Janda Daster Bolong

Janda Daster Bolong
Selain Nur


__ADS_3

Hati Nur seakan tersayat. Sekian lama Gazali tidak pernah menanyakan sosok Papa sekarang dengan tiba-tiba dia menanyakan keberadaan laki-laki itu.


Nur jongkok, menyejajarkan tingginya dengan Gazali. "Papa lagi kerja, nanti kalau papa kagak sibuk pasti maen ke sini buat nemui Gajali," jawab Nur sambil membelai rambut anaknya.


"Gajali ame Oma dulu ye, Mama mau salat Magrib.


Anak itu mengangguk. Nur melangkah masuk ke dalam.


...****************...


Raditya menatap Melodi yang sedang bersenandung ria sambil menyentuh keyboard sesekali menatap layar laptopnya. Raditya mendekat ke arah Melodi.


"Sepertinya kamu sedang bahagia sayang," bisik Raditya.


"Kamu pintar menebak sayang," sahut Melodi tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Kira-kira apa yang membuat kamu sebahagia ini?" tanya Raditya setelah sekilas mengecup ranum bibir sang istri.


"Kamu ingin tahu?" tanya Melodi.


Raditya mengangguk lalu mengangkat dua alisnya.


"Menggertak wanita gembrot itu!" jawab Melodi diikuti tawa menggelegar.


Raditya terdiam, "maksud kamu?" tanyanya kemudian.


Melodi menghentikan tawanya lalu menoel hidung sang suami, "kejutan kecil buat wanita gembrot! Ya... walaupun rencana itu tidak mulus tapi terhitung sedikit berhasillah," ucap Melodi kembali dia tertawa.


Raditya nampak terkejut, "Kamu melakukan apa? Jangan suka berbuat nekat!" sahut Raditya karena dalam hatinya terbesit sebuah kekhawatiran pada seseorang yang dimaksud oleh Melodi.


"Hei sayang, wajah kamu biasa saja dong, seperti mengkhawatirkan kekasihnya," sindir Melodi dan hatinya sebenarnya penuh emosi mengatakan kalimat itu.


"Kamu jangan main-main Mel! Hentikan kegilaan kamu! Jangan cari gara-gara!" sahut Raditya dengan menahan emosi.


"Wow wow!" Melodi bertepuk tangan. "Sangat menarik, kamu bilang aku cari gara-gara? Hah! Dengan kata lain kamu menyalahkan aku dan membela wanita gembrot itu?! Hah?!" suara Melodi meninggi.


"Aku tidak ingin berdebat dengan kamu dan aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau sampai kamu bermasalah karena hal itu!" sungut Raditya lalu keluar dari ruangan.


"Brengs*k!" teriak Melodi sambil menggebrak meja kerjanya.


Raditya melangkah dengan kesal berjalan sembarang asal kekesalannya sedikit berkurang.


Raditya menghentikan langkah di kantin kantor. Matanya berhenti memutar ketika sesosok Nur dalam jangkauan pandangannya.


"Siang Bang," sapa Nur melewati Raditya.


"Tunggu Nur!" cekat Raditya hingga Nur menghentikan langkahnya.


Raditya memutar kakinya mendekat ke arah Nur. Mata Raditya menatap lekat wajah Nur.


"Bibir kamu kenapa?"


Nur menutup sudut bibirnya dengan jari telunjuk.

__ADS_1


"Oh... kemarin, kejedot pintu," jawab Nur asal.


"Aye permisi dulu Bang," pamit Nur.


Raditya melayangkan pandang hingga sosok mantan istri itu tak terlihat karena tertutup dinding-dinding yang dilewatinya.


Raditya mengempaskan napasnya kasar. Otaknya langsung menyimpulkan siapa pelaku yang membuat sudut bibir Nur memar.


"Melodi! Kamu semakin menjadi-jadi!" gerutu Raditya, tangannya mengepal menahan emosi.


Sementara itu, Melodi sekarang berada di ruang kerja Damar karena salah satu pegawai memanggilnya agar menghadap ke Damar.


Damar menatap lekat ke arah Melodi. Sedangkan Melodi tampak tenang dengan kaki yang menyilang dan matanya memutar isi ruangan.


"Apa anda memanggil saya hanya untuk didiamkan di sini?" lontar Melodi.


Damar menarik sudut bibirnya mendengus mendengar lontar dari Melodi. Dia sengaja diam agar Melodi berucap terlebih dahulu.


"Apa yang kamu lakukan pada Nur?" tanya Damar atau tepatnya sebuah intimidasi yang baru dimulai oleh Damar.


Melodi tertawa mendengar pertanyaan yang terlontar dari Damar, "maksud anda apa?" lempar tanya Melodi.


"Apa perlu aku sebutkan satu persatu betapa piciknya kamu!?" geram Damar.


Melodi kembali tertawa, "Tidak anda, tidak Raditya kenapa tergila-gila dengan wanita gembrot itu?! Apa istimewanya dia!" Melodi melototkan matanya.


Damar menatap tajam ke arah Melodi. "Apa perlu aku laporkan kelakuan kamu yang tidak bermoral ini pada om Sudira?!" ancam Damar.


