Janda Daster Bolong

Janda Daster Bolong
Cintakah?


__ADS_3

"Bapak ade-ade aje. Tadi pagi di lobby kite pan papasan," lirih Nur dan tanpa mendengar atau melihat reaksi Damar, Nur segera keluar ruangan.


"Kenapa bergaul dengan dia aku menjadi semakin gila!" gerutu Damar matanya kemudian fokus kembali ke layar laptop.


...****************...


Damar masuk ke ruang departemen marketing untuk menyerahkan berkas laporan yang sebelumnya dikirimkan oleh Desi, sebagai kepala departemen.


Dia sempat melirik ke meja kerja Nur ketika melewatinya. Namun, sosok yang punya meja tersebut tidak terlihat bahkan kursinya juga tertata rapi.


"Bapak mencari Nur?" tanya Resti karena sang atasan jelas mengalihkan pandangan ke meja kerja Nur.


"Tidak!" jawab singkat Damar dan menegakkan dadanya untuk melangkah kembali.


'Bilang saja iya!' batin Resti kenapa jaim seperti itu.


"Dua hari ini Nur izin tidak masuk, nungguin anaknya yang sakit Pak," ucap Desi, merasakan hal yang sama seperti Resti, kedatangan atasannya itu hanya ingin mengecek keberadaan Nur.


"Anaknya sakit?!" terkejut Damar, "kenapa kamu tidak katakan itu?!" protes terlontar dari mulut Damar.


'Emmm, tadi katanya tidak menanyakan Nur kenapa sekarang seolah menyalahkan aku karena tidak memberi tahunya,' batin Desi.


'Memang benar, desas-desus orang-orang kantor. Ada sesuatu antara Nur dengan pak Damar,' lanjut batin Desi.


"Rumah sakit mana?" tanya Damar tanpa basa-basi lagi.


"Siaga Medika Hospital," jawab Desi.


Damar menaruh berkas yang sedari tadi dia pegang lalu segera beranjak pergi.


Sepeninggal Damar, mulut-mulut mereka pun langsung bersuara.


"Benar kan ada sesuatu antara pak Damar dengan Nur," ucap Desi.


"Astaga Pak Damar, yang gantengnya tiada tara, kenapa sih lebih melirik Nur dibandingkan aku yang cantik jelita ini?" gerutu Bianca sambil menatap wajahnya yang terpantul di cermin yang dia pegang.


"Cinta itu buta, lah ini kalau pak Damar naksir kamu, bukan istilah cinta buta tapi cinta dusta," ledek Desi diikuti tawa dari teman departemen marketing yang lainnya.


"Hussst!" Desi menempelkan jarinya agar rekan kerjanya diam karena sekarang atasannya sedang berjalan keluar dari ruang kerjanya.


Damar masuk ke mobil dan mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit yang disebutkan oleh kepala marketing.


Sesampai di tempat Damar langsung menuju pusat informasi. Namun, ketika sampai di sana dia lupa menanyakan nama anak Nur yang sedang di rawat di rumah sakit tersebut..


"Pak, nama pasien?" ulang pegawai di pusat informasi.


"Eh ... aku kurang paham nama pasien tapi nama orang tua pasien aku tahu. Nur Mala Aisyah."


"Ok, sebentar saya carikan," jawab sang pegawai.


"Atas nama Naufal Azhar Ditya usia 13 bulan, ibu kandung Nur Mala Aisyah, rawat di ruang cempaka nomor 2," jelas sang pegawai.


"Terima kasih Mbak," ucap Damar lalu berjalan cepat menuju lokasi yang dimaksud pegawai rumah sakit.


Damar sudah menatap dari kejauhan Nur yang sedang menggendong seorang anak. Tampil dengan balutan daster yang sederhana. Ada rasa lega di hati Damar melihat sosok wanita itu baik-baik saja.


"Pak Damar," sapa Nur begitu melihat atasannya berada di depannya.

__ADS_1


Damar nampak tersenyum, sebuah senyum kelegaan.


"Kok Bapak ke mari?" tanya Nur.


"E... tadi aku itu, e... ada hal penting dengan dokter poli yang ada di rumah sakit ini," ucap Damar sebagai alasan.


"Oh...aye kire sengaja mau ke mari," jawab Nur dengan polos.


"Ya... kebetulan lewat dan melihat kamu ya sudah aku samperin," lanjut Damar memupuk berbagai alasan agar tidak diketahui nur kalau dia sengaja ke rumah sakit guna menjenguk dirinya dan juga anaknya.


Entah perasaan macam apa, dua hari tidak melihat sosok yang biasa wira-wiri di ruang kerjanya. Tiba-tiba ada rasa kehilangan atau entah hanya ada yang kurang saja dalam hari kerjanya.


"hik hik hik," tangis Naufal.


