
Putri menatap nanar ke arah pintu, ia merasa ragu untuk membuka pintu. Apalagi ini sudah malam, dia tidak memesan apapun, terus kenapa ada yang menekan bel pintu? tanyanya dalam hati.
Meskipun ragu Putri tetap membuka pintu itu, entah kenapa perasaannya jadi tidak enak. Pintu itupun terbuka, Putri menatap laki-laki berseragam security yang berdiri di hadapannya dengan topi menutup wajahnya. Perlahan security itu mendongak memperlihatkan wajahnya.
Putri terkejut spontan kakinya mundur selangkah. Ia diam dengan wajah pucatnya. Laki-laki itu hendak masuk, namun, belum kakinya melangkah ada suara orang lain yang memanggilnya. Seketika laki-laki itu pun pergi.
Setelah tersadar Putri menutup pintu itu dengan cepat.
"Aku tidak bisa seperti ini terus, aku harus bisa menghadapinya. Aku harus bisa menghilangkan rasa takutku," ucapnya sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Putri mengatur napasnya, berkali-kali menarik napas lalu menghembuskannya, hingga napasnya normal kembali. Ia hendak melangkah ke arah kamar, tapi suara pintu terbuka dari luar menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap ke arah pintu. Sedetik kemudian pintu itupun terbuka, menampilkan sosok yang sudah beberapa hari ini tidak pulang.
Putri tersenyum lebar, ketakutan yang sempat ia rasakan hilang begitu saja, berganti rasa bahagia akan kehadiran laki-laki itu. Tanpa berpikir panjang, Putri berlari ke arah sang suami lalu berhambur memeluk laki-laki itu dengan erat. Seolah laki-laki itu adalah pemuas dahaganya. Ia merasa nyaman dalam ppukan laki-laki itu, rindu, sangat rindu.
"Aku rindu, Paman. Kenapa baru pulang?" Putri bahagia melihat laki-laki itu hingga Ia mengabaikan perasaannya yang sempat gundah karena laki-laki itu yang tak kunjung pulang.
Dia juga ingin bercerita tentang kejadin yang baru saja ia alami. Pada siapa lagi dia akan berbagi masalahnya jika bukan pada sang suami.
Hardian hanya berdiri tegap, ia tidak membalas pelukan wanita itu, apalagi menjawab. Ia berperang dengan hatinya, bingung harus bersikap bagaimana.
Setelah cukup lama memeluk laki-laki itu, Putri melepas pelukannya. "Paman pasti lelah, istirahatlah! Jangan lupa mandi dulu," ucap Putri sambil tersenyum, lalu Putri mendorong Hardian masuk ke dalam kamar. Setelah pria itu masuk, Putri melangkah ke arah dapur. Ia masuk kedalam kamar mandi lalu menutup pintu.
Putri menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar ke luar kamar. Akhirnya ia seperti wanita pada umumnya yang juga punya perasaan dan hati. Ia sadar sang suami tidak membalas pelukannya meskipun laki-laki itu tidak menolaknya.
"Akhirnya harapan kecil yang kumiliki pupus sudah," gumam wanita itu dengan suara tangisan yang lebih keras. "Aku... " Dia tidak mampu untuk melanjutkan ucapannya.
Putri mencuci mukanya setelah merasa cukup tenang. Dia keluar dari kamar mandi menuju kamar yang ia tempati selama ini. Dengan ragu tangan Putri memegang handle pintu lalu menggerakkannya. Dia menatap nanar ke arah ranjang. Kosong. Tidak ada sang suami. Ia masuk lebih ke dalam. Melirik ke arah kamar mandi yang tidak mengeluarkan suara apapun. Ia yakin sang suami telah selesai membersihkan diri.
__ADS_1
"Dia menghindariku." Putri tersenyum getir. Ia yakin saat ini sang pujaan hati berada di ruang kerja. Tidak ingin menambah banyak pikiran, ia naik ke atas ranjang lalau memejemkan kedua matanya.
Lebih baik tidur dan besok pagi akan datang sesuatu yang jauh lebih baik.
