
Melodi menatap tajam ke arah Nur yang baru saja keluar dari mobil Damar. Lalu Melodi masuk ke mobilnya dan duduk di samping kursi pengemudi.
"Kamu lihat Dit. Nur sangat murahan! Dia bela-belain jual diri agar dekat dengan Damar! ujar Melodi penuh dengan kedengkian.
Raditya hanya diam menanggapi ucapan Melodi tapi matanya yang sedari tadi tidak lepas dari pandangan ke arah Nur. Ada rasa tidak rela melihat Nur akrab dengan Damar sampai-sampai di jam kerja keluar satu mobil dengan atasannya itu.
"Kita jalan Dit!" titah Melodi setelah Damar dan Nur sudah masuk ke kantor.
"Raditya!" ulang Melodi sambil berteriak.
"Kamu tidak sedang menatap Nur kan sampai aku panggil-panggil tidak nyahut!" kesal Melodi, menarik bahu Raditya sambil memukulnya.
"Lepas Mel!" seru Raditya menampik tangan Melodi lalu membenarkan lengan baju yang terlihat berantakan.
Napas Melodi naik turun, "awas kalau sampai kamu...! Kamu ketahuan masih ada rasa dengan Nur!" ancam Melodi dengan penuh emosi.
Raditya mengempaskan napasnya. "Terserah kamu mau bilang apa!" sahut Raditya dengan kesal dan tidak ingin berdebat panjang dengan Melodi.
Mobil pun melaju.
"Jangan kencang-kencang Dit!" bentak Melodi karena Raditya tidak seperti biasanya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Raditya tidak peduli, dengan kecepatan100 km per jam, pedal gas semakin dalam diinjak hingga kecepatan itu bertambah.
"Raditya! Kamu gila apa?!" Rona wajah Melodi begitu takut tangannya sampai berpegangan pada hand grip agar posisi duduknya tidak bergeser.
"Raditya...!" teriak Melodi.
Ciittttttttt.
Napas Melodi tersengal-sengal, menatap ke depan mobil. Ada seorang yang berdiri mengumpat karena hampir tubuhnya tertabrak.
Raditya sebenarnya juga merasakan hal yang sama, tidak kalah shock. Namun dia harus keluar menemui sang bapak yang masih berdiri di depan mobil.
"Maaf Pak!" ucap Raditya menangkupkan dua tangannya.
"Maap maap! Lu udeh buat jantung gue hampir copot! Mentang-mentang pakai mobil mewah, naek seenaknye! Nih jalan umum bukan jalan engkong lu!" omel si bapak tua yang hendak menyeberang jalan itu.
"Ya Pak, saya minta maaf. Ini sebagai permintaan maaf, bapak silahkan beli minum," ujar Raditya menyelipkan satu lembar uang kertas berwarna merah bergambar presiden dan wakil presiden pada zamannya.
Si bapak menarik uang dari sakunya. "Udeh belagu! Pelit lagi! Duit segini aje banggain!" umpat si bapak lalu tangan kirinya merogoh saku celana dan mengambil satu ikat uang dengan pita dari sebuah bank.
"Tapi lumayanlah buat tambah-tambah," selorohnya kemudian pergi melangkahkan kaki.
"Ingat Bung! Jangan ugal-ugalan! Sayangi nyawa lu nyang cume ade satu!" ujar si bapak sebelum benar-benar pergi dari hadapan Raditya.
__ADS_1
Mobil itu kembali melaju dan 15 menit setelah itu mobil masuk ke garasi rumah mewah di salah satu perumahan elit.
Melodi jalan ngeloyor masuk ke kamar. Raditya terlihat berjalan mengekor di belakangnya.
Saat Melodi melepas sepatu dan hendak menaruh di dalam wadahnya, tidak sengaja dia menemukan sebuah kertas yang dimungkinkan struk belanja. Tangan Melodi meraih struk tersebut dan matanya tidak berhenti membaca tiap barang yang ada dalam daftar pembelian.
Muka Melodi terlihat merah padam setelah membaca struk tersebut. Kakinya berjalan cepat ke arah Raditya yang hendak masuk ke toilet.
"Ini apa?! Jelaskan padaku!" teriak Melodi, memberikan struk itu pada Raditya.
Raditya membaca struk tersebut, mulutnya terdiam dan firasatnya berkata bakal ada perang besar.
"Kamu bisu hah! Jelaskan!" bentak Melodi.
"Aku beli mainan untuk anak-anakku," jawab Raditya.
"Bagus! Kamu berdalih beli mainan padahal hendak menemui ibu dari anak-anak! Begitu cara kamu?!"
"Please Mel, saat itu aku keluar bertemu klien di tengah jalan kamu malah meminta turun dan hendak menemui teman-teman kamu. Setelah bertemu klien aku lihat ada banyak mainan bagus di sebuah anchor di salah satu mall, ya sudah aku beli karena ingat dengan anak-anakku," terang Raditya.
