JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 50 Aku akan mengabaikan perasaanku


__ADS_3

Di sebuah ruangan lembab yang kurang pencahayaan, hanya ada sinar lampu yang sudah usang. Terdengar bunyi kursi yang sudah reot dan juga suara rintihan kesakitan dari seorang laki-laki yang terikat di sebuah kursi kayu, darah bercucuran dari tubuh laki-laki itu.


"Siapa kalian?" tanya laki-laki itu lemah dengan sisa tenaganya. Seragam security yang dikenakannya sudah bercampur dengan warna darah.


Namun, tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Empat pria bertubuh kekar tanpa ampun memukuli laki-laki itu. Salah satu pria mengangkat wajah laki-laki yang sudah tak berdaya.


"Kau salah memilih lawan. Bos kami sudah memberimu kesempatan, tapi dengan percaya diri kau datang ke apartemennya." Lalu pria kekar itu menghempas wajah laki-laki yang sudah babak belur karena pukulan yang bertubi-tubi.


Laki-laki itu tak lain adalah Pak Asan, laki-laki yang hampir memperkosa Putri.


*


*


Putri menjalani harinya seperti biasa. Sang suami tidak pulang lagi. Sarapan sendiri, makan malam pun sendiri.


"Sepi," keluh Putri sambil mengaduk makanan di piring. Bisa saja ia keluar rumah, tapi ia belum siap untuk bertemu suami tetangganya di kampung dulu. Laki-laki yang memakai seragan security itu adalah laki-laki yang sudah melecehkannya.


"Baiklah, aku menyerah." Putri menghembuskan napas berat. "Aku akan mengabaikan perasaanku karena aku merindukanmu. Hanya karena satu alasan aku adalah istri dari seorang Hardian."


Putri bersiap untuk berangkat, setelah berganti pakaian, ia mengambil tas dan ponsel. Mau pergi kemanapun Putri selalu di antar sopir, tapi kali ini ia ingin berangkat sendiri. Dengan menghentikan taxi, Putri meluncur ke kantor sang suami. Senyum merekah terus memgembang di bibir wanita itu.


"Yang lalu biarlah berlalu, aku tidak tersinggung. Aku baik-baik saja. Selamat datang hari baik, hariku pun akan baik, hidupku akan lebih baik," ucap Putri menyemangati diri sendiri.


"Mau ngelamar kerja, ya, Neng?Sekarang cari kerja memang susah, Neng. Semoga diterima kerja, ya, Neng." Sopir taxi memberikan dukungan setelah mendengar ucapan Putri.


"Anak paman juga susah cari kerja. Setelah sekian lama melamar kesana-kemari, baru kemarin diterima kerja di pabrik, Neng. Kerja apa saja yang penting halal," lanjut pak sopir itu sembari menghela napas panjang, seperti ada beban yang dipikulnya.


"Ya, pak. Terima kasih doanya. Semoga anak Bapak senang dengan pekerjaannya dan bisa menjadi kebanggaan keluarga," ucap Putri tulus membuat pak sopir itu tersenyum.


Tak lama taxi itupun berhenti di sebuah perusahaan besar.


"Ngelamar kerja di sini, Neng?"


Putri menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa akhirnya ia hanya mengangguk. Setelah itu ia keluar dari dalam taxi setelah membayar ongkos.


Dengan santai ia melangkah ke ruangan sang suami lalu mengetuk pintu dulu. Putri membuka pintu setelah mendengar suara yang menyuruhnya masuk. Dengan segudang rasa rindu ia melangkah masuk, berharap laki-laki itu akan senang dengan kedatangannya. Namun, senyum di bibirnya langsung hilang ketika melihat tamu sang suami.


Seorang wanita paruh baya dan wanita muda berhijab, cantik, kata yang terucap dari dalam hati Putri. Dia berhenti melangkah ketika ketiga manusia itu menatap ke arahnya. Suaminya menatap dalam diam, tidak ada sambutan apapun yang terucap dari mulut laki-laki itu.


"Maaf, mengganggu, saya akan keluar dulu," ucap Putri sopan. Entah kenapa Putri merasa kecil hati, ia tidak mau mengganggu pertemuan kecil itu.


"Masuklah!" Terdengar suara bariton laki-laki itu sebelum Putri melangkah keluar. Putri menatap laki-laki itu lalu menganggukkan kepalanya, ia melangkah ke arah sofa. Tempat duduk si wanita muda sementara wanita paruh baya duduk di hadapan Hardian.

