JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 51 Wanita baik


__ADS_3

Hardian masih menatap wanita itu dengan perasaan yang entahlah. Dia belum bisa mengambil keputusan yang tepat, yang jelas sebenarnya ia tidak mau merusak lernikahan mereka, Tapi ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Salah satunya masa lalu wanita itu.


"Pulanglah, kita bicara di rumah," jawab Hardian.


"Paman, akan pulang malam ini?" tanya Putri tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Hemm ... "


Putri tersenyum lalu keluar dari kantin, Hardian kembali ke ruangannya sementara Putri langsung kembali ke apartemen setelah mampir ke suatu tempat terlebih dahulu.


Tak lama asisiten Sakti masuk ke dalam ruangan Hardian.


"Laki-laki itu sudah mendapat hukumannya, Tuan," lapor Sakti.


"Pastikan dia tidak muncul lagi dihadapan istriku," titah Hardian dengan rahang mengeras. Tatapan matanya mengisyaratkan kemarahan yang begitu besar.


"Laki-laki itu bersama istrinya sudah meninggalkan kota ini, Tuan."


"Bagus."


Setelah selesai Sakti pamit keluar dari ruangan Hardian. Setelah kepergian Sakti, Hardian termenung di tempatnya. Beberapa menit kemudian ponselnya berdering, muncul nama ayah Malik di layar itu. Hardian mengangkatnya tanpa mengucapkan apapun.


Akhirnya di sinilah dia berada, di ruang kerja ayah Malik.


"Bibimu sudah menemuimu? Kau tahu pasti apa tujuan bibimu dan ayah yakin kau sudah bertemu dengannya."


"Hemm... " Hardian hanya berdehem membuat ayah Malik menghela napas panjang.


"Segeralah umumkan pernikahanmu! Buatlah pesta pernikahan yang selalu diidamkan wanita. Sudah saatnya orang tahu kau sudah menikah dan untuk Putri, dia membutuhkan pengakuanmu."


Sama. Hardian hanya diam dengan mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Kau masih memikirkan permintaan ibumu. Percayalah! Meskipun dia memiliki masa lalu yang sedikit berliku Putri adalah wanita yang baik."


Hardian menunduk lalu mendesah pelan. Kadang kata hati dan pikiran tidak sejalan, itulah yang Hardian rasakan saat ini. Ia masih ingat pesan ibunya untuk menikahi wanita baik.


Beberapa menit kemudian, pelayan mengetuk pintu. Ayah Malik dan Hardian pun keluar.

__ADS_1


"Tuan, dibawah ada Nyonya Stela." Beritahu pelayan itu sopan.


Ayah Malik dan Hardian saling menatap sembari menghela napas bersamaan. Kemudian mereka menuruni tangga untuk menemui saudara tiri istrinya itu.


Ayah Malik tidak suka jika wanita itu mencampuri urusan pribadi kedua putranya meskipun itu semua berkaitan dengan almarhum sang istri. Apalagi dia tahu wanita itu ingin mengganti posisi kakaknya sebagai nyonya Malik. Tentu saja Ayah Malik tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak ada yang akan mengganti posisi almarhum sang istri.


Mereka melihat dua wanita beda usia duduk di sofa ruang tengah.


"Dia sangat cantik," goda ayah Malik pada putranya. Ia tahu wanita yang dibawa adik iparnya itu adalah jodoh untuk sang putra sulung. Adik iparnya itu tidak tahu kalau Hardian sudah menikah karena memang ayah Malik tidak mengundangnya supaya rencana yang disusunnya bersama Raditya berjalan lancar. .


Hardian hanya menatap sang ayah tajam. Melihat tingkah sang putra, ayah Malik tersenyum kecil.


"Selamat malam kakak, senang melihat kakak masih sehat," sapa Stela pada sang kakak ipar.


"Hem... " Ayah Malik hanya berdehem lalu duduk di hadapan mereka, Hardian juga duduk di sebelah sang Ayah.


"Ada angin apa kau datang kesini?" tanya Ayah Malik tanpa basa-basi.


"Kakak ipar seperti tidak suka dengan kedatanganku. Kakak akan senang jika aku berkunjung, hanya saja dia pergi lebih dulu." Bibi memakai nama kakaknya agar diterima di rumah itu.


