JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 38 Aku akan melindungimu


__ADS_3

"Ayo, kita pulang!" ajak Hardian menggandeng tangan wanita itu mesra. Ketika berbalik, Putri diam terpaku lalu berbisik pada sang suami.


"Apa mereka menonton kita?" Hardian mengangguk. "Apa mereka mendengar suara tangisku?" Hardian mengangguk kembali. "Aku malu." Putri merona lalu menutup wajah itu dengan satu tangan.


Hardian tersenyum lebar lalu melnjutkan langkahnya. Para rekan Hardian terkejut melihat Hardian tersenyum.


"Dia bisa tersenyum?"


"Aku pikir dia lupa cara tersenyum?"


"Senyumnya bikin leleh," ucap salah satu wanita.


Begitulah kasak kusuk yang terdengar dari orang-orang itu.


*


*


Di apartemen.


"Aku akan memasak sesuatu untuk paman dan kali ini bukan udang lagi." Hardian tersenyum lembut sembari menyentuh lembut pipi wanita itu.


"Kita masak bersama," ucap Hardian setelah mengecup kening wanita itu.


Bagaimana suasana hati Putri, jangan ditanya lagi, bunga-bunga dihatinya sampai jatuh ke lantai.


Hardian membuka jas lalu menggulung kengan kemejanya, lalu memakai celemek.


Putri menganga. "Sexy sekali," gumnya pelan yang masih mampu di dengar Hardian.


Hardian mendekati Putri sembari memakaikan celemek.


"Tubuh ini milikmu, jika kau mau kita bisa naik ke ranjang," goda Hardian.


Spontan Putri mengangguk. Sedetik kemudian ia menggeleng setelah tersadar. "Maksudku, ayo kita masak!" Hardian terkekeh kecil.


Putri melangkah ke arah kulkas lalu mengeluarkan bahan makanan yang akan dimasak. Wah biasanya dunia milik kita berdua yang lain mah ngontrak. Lah ini, dapur milik kita berdua, sayuran dan kawan-kawan hanya penonton saja.


Kalau saja sayur dan daging bisa bicara, mereka akan berkata. 'Hey, stop tersenyum! Ayo masak aku lebih cepat!'


Setelah drama di dapur, mulai memotong sayur sambil melempar senyum, menggoreng sambil dipeluk, mencuci sambil bepegangan tangan dan masih banyak lagi drama yang lain. Akhirnya setelah melewati banyak drama mereka bisa makan.


"Makanlah!"


Putri menyodorkan piring yang sudah terisi makanan ke hadapan sang suami. Keduanya makan dengan lahap. Setelah selesai, Putri membereskan meja dan mencuci piring. Sedangkan Hardian masuk ke ruang kerjanya.


*


*


"Bagaimana?" tanya Hardian pada seseorang di luar sana dalam sambungan telepon.


"Dugaan Anda benar, Tuan?"

__ADS_1


"Lakukan dengan bersih!" titah Hardian. Setelah itu mematikan ponsel lalu menggenggamnya erat.


"Anggap saja ini hadiah dariku," gumam Hardian pelan.


Tok


Tok


Putri langsung membuka pintu ruang kerja sang suami tanpa mendengar perintah masuk. Dia tidak masuk hanya menyembulkan kepalanya saja.


"Apa kau sudah selesai?" tanya Putri sedikit aneh dengan suaranya.


"Masuklah!" suruh Hardian. Putri merasa ragu untuk masuk. Hardian duduk di sofa dengan kedua tangam terbuka lebar bersandar pada sandaran sofa. Dengan kemeja yang masih digulung dengan dua kancing yang sudah terbuka. Terlihat dada bidang yang membuat Putri tidak berkedip sedikitpun. Sexy.


Dengan ragu, Putri membuka pintu itu lebih lebar. Hardian berdebar melihat penampilan wanita itu, bagian bawahnya langsung on. Malu-malu Putri mendekati pria itu, lalu berdiri tepat di depan Hardian. Hardian menatap penuh damba. Wanita itu memakai lingeria hitam yang sangat terbuka dan tentunya sangat menggoda.


Hardian menarik tangan wanita itu hingga terjatuh ke pangkuan laki-laki itu. Wajah mereka sangat dekat bahkan keduanya bisa merasakan hembusan napas masing-masing. Lama-lama semakin dekat dan menempel hingga keduanya polos. Kegiatan panas pun harus terjadi di ruang kerja.


