abang!" cekat Nur dengan geram.


Selama ini Nur tidak mengungkit atau pun bersuara langsung atas apa yang dilakukan Raditya. Namun, siang ini Nur harus mengeluarkan isi hatinya yang lama terpendam.


Pikiran Damar melayang mengingat saat itu, awal bulan tepatnya setelah gajian karyawan. Nur mendatangi dirinya untuk memperlihatkan laporan dari M-banking kalau dia telah mengirim uang ganti rugi jas dan ponsel yang dia rusak.


Saat itu Sakti memperingati Damar agar mengikhlaskan mengenai ganti rugi karena Nur harus membiayai sendiri anak-anaknya.


'Jadi, apa yang aku dengar dari paman Sakti itu benar, anak-anak Nur tidak pernah diberi nafkah oleh bapaknya. Kurang ajar lelaki seperti dia!' geram batin Damar.


"Tapi kagak nape Bang, Alhamdulillah Ade rejeki buat nyukupi kebutuhan mereka," lanjut Nur.


Deg.


Tiba-tiba terlintas dalam pikiran Raditya apa yang pernah dikatakan oleh Melodi tentang Nur yang dekat dengan Damar karena jual diri.


'Apa itu sebabnya mereka dekat? Aku tidak menyangka kamu serendah itu Nur dan kamu Damar, kenapa memilih seorang seperti Nur untuk memuaskan nafsumu, walaupun aku akui soal ranjang Nur memang jago,' monolog batin Raditya.


Raditya tersenyum menyungging.


"Kamu tidak berbuat hal aneh kan untuk menyukupi kebutuhan mereka," ujar Raditya atau tepatnya sebuah intimidasi atau sebuah sindiran


"Maksud Abang?" tanya Nur dengan bibir yang bergetar dan gigi yang gemeretak.


"Ya... semisalnya bekerja dengan modal tubuh," lirih Raditya.


Plak


plak.


Dua tamparan mendarat di dua pipi Raditya.


"Jaga omongan Abang! Demi Allah! Aye meneteskan peluh untuk kebutuhan mereka! Dan kalau pun ade kekurangan, orang tua aye ame bang Reja nyang selalu nyukupi semuanye!" ucap Nur dengan menahan air mata yang tertampung di pelupuk matanya.


Raditya mendengus, ibu jari dan jari tengahnya menekan dua pipinya yang terasa panas.


"Bapak lihat, Nur itu arogan! Dia juga sering main tangan! Wanita ini tidak ada adabnya!" ucap Raditya pada Damar yang tujuannya agar Damar menjauhi sang mantan istri karena entah kenapa ada kekesalan hati, atasannya dekat dengan Nur.


Bukan hanya masalah cemburu, tapi Raditya tidak rela saja pengganti dirinya memiliki hal lebih dari dirinya, terutama segi kekayaannya.

__ADS_1


"Kalau aku jadi Nur, aku akan membalas lebih dari sekedar tamparan!" jawab Damar dengan lantang.


Raditya tercengang, lelaki itu bukannya ilfeel dengan Nur tapi malah membela Nur.


"Oh... jadi benar gosip beredar, kalau bapak ada main dengan Nur. Bapak sudah mencicipinya? Bagian mana yang paling Bapak suka?" ujar Raditya sebagai bentuk kekesalan.


"Aku belum mencicipi tubuh Nur karena dia wanita yang teguh menjaga kehormatan. Dia akan menyerahkan semuanya setelah kita menikah nanti," jawab Damar dengan setenang mungkin walaupun sebenarnya emosi sudah memuncak di ubun-ubun.


"Sebaiknya anda ke kantor karena ini masih jam kantor, aku akan menikmati waktu berdua dengan Nur. Mumpung Naufal sangat lelap tidurnya," sambung Damar tangannya mempersilahkan Raditya pergi.


Raditya mendengus kesal lalu melangkah pergi.


Nur terdiam menatap kepergian Raditya. Dadanya begitu sesak mendengar semua yang dikatakan Raditya. Nur menyesali kebersamaan dengan Raditya selama ini ternyata tidak menjadikan lelaki itu tahu dalam tentang dirinya. Bukan sesal karena kecewa akan rasa cinta Raditya yang ternyata dangkal tapi sesal karena seperti menyia-nyiakan waktu sudah mencintai segenap jiwa lelaki semacam dia.


"Bapak juga sebaiknya ke kantor," ucap Nur dengan lirih.


Damar diam bahkan tidak beranjak dari duduknya. Dia menatap lekat wanita yang masih menahan air mata di pelupuk matanya.


"Kalau kamu ingin menangis, menangislah anggap aku tidak di ruang ini," balas Damar.


Nur menggeleng, tapi bendungan itu akhirnya pecah.


Hah... huh... huh...


Nur menangis dengan keras.


"Nur menangis sih menangis tapi jangan sekencang ini, Naufal nanti bangun," ujar Damar.


"Bapak sih nyuruh aye nangis, aye ntuh kalau nangis kagak bisa lirih," jawab Nur masih dengan tangisnya yang keras.


"Ya... ya sudah jangan nangis," ucap Damar menepuk bahu Nur.


"Tisu Pak," pinta Nur masih dengan derai air mata.


Damar mengambil tisu yang ada di nakas dekat tempatnya duduk.


Nur langsung menghentikan tangisnya ketika Damar mengusap air mata yang membanjiri pipi. Dia terdiam karena bukan tangis yang mendominasi emosinya tapi ada gejolak jantung yang sedang berdebar kencang.


"Pak, biar aye sendiri," pinta Nur yang tidak ingin mati mendadak karena jantung yang terpompa tidak normal.


'Kemarin-kemarin Bapak mengelap sudut bibir aye bahkan tidak sengaja menci*m bibir aye, lalu tadi bahas nikah waktu bicara ame Bang Raditya, jantung aye biasa aje. Nah kali nih, nape jantung aye berasa mau copot beneran apalagi melihat mata tajam Bapak nyang tepat jatuh di pandangan aye,' monolog batin Nur meraba ada apa dengan jantung dan hatinya.

__ADS_1


Damar nampak tersenyum melihat Nur menghentikan tangisnya.


malam πŸ€— Nur nyapa nih, kasih like komen hadiah vote rate komen komen loh πŸ™πŸ₯°πŸ˜ Nur perlu dibawa ke dokter spesialis jantung tuh 🀭


__ADS_2