"Lang! Lang!" teriak bocah itu yang dimaksud minta pulang.


"Biar aku gendong," pinta Damar.


Nur menyerahkan Naufal pada Damar karena memang bahunya sudah pegal semalaman gendongan tidak lepas dari bahu.


"Ussst ussst... ." Damar menepuk pelan bahu sang bocah yang sudah ada dalam gendongan.


Naufal langsung terdiam, dia menggelayut di bahu Damar dengan nyaman. Setelah diayun-ayun hingga 7 menitan bocah itu tertidur.


Nur tersenyum menatap anaknya yang akhirnya tidur setelah semalam suntuk tidak juga tidur.


"Masukkin ke ruang perawatan Pak," pinta Nur.


Damar mengekor langkah Nur masuk ruang tersebut.


"Kagak sih, tadi malam aye ditemenin Bang Reza, mami ame papi jagain Gajali di rumah, lah pagi tadi Bang Reza diganti ame mpok Odah. Barusan mpok Odah keluar beli camilan," jawab Nur.


Damar menatap lekat wajah Nur, "mata kamu terlihat menghitam," ucapnya kemudian.


Nur mengusap-usap matanya, semalam suntuk aye kagak tidur. Naufal rewel kagak mau tidur, minta gendong mulu," ucap Nur dan mulutnya langsung menguap.


Tangan Damar menutup mulut yang menguap itu sampai Nur tidak melanjutkan nguapnya karena malu.


Damar menurunkan tangannya, "Tutup mulutnya, nanti lalat masuk!" seru Damar dan Nur hanya nyeringis.


"Bapak, aye pan jadi malu," lirih Nur.


"Tidurlah kalau kamu ngantuk, biar Naufal aku yang jaga," titah Damar.


"Bapak kagak ke kantor?"


"E ... i-itu perusahaanku jadi aku bisa keluar masuk suka-suka," jawab Damar terbata.


Nur menyunggingkan bibirnya mendengar jawaban Damar, "sombongnya!" gumam Nur.


Damar melototkan matanya mendengar gumaman itu dan Nur sekali lagi nyeringis.


"Aye kagak jadi ngantuk."


"Kenapa?"


"Ade Bapak nyang suka melotot begitu," sindir Nur.

__ADS_1


Damar mendengus dengan jawaban Nur.


"Entar Bapak juga liat aye tertidur dengan mulut menganga," sahut Nur diikuti senyum lalu tawa.


Damar menatap lekat Nur yang sedang tertawa tanpa beban. Ada senyum di wajah Damar.


'Nur, ada apa dengan senyum dan tawamu?' batin Damar.


"Pak, Bapak jago juga gendong anak, ntuh Nopal aje langsung lelap," ujar Nur membuyarkan lamunan Damar.


"Ray itu yang jaga aku, dari kecil hingga sekarang," jawab Damar berusaha sesantai mungkin.


"Oh...," Nur mengangguk-anggukan kepala pelan.


"Kalau boleh aye tahu, orang tua Ray kemane Pak?" tanya Nur dengan hati-hati.


"Mommynya sudah meninggal dan daddynya di penjara."


"Innalilahi rojiun, maap Pak, aye kagak bermaksud mengorek hal ntuh," ucap Nur merasa tidak enak sudah bertanya hal tersebut.


Damar mengangguk.


"Ray dari bayi hingga sekarang sudah denganku, jadi kalau hanya menggendong itu hal enteng."


"Jadi, Bapak juga biasa ntuh mandiin bocah, ganti pempers, makein baju, nyuapin, nyusuin bocah, begitu Pak?"


Damar mengangguk pelan.


"Issst! Bapak hebat! Kalau ntuh entar malem Bapak aje nyang jaga Nopal," celetuk Nur.


"Benar aku yang menemani kamu jaga?" pancing Damar.


Nur nyeringis, "kagak Pak, aye cuma becanda," ucap Nur.


"Tidak bercanda juga tidak apa-apa," sahut Damar dan menatap lekat ke arah Nur.


Nur terdiam merasa nervous dipandang oleh lelaki yang duduk di hadapannya.


"Aye... aye ke toilet dulu ye Pak," seloroh Nur karena jantungnya berdetak tidak normal dan takut atasannya itu mendengar debaran jantung itu.


Damar tersenyum menatap Nur yang terlihat gugup masuk ke toilet hingga kepalanya menabrak pintu itu.


'Dasar kamu Nur, selalu saja ceroboh,' batin Damar.


Tok


tok


tok.


Pintu ruang dibuka, Damar menatap lekat ke arah sosok yang sudah ada di balik ambang pintu.


"Raditya," sapa Damar.


malam Nur nyapa🤗like komen hadiah vote rate komen komen.


Reaksi Raditya begimane ntuh?🤔

__ADS_1


__ADS_2