Janda Daster Bolong

Janda Daster Bolong
Ada Apa Denganmu?


__ADS_3

"Tante gendut jualan bubul ya Om? Yae besok beli lagi ah!" ucap bocah itu.


"Cepat makan buburnya, nanti keburu dingin!" seru Damar tanpa menyahuti ucapan Ray.


Ray mulai memasukkan bubur itu ke mulutnya.


"Ray kok belum tidur?" sapa seorang wanita yang baru menginjakkan kaki di ruang makan, pakaian kerja masih melekat pada tubuhnya, pertanda dia baru pulang dari tempat kerjanya.


Dia melirik ke arah Damar yang juga duduk di situ.


"Dam, pulang dari tadi?"


Damar mengangguk malas.


Wanita itu hanya tersenyum kecut. Sudah menjadi hal biasa, anaknya bermuka masam dengan dirinya. Apalagi semenjak kematian adiknya. Dia semakin menunjukkan sifat tidak patuhnya.


"Ray, Oma ke kamar dulu ya," pamit Melati.


"Ya Oma," jawab Ray.


Damar menatap punggung wanita yang dia panggil dengan gelar mommy. Wanita yang selalu sibuk, wanita yang tidak pernah ada waktu barang sebentar dengan dirinya, wanita yang lebih mementingkan harta dan tahta.


'Apa kamu tidak pernah menganggap mommy kamu ini Dam? Semua yang mommy lakukan itu demi kamu. Sekarang kamu anak satu-satunya mommy. Kamu harapan mommy,' gumam batin Melati hingga kakinya sudah masuk ke balik pintu kamarnya.


"Kamu habiskan buburnya, setelah itu tidur," ujar Damar.


"Om, besok boleh tidak Yae ikut Om kekantor?"


"Tidak!" jawab ketus Damar tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


Ray nampak mengerucutkan bibirnya karena kecewa.


"Yae ingin bermain dengan tante gendut," lirih Ray, tangannya mengadukan-aduk bubur yang tersisa dua sendok makan.


"Tante sibuk, tidak bisa diganggu," lanjut Damar melihat keponakannya tetap mengerucut bibir.


"Om boong!" sungut Ray lalu beranjak pergi.


"Hei, buburnya dihabiskan dulu," seru Damar mencoba menghentikan langkah Ray.


"Tidak mau! Habisin Om!" jawab Ray masih dengan sungutnya.


Damar hanya mendengus lalu meminta asisten rumah tangga membersihkan bekakas itu.


...****************...


Damar melirik ke arah Nur yang duduk di meja kerjanya.


"Semua tim kerja solid, aku rasa... perlu memberi kalian reward," ucap Damar.


"Bener ntuh Pak? Seriusan? Ya Allah, Alhamdulillah," jawab Nur.


'Kite pasti dapet bonus duit. Aye yakin bonus ntuh pasti gede,' batin Nur berucap dan wajahnya terlihat senyum merekah.


"Pak, e...kire-kire bonusnye apaan?" tanya Nur sedikit ragu namun tetap menampakkan senyum semanis mungkin.

__ADS_1


"Gerobak bubur kamu bawa ke sini untuk makan sore," jawab Damar.


Senyum di wajah Nur langsung dia tarik, menelan saliva saja terasa sulit mendengar jawaban Damar.


"Bonus apaan ntuh namanye!" gerutu Nur.


"Kenapa? Makan gratis itu juga bonus," sahut Damar.


"Tapi kagak nape lah, biar malemnye Abang aye kagak perlu jualan." Pasrah Nur.


Damar terlihat menampakkan ekspresi berbeda mendengar jawaban Nur menyebut tukang bubur itu dengan panggilan 'bang'.


"Dia pacar kamu?" tanya Damar, tiba-tiba saja mulutnya tidak keluh untuk menanyakan itu.


Nur menatap selidik pada lelaki yang ada di depannya.


"Bapak...,"


Damar menahan rasa ingin tahu kalimat yang akan dilanjutkan Nur.


"Bapak_" ucap Nur terhenti, "kagak jadi deh," lanjut Nur.


Damar terlihat mendengus kesal.


"Besok bener nih gerobak ame buburnya bawa ke kantor?" ujar Nur.


Damar mengangguk pelan. Wajahnya terlihat kesal karena pertanyaan tidak dijawab Nur. Akan diulang tanyanya tapi takut saja menimbulkan tafsir yang berbeda pada Nur.


"Ini berkasnya," ujar Damar menyerahkan map besar yang sedari tadi di baca olehnya.


"Oya Pak, si tukang bubur ntuh kagak sekedar pacar Nur tapi lebih," ucap Nur sebelum keluar dari ruangan dengan senyum merekah di wajahnya.


"Siapa juga yang tanya, Malah bilang bukan sekedar pacar tapi lebih!" lanjut Damar dengan meremas kertas yang dia pegang.


