JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 43 Benarkah?


__ADS_3

Vino hanya menatapnya dengan pikiran tak tak terbaca. Wanita yang ia kira polos ternyata tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Setelah itu ia mengalihkan tatapannya menatap Hardian. Laki-laki itu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


Vino kembali menatap wanita di depannya, setelah itu ia menghembuskan napas kasar.


"Sepertinya kalian butuh waktu untuk bicara berdua. Kalau begitu, aku keluar dulu, Tuan. Jangan lupa hubungi aku jika butuh ehm..." Putri sengaja menggantung ucapannya. Lalu berlalu pergi dari sana setelah melempar senyum genitnya ke arah Hardian.


"Benarkah ini dirimu?" Vino menatap sahabatnya heran yang membalas senyuman wanita itu. "Aku sungguh tidak percaya. Apa matahari sudah terbit dari barat?"


Hardian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari menatap laki-laki yang tampak frustasi tersebut.


"Dia istriku," seru Hardian, membuat Vino yang tak percaya semakin tak percaya lagi. Vino yang terkejut semakin terkejut lagi.


"Kau bercanda?" tanya Vino sambil menelisik kebohongan pada tatapan sahabatnya itu. Tetapi dia tidak bisa menemukan kebohongan pada kedua netra sahabatnya itu.


Hardian hanya diam membiarkan laki-laki itu menerka sendiri.


"Kapan kalian menikah?" tanya Vino kemudian, ia menyerah untuk menebak isi pikiran sahabatnya.


Setelah itu hardian menceritakan bagaimana kisah mereka bisa menikah.


"jadi, Raditya menyukainya? Kau tidak takut dia akan menikungmu? Apalagi kau pernah dikhianati?"


"Dia tidak mencintainya. Tetapi Aku yang mencintainya," ucap Hardian sembari tersenyum mengingat bagaimana awal pertemuan mereka. Dari tidak suka menjadi suka. Dari sering berdebat akhirnya menjadi rindu. Begitulah awal hubungan mereka.


"Dulu kau juga mencintainya." Vino tahu bagaimana sahabatnya itu sangat mencintai Sayla. Meskipun ia berkata bahwa dia bukan wanita yang baik untuknya, Hardian tidak akan percaya.


"Kali ini beda, dia hanya milikku."


"Apa lagi yang bisa aku katakan selain mendoakan kebahagiaanmu."


"Sayla, sebenarnya dia wanita yang baik, hanya saja keadaan yang tak berpihak padanya."


"Kau masih saja membela penghianat itu."


"Carilah wanita yang bisa kau ajak serius. Usiamu sudah cukup untuk menikah."


"Aku masih mencarinya," jawab Vino sambil melayang pada ingatan masa lalunya, gadis yang pernah menolongnya.


Setelah cukup berbincang, Vino berpamitan untuk kembali ke rumah sakit.


*


*


Di ruangan yang lain.


Putri menatap horor laki-laki yang duduk dihadapannya. Kedua tangannya berkacak pinggang. Siap untuk menerkam mangsa di hadapannya.


"Kau menipuku! Kau bilang pekerjaanku hanya membuat kopi di pagi hari, setelah itu membacakan jadwal. Menawari makan siang, menunggu perintah selanjutnya. Pekerjaan yang menurutku sangat mudah." Putri meluapkan emosinya yang menggebu-gebu.


Yang di atas ranjang tidak perlu aku sebutkan, kan?

__ADS_1


"Apa ada yang salah, Nyonya?"


"Wah, santai sekali pertanyaanmu. Apa ada yang salah?" Putri menirukan gaya bicara Sakti. "Kau tahu? Aku harus merekap semua laporan dari beberapa tahun. Otakkku yang sedikit pintar ini harus mengerjakan itu semua dalam waktu berjam-jam. Seharusnya kau mengajariku lebih dulu."


"Sepertinya, tuan yang sengaja melakukannya, Nyonya."


Maaf, Tuan. Saya terpaksa melakukannya. Daripada saya berada diantara masalah hati kalian, lebih baik cari aman saja.


"Aku pikir juga begitu, dia sengaja melakukannya," ucap Putri sambil mendesah lalu duduk di atas sofa. "Aku ingin membalasnya."


"Jangan kasih jatah, Nyonya!" jawaban mesum yang keluar dari mulut Sakti.


