JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 54 Di ruangan rapat


__ADS_3

Hardian tidak bisa fokus dengan apa yang dibicarakan oleh karyawannya. Ia lebih fokus pada wanita yang kini membuka tali sepatunya. Hardian melonggarkan dasinya lalu tubuhnya sudah melorot. Biasanya Hardian akan duduk tegap dengan tatapan mengintimidasi. Tapi sekarang dia seperti bocah yang senyum-senyum sendiri.


Karyawan saling menatap satu sama lain, rasanya aneh melihat sang bos tersenyum meskipun tipis, tapi mereka bisa melihatnya dengan jelas.


Presentasi pun selesai, mereka menunggu jawaban Hardian. Hening. Hardian belum membuka suaranya, kedua matanya melihat ke bawah tempat wanitanya duduk.


Sakti berbisik ke telinga sang bos, barulah laki-laki itu sadar.


"Hem ... lanjutkan!" Perintahnya yang membuat semua orang yang berada di sana saling menatap kembali.


Biasanya Hardian tidak akan mudah untuk menyetujui sesuatu, mereka harus melewati berkali-kali revisi barulah bisa dilanjutkan.


Setelah itu mereka melanjutkan rapat tersebut.


"Apa?" tanya Putri tentunya tanpa suara.


Hardian menjawab dengan bibir dikerucutkan yang membuat wanita itu salah paham. Ia pikir sang suami ingin melihat buah segar.


"Hah? Ini ... " tunjuknya pada dua buah segarnya dengan memegang salah satunya. "Ah, aku malu," lanjut Putri sembari memukul tulang betis Hardian.


Melihat tingkah Putri yang begitu menggemaskan membuat laki-laki itu terbahak keras hingga melupakan dimana kini berada.


Semua karyawan yang tadi terkejut kini semakin terkejut lagi. Hardian menghentikan tawanya setelah menyadari keberadaannya.


"Rapat selesai!" ucap Hardian tegas, senyum dibibirnya sudah menghilang berganti dengan wajah tegasnya.


Semua karyawan membereskan dokumen yang mereka bawa lalu duduk diam menatap sang bos sementara Hardian sibuk dengan sang istri.


Sakti mendekat dan melihat ke arah pandang sang bos.


Jadi ini yang membuat Tuan daritadi tidak fokus.


"Kalian bisa keluar," titah Sakti pada semuanya. Meskipun bingung mereka menurut saja. Biasanya sang bos akan meninggalkan ruangan rapat terlebih dahulu baru karyawan mengikuti sang bos keluar.


Hardian mengabaikan yang lain ketika tangannya ditarik oleh Putri untuk menyentuh aset miliknya.


Aku kok jadi genit gini ya jika bersama priaku. Biarlah toh dia suamiku. Aku sudah seperti selingkuhan bos besar saja.


Tidak ingin mengganggu sang bos, Sakti keluar begitu saja tanpa berpamitan. Hardian menatap ruangan yang sudah kosong lalu menarik wanitanya ke atas, melanjutkan apa yang wanita itu mulai. Laki-laki itu menyentuh kedua buah segar miliknya dengan gairah yang sudah tak bisa ditahannya lagi. Kedua tangannya meremas dengan bibir ******* bibir wanita itu. Keduanya semakin bergairah dan panas.


Ceklek.


"Ma... Maaf," ucap seseorang lalu dengan cepat pintu itu ditutup kembali.

__ADS_1


Hardian mengabaikan orang itu, tapi hatinya mengumpat sang asisten yang tidak menutup pintu.


Tautan bibir mereka terlepas.


"Ada orang," ujar Putri dengan napas yang terengah.


"Tidak akan ada lagi." Hardian hendak menyentuh wanitanya kembali. Namun, wanita itu menahannya.


"Kita ke kamar saja." Hardian menatap wanitanya lalu tanpa menjawab Hardian menggendong wanita itu. Untung saja selama perjalanan menuju ruangan Hardian, tidak ada orang sama sekali.


Setelah sampai di sana mereka segera melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda.


*


*


Sementara seseorang yang tadi melihat adegan tak senonoh sang bos, mengelus dadanya sambil komat-kamit. Ia tidak menyagka sedikitpun laki-laki yang katanya baik dan juga yang akan dijodohkan dengannya bisa melalukan hal mesum seperti itu. Apalagi tanpa adanya hubungan pernikahan.