*


*


Di tempat yang lain.


"Kau sudah berhasil?" tanya laki-laki paruh baya itu.


"Ini tidak mudah," jawab wanita muda yang berdiri dihadapan laki-laki itu. .


"Kau harus berhasil mendekatinya lagi."


"Itu bukan urusanmu. Lakukan saja perintahku!"


"Ini yang terakhir. Bebaskan aku setelah semuanya selesai."


Wanita itu meninggalkan laki-laki paruh baya itu masuk ke dalam kamarnya.


Itu tidak akan pernah terjadi. Selamanya kau adalah pionku.


*


*


Suara dering ponsel tidak membuat pasangan suami istri itu terbangun. Dering kedua pun keduanya masih terlelap. Pada dering ke tiga salah satu dari mereka terbangun. Tangan besarnya merogoh ponsel yang berada di atas nakas, melirik nama pemanggilnya, setelah itu ia bangkit lalu berjalan ke arah balkon.


Setelah berbicara sebentar, dia keluar dari dalam kamar dan juga dari apartemen itu.


Wanita yang masih berada di atas ranjang membuka kedua matanya ketika laki-laki di sampingnya keluar dari kamar.


"Kau pergi." Lalu dia tersenyum sendu. "Hanya malam ini, tidak untuk malam berikutnya. Sudah aku katakan kau hanya milikku, kau membuatku jatuh cinta. Jadi, biarkan kali ini aku egois, aku tidak mau menyandang status janda lagi, berat."


Wanita itu menarik selimut kembali menutupi tubuhnya yang masih polos.


*

__ADS_1


*


Di tempat yang lain.


"Aku senang kau datang. Apa itu artinya kau masih mencintaiku?" Sayla bertanya pada laki-laki dihadapannya itu.


"Aku hanya ingin menepati janjiku?"


"Janji?"


"Aku akan melindungimu."


Sayla tersenyum lembut. "Aku akan baik-baik saja selama kau ada di sisiku. Ayo, kita menikah? Afri tidak akan mengganggu kita lagi."


Hardian tertawa mengerikan membuat Sayla bergidik ngeri. Sayla tidak pernah melihat laki-laki itu tertawa hingga seperti itu.


"Bukan Afri."


Deg


Apa dia tahu sesuatu.


"Ayah angkatmu," lanjut Hardian.


Deg


Wanita itu tertawa sumbang, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. Ia lupa laki-laki di depannya tidak sebodoh itu.


"Sejak kapan?"


"Ketika kau datang dan ingin kembali. Aku tidak suka penghianat apapun alasannya. Tapi aku akan tetap melindungimu dan membebaskanmu darinya."


"Semudah itu? Aku tidak percaya. Apa yang kau inginkan sebagai imbalannya?"


"Pergi dari hudupku dan hiduplah bahagia."


"Aku setuju. Tepati janjimu." Lalu wanita itu beranjak dari duduknya lalu keluar dari restoran itu.


Di dalam mobil. Wanita itu menangis tersedu.


"Kenapa hidupku harus sesulit ini. Aku tidak bisa bersama laki-laki yang aku cintai. Aku harus mencintai laki-laki lain di saat cintaku begitu besar pada pemilik hatiku."


"Mungkin saat ini dia membenciku, bahkan dia tidak tahu aku mencintainya. Semakin sering bertemu dengannya semakin membuatku ingin memilikinya."


Sayla harus menerima takdir hidup, hidup penuh tekanan. Dia anak yatim piatu yang di adopsi oleh ayah angkatnya hanya untuk balas dendam. Saat dewasa dia diperintah oleh ayahnya untuk mendekati Hardian. Setelah laki-laki itu sangat mencintainya, Sayla harus meninggalkan laki-laki itu. Ia berselingkuh dengan saingan bisnis Hardian yaitu Afri dengan tujuan membuat Hardian semakin hancur.


Ternyata itu tidak berpengaruh bagi Hardian. Ayah angkatnya berpikir Hardian akan hancur karena cinta. Tetapi semua itu salah. Akhirnya Saylah harus mendekati Hardian kembali. Hingga laki-laki itu tahu masalahnya.


Sayla harus melupakan cintanya. Cinta yang sudah ia miliki di saat remaja. Meskipun laki-laki itu tak pernah melihatnya sedikitpun.


*


*

__ADS_1



__ADS_2