"Silahkan!" tantang Melodi.


Melodi sekali lagi tertawa, lalu berhenti dan membalas tatapan tajam ke arah Damar, "Kamu kira Daddy aku akan percaya begitu saja apa yang kamu laporkan?" tekan Melodi mendekat ke arah Damar dan membenarkan kerah baju Damar walau sebenarnya kerah itu dalam posisi rapi.


Damar menepis tangan Melodi.


"Kamu jangan kurang ajar dengan atasanmu!" sela Sakti.


"Maaf! Ini antara aku dan Damar! Jadi seorang seperti kamu cukup diam saja!" sahut Melodi.


Sakti mengepalkan tangan dan akan melayangkan kepalan itu ke arah Melodi. Namun, Damar mengisyaratkan agar pamannya mengurungkan niatnya. Sakti memilih diam menurut apa yang diminta keponakannya.


"Jaga kekasihmu itu," bisik Melodi tepat di telinga Damar.


"Aku tidak akan biarkan kamu menyentuhnya kembali!" ancam Damar.


"Aku suka gaya kamu! Satu hal lagi, ingatkan agar kekasihmu itu tidak jelalatan melirik suami orang!" lanjut Melodi menekankan tiap kata yang terucap dari mulutnya.


"Kalau sudah mengumpulkan bukti, langsung serahkan ke Daddy, ok!" pungkas Melodi sebagai bentuk tantangan, kakinya kemudian melangkah pergi.


Damar mengempaskan napasnya, meraup wajahnya.


Sakti mendekat dan duduk di depan meja kerja Damar.


"Wanita itu benar-benar licik!" Satu bukti pun tidak kita temukan dari kelakuan tidak bermoral bahkan masuk kriminal itu!" ujar Sakti.

__ADS_1


"Untung saja, dulu kamu tidak menerima perjodohan dengan wanita semacam dia," lanjut Sakti dan bahunya bergidik membayangkan seandainya dulu keponakannya menerima perjodohan itu.


"Namun, dari percakapan atau bisa dibilang perdebatan sengit antara kamu dengan Melodi dapat paman simpulkan. Kamu sudah terperangkap!" ujar Sakti mengeja kata ter- pe- rang-kap.


Damar diam tidak menanggapi ucapan Sakti.


"Kamu tidak tanya maksud terperangkap itu?" ujar Sakti karena keponakannya tidak juga menanyakan maksud kata terperangkap yang dirinya lontarkan.


"Tidak penting!" jawab Damar lalu tangannya bergerak mengambil berkas yang ada di atas meja.


"Issst! Kaku! Kamu tidak asik!" kesal Sakti.


"Terperangkap cinta dengan sosok Nur," sambung Sakti dengan tawa menyertainya.


"Tidak ada yang lucu Paman!" cekat Damar.


"Sebaiknya paman segera ke ruang kerja departemen marketing untuk mengambil berkas yang sudah aku tanda tangani," titah Damar.


"Ok! Aku akan segera panggil Nur, sepertinya kamu sudah merindukannya," sahut Sakti dengan senyum lalu melangkah pergi.


"Selain Nur paman!" cekat Damar ketika Sakti masih di ambang pintu.


"Harus Nur," sanggah Sakti lalu menutup pintu ruangan.


Pintu ruang kembali dibuka.


"Ada apalagi Paman?! Aku bilang selain Nur!" ujar Damar tanpa menolehkan pandangannya dari layar laptop.


"Nape selain aye Pak?" tanya seseorang yang jelas itu suara dari nama yang disebut Damar.


Damar mengalihkan pandangan menatap wanita yang melangkahkan kaki, berhenti, dan berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Oh, ka- kamu Nur," ucap Damar, entah kenapa suaranya menjadi terbata.


"Aye mau ambil berkas," ucap Nur.


"Ini!" Damar menyodorkan berkas yang diminta Nur dengan segera.


Nur menerima berkas itu, "Aye mau tanya dulu boleh?" ujar Nur.


"Tanya apa!" ketus Damar entah kenapa hatinya was-was kalau Nur menanyakan maksud ucapannya yang mengatakan 'selain Nur'.


"Tadi nape Bapak meminta selain Aye? Maksudnye apa?" tanya Nur.


Deg.


'Ini orang mengapa benar-benar menanyakan itu?' batin Damar.


"Pak," panggil Nur karena Damar hanya terdiam dengan pandangan menerawang.


"Oh, itu, aku... aku kira kamu tidak ke kantor, jadi selain kamu yang ambil berkas ini," jawab Damar sebagai alasan.


"Bapak ade-ade aje. Tadi pagi di lobby kite pan papasan," lirih Nur dan tanpa mendengar atau melihat reaksi Damar Nur segera keluar ruangan.

__ADS_1


malem Mpok...maaf Nur baru nyapa nih, jangan lupa, tetep kasih like, komen hadiah vote rate komen komen komen loh πŸ˜πŸ˜πŸ™πŸ₯°πŸ˜˜


Waduh nape ntuh si Damar?🀭


__ADS_2