"Mana bisa begitu." Bisa galau aku jika tidak disentuh olehnya lanjut putri dalam hati.


Putri langsung nyambung dengan kata jatah yag dilontarkan oleh Sakti. Lama-lama dia jadi wanita mesum.


"Tenang saja, Nyonya. Tuan tidak mungkin memberi Anda tugas yang berat. Tuan hanya iseng saja."


"Hanya iseng? Sampai berjam-jam?" tanya Putri sambil melototkan kedua matanya ke arah Sakti.


"Sepertinya, Tuan sudah mencintai Anda."


"Benarkah?" Raut wajahnya langsung berubah sumringah.


Kalau sudah cinta berarti aku tidak perlu jadi asisten lagi. Aku bisa santai di rumah menunggu suami pulang kerja.


"Nanti malam ada undangan pesta dari salah satu relasi perusahaan, mungkin tuan akan mengajak Anda."


"Tentu, Nyonya karena dalam undangan itu tertulis diharuskan membawa pasangan."


"Ada ya begitu," gumam Putri pelan.


*


*


Waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor. Putri harap-harap cemas untuk mendengar ajakan sang suami. Sedari tadi dia sudah senyum-senyum sendiri.


Aku langsung mau atau pura-pura dulu ya.


Terlalu banyak melamun membuatnya tidak sadar jika Hardian menatapnya. Laki-laki itu mendekat lalu mencium pipi Putri lembut. Putri terkejut lalu menatap laki-laki yang entah sejak kapan berada dihadapannya.


Oh, manisnya suamiku. Putri tersenyum malu.


"Apa yang kau lamunkan?"


Kau!


"Aku hanya berpikir akan masak apa nanti malam," jawab Putri sedikit memancing.


"Beli saja, nanti malam aku tidak akan makan malam di apartemen."

__ADS_1


Luntur sudah senyuman di bibir wanita itu. Seketika wajahnya berubah sendu.


Dia tidak mengajakku. Aku terlalu percaya diri. Siapalah aku? Aku hanya wanita yang kebetulan dinikahinya.


"Ayo, pulang!" Hardian langsung merangkul wanitanya. Putri menganggukkan kepalanya dengan hati yang kecewa.


Tidak ada yang melihat mereka kecuali Sakti dan sekertaris yang memang berada di lantai yang sama dengan Hardian. Setelah keluar dari lift mereka melewati jalan khusus menuju tempat parkir.


*


*


Di apartemen.


"Tidurlah lebih dulu, tidak perlu menungguku. Mungkin aku akan pulang larut. Aku sudah memesan makan malam," ucap Hardian dengan tersenyum.


Hardian sudah sedikit berubah, mulai banyak bicara dan sering tersenyum jika bersama Putri.


"Ya, Suamiku. Aku akan makan dengan baik."


"Aku pergi," pamit hardian setelah sebelumnya mengecup kening wanita itu.


Hardian keluar dari dalam apartemen.


Putri menghembuskan napasnya pelan. "Dia tidak mecintaiku. Buktinya dia tidak mengajakku. Mungkin dia malu bersamaku. Hardian Ceo tampan, kaya dan sukses. Aku hanya pelayan hotel," ucap Putri pada dirnya sendiri.


"Kenapa berhadapan dengannya membuat hatiku menciut. Bukankah cinta tidak memandang apapun." Mencoba untuk menyemangati diri meskipun sulit.


Tak lama bel pintu berbunyi. Makanan yang dipesan Hardian datang. Putri mengambilnya lalu menikmati makan malamnya sendirian.


"Rasanya sepi. Aku mulai merasa rindu." Putri menghela napas panjang lagi, entah sudah untuk yang ke berapa kalinya.


*


*


Di lain tempat.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


"Tidak, Tuan," jawab Sakti. Namun, terlihat jelas kegelisahan di wajahnya.


"Katakan!" Perintah Hardian. Dia tahu ada yang disembunyikan oleh asistennya itu.


"Maaf, Tuan. Saya terlalu lancang." Sakti ragu untuk mengatakannya pada sang bos. "Saya sudah lancang bercerita pada nyonya jika Anda akan menghadiri pesta dan Anda akan... mengajak nyonya untuk menemani Anda."


Hardian terdiam, dia tidak berkata apapun. Hanya helaan napas berat yang terdengar dari laki-laki itu.


*


*

__ADS_1



__ADS_2