Janda Daster Bolong

Janda Daster Bolong
Terbakar Cemburu


__ADS_3

Nur nyeringis, "Ye, nanti aye ikut," lirih Nur dan jawaban Nur sukses membuat senyum tercetak di wajah Damar.


Setelah selesai dengan potong kuku dan tanda tangan berkas, Nur keluar ruangan, Damar mengekor langkah Nur.


"Aku tunggu di parkiran," ucap Damar sebelum Nur melangkah ke ruang kerjanya.


Damar duduk di kursi belakang, sesekali menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan.


'Itu orang lama sekali!' batin Damar matanya tidak henti beralih dari jam tangan dan luar jendela.


"Sabar Dam, Nur pasti datang kok," sindir Sakti yang tahu ponakannya sudah tidak sabar menunggu sang pujaan hati.


Sementara Nur yang masih ada di ruang kerjanya malah asik melanjutkan tugasnya dan sesekali mengobrol dengan rekan kerja.


'Uji coba kesabaran,' batin Nur mengingat ajakan dari Damar.


'Baru juga 7 menit kalau kagak sabar, itu artinya poin turun,' lanjut batin Nur.


Tujuh, 8, 13, hingga lima belas menit Nur baru menampakkan diri.


Bersikap seperti biasa seolah tidak ada hal yang perlu dipersalahkan dari kesalahan yang sengaja dia buat.


"Maaf Pak, perut aye mules makanye semedi di toilet dulu," ucap Nur setelah masuk dan duduk di samping Damar.


"Hmmmm," dengung Damar sebagai jawaban.


"Padahal pangeran sudah tidak sabar ingin duduk berdampingan dengan sang putri, kenapa sang putri datangnya begitu lama?" canda Sakti.


"Jalan Paman!" titah Damar tanpa menyahuti candaan yang terlontar dari sang Paman.


"Baik Pangeran," sahut Sakti masih dengan candanya.


Mobil itu pun bergulir membelah jalanan. Menapaki setiap jalan demi jalan.


Nur melirik ke arah Damar yang masih diam tanpa suara.


"Bapak marah ye nunggu aye kelamaan?" tanya Nur atau tepatnya tes uji cobanya sedang Nur jalankan.


Damar diam tidak menyahuti ucapan Nur, matanya fokus menatap layar ponsel yang ada di tangannya.


"Berarti kalau marah, poinnya aye turunin," sambung Nur dengan lirih.


Damar langsung menoleh ke arah Nur dan menatap tajam ke wanita yang selalu membuatnya gregetan tapi juga membuatnya tak bisa memalingkan rasa cinta. Dua pasang mata saling bersitatap tapi sepersekian detik Nur langsung mengalihkan pandangan.


'Aku tidak kuat kalau bersitatap lama dengan kamu Pak,' batin Nur.


Damar menarik sudut bibirnya membentuk, sebuah senyum.


"Poin diturunkan? Maksudnya, kamu tidak menolak cintaku tapi masih mempertimbangkan?"


Deg.


'Duh bocor banget nih mulut!' batin Nur dan tangannya bergerak memukul pelan dan bertubi-tubi mulutnya.

__ADS_1


'dan otak! Nape lu kagak berfungsi normal?!' sambung Nur mengumpat dirinya.


"Bapak jangan salah tanggep itu...itu_"


"Katakan saja ya Nur jadi kamu tidak cari alasan yang sulit untuk kamu ucapkan," potong Sakti


Damar masih mengarahkan pandangan mata menunggu kelanjutan ucapan dari Nur.


Nur yang tidak berani menatap lebih lama hanya sekilas menatap lalu mulutnya bergerak menjawab ucapan Sakti, "Ye, aye masih pertimbangin cinte Bapak," lirih Nur membuat mulut Damar menahan sebuah senyum.


"Terima kasih," ucap Damar dan tangannya akan bergerak mengusap pucuk kepala Nur tapi dengan cepat Nur memundurkan kepalanya.


"Poin kembali turun kalau Bapak berani sentuh Nur seenaknye!" ucap Nur.


Bukan marah tapi Damar semakin yakin akan cintanya pada wanita model Nur.


Akhirnya setelah 45 menit mereka sampai di sebuah tempat produksi.


Damar cs disambut mandor lapangan.


"Maaf Pak, Tadi Pak Dion baru saja pergi. Katanya terlalu lama menunggu Bapak, beliau juga ada urusan lain," lapor si mandor.


Damar tetap berjalan melihat hasil produksi tanpa menjawab laporan dari mandor.


Deg.


'Ya Allah ternyata Pak Damar sudah janjian dengan seseorang. Aye jadi merasa bermasalah, gara-gara aye sengaja molor-molorin datang ke mobil. Pak Damar gagal bertemu dengan rekan kerjanya. Payah lu Nur!' umpat batin Nur.


Nur berjalan mengekor Damar sesekali ikut memukul pelan beton hasil produksi.