"Aku sudah lama tidak menemui mereka," lanjut Raditya dengan suara melemah.
"Alasan! Itu hanya alasan kamu! Oh! Aku tahu! Kamu mendekati anak-anak kamu, membujuk mereka agar kamu bisa kembali pada wanita gembrot itu kan?!" sahut Melodi masih dengan emosi.
"Mau aku jawab seperti apa, pasti kamu tidak akan percaya apa yang aku ucapkan," sambung Raditya lalu kakinya melangkah masuk ke dalam toilet kamar.
Napas Melodi tersengal-sengal penuh dengan amarah. Dia berjalan dan duduk di atas kursi rias. Alat dan produk make up yang berjejer rapi di sapu bersih dengan tangan Melodi hingga suara benda-benda jatuh menggema hingga masuk toilet kamar.
"Kamu selalu seperti itu Mel, tidak bisakah kamu sedikit saja percaya padaku? Berikan rasa nyaman padaku walau itu sejenak. Kamu sangat berbeda jauh dengan Nur. Dia wanita yang lembut, tidak pernah membentakku, wanita yang mengerti kebutuhanku, wanita yang menerimaku apa adanya, dan bisa membagi uang bulanan yang aku berikan," gumam Raditya, tubuhnya beringsut ke lantai.
Lima belas menit berlalu, Raditya keluar dari toilet kamar. Matanya menatap kamar yang berubah seperti kapal pecah, lalu mata Raditya beralih pandang pada sosok wanita yang rambutnya terlihat berantakan, riasan wajah terlihat luntur karena derai air mata yang masih juga membekas di pipi. Wanita itu duduk terdiam di tepi ranjang. Raditya mencoba mendekat.
"Maafkan aku," ucap Melodi wajahnya menengadah menatap Raditya yang masih berdiri di depannya.
Tangan Raditya menyeka sisa air mata Melodi. Kepala Raditya mengangguk pelan.
"Aku juga minta maaf," jawab Raditya.
Tubuh Melodi langsung memeluk pinggang Raditya. "Aku akan izinkan kamu untuk menemui anak kamu," ujar Melodi.
Wajah Raditya langsung berbinar, "Benar itu sayang?" retorisnya karena terlalu tidak percaya apa yang baru dia dengar dari mulut Melodi.
Melodi melepas pelukannya, kemudian mengangguk pelan. Raditya langsung duduk di samping Melodi dan sekilas mengecup ranum bibir sang istri.
"Terima kasih sayang," ucap Raditya masih dengan wajah yang begitu gembira.
__ADS_1
"Kalau bisa, bawa saja anak itu ke rumah ini, lanjut Melodi.
"Tidak apa-apa sayang?"
Melodi tersenyum mengangguk.
"Biar dia akrab denganku dan dengan kamu Dit. Setelah itu kamu mengajukan hak asuh mereka agar berpindah ke tangan kita," seloroh Melodi membuat senyum yang terlihat di wajah Raditya langsung ditarik.
"Itu tidak mungkin!" ujar Raditya.
"Kenapa tidak mungkin?" sahut Melodi dengan nada yang mulai naik satu oktaf.
"Mereka sudah menjadi hak asuh Nur. Jadi, mana mungkin aku ambil alih hak tersebut."
"Mungkin saja. Kita buat sebuah alasan untuk merebut mereka," terang Melodi.
"Tidak! Aku tidak mungkin melakukan itu! Ini juga menyangkut psikologis anak-anakku!"
"Kalau begitu, jangan pernah temui mereka!" ancam Melodi, kakinya melangkah cepat masuk ke toilet kamar dan menutup pintunya dengan keras.
...****************...
"Nur ini ada telepon!" teriak Fatimah sambil menggedor kamar Nur.
Kebiasaan Nur, kalau mengisi baterai ponsel di luar kamar, sampai ponsel berdering pun dia tidak dengar
"Ye Mi," jawab Nur dengan suara khas orang tidur.
"Kebiasaan kamu Nur, kalau nidurin Naufal ya sekalian kamu tidur." ucap Fatimah.
Nur hanya nyeringis mendengar ucapan maminya.
"Assalamualaikum, ade ape Bang?" sapa dan tanya Nur setelah menyambungkan panggilan dari abangnya.
"Ade... orang nih, mau temu ame kamu," jawab Reza yang ada di sebrang sana.
"Nape kagak ke rumah aje?"
"Katanye mau di lapak abang dulu, entar kalau udah dari lapak bakal mampir ke rumah," terang Reza.
"Ribet banget sih, siape die?" kesal Nur.
Reza sedikit lama menjawab karena menanyakan nama dari si tamu.
"Bos kantor kamu, Pak Damar," jawab Reza dan sukses membuat Nur membelalakkan mata.
__ADS_1
malam nyapa nih🥱🥱🥱tetep kasih dukungan ye mpok, like komen hadiah vote rate komen komen loh 🙏😘😘
Ape nyang dilakukan Damar ye?