
Putri keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Ia mengambil gaun yang ada di meja rias lalu memakainya. Setelah itu ia mulai merias wajah. Make up minimalis membuat wajahnya terlihat begitu mempesona. Kemudian memakai sepatu dengan warna senada, menambah poin penampilannya.
"Cantik, gaunnya." Putri terkekeh kecil sambil menggoda dirinya sendiri. Putri keluar dari kamar bertepatan dengan pintu yang diketuk. Putri mengayunkan kakinya ke arah pintu.
"Selamat malam, Nyonya," sapa asisten Sakti setelah pintu terbuka dari dalam. "Tuan, menyuruh saya untuk menjemput Anda."
"Kau bicara formal sekali," sindir Putri sebab pria itu sering bersikap menyebalkan.
"Mari, Nyonya. Tuan sudah menunggu kedatangan Anda."
"Baiklah, ayo pergi!" Putri melangkah mendahului asisiten Sakti.
Kurang lebih tiga puluh menit mereka sampai di sebuah restoran mewah. Sakti membuka pintu mobil untuk istri sang bos. Wanita itu melangkah keluar sembari menatap kemewahan restoran yang ada di hadapannya. Selama tinggal di Jakarta ia tak pernah tahu ada restoran mewah seperti itu.
"Apa di depan pintu ada tulisan?" tanyanya serius pada asisten Sakti sambil mendekatkan wajahnya. Sakti yang bingung hanya menautkan kedua alisnya. "Tulisan orang miskin dilarang masuk." Putri terkekeh sendiri. "Kalau ada aku tidak jadi masuk."
Sakti hanya geleng-geleng kepala.
Apa wanita ini tidak sadar jika sudah menjadi Nyonya Hardian?
"Mari, Nyonya. Silahkan masuk."
"Bener masuk, ni?" tanya Putri lagi dengan mimik wajah seriusnya
"Ya, Nyonya. Anda istri Tuan Hardian seorang Ceo dari --"
"Sudah, tidak perlu diteruskan. Nanti ada yang dengar dikira sombong." Putri melangkah begitu saja meninggalkan Sakti yang termangu di tempatnya.
Wanita memang mengejutkan.
Putri masuk ke dalam setelah dibukakan pintu oleh karyawan yang sudah berjaga di sana.
Elegan sekali. Tamu sangat dihargai. Seandainya ke sini pakek baju tidur, apa juga akan dibukakan pintu? Perlu dicoba, ni.
Wanita itu terkejut setelah masuk lebih ke dalam. Ia pikir restoran mewah akan sepi dan sedikit pengunjung. Ternyata dugaannya salah. Kemudian ia menyapukan pandangannya mencari pujaan hati.
Malam ini adalah waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan. Tunggulah, Suamiku. Aku akan mengatakan isi hatiku padamu.
"Tempat mewah, suasana yang romantis, tepat sekali," gumamnya sambil melangkah pelan.
Kedua netranya menatap seorang laki-laki yang duduk sendirian di dekat kaca. Ia melangkah mendekat ke arah sang suami. laki-laki itu juga melihat ke arahnya. Keduanya saling tersenyum. Setelah wanita itu mendekat, Hardian berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Putri, sang wanita pun menerima uluran tangan itu.
Hardian mengecup tangan sang istri lalu menarik kursi.
Romantis sekali seperti di film, sepertinya aku akan menjadi wanita yang paling bahagia malam ini.
"Silahkan duduk, Sayang."
__ADS_1
"Terima kasih, Suamiku."
Setelah itu Hardian memanggil pelayan, tanpa bertanya laki-laki itu langsung memesan makanan untuk mereka.
"Kenapa kita makan malam di sini?"
"Kau tak suka?" Laki-laki itu balas bertanya.
"Paman, bisa romantis juga, hingga membuat hatiku menggebu," ujar Putri sambil menggoda pria yang masih terlihat kaku di depannya.
Putri mengamati wajah pria yang semakin terlihat tampan saja. "Wajah paman memerah. Gugup, ya?"
Sudah tahu, masih saja tanya. ucap Hardian dalam hati.
"Bisakah, jangan memanggilku paman lagi!"
"Tentu bisa, Suamiku yang tampan." Putri sudah kembali ke mode wanita yang sering menggoda laki-laki itu. "Sayang, kenapa kau begitu tampan malam ini?" lanjut Putri mencoba panggilan barunya. Hardian tersenyum lebar. "Duh, senyumnya bikin gak kuat," goda Putri lagi.
Sejak kembali ke kota, Putri sudah memutuskan akan memulai semuanya dari awal, yang pasti yang terbaik untuk hubungan mereka ke depannya.
"Cantik, malam ini istriku sangat cantik," balas Hardian memuji penampilan sang istri. Saking gugupnya ia sampai lupa untuk memuji sang istri.
"Terima kasih, Sayang," jawab Putri malu-malu.