"Siapa dia?" tanya ayah Malik kemudian tentang wanita yang dibawa adik iparnya itu.


"Namanya Azizah, cantik 'kan? Sangat cocok dengan Hardian." Bibi tersenyum ke arah Hardian. "Kakak masih ingat, bukan? Istri kakak sendiri yang menyuruhku untuk membantu menyeleksi wanita yang akan menjadi istri Hardian. Tentunya wanita dari keluarga yang baik dan wanita yang baik pula," lanjut bibi Stella.


"Dia hanya khawatir saat mengucapkannya dan putraku akan mendapatkan wanita yang baik tanpa bantuanmu."


Bibi Stella merasa tidak dihargai, tidak kehabisan ide, ia akan memanfaatkan kesempatan yang ada. Wanita muda yang bersama bibi Stella sedari tadi hanya diam saja.


Bibi menatap Hardian. "Bantulah bibi untuk membalas budi pada orang tua Azizah. Ijinkan dia bekerja di perusahaanmu," mohon bibi dengan mimik wajah sendu. "Bibi banyak berhutang pada orang tuanya."


Ayah Malik diam. Dia tahu bagaimana sifat Stella yang tidak akan menyerah begitu saja. Menyerahkan keputusan pada sang putra mungkin adalah keputusan yang terbaik, membiarkan Hardian yang menghadapinya.


"Dia akan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahliannya," tegas Hardian.


"Terima kasih, kau memang keponakan bibi. Emm... bisakah dia menjadi sekertarismu?" Bibi masih berusaha untuk mendekatkan keduanya. Melihat tatapan tajam Hardian membuat nyali bibi menciut. "Baiklah, sebagai apa saja tidak apa-apa yang penting dia bekerja di perusahaanmu."


"Aku harus pergi." Hatdian beranjak berdiri untuk melangkah.

__ADS_1


"Tunggu, kau mau kemana? Bibi akan menginap disini." Hardian terus berlalu pergi mengabaikan ucapan sang bibi. Dia mempercepat langkahnya ketika teringat janjinya pada seorang wanita.


"Aku memberimu waktu dua hari," ucap ayah Malik setelah kepergian Hardian.


"Kakak mengusirku?"


"Tidak." Ayah Malik berdiri lalu berjalan ke arah kamarnya.


"Ayah dan anak sama saja. Sama-sama menyebalkan," umpat bibi kesal dengan tatapan tak suka.


*


*


Sementara itu, di tempat yang lain. Putri menunggu sang suami hingga berjam-jam. Makanan di meja makan sudah dingin lagi setelah ia hangatkan sampai dua kali. Akhirnya ia menyerah. Perutnya sudah melambai-lambai minta di isi. Putri mengambil piring lalu mengambil makanan yang ada di atas meja.


"Makan sendiri lagi," gumam Putri sendu. "Di saat seperti ini aku rindu kakak." Ia teringat akan sahabat rasa saudaranya.


Setelah selesai makan, ia mencuci piring lalu meninggalkan dapur. Ia masuk ke dalam kamar berjalan menuju jendela, dibukanya tirai yang menutupi jendela itu. Pandangannya lurus ke depan, terlihat banyak lampu, pemandangan khas kota besar di kala malam.


Malam ini ia juga memakai pakaian yang tadi siang ia beli. Baju yang sedikit terbuka, namun bukan lingeria untuk menyambut kedatangan sang suami.


Tanpa sadar ia menitikkan air mata sambil tersenyum getir.


"Apa masa laluku sangat buruk hingga menutupi sebuah rasa." Putri teringat akan Hardian yang menyatakan cinta padanya.


"Aku harus tetap semangat, tidak akan ada yang mengasihiku, selain diriku sendiri." Putri menutup kedua matanya sambil menepuk kedua pundaknya dengan tangan bersilang, lalu berkata. "Kau pasti kuat. Kau pasti bisa."


Setelah beberapa menit, ia menarik tirai yang menutupi jendela, lalu berbalik menuju ranjang. Putri duduk di tepi ranjang lalu menatap kembali ke arah pintu.


"Selamat malam, Paman," ucapnya sendu lalu berbaring di atas tempat tidur.


*


*


__ADS_1


__ADS_2