JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 57 Memanggil ayah mertua


__ADS_3

Putri masih menatap kakek dengan tatapan tak biasa.


"Jangan bilang kakek tahu tentang wanita itu yang--"


"Dijodohkan dengan suamimu?" sela kakek cepat.


"Dijodohkan? Aku pikir dia hanya mendekati saja." Putri balik bertanya.


"Bibi suamimu ingin Hardian menikah dengan wanita itu."


"Kakek, setuju?"


"Tentu saja tidak. Hanya kau yang akan menjadi menantuku."


Putri menghembuskan napas lega. "Kalau begitu aku akan tinggal di sini."


Tidak mungkin aku membiarkan ular berkuasa di kandangku.


"Kau berubah pikiran?" Putri menganggukkan kepalanya membuat kakek tersenyum. "Baguslah!"


Tak lama Putri keluar dari ruang kerja kakek menuju kamar yang dia tempati dulu bersama sang suami. Rasanya lama sekali dia tidak pernah masuk ke kamar ini.


"Cara tarik ulur tidak akan berhasil jika pelakor di depan mata. Bagaimana aku bisa tahu belakangan? Untung saja aku belum pergi. Apa paman juga tertarik pada wanita itu?" tanyanya pada diri sendiri. "Sepertinya tidak, paman bukan orang yang mudah jatuh cinta," bertanya sendiri dijawan sendiri. "Tapi dia mudah mencintaiku?" Yah, Putri jadi bingung.


Putri membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memikirkan cara untuk menghadapi bibi Hardian. Dilihat dari situasi sekarang sepertinya bibi bukan orang yang mudah.


*


*


Tiba waktunya makan malam.


"Mari kita tunjukkan siapa menantu di rumah ini," ucap Putri pada dirinya sendiri lewat pantulan dirinya di depan cermin. Putri memakai dress berwarna cream polos, sederhana dengan harga selangit. Tentunya sang suami yang sudah membelikan baju-baju itu. Tanpa berbelanja lemarinya sudah penuh dengan pakaian bermerk, hanya saja ia lebih suka pakaian santai dan yang pasti murah.


Putri turun ke bawah menggunakan tangga, kamarnya berada di lantai 2. Meskipun ada lift ia lebih memilih tangga. Kesannya seperti di dunia kerajaaan, sang Putri turun dari tangga dengan banyak mata yang memandangnya dari bawah.


Dan benar dugaannya, semuanya sudah berkumpul di meja makan. Putri melangkah pasti dengan senyum menawan.


"Selamat malam semuanya. Apa kita kedatangan tamu, Ayah?" sapa Putri dengan mengubah panggilannya.


"Duduklah!" Putri pun duduk setelah ayah mertuanya menyuruhnya duduk.


"Ayah?" tanya bibi Stela bingung. Apa ia salah dengar pikirnya.


"Stela, kenalkan dia Putri istri Hardian. Putri kenalkan dia bibi Hardian, adik tiri dari almarhum istriku." Kakek memperkenalkan mereka.

__ADS_1


"Selamat malam bibi," sapa Putri dengan semyum semanis gula.


"Istri Hardian? Kakak sampai menyewa seorang wanita untuk membatalkan perjodohan ini?"


"Kau terlalu beelebihan. Dia memang istri Hardian, mereka hanya belum mengadakan pesta."


Bibi Stela menatap Putri tajam, Putri membalas tatapan bibi santai. Sementara Azizah hanya memperhatikan Putri. Ia ingat wanita itu yang datang dan tiba-tiba besikap manja pada bosnya. Sebenarnya Azizah sudah dua kali bertemu Putri. yang kedua waktu adegan di ruang rapat, hanya saja waktu itu Azizah tidak bisa melihat wajah Putri dengan jelas karena terhalang oleh tubuh Hardian.


"Aku tidak percaya. Lalu dimana suamimu?"


"Di apartemen, Bibi. Kami sedang bertengkar," jawab Putri sendu di akhur kalimat. Tidak mungkin kan Putri berkata baik-baik saja di saat sang suami tidak tahu keberadaannya dirumah utama. Berkata jujur pun juga tidak bisa.


"Bertengkar? Belum apa-apa sudah begitu. Lihatlah, Kak pernikahan mereka tidak sehat. Pertengkaran dalam rumah tangga tidak bisa di anggap sepele."