Tak lama pelayan mengantar pesanan mereka. Keduanya mulai menikmati makan malam.
"Kau ingin seperti itu? Akan aku lakukan untuk makan malam selanjutnya."
"Tidak ... tidak. Aku hanya asal bicara."
"Aku takut kau tak suka jika aku mengosongkan seluruh restoran."
"Itu akan buang-buang uang, ramai lebih bagus. Tapi aku suka semua yang kau lakukan, apa lagi di ranjang. Ehmm... maksudku saat kau menyelimutiku."
Mulut ini tidak bisa diajak kompromi. Hampir saja ketahuan kalau suka hehehe.
Sedetik kemudian terdengar suara pembawa acara.
"Selamat malam semuanya, maaf menggangu waktunya sebentar. Ada permintaan dari seorang laki-laki yang sangat mencintai wanitanya. Malam ini dia ingin mengatakan cinta pada sang wanita. Mari kita beri tepuk tangan untuk mereka." Setelah itu suara tepuk tangan terdengar meriah.
"Siapa yang akan mengatakan cinta di tempat umum seperti ini? Apa tidak malu?" tanya Putri. "Sayang ... " Putri melihat ke arah sang suami. "Kemana dia? Mungkin ke toilet."
"Sebenarnya wanita ini bukan kekasihku, tapi dia istriku. Hanya saja pernikahan kami terjadi begitu saja. Tidak ada kesan istimewa untuk seorang wanita. Aku belum memberikannya pernikahan yang indah."
Putri mengalihkan tatapannya ke asal suara. Ia menutup mulutnya ketika melihat sang pujaan hati. Laki-laki itu menyatakan perasaannya di depan semua orang. Perasaan malu yang tadinya ia rasakan berubah bahagia. Ia tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya saat ini. Hingga tak terasa kini laki-laki itu berdiri di hadapannya. Detik berikutnya laki-laki itu berjongkok di bawah sang istri sambil menggenggam tangan sang istri.
"Aku ingin melakukannya dari awal. Sayang, aku mencintaimu. Maukah kau menikah denganku? Maukah kau hidup bersamaku selamanya? Tinggal di rumah yang sama dan di kamar yang sama?"
__ADS_1
Putri tidak bisa menahan perasaannya lagi. Hati seperti akan meledak. Dengan cepat ia berhambur memeluk sang suami.
"Aku mau. Aku mau. Aku mau," jawabnya sambil terisak. Bukan sedih, tapi air mata bahagia yang keluar dari kedua sudut matanya. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Hardian semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan dilepas!" bisik Putri ketika laki-laki itu hendak melepas pelukannya. "Aku malu, bisakah kau menggendongku keluar dari sini!"
Hardian tersenyum lalu menggendong wanitanya. Inilah yang ia suka dari sang istri, selalu mengejutkan. Wajah yang terlihat polos menutupi sikap agresifnya. Wajah yang terlihat malu-malu, malah sering menggodanya.
Keduanya masuk ke dalam mobil dengan Putri masih dalam gendongan sang suami.
"Kapan kau akan pulang?"
"Kau mengusirku lagi? Baru saja mengatakan cinta. Apa tadi itu hanya pura-pura?" tanya Putri terkejut sembari menatap wajah laki-laki itu intens.
"Bagaimana aku melamarmu jika tidak pulang? Jadi pulanglah secepatnya! Lebih cepat lebih baik," jawab Hardian santai sambil mengecup bibir sang istri sekilas.
Putri memeluk laki-laki itu lagi. "Aku bahagia, sangat bahagia. Terima kasih sudah menerimaku dan mencintaiku."
"Aku yang seharusnya berterima kasih, kau mau menerima pria sepertiku," balas Hardian.
"Kau pria yang sempurna untukku."
"Benarkah? Bukankah kau suka pria yang--"
Cup
"Jangan katakan lagi! Waktu itu aku hanya sedang marah padamu."
"Baiklah!" Hardian mengeratkan pelukannya. "Kita ke hotel saja, apartemen terlalu jauh," imbuh Hardian dengan senyum menggoda. Spontan Putri memukul dada laki-laki itu.
*
Tamat.
*
Terima kasih sudah membaca karyaku. Terima kasih sekali ya kak. Jangan lupa di subcribe ya, supaya dapat klenting nanti saat ada novel baru. Kisah selanjutnya tentang Raditya, insyaAllah beberapa hari ke depan.
"Kok, lama thor? Kenapa gak langsung lanjut?
Author pun menjawab : Maaf ya, otak author beda dengan yang lain, tidak bisa nulis dua novel sekaligus, jadi harus berhenti dulu untuk menulis novel selanjutnya. Itulah keterbatasan author.
"Up yang banyak dong thor?"
Jawab lagi ya : mungkin otak author ukurannya lebih kecil, jadi tidak bisa mikir terlalu banyak. Maaf ya kak, author ngerti kok bagaimana rasanya penasaran.
...****************...
__ADS_1