JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 39 Asisten baru


__ADS_3

"Selamat pagi." Putri hanya menatap laki-laki itu. Kesadarannya belum seutuhnya kembali. Bangun tidur langsung melihat wajah tampan dan senyum sang suami.


Dia kembali? Jam berapa? Apa dia bermalam bersama wanita itu dan barusaja kembali? Lalu mereka saling menyentuh.


"Tidak," pekiknya membuat Hardian bingung karena ucapan selamat paginya dibalas dengan kata 'tidak'.


Putri spontan berteriak ketika membayangkan suaminya menyentuh wanita lain. Putri menutup mulutnya ketika tersadar lalu tersenyum tertahan.


"Kau mimip buruk lagi?"


"Mimpi buruk? Kau tahu?" tanya Putri penasaran, sejak kapan suaminya itu tahu.


"Tentu saja, setiap malam kau bersamaku."


"Apa kau akan meninggalkanku karena itu?" tanya Putri ragu dan dengan suara pelan.


Hardian tersenyum lembut lalu merengkuh tubuh wanita itu.


"Tidak," jawabnya singkat, membuat Putri melambung tinggi lalu membalas pelukan laki-laki itu.


"Apa aku sudah sembuh?" tanyanya spontan setelah menyadari sesuatu. Dia sudah lama tidak mengalami mimpi buruk. Dia juga merasa nyaman disentuh oleh lawan jenis, tepatnya disentuh sang suami.


"Mari kita buktikan," ucap Hardian dengan suara seraknya setelah melihat dua benda kenyal kesukaannya. Hardian langsung menindih wanita itu ketika hasratnya muncul untuk menyentuh wanita itu.


*


*


Setelah kegiatan panas mereka pagi itu, keduanya membersihkan diri terlebih dahulu lalu keluar dari kamar setelah berganti pakaian. Hardian sudah siap dengan pakaian kerjanya. Senyum terus mengembang di bibir laki-laki itu.


Mereka sarapan pagi dengan makanan yang sudah di pesan oleh Hardian.


"Aku akan ke kantor."


"Ya, pergilah!"


"Hari ini aku akan pulang terlambat."


"Ya, tidak apa-apa."


"Aku pergi." Hardian mengecup kening sang istri.


"Hati-hati."


Kenapa dia tidak melarangku pergi, padahal kalau dia meminta aku akan tinggal. Bukankah pasangan pengantin baru selalu bersama. Kenapa aku tidak ambil cuti. Bodoh.


"Kau ingin aku di sini?"


"Tidak, paman bekerja saja."


"Kau yakin?"


"Sangat yakin."


"Baiklah. Em... jika butuh sesuatu kau bisa menghubungiku."


"Ok, Suamiku."


Putri mencium tangan Hardian lalu menutup pintu.


"Ah, dia tidak peka. Apa dia tidak merindukanku?" ucap Hardian berdiri di depan pintu.


Sementara di dalam Putri tertawa cengengesan.


"Siapa suruh semalam pergi."


Putri bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Ia menghubungi seseorang lalu tersenyum smirk.


*

__ADS_1


*


Di perusahaan.


"Kenapa tiba-tiba kau ingin cuti?" tanya Hardian heran. Selama bekerja dengannya, asistennya itu tidak pernah meminta cuti tiba-tiba.


"Keluarga saya membutuhkan saya, Tuan dan untuk beberapa hari ke depan jadwal anda tidak terlalu sibuk. Saya sudah pastikan pengganti saya tidak akan mengecewakan, dia wanita yang bisa di andalkan."


"Wanita?" tanya Hardian bingung. Bagaimana asistennya bisa ceroboh. Dari dulu persyaratan untuk menjadi asistennya harus laki-laki. "Ganti!" Perintah Hardian setelah mendapat anggukan kepala dari Sakti.


"Saya tidak punya waktu banyak untuk menggantinya, Tuan."


"Kau berani membantahku?"


"Maaf, Tuan." Sakti menundukkan kepalanya bersamaan dengan pintu yang diketuk.


Setelah mendengar perintah masuk, seseorang yang mengetuk pintu itupun masuk ke dalam ruangan.


"Kau ... "


Hardian terbelalak kaget ketika yang masuk adalah sang istri.


"Ini, Tuan yang akan mengantikan saya," sela Sakti. "Perkenalkan dirimu!" ucapnya pada seorang wanita di sebelahnya.


Wanita itu pun menunduk lalu membuka suaranya.


"Nama saya Putri Ceria, Tuan. Saya akan menggantikan asisten Sakti untuk sementara. Mohon terima saya."


"Keluarlah!" Perintahnya pada Sakti. Dengan berat hati Sakti pun keluar.


P**asangan yang merepotkan.


Sakti teringat kejadian semalam saat istri bosnya itu menghubunginya.


"Ada apa, Nyonya?" tanya Sakti, dia sedikit waspada karena bertemu dengan istri sang bos tanpa sepengetahuan bosnya, apalagi di malam hari.


"Aku butuh bantuanmu?"


"Bantu aku mengusir wanita yang mendekati paman?"