Sepertinya aku salah start. Wanita ini memang beracun.


"Wanita yang baik tidak akan pernah meninggalkan suaminya. Dia akan selalu berada di samping suami apapun yang terjadi," imbuh bibi dengan senyum menjengkelkan.


"Mereka masih muda, biarlah mereka mau melakukan apa. Nanti juga mereka akan dewasa dengan sendirinya." Kakek masih saja membela menantu kesayangannya.


"Tapi .... "


"Ayo, kita makan! Aku sudah lapar."


"Berapa kau dibayar?" tanya Bibi Stela setelah kakek pergi. Dia tidak bisa percaya begitu saja.


"Maksud, Bibi?"


"Jangan berpura-pura lagi! Aku tahu kau hanya wanita bayaran."


Putri tertawa elegan setelah mendengar ucapan bibi Stela. "Ck, kalau Bibi tidak percaya tanyakan saja pada wanita itu." Tunjuk Putri dengan kepalanya ke arah Azizah. "Kami belum berkenalan dengan baik, kenalkan aku Putri, istri dari bosmu di kantor."


"Azizah," sahut Azizah kaku.


"Kau masih ingat denganku?" Azizah pun mengangguk. Putri menatap bibi kembali. "Bibi bisa bertanya padanya. Apa yang aku lakukan di sana?" Setelah itu Putri beranjak sebelum wanita itu menyerangnya lagi. Malam ini sudah cukup untuk perkenalan.


Bibi Stela manatap tak suka ke arah Putri. Ia tidak akan membiarkan rencananya gagal.


"Kau pernah melihatnya?"


"Ya," jawab Azizah sambil mengangguk ragu.


"Di kantor?"


"Ya."

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan?"


"Masuk ruangan."


"Lalu?"


"Duduk di pangkuan bos," sahut Azizah ragu.


Benar saja kedua mata bibi terbelalak karena terkejut.


"Sudah sejauh itu. Kau harus lebih cepat mendekati Hardian," ucap bibi sedikit ketus pada Azizah. "Pastikan besok kau pulang bersamanya."


"Bibi, sulit untuk mendekatinya."


"Sulit? Wanita itu saja bisa dan kau juga harus bisa."


*


*


Tak terasa sudah seminggu Putri berpisah dengan sang suami. Rindu, sudah pasti, tapi sampai detik ini laki-laki yang berstatus suaminya itu belum meghubunginya sama sekali.


"Dia sedang apa ya? Apa dia juga merindukanku?" Putri menatap layar ponselnya yang terlihat ptofil Hardian di layar itu. "Tidak. Aku tidak boleh menghubunginya terlebuh dahulu."


"Pemalas. Suami bekerja keras di luar, tapi kau sebagai istri kerjanya hanya rebahan setiap hari." Bibi Stela memulai perang lagi.


Selama seminggu ini rasanya Putri kenyang dengan bullyan wanita itu. Wanita itu selalu mencari masalah dengannya. Namun, Putri selalu bisa membuatnya tak bisa berkata-kata.


"Pantas saja suamimu tidak pulang. Mungkin dia merasa bosan menghadapi istri sepertimu."


"Baiklah, nanti akan aku buktikan seperti apa hubungan kami kalau perlu Bibi bisa melihatnya secara live." Putri langsung pergi, hari ini ia tak mood untuk meladeni bibi Stela.


"Dasar tidak tahu diri!" umpat bibi kesal karena pergi begitu saja.


Bibi Stela mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Ingat malam ini kau harus bisa pulang bersamanya. Pastikan malam ini dia pulang ke rumah utama." Setelah mengucapkan maksud tujuannya, ia langsung mematikan sambungan telepon.


"Lihat saja, aku pastikan kau tidak pantas untuknya."


Sementara wanita berhijap yang menerima telepon itu merasa gelisah. Berkali-kali ia menarik napas lalu menghembuskannya. lalu mengulanginya lagi.


Tangannya terulur untuk mengetuk pintu. Ia tahu beberapa hari ini sang bos selalu pulang larut. Semoga kali ini lebih cepat doanya dalam hati, bisa karatan dia menunggu terlalu lama di kantor. Hari ini ia sengaja menunggu laki-laki itu meskipun ia tidak ada pekerjaan lembur.


"Masuk."

__ADS_1


__ADS_2