"Aku harus mengatakannya pada bibi, aku tidak mau menyesali apa yang akan terjadi setelahnya," gumam seorang wanita yang tak lain adalah Azizah.


"Kau dari mana?" Azizah semapat terkejut saat ada ynag bertanya padanya.


"Aku... aku dari... dari toilet," jawab Azizah gugup. Lalu laki-laki itu pergi meninggalkannya. Azizah mnghembuskan napas lega.


*


*


Namun, setiap orang berbeda dalam merasakan cinta. Ada yang bahagia karena mendapatkan cintanya, ada yang terluka karena cintanya tak berbalas. Itulah cinta penuh rasa-rasa.


Kata orang cinta tidak harus memiliki, asal orang yang kita cintai bahagia maka kita juga akan bahagia, itu teorinya. Tapi dalam kenyataannya kita akan nangis di pojokkan hingga berhari-hari. Ada yang lupa begitu saja, ada yang ingin balas dendam dan ada pula yang mendoakan agar tidak bahagia.


"Cintaku ingin memilikinya, bolehkah? Tidak perlu mendengarkan kata orang jika cinta itu tak harus memiliki." Putri mendesah pelan.


"Atau mungkin aku harus pergi demi baktimu pada ibumu." Putri memejamkan kedua matanya kembali. Ia tidur di kamar dalam ruangan sang suami. Sementara Hardian sudah meninggalkannya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


*


*


"Apa ini?" sentaknya pada kepala divisi yang sebelumnya mempresentasikan proposalnya sewaktu rapat dan juga telah mendapatkan persetujuan dari sang bos.


"Ini proposal untuk proyek bagian timur, Tuan," jawab kepala divisi terbata.

__ADS_1


"Berapa lama kau bekerja di sisni?"


"Lima tahun, Tuan," jawab pria itu gelagapan.


"Perbaiki atau kau keluar dari perusahaan!" tegas Hardian lalu melempar dokumen itu ke atas meja.


Kepala divisi mengambilnya dengan tangan gemetar.


Apa yang salah? Bukankah tadi Anda sudah setuju dan memberi perintah untuk melanjutkan, tapi sekarang.


Kepala divisi mendesah pelan. Lalu keluar dari ruangan itu setelah menundukkan kepalanya.


"Apa yang kau lakukan hingga proposal seperti itu masuk ke mejaku," tanya Hardian pada Sakti yang juga berada di ruangan itu.


Yah, kena lagi. Situ yang sudah setuju yang lain yang salah. Cinta memang membuat orang lupa segalanya.


"Anda tadi sudah menyetuinya, Tuan. Ketika Anda sibuk dengan nyonya," jawab Sakti tenang membuat Hardian tidak bisa berkata-kata.


"Keluarlah!" Perintah Hardian tanpa menatap Sakti, laki-laki itu pun menunduk lalu pergi keluar.


*


*


Putri membersihkan diri setelah bangun tidur. Dia juga sudah berganti pakaian, di dalam lemari di kamar itu tersedia beberapa pakaian wanita, mungkin sang suami yang sudah menyiapkannya.


Setelah selesai Putri hendak keluar, satu tangannya sudah memegang gagang pintu bersamaan dengan pintun yang terbuka dari luar. Keduanya saling menatap, lalu tersenyum bersamaan.


"Kau sudah bangun?"


"Kau sudah selesai?" tanya keduanya bersamaan. lalu mereka tertawa secara bersamaan pula.


Putri langsung berhambur memeluk sang suami seperti lama tidak bertemu padahal mereka barusaja menghabiskan waktu berdua.


"Aku merindukanmu," ucap Putri lalu melepas pelukannya. Hardian hanya tersenyum sambil membalas pelukan wanita itu.


"Ayo, pulang!" Putri menggandeng lengan sang suami lalu mereka berjalan keluar bersama.


Putri menatap sang suami.


Sepertinya aku harus segera membuat keputusan. Bertahan di sisimu atau pergi. Putri.


Semoga apa yang aku putuskan adalah yang terbaik untuk ke depannya. Hardian

__ADS_1


__ADS_2