Pegawai-pegawai produksi juga tidak luput dari bidikan fotonya. Hobi yang sempat terkubur sebagai seorang fotografer seperti muncul dengan tiba-tiba.


"Bang..., permisi aye ambil beberapa jepretan ye," pamit Nur dan dijawab semangat oleh beberapa dari mereka yang semuanya laki-laki.


Damar menatap interaksi Nur dengan pegawai produksi yang terlihat sangat antusias. Ada desir cemburu tapi ada juga rasa salut Nur membaur cepat dan akrab dengan mereka.


"Mbaknya juga ikut poto dong," ucap salah satu mereka dan ditanggapi dengan oleh Nur, alhasil Nur berada di tengah-tengah lelaki-lelaki muda yang rata-rata terlihat bertubuh tegap dan kuat.


Damar melangkah mendekat, perasaannya sekarang lebih dominan tidak rela alias cemburu karena wanitanya berada di tengah-tengah mereka. Tiba-tiba Damar berdiri di samping Nur dan menarik bahu Nur agar tidak dekat dengan lelaki lain.


"Tangan Bapak! Atau poin turun!" ucap Nur dengan lirih mengingatkan hal yang dapat menurunkan poin.


Damar tidak menanggapi ucapan Nur, tangannya tetap bergelayut di bahu Nur dan dengan kuat Nur melepas tangan Damar.


"Ambil beberapa jepretan!" titah Damar dan diiyakan oleh seseorang yang dari tadi memoto momen kebersamaan Nur dengan pegawai produksi.


Setelah beberapa jepretan diambil, seorang pemoto tadi menyerahkan ponselnya ke Nur.


Para pegawai langsung melanjutkan pekerjaan tanpa perintah karena merasa komando tertinggi berada di antara mereka.


"Lain kali jangan asal Foto dengan orang!" gerutu Damar, melanjutkan langkah kakinya untuk melihat hasil produksi tanpa menunggu jawaban Nur.


"Issst! Siape juga nyang asal poto dengan orang! Aye pan poto ame para pegawai!" sungut Nur sambil mengarahkan kepalan tangan pada lelaki yang sudah berjalan jauh darinya.

__ADS_1


"Dia cemburu Nur," lirih Sakti lalu berjalan cepat meninggalkan Nur untuk mengejar langkah Damar.


Nur hanya mencibirkan bibirnya mendengar penuturan Sakti.


Damar meminta Sakti mengakhiri pengecekan di tempat produksi setelah 30 menit mereka di sana.


Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kantor perusahaan.


"Mana ponselnya!" pinta Damar.


"Ponsel siape?" tanya Nur.


"Ponsel kamu!"


Nur menyerahkan ponselnya tapi tetap dia pegang erat ponsel itu.


"Lepas!" titah Damar karena Nur memegang ponsel miliknya dengan kencang.


"Buat ape sih Pak?!" kesal Nur dan terpaksa melepaskannya.


"Sandinya apa?" tanya Damar karena tidak dapat mengakses ponsel yang sudah berada di tangannya.


"Tanggal lahir aye!" jawab Nur dengan kesal dan berharap lelaki di sampingnya tidak dapat membuka layar ponselnya.


Damar dengan cepat menggerakkan jemari untuk mengetik beberapa digit angka dan layar ponsel pun terbuka.


"Loh Bapak hapal tanggal lahir aye?" heran Nur.


"Apa yang dia tidak hafal mengenai kamu Nur," sela Sakti yang mendengar semua percakapan mereka.


Nur memanyunkan bibirnya melihat Damar tanpa menyahuti ucapannya malah berseluncur di layar ponsel dan menghapus beberapa foto dirinya dengan para pegawai produksi.


"Issst! Nape dihapus Pak!" kesal Nur melihat beberapa foto itu telah terhapus.


"Yang ini sudah mewakili pose foto itu, bahkan lebih bagus!" ucap Damar sambil menunjukkan foto Nur dengan para pegawai yang tentunya ada dirinya.


Nur semakin memanyunkan bibirnya.


"Dasar! Bos kagak ade akhlak!" gerutu Nur lalu melipat tangannya dan memandang asal keluar jendela.


Damar hanya menanggapi sebuah senyum kecil melihat wanitanya kesal.


"Apakah yang ini juga menurunkan poin?" tanya Damar dengan hati-hati.


Nur mengalihkan pandangan ke arah Damar.


"Jelas nurunin poin!" jawab Nur dengan tegas.


Lagi-lagi Damar hanya tersenyum menanggapinya.


"Nape malah senyum?! Bener-bener makin kagak jelas Pak bos!" ujar Nur.


"Bos kamu semakin tidak waras karena jatuh cinta padamu Nur," sela Sakti.

__ADS_1


malam MpokšŸ¤—šŸ„±tetep kasih like komen hadiah vote rate ya Mpok.


penasaran kagak yang naikin poin ape ye dari tadi perasaan turunin poin mulu?


__ADS_2