
Hardian memijit pelipisnya. Ulah Raditya membuat kepalanya pening. Ia yakin dibalik hidangan menu udang dan pedas tercetus dari mulut Raditya.
Awas saja kau!
Hardian mengeluarkan dua kartu lalu meletakkan di atas meja seraya menyodorkannya ke hadapan Putri. Putri mengerutkan keningnya.
"Bagaimanapun awal pernikahan kita, saat ini kau adalah istriku dan tanggungjawabku. Pakailah ini untuk keperluanmu dan satunya untuk belanja kebutuhan sehari-hari."
"Ini untukku?" tanya Putri sembari mengambil dua kartu itu. putri menatap Hardian. "Aku boleh menggunakannya?" tanyanya dengan kedua mats berbinar.
"Gunakanlah sesukamu, sekarang itu milikmu. Jika kurang, kau tinggal bilang saja, nanti aku transfer."
Jadi begini rasanya dikasih uang belanja, bahagianya tak terkira. Ini belum belanja hanya megang, tapi bahagianya seperti terbang ke angkasa. Nikmat mana yang kau dustakan.
"Aku menerimanya dengan senang hati Suamiku, terima kasih. Ini sudah sangat cukup. Aku doakan semoga rezeky Suamiku semakin lancar jaya." Putri mendoakan suaminya dengan tulus. Begitulah sifat wanita, tidak ada yang bisa menolak pesona uang.
"Hanya itu."
Putri yang mengerti langsung bangkit dari duduknya lalu duduk di pangkuan laki-laki itu. kedua tangannya merangkul leher laki-laki itu, lalu mendaratkan ciuman di pipi sang suami. Kemudian berlanjut ke bibir pria itu, dikecupnya sekilas.
"Pintar," puji Hardian dengan tersenyum lebar. Melihat senyum tampan itu, Putri mendaratkan lagi bibirnya sembari memberi ******* kecil.
"Mungkin karena aku sudah terbiasa."
"Jangan nakal!" Hardian memukul gemas paha Putri. Keduanya tertawa bahagia seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.
"Berdirilah, aku akan ke kantor."
"Eh, maaf lupa, keenakan," sahut Putri terkekeh kecil sembari berdiri.
"Baik-baiklah di rumah, jika bosan datanglah ke kantor." Hardian ikut berdiri lalu mengelus rambut Putri lembut.
"Hari ini aku akan mencari pekerjaan."
"Kau masih ingin bekerja, setelah punya kartu sakti."
"Ya, aku suka bekerja dan menghasilkan uang yang banyak."
Hardian menghembuskan napasnya pelan, lalu memegang pundak Putri.
"Sebagai seorang suami, aku yang akan mencari uang yang banyak. Karena hoby kita sama, maka aku akan bekerja lebih keras lagi untuk menghasilkan uang," jelas Hardian.
"Berarti hoby kita sama?"
"Ya, hoby kita sama, tapi aku yang akan menggantikanmu bekerja dan menghasilkan uang, aku yang akan melakukan semuanya."
"Benarkah?"
"Tentu."
Ye, tidak perlu bekerja, tidak perlu capek lagi.
"Sekarang lebih baik kau bersenang-senang. Gunakanlah kartu itu sepuasmu!"
"Wah, Suamiku ini baik sekali," puji Putri sembari memegang kedua pipi Hardian gemas, membuat laki-laki itu terdiam.
__ADS_1
Reflek Hardian memeluk wanita itu. "Terima kasih," ucapnya. Baginya Putri memberi warna yang berbeda dalam hidupnya.
*
*
Setelah sampai di kantor. Hardian tidak langsung menuju ke ruangannya, ia ingin mengunjungi keponakan tersayangnya.
"Kau terlihat sangat santai, kau ingin lebih sibuk lagi, mungkin kau harus kembali ke perkerjaanmu yang sesungguhnya. Sepertinya kakak akan bahagia menerima kabar, jika putranya akan segera memggantikan posisinya."
"Ck, Paman terlalu menyayangiku. Apa yang membuat Paman mengunjungiku?"
"Menurutmu?"
Raditya mengalihkan tatapannya. Sepertinya ia ketahuan.
"Aku harus menemui clien penting, aku harus pergi." Raditya hendak beranjak dari duduknya.
"Kau tahu, aku hampir mati karena ulahmu."
"Tetapi, Paman masih berada di hadapanku dalam keadaan sehat walafiat." Raditya tersenyum lebar. "Kenapa Paman memakannya? Paman, kan bisa menolaknya?"
Hardian dian menatap tajam ke arah Raditya.
"Begitulah cinta, penyakit pun jadi obat. Aku senang Paman sudah tidak karatan lagi. Apa paman sudah merasakan wik-wik?"