Sakti terdiam, dia berpikir sebentar. "Bagimana saya bisa membantu, Nyonya?"


"Nah, itu yang akan menjadi tugasmu, bagaimana caranya agar aku bisa bersama paman sepanjang hari."


"Apakah Anda sudah bisa menerima, Tuan?"


"Mungkin lebih dari itu, aku sudah jatuh cinta padanya," jawab Putri tersenyum sembari membayangkan wajah tampan sang suami.


"Baiklah. Bersiaplah besok pagi saya akan menghubungi Anda."


*


*


Hardian masih menatap wanita di hadapannya. Menelisik penampilan wanita itu dari atas ke bawah.


Wanita itu memakai kemeja putih yang dibalut dengan blazer berwarna gelap, rok hitam selutut dan sepatu hitam tanpa hak.


Hardian memijit pelipisnya sembari memanggil wanita itu.


"Kemarilah!" Putri maju beberapa langkah lalu duduk di hadapan Hardian, mereka hanya terhalang oleh meja.


"Lebih mendekatlah!"


Putri pun bangkit lalu berjalan berputar, setelah itu duduk di pangkuan Hardian.


"Begini, Tuan."


"Nakal." Hardian menepuk bokong Putri sedikit keras.

__ADS_1


"Au ... sakit, Tuan." Putri mendesah.


"Kau benar-benar menggodaku."


Dengan cepat Hardian mengangkat tubuh Putri lalu membawanya ke kamar. Hardian merebahkan tubuh wanita itu, setelah sampai di kamar.


"Apa ini termasuk pekerjaanku, Tuan?" tanya Putri dengan suara mendayu.


Tanpa banyak bicara, Hardian menempelkan miliknya pada wanita itu. ******* dari mulut keduanya mulai beradu. Kini keduanya sudah sama-sama polos.


"Kau adalah canduku," ucap Hardian dengan napasnya yang masih terengah. Hardian memeluk Putri setelah kegiatan panas mereka.


"Kapan kata cinta akan terucap untukku paman," ucap Putri dalam hati. Tatapan Putri berubah sendu. Entah kenapa dia jadi pesimis untuk menakhlukkan hati laki-laki tampan di sampingnya.


"Istirahatlah!" Hardian bangkit setelah mencium kening wanitanya, lalu berjalan ke kamar mandi. Ia mengecup kening sang istri kembali setelah berpakaian rapi. Ia keluar dari dalam kamar untuk melanjutkan pekerjaannya.


Tak lama setelah itu, Putri pun keluar.


"Apa aku bisa mulai bekerja, Tuan?" Hardian mengerutkan keningnya. Ia pikir wanitanya itu sudah tertidur.


"Beri aku alasan kenapa kau harus menjadi asistenku?"


Untuk menjauhkanmu dari wanita cantik itu.


"Aku ... aku hanya ingin menggantikan Sakti, Tuan."


Hardian menghembuskan napasnya pelan. Ia tahu alasan wanita itu tidak masuk akal.


"Kau tahu syarat menjadi asistenku, terutama dalam pendidikan." Putri menggeleng pelan.


"Apa pendidikan terakhirmu?"


"SMU."


"Kau sangat percaya diri untuk menjadi asistenku." Hardian tersenyum remeh. "Sakti lulusan terbaik dari universitas terbaik di Negeri ini."


Putri mengangguk pasti. "Itu adalah kelebihanku, Tuan. Aku yakin tidak akan mengecewakanmu, meskipun hanya lulusan SMU."


"Baiklah, mulailah untuk bekerja."


"Terima kasih, Tuan." Rasanya Hardian ingin tertawa melihat betapa semangatnya sang istri.


"Apa tujuanmu sayang? Apa yang kalian rencanakan di belakangku?" gumam Hardian setelah wanita itu keluar dari ruangannya tanpa permisi. Hardian yakin ini pasti ada campur tangan asistennya.


Beberapa menit kemudian wanita yang baru saja menjadi asistennya itu kembali dengan secangkir kopi.


"Ini, Tuan kopinya." Putri meletakkan secangkir kopi di atas meja sang bos rasa suami.


"Ehmm.... "


Lalu Putri mengeluarkan ponselnya.


"Jadwal Anda hari ini..." Putri mulai membacakan jadwal Hardian hari ini, tentu saja dia hanya tinggal membaca, karena semuanya Sakti yang mengerjakan, termasuk apa yang dilakukan Putri saat ini.


"Ulangi jadwalku pada jam 10." Putri menggeser layar poselnya lagi untuk melihat jadwal Hardian lalu membacakannya.


"Ganti, dengan yang jadwal jam 2."


"Baik, Tuan."


Putri keluar lagi dari ruangan Hardian tanpa permisi.


"Tidak sopan," umpat Hardian dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


Beberapa menit kemudian, Putri pun kembali.


"Jadwal Anda sudah diganti, Tuan. Jadi, jadwal Anda pada jam 10 bertemu dengan client dari jepang dan jam 2 Anda akan mengadakan rapat bulanan."


"Kosongkan jadwal pada jam 2."

__ADS_1


"Tidak bisa!" jawab Putri spontan menolak petintah sang bos.


__ADS_2