
Nur duduk di samping Damar. Bagi dirinya, makan malam kali ini tidak ada bedanya makan malam dengan para zombie. Mereka berdua, yang duduk di samping kanan dan seberang Nur hanya diam tanpa sepatah katapun keluar dari mulut hanya dentingan sendok dan piring yang menjadi pertanda mereka sedang makan bersama..
'Kalau aye bawa anak pasti kagak canggung gini suasananye. Lagian nape mas Damar kagak bolehin bawa mereka?' gerutu batin Nur.
Mommy Damar bangkit kemudian melangkah ke arah kamarnya.
Mata Damar dan Nur berhenti menatap ketika tubuh wanita itu masuk ke dalam kamarnya.
"Mommy marah Mas?"
Damar diam tidak langsung menyahuti pertanyaan Nur tapi hatinya sebenarnya sangat bergejolak dengan perlakuan sang mommy.
'Kalau tidak suka kedatangan kita, kenapa tidak langsung usir saja dari pada diajak makan malam tapi akhirnya diperlakukan seperti ini!' gerutu batin Damar.
"Mas, mommy marah?" ulang Nur.
Panggilan mas memang disematkan pada Damar setelah mereka resmi menikah. Nur tidak ingin memanggil suami dengan sebutan abang, karena sapaan abang membuatnya teringat pada perbuatan sang mantan suami yang telah mengkhianatinya. Dia berharap pernikahan yang kedua adalah pernikahan yang terakhir dalam hidupnya.
"Kita pulang saja!" titah Damar tanpa menjawab tanya dari Nur.
"Sabar nape Mas, kagak boleh gitu. Kite tunggu bentar, barangkali mommy masuk ke kamar karena pengen ke toilet," bujuk Nur.
Damar mengurungkan niat, pantatnya kembali didudukkan.
"Aku sudah katakan sama kamu, jangan dengarkan paman Sakti. Pada akhirnya akan berujung seperti ini," kesal Damar.
Suara pintu yang dibuka mengalihkan pandangan Damar dan Nur.
Terlihat mommy Damar melangkah kembali ke meja makan. Kali ini mommy mendekat ke arah Nur dan memberikan sebuah benda pada Nur.
Nur terperangah melihat benda yang kini di tangannya.
"Buat kamu," ucap mommy.
"Mommy belum memberi hadiah pernikahan kalian," lanjut mommy.
"Damar sekilas menatap benda yang ada di tangan Nur dan dia tahu benda itu barang mahal dan dapat dipastikan keasliannya.
"Terima kasih sudah hadir dalam kehidupan Damar. Cintai dia dengan tulus. Dia satu-satunya anak mommy. Mommy minta maaf atas semua kesalahan yang selama ini mommy lakukan," ujar mommy dengan lembut.
Damar menundukkan pandangannya, matanya terasa berat menanggung bongkahan cairan yang tiba-tiba menumpuk di pelupuk mata setalah mendengar ucapan dan tindakan mommynya. Selama hidupnya, dia baru mendengar mommynya berkata penuh dengan kelembutan.
"Maafkan mommy Dam." Pandangan mommy beralih ke anaknya.
__ADS_1
Sebelumnya paman Sakti sudah berbicara panjang lebar mengenai kondisi mommynya tapi saat itu Damar tidak seratus persen percaya apa yang dikatakan pamannya. Kondisi kesehatan, kondisi perusahaan yang dikelola mommynya, bahkan kondisi hatinya.
"Percayalah Dam, mommy kamu sudah berubah. Kamu juga harus berubah. Saling memaafkan akan lebih baik dari pada menyimpan dendam," ujar paman Sakti sore tadi.
"Selama ini, dia bekerja keras hanya untuk kamu dan juga memikirkan ribuan pegawainya agar tidak ter-PKH. Makanya dia bekerja mati-matian melakukan itu semua," lanjut paman Sakti dan Damar kala itu hanya terdiam tidak dapat berkata-kata walau hatinya tetap meragukan apa yang disampaikan pamannya.
Mommy berjalan ke arah Damar, mendekati anaknya yang masih duduk di kursi lalu meraih kepala Damar yang masih tertunduk.
Damar langsung menghambur memeluk perut mommynya, menenggelamkan wajahnya dalam-dalam. Ini yang dia rindukan, pelukan hangat dari seorang mommy. Saling bicara bukan mendiamkan.