Pertanyaan Raditya membuat wajah Hardian memerah. Begitulah Raditya, usia yang tidak terlalu jauh membuat hubungan mereka seperti teman saja. Raditya yang periang dan Hardian yang dingin.
"Sepertinya sudah." Raditya terbahak. "Apa Paman perlu obat kuat, bisa tahan berjam-jam?"
"Jangan pernah meracuni pikirannya lagi, atau.... " Hardian menghentikan ucapannya sembari menatap Raditya dengan senyum devilnya.
Raditya yang pernah melihat senyum itu, merasa ngeri. Pikirannya mulai melayang ke masa lalu. Pamannya itu memukul seseorang hanya untuk melindunginya.
"Aku akan diam. Anggap saja ini balas budiku karena rencana pernikahan yang kau buat."
"Paman tahu?" tanya Raditya terkejut, pasalnya dia sudah melakukannya dengan hati-hati.
Hardian berbalik sambil merapikan jasnya.
"Berhati-hatilah! Jangan sampai ketahuan lagi. Untuk yang satu ini aku tidak bisa membantumu. Kau tahu dengan pasti, siapa yang akan kau hadapi."
Setelah mengatakan itu Hardian keluar dari ruangan Raditya. Kini Raditya yang terdiam dengan pikiran melayang ke tempat yang lain. Tetapi amarah dihatinya, menutup mata hati laki-laki tersebut. Yang dia inginkan hanya satu balas dendam. Sebelum itu terlaksana dia tidak akan bisa hidup bahagia.
Setelah itu ia menghubungi anak buahnya untuk menanyakan kabar seseorang.
"
*
*
"Beb, please dengarkan aku dulu, beri aku kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."
Hardian menatap wanita di hadapannya. "10 menit." Tegas Hardian. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya akan wanita itu ucapkan.
__ADS_1
"Aku terpaksa melakukannya, hubunganku dengannya itu karenamu."
Hardian mengernyitkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Afri punya rencana untuk mencelakaimu, aku terpaksa mendekatinya untuk mengetahui rencananya, tetapi dia tahu tujuanku. Dia mengancamku, jika ingin kau selamat, aku harus menjadi kekasihnya untuk sementara. Lebih tepatnya hanya untuk bersaing dan menang darimu dalam segala hal."
"Jadi?"
"Ya, aku terpaksa. Aku pikir kau akan menungguku ternyata aku salah, kau sudah mendapatkan penggantiku," jawab Sayla sendu.
"Kenapa kau baru cerita sekarang?"
"Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir. Aku akan bercerita setelah aku bisa menemukan celah. Aku terlalu percaya diri kau akan selalu mencintaiku, tetapi aku salah."
Hardian menatap Sayla dengan pikiran yang hanya ia yang tahu.
"Pernahkah kau mencintaiku?" tanya Sayla kemudian menatap Hardian penuh harap.
"Pernah," jawab Hardian singkat.
"Apakah rasa itu masih ada untukku?" Hardian diam membisu, dia bingung harus menjawab apa.
Lidahnya mendadak kelu, ia pernah sangat mencintai wanita di hadapannya itu. Tetapi setelah penghianatan yang dilakukan wanita itu membuatnya membunuh cinta itu dan sekarang setelah ia tahu kebenarannya hatinya merasa bimbang. Benarkah cinta untuk wanita di hadapannya itu sudah benar-benar tak bersisa?
Sayla yang tadi duduk, kini bangun mendekati pria itu. Sayla memeluk Hardian yang masih duduk seperti semula.
"Aku mohon, beri aku kesempatan kedua untuk bersamamu, setidaknya sampai batas waktuku."
"Maksudmu?"
"Kau tahu bagaimana Afri, dia tidak akan membiarkanku hidup setelah mengatakan semuanya padamu. Sebenarnya aku ingin menyelesaikan semuanya sendiri, tetapi melihatmu bersama wanita lain, membuaku tak bisa menahan diri, aku sangat mencintaimu. Aku terkuka kau bersamanya."
Hardian bangkit berdiri lalu memeluk wanita itu.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu. Aku akan selalu melindungimu."
"Terima kasih," ucap Sayla sembari tersenyum bahagia. Entahlah tulus tidaknya hanya dia yang tahu.
Deg
Wanita yang berada di balik pintu dapat mendengar semuanya dengan jelas. Putri menghapus jejak air matanya.
*
*
Author mau tanya nih, kira-kira apa ya yang akan dilakukan Putri selanjutnya?
Mohon sempatkan untuk mengetik di kolom komentar. Bagi yang berpartisipasi, Terima kasih.
*
*
__ADS_1