Beberapa menit kemudian Putri pun terlelap. Seperti yang sebelumnya, saat hampir tengah malam Hardian masuk ke dalam kamarnya. Menatap wanita yang selama seminggu ini tidak ia sentuh. Ia menyusul ke atas ranjang lalu berbaring di samping sang istri. Hardian menatap wajah cantik sang istri lalu memeluknya erat.
"Aku merindukanmu, aku ingin," gumamnya pelan, setelah cukup lama menatap sang istri, ia pun ikut terlelap.
*
*
Pagi hari. Sama seperti pagi sebelumnya. Ketika wanita itu membuka kedua matanya, sang suami sudah pergi. Kejadian ini berlangsung selama beberapa hari. Jika sebelumnya laki-laki itu tidak pulang, sekarang tiap hari laki-laki Itu akan pulang.
Hanya saja Putri bisa melihat sang suami setelah pulang kerja. Setelah itu sang suami sibuk di ruang kerja, pagi hari berangkat sebelum ia terbangun. Keadaan ini sudah berjalan sekitar dua minggu.
Putri masuk ke dalam kamar mandi, setelah selesai ia pun keluar hanya dengan menggunakan handuk panjang yang melilit tubuhnya. Putri langsung berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaain santai. Belum selesai ia mengambil pakaian, tubuhnya dipeluk dari belakang oleh seseorang.
Dari aroma tubuhnya ia sudah tahu siapa pelakunya. "Kau sudah pulang?" tanya Putri tanpa membalik tubuhnya. Ia membiarkan sang suami memeluknya karena jujur ia juga sangat merindukan sentuhan sang suami.
Hardian tidak menjawab, tapi mulut dan tangannya sudah bergerak kemana-mana, membuat handuk yang melekat di tubuh wanita itu kini terlepas. Posisi mereka masih sama seperti semula. Berdiri dengan Hardian memeluk wanita itu dari belakang.
Deru napas mereka memburu, terdengar seperti irama bercampur dengan suara ******* si wanita membuat suasana semakin erotis. Hardian membalik tubuh wanita itu lalu menggendongnya. Kening mereka bersentuhan dengan napas tak beraturan.
Melampiaskan rasa rindu yang sempat tertahan. Hardian mengungkung wanita itu dibawahnya. Putri terlihat pasrah, dari tatapannya seakan berkata 'ayo, cepat masuki aku!'
Hardian berdiri kembali untuk melepas pakaian tanpa mengalihkan tatapannya pada tubuh wanita itu. Setelah selesai ia mengungkung tubuh wanita itu kembali. Laki-laki itu memberikan sentuhan lembut membuat sang istri mengeluarkan suara khasnya.
__ADS_1
Putri memejamkan kedua matanya, ia pikir sang suami akan langsung memasukinya. Tapi tidak ada pergerakan lagi, wanita itu membuka kedua matanya.
"Kenapa?" tanyanya heran pada sang suami. Laki-laki itu menggunakan pengaman, padahal sebelumnya laki-laki yang sudah menikahinya itu tidak pernah menggunakan pengaman.
"Aku belum siap... memberikan benihku."
Deg
Hatinya mencelos mendengar ucapan sang suami. Rasa sakit yang sempat ia abaikan kini kembali lagi bahkan lebih besar dari sebelumnya.
Setelah selesai mengucapkan itu, Hardian langsung menghujam milik sang istri. Sakit dan nikmat wanita itu rasakan bersamaan. Tapi sakit tak berdarah yang ia rasakan jauh lebih besar.
Wanita itu membelakangi sang suami setelah selesai menggapai kenikmatan. Tanpa sadar bulir bening menetes dari kedua sudut matanya. Hardian menatap punggung wanitanya, biasanya wanita itu akan bergelayut manja padanya tapi saat ini wanita itu langsung membelakanginya.
Hardian mengulurkan tangannya hendak menyentuh pundak sang istri. Namun, ia urungkan. Ia juga ikutan membalik tubuhnya, mereka tidur saling membelakangi.
*
*
Keesokan paginya. Seperti biasa, Putri sendirian di tempat tidur. Entah jam berapa laki-laki itu pergi. Terbersit rasa kecewa dalam tatapan sendunya.
"Dia meninggalkanku lagi dalam keadaan seperti ini," gumam Putri lirih.
*
*
__ADS_1