__ADS_1


"Bibi akan segera pergi, bukan begitu?" Hardian menatap bibi.


"Baiklah, kita bahas di rumah saja. Kau sangat susah untuk di temui, ingat nanti pulang ke rumah. Bibi akan menginap di sana untuk beberapa hari." Setelah mengucapakan itu bibi pun beranjak berdiri. "Ayo, kita pulang?" ajaknya lada wanita muda itu.


Wanita itupun tersenyum pada Hardian sebelum keluar mengikuti langkah bibi.


Wanita yang sangat manis dan anggun. Pakaiannya juga sopan. Apa wanita itu mencari pekerjaan dengan jalur orang dalam? Sepertinya Hardian sangat mengenal wanita paruh baya tadi.


Putri sibuk bertanya dalam pikirannya hingga tidak menyadari jika sang suami sudah berada di sampingnya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Hardian sambil mengelus pipi Putri lembut.


Putri terperanjat karena terkejut laki-laki itu sudah berada disampingnya, bahkan wajah keduanya sangat dekat.


Putri ingin menjawab, tapi suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Hembusan napas laki-laki yang berstatus suami itu menerpa wajahnya membuat wanita itu gagal fokus.


Tatapan mereka bertemu.


Deg


Tersirat kerinduan di mata keduanya. Lama-lama wajah mereka semakin dekat hingga bibir mereka bersentuhan. Rasa rindu yang begitu besar membuat keduanya menikmati kecupan itu yang akhirnya menjadi ciuman yang membuat gairah kedua insan itu muncul ke permukaan.


Ceklek.


"Ck, kalian tidak tahu tempat. Bisakah pindah ke kamar atau ke hotel? Kalian menodai kedua mataku untuk kedua kalinya," ucap Vino yang tiba-tiba membuka pintu ruangan Hardian.


Terpaksa mereka melepas tautannya ketika manusia yang tak punya tangan untuk mengetuk pintu itu masuk begitu saja.


Putri yang merasa malu keluar dari ruangan itu. "Aku mau ke kantin dulu," ucapnya sambil berjalan.


Hardian menatapnya tajam lalu berjalan menuju kursi kebesarannya.


"Aku akan mempercepat kepindahanmu."


"Kau marah? aku hanya melihat kalian berciuman, tidak lebih dari itu. Ayolah, batalkan surat tugasku. Aku tidak mau hidup di desa."


"Bulan depan."


"Tolonglah, batalkan."


"Minggu depan."


"Ok. kau sangat menyebalkan. Pastikan aku tidak lama di sana."

__ADS_1


Ya, Hardian akan memindahkan Vino ke rumah sakit yang baru di bangunnya itu. Ia membangun rumah sakit di sebuah kota kecil. Selama ini Vino bekerja di rumah sakit milik ibunya.


Hardian mengedikkan bahunya.


"Aku barusaja punya kekasih, akan sangat repot menjalani hubungan jarak jauh," keluh Vino


"Bawa saja," jawaban santai yang keluar dari mulut Hardian.


"Dia anak orang."


"Nikahi dia!"


"Tidak, sebelum aku menemui wanita itu. Aku belum mengucapkan terima kasih dengan benar padanya."


"Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan wanita itu?"


"Entahlah."


*


*


Hardian mencari keberadaan sang istri di kantin perusahaan. Kantin itu terlihat sepi karena jam istirahat sudah selesai satu jam yang lalu. Ia dapat melihat wanitanya duduk sendirian di sana. Dia melangkah menuju tempat wanita itu dan langsung duduk di hadapan sang istri.


Seketika Putri menatap laki-laki ynag tiba-tiba duduk di hadapannya dengan senyum manis.


"Apa pengganggu itu sudah pergi?"


Hardian mengernyitkan keningnya. "Penggangu?"


"Ya, si dokter tampan, dia selalu mengganggu."


"Tampan?" tanya Hardian tak suka.


"Ya, dia tampan." Putri berhenti mengunyah ketika sadar dengan ucapannya. "Suamiku jauh lebih tampan," lanjut Putri sambil menatap wajah sang suami penuh arti. "Meskipun akhir- akhir ini dia jarang pulang," imbuhnya lirih.


Deg


Hardian merasakan hal aneh di hatinya. Menatap wanita itu yang tiba-tiba terlihat murung.


"Bisakah, kita membicarakan hubungan kita?" tanya Putri sedikit ragu.


*

__ADS_1


*



__ADS_2