"Aku dengar ada kata pacar, apa itu kamu dengan Nur?" tanya Sakti tiba-tiba muncul dan langsung duduk di depan meja kerja.


Damar diam tidak menyahuti tanya sang paman.


"Aku baru papasan dengan Nur. Apa kalian jadian?" cecar Sakti.


"Paman please jangan ngawur!" kesal Damar lalu melanjutkan kesibukannya dengan laptop.


"Siapa yang ngawur, kita tidak tahu jodoh kita itu siapa. Paman berharap kamu berjodoh dengan Nur tidak salahkan?"


"Salah besar!" balas Damar.


Sakti tersenyum menyeringai.


"Mengapa kamu menjawab dengan antusias?" kekeh Sakti.


"Kamu lagi marahan sama Nur? Hah?"


Damar diam tanpa ekspresi.


"Ok! Kalau kamu tidak mau, biar aku yang maju," sambung Sakti.

__ADS_1


"Paman jangan macam-macam," ucap Damar spontan hingga Sakti terkekeh kembali.


"Terus kamu maunya apa?" desak Sakti.


"Tadi malam Paman sudah lihat pacarnya Nur. Jadi, cukup jangan ganggu dia lagi," ujar Damar.


"Pacar?" retoris Sakti memastikan, mulutnya kembali tertawa dia paham siapa yang dimaksud Damar sebagai pacar Nur.


"Baru juga pacar setelah menikah kita rebut juga sah-sah saja." Sebuah senyum mengembang di wajah Sakti setelah tawanya berhenti. Dia sengaja memancing ponakannya dengan mengatakan itu.


"Paman, sudah jangan ganggu aku!" kesal Damar. Entah kenapa emosinya tiba-tiba naik turun tidak terkendali.


"Kamu cemburu?" selidik Sakti.


"Paman!" seru Damar, matanya menatap tajam ke arah Sakti.


Sakti tersenyum kembali dan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ok! Aku lanjutkan kerja," ucap Sakti tapi sebelum tubuhnya pergi dari ruang kerja keponakannya, dia sempatkan diri menjelaskan hal yang sebenarnya.


"Dia bukan pacar Nur tapi kakaknya," lirih Sakti mengangkat dua alisnya.


Damar yang masih mengeja kalimat berhenti mendadak mendengar penjelasan Sakti.


"Selamat berjuang Dam!" teriak Sakti karena tubuhnya sekarang di balik pintu dan hanya kepalanya yang menjulur ke dalam.


Damar tetap diam tidak menyahuti ucap Sakti.


"Apa urusannya denganku! Mau itu pacarnya atau bukan!" gumam Damar, mata dan pikirannya kini menerawang entah kemana. Namun, entah kenapa hatinya lega mendengar penjelasan Sakti.


"Damar, mommy berkunjung," sapa Melati.


Damar diam tidak menyahuti ucapan mommynya yang tanpa ketuk pintu langsung masuk ke ruang kerja.


"Kantornya lumayan, ya... walaupun tetap masih besar dan lebih bagus kantor daddy kamu," ujar Melati matanya memandang tiap sudut ruangan.


"Mommy ke sini akan mengajak kamu pergi. Tapi... sepertinya kamu sedang sibuk sampai sepatah katapun tidak keluar dari mulut kamu," sindir Melati melihat anaknya fokus ke layar laptop dan keyboard.


"Tidak ada sambutan hangat karena mommy sudah datang?" lanjut Melati.


Lagi, Damar masih diam.


"Ok, Mommy minta maaf sudah mengganggu. Hanya, satu pinta Mommy, nanti malam kamu harus datang ke resto Japanese food di jalan merdeka."


"Aku tidak suka Japanese food dan mommy tahu itu kan?" sanggah Damar.


Melati tersenyum, dia begitu bahagia anaknya mau menyahuti ucapannya, taktiknya berhasil juga. Sebenarnya dia tahu anaknya tidak suka dengan Japanese food.


"Ok, kita ganti resto, Pawon Mae tradisional food khas Indonesia, tempat dijamin bersih dan pasti kamu suka," ucap Melati dengan antusias.


"Nanti malam aku lembur! Mommy tidak usah buang-buang waktu untuk semua itu."


Raut wajah Melati terlihat kecewa.


"Susah sekali, mengajak anak sendiri untuk makan malam bersama," ujar Melati.

__ADS_1


"Apa pintu maaf untuk Mommy kamu tutup karena kejadian 5 tahun lalu?" gumam Melati namun jelas terdengar Damar.


malam menyapa πŸ€— maap Mpok, Nur baru nyapa πŸ™ dari kemarin otak kagak muter buat nulis, mungkin kurang asupan pitamin 🀭 tapi tetep dukung Nur ye, kasih like komen hadiah vote komen komen komen komen loh πŸ˜πŸ™


__ADS_2