Janda Daster Bolong

Janda Daster Bolong
Buat Hubungan Istimewa


__ADS_3

"Terima kasih Nyonye," cekat Nur lalu bangkit dari duduknya.


"Tunggu!" teriak Melati dengan kesal.


Nur mengurungkan untuk melangsungkan kaki, pantatnya dia dudukkan kembali.


"Ingat! Jangan dekati anakku lagi!" tekan Melati.


"Gampang Nyonye, aye bakal kagak deket ame pak Damar," sahut Nur.


Melati mengambil tas branded nya ditenteng tangan kanan, dengan langkah tegap dia melangkah pergi meninggalkan Nur.


'Ternyata tebakanku tidak meleset! Wanita semacam dia hanya ingin harta dan jabatan! Aku tidak akan biarkan kamu lama di perusahaan ini! Tunggu saja surat pemberhentian kamu!' gerutu batin Melati.


Sementara Nur yang masih duduk, otaknya memutar pada cek yang ada di saku. Tangannya merogoh saku baju dan dikeluarkan cek tersebut.


"Aye apakan nih duit ye?" gumam Nur.


...****************...


Satu hari Nur mencoba menghindari untuk bersitatap dengan Damar. Dia selalu mencari alasan kalau di suruh membawa berkas ke ruang atasannya itu.


Damar terlihat kecewa ketika yang menyerahkan berkas bukanlah Nur.


Bianca menampakkan senyum semanis mungkin dan bersikap selembut mungkin tapi respon Damar ya begitu, selalu saja datar.


"Terima kasih Pak," ucap Bianca setelah berkas yang dibawanya sudah dibubuhi tanda tangan oleh Damar. Dia lalu melangkah keluar dari ruangan.


Seperti biasanya, tanpa sebuah senyum ataupun jawaban Damar membalas ucap pegawainya. Namun, anehnya hanya Nur yang dapat mengubah sikap kaku dan dingin dari sosok Damar.


"Kenapa Dam?" penasaran Sakti.


"Sepertinya... ada yang sengaja menghindari aku?!" gumam Damar.


"Apa kamu merasa seperti itu?"


"Ya lah Paman. Apa coba kalau tidak menghindar? Biasanya berkas yang mengirim dia. Satu hari itu bisa 4 sampai 5 kali masuk ruangan. Terus tadi pagi, waktu di parkiran. Paman lihat sendiri, biasanya lewat depan kenapa dia malah lewat pintu belakang?Hah!" kesal Damar kedua tangannya meraup wajah.


"O...jadi yang kamu bicarakan itu si Nur?" retoris Sakti.


"Ya lah Paman, emang siapa lagi selain dia?!" celetuk Damar dan disambut tawa kekeh dari sang paman.


"Sudahlah lupakan!" ujar Damar kemudian.

__ADS_1


Sakti masih terkekeh, "jadi kamu itu rindu nih sama Nur," ledek Sakti.


"Tidak! aku hanya... hanya_"


"Tidak usah malu, tinggal katakan iya aku rindu apa susahnya," cekat Sakti.


"Tidak!" tekan Damar.


"Ok, kalau tidak, ya sudah aku tidak jadi memberikan informasi penting mengenai Nur dan mommy kamu," ujar Sakti dan kakinya akan melenggang pergi.


"Tunggu Paman, maksud paman apa?"


Sakti memutar langkah dan segera duduk sambil menaikkan satu kaki yang bertumpu pada kaki satunya.


"Nur diberi cek mommy agar menjauhi kamu."


"Apa!" kaget Damar.


"Cek apa maksudnya Paman?


"Ya cek isi uang lah!"


"Terus Nur?"


"Aku panggilkan Nur saja untuk menjelaskan semuanya," sambung Sakti kakinya dia langkahkan untuk keluar ruangan.


"Tidak usah Paman!" teriak Damar karena pamannya sudah di ambang pintu.


"Kalau tidak, kamu bakal tidak bisa tidur memikirkan ini semua."


Dua menit berlalu, tapi pamannya belum juga muncul.


Tok


tok


tok.


Damar langsung mengarahkan pandangannya ke laptop walaupun sedari tadi matanya menatap lekat ke pintu ruangan.


"Dia sudah datang, jangan kamu cueki seperti itu. Tidak datang kamu tanyakan giliran datang kamu pura-pura tidak mengharapkan." ledek Sakti karena Nur sudah duduk diam hampir lima menit.


"Ade nyang mau Bapak tanyain?" tanya Nur dengan hati-hati karena suasana sang bos sepertinya sedang tidak bagus.

__ADS_1


"Hmmmm," dengung Damar sebagai jawaban.


"Tanye ape?"


"Pak?" panggil Nur karena Damar tetap memandang ke arah laptop.


"Kita keluar saja Nur," ajak Sakti.


"Paman!" cekat Damar membuat Sakti tersenyum karena gertakannya berhasil.


"Kemarin... mommy menemui kamu?" tanya Damar atau lebih tepatnya awal interogasi pada Nur.


Nur mengangguk pelan.


'Begimane pak Damar bisa tahu? Tapi kagak heran deh, die pan punya banyak mata,' batin Nur.


"Apa yang mommy lakukan nama kamu?"


Die ngasih cek," jujur Nur.


"Kamu terima?"


"Ye lah, aye terima apalagi syaratnye gampang bener. Cume suruh jaga jarak ame Bapak."


Damar melotot ke arah Nur dan mengeratkan gigi atas dan bawahnya.


Nur nyeringis, menangkap dua tangan sejajar dada, "Aye salah Pak?" tanya Nur dengan lirih.


"Benar!" jawab singkat Damar.


"Ye, Nur dilawan. Pastilah ape nyang aye putusin ntuh tepat!" seloroh Nur menepuk dada merasa bangga dan menampilkan gigi putihnya.


"Benar-benar mater!" sambung Damar membuat Nur menarik senyum di wajahnya.


"Aye bukan matre Pak, tapi aye realistis. Aye pan kagak ade hubungan istimewa ame Bapak, kalaupun mommy bapak meminta aye buat ngejauh dari Bapak, pan kagak ade pengaruhnye buat hidup kite," jawab Nur.


"Kalau begitu buat hubungan istimewa!" lirih Damar.


"Ape Pak?" tanya Nur merasa kurang jelas apa yang terlontar dari mulut atasannya.


malam nyapa nih πŸ€— kasih like komen hadiah vote rate komen πŸ™πŸ˜πŸ₯°


Bakalan jawab ape nih Damar?🀭

__ADS_1


__ADS_2