"Maafkan Damar Mom" lirih Damar, tapi jelas terdengar oleh mommy.
"Mommy yang harusnya minta maaf Sayang," sahut mommy.
Nur tersenyum haru melihat momen seorang ibu dan anak yang saling menyatakan rindu dan terucap saling maaf dari keduanya, mengakui kesalahan masing-masing.
"Dam, Mommy pengen lihat kamu yang memakaikan kalung itu di leher Nur," ujar mommy setelah melepas pelukannya.
Damar mengangguk lalu mendekat ke arah Nur dan memakaikan kalung dengan liontin bertahtakan berlian.
"Kenapa hanya Nur yang dikasih Mom? Mommy tidak kasih hadiah untuk anak Mommy sendiri?" canda Damar.
Mommy tersenyum lebar mendengar seloroh Damar.
"Anak Mommy sudah Mommy kasih yang lebih special," jawab mommy.
Mommy mengangguk, "Perusahaan Mommy sekarang atas nama kamu. Mommy pensiun dan akan mengurus cucu-cucu mommy saja," ucapnya.
"Bukankah seperti itu Nur?" mommy mengarahkan pandangan ke arah Nur, bibirnya masih menampilkan senyum bahkan senyum itu semakin merekah.
Nur nyeringis mendapat lontar pertanyaan dari mommy Damar.
"Ye," jawab Nur lirih, pandangannya beralih ke arah sang suami tapi seketika dia tundukkan karena matanya tidak kuat kalau harus bersitatap dengan lelaki tampan bak pangeran kahyangan.
"Ada yang kamu sembunyikan Nur?" tanya Damar merasa curiga dengan lontar jawab dua wanita di depannya.
Nur nyeringis kembali, kepalanya menggeleng namun dengan cepat mengangguk.
"Ya atau tidak?" sergah Damar.
"Aye... aye hamil Mas," lirih Nur.
Mata Damar membulat. Terkejut antara bahagia dan kesal.
__ADS_1
Bahagia karena ini yang dia nantikan, hadirnya seorang anak. Kesal karena Nur tidak memberitahukan kabar bahagia itu pada dirinya secara cepat.
"Mommy dulu yang kamu kasih tahu?!"
Nur mengangguk tidak lupa dengan ceringisnya yang membuat Damar semakin kesal dan juga gemas.
"Jangan marah dengan Nur, kemarin itu tidak sengaja Nur pingsan dan Mommy memanggil dokter keluarga. Setelah diperiksa ternyata Nur sedang hamil trimester pertama."
"Kamu juga tidak menceritakan ini?" Damar mengangkat dua alisnya menatap tajam ke arah Nur.
"Maaf," lirih Nur.
"Kalau kamu kenapa-napa bagaimana Sayang? Di dalam perut kamu ada benih cinta kita," ujar Damar melemah lalu mengelus perut rata Nur.
"Ye, maap," jawab Nur merasa kaget dengan kecemasan yang tergambar di wajah Damar
Damar lalu meraih tubuh Nur dan langsung memeluknya.
"Mas jangan marah," ujar Nur.
"Aku tidak bisa marah, di dalam perut kamu sekarang ada anak kita, bagaimana aku memarahi kamu? Nanti kamu sedih dan anak kita ikutan sedih," terang Damar.
"Terima kasih Mas," ucap Nur.
"Aku yang seharusnya berterima kasih pada kamu Nur," sahut Damar tanpa melepas pelukannya.
"Mommy dicueki nih?" ledek mommy Damar.
Nur sedikit mendorong tubuh Damar agar melepas pelukannya.
"Maap Mom," ujar Nur.
"Mulai besok, tinggallah di rumah ini. Mommy kesepian tidak ada yang ngajak Mommy bicara."
Damar menatap kearah Nur seakan isyarat meminta persetujuan dari dirinya.
Nur mengangguk dengan melayangkan sebuah senyum kecil.
"Ya Mom," jawab Damar.
TAMAT
terima kasih sudah baca karya recehku. jangan unfavorit ya biar ada novel baru kalian tahuπ
__ADS_1
banyak sekali kekurangan dari novel ini, mohon tetap kasih masukkan π
lope lope buat kalian